Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Karena Aku Mencintaimu


__ADS_3

Bian memasang jaketnya. Meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja rias istrinya. Bergegas keluar dari kamar untuk mencarikan mie instan untuk Amara. Tiba-tiba saja ucapan satpam tadi sore, kalau anak akan ileran saat sudah lahir, jika keinginan ibunya tidak terpenuhi ketika masih hamil terngiang-ngiang di telinganya. Dia juga memikirkan istrinya yang sedang menahan lapar.


Amara terkejut saat melihat suaminya menuruni anak tangga dengan memakai jaket lengkap, menenteng kunci mobil dan dompet. "Mas, kamu mau kemana?"


"Mm.. mau carikan kamu mie instan, Ra."


Amara menghela nafas berat. "Nggak usah, Mas. Aku makan besok aja. Kamu istirahat saja sekarang. Lagian mana ada toko yang buka sampai jam segini." Menarik tangan suaminya agar mengikutinya menaiki tangga.


"Ada, Sayang." Melepaskan tangan Amara dari pergelangan tangannya. "Toko di depan gang selalu buka dua puluh empat jam. Aku akan carikan kamu ke sana."


"Tapi, Mas."


"Sssttt... nggak usah merasa bersalah kayak gitu. Suami kamu nggak merasa terbebani kok. Selama aku bisa, aku akan memenuhi permintaan kamu. Aku nggak mau anakku ileran seperti ucapan Pak Satpam kemarin."


Amara kembali menghela nafas berat. Dia tidak bisa menentang ucapan suaminya kalau sudah mengatakan itu. Bian adalah pria yang teguh pendiriannya dan akan sangat sulit digoyahkan.


Bian mencubit pelan pipi istrinya seraya melewatinya tanpa berkata apapun. Ia bergegas keluar dari rumah. Dalam hatinya dia terus berdoa, semoga toko di depan masih buka dan dia mendapatkan mie instan yang diinginkan istrinya.


Hampir satu jam Amara menunggu. Bian belum ada tanda-tanda akan kembali. Ia sampai ketiduran di meja makan karena menunggu suaminya kembali. Namun, dia tidak bisa tidur pulas karena mengkhawatirkan suaminya.


Berbagai pikiran buruk mulai bermunculan di pikirannya. Ia akhirnya beranjak bangkit. Berjalan pelan mendekat ke arah pintu utama rumahnya. Menyingkap sedikit gorden jendela untuk melihat keadaan di luar rumah yang benar-benar terlihat sepi.


Amara menarik nafas panjang seraya duduk di sofa ruang tamu. Perlahan, tangannya mengelus-elus perutnya yang mulai terlihat. "Nak, kamu jangan mau yang aneh-aneh dong. Kasihan papa kamu. Aku yakin dia itu masih lelah. Tapi.. hah.." membuang nafasnya dengan kasar. "Ya Allah, kenapa aku harus membangunkannya tadi. Coba aja aku turun sendiri, aku pasti tidak akan merepotkan Mas Bian seperti ini." Menatap ke arah pintu yang tertutup rapat. Beralih menatap ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua lewat dua puluh menit. Itu berarti, suaminya sudah satu jam lebih di luar.


Amara beranjak bangkit untuk pindah posisi. Namun, ia berbalik saat mendengar suara pintu terbuka. Bibirnya tersenyum merekah melihat suaminya kembali tanpa ada cacat sedikit pun. "Mas..."


"Toko di depan gang ternyata sudah tutup, Ra. Ini mienya. Aku dapat di Toko Ibu. Untung saja aku ingat, kalau Toko itu buka dua puluh empat jam."


"Ya Allah, Mas. Kamu mencari makanan ini sampai ke sana? Pantas saja sampai satu jam kamu belum kembali."


Bian tersenyum kecil. "Kamu lapar kan? Ayo aku masakin kamu mienya."


"Mas..." Amara menahan tangan suaminya yang sudah melangkah menuju dapur.


"Eh," menatap tangannya yang di tahan Amara.


"Kamu jangan seperti ini. Kita tidur saja. Aku tau kamu capek. Jangan terus paksakan diri untuk melayani keinginanku."

__ADS_1


Bian akhirnya berbalik. Menatap istrinya seraya menghela nafas berat. Menangkup pipi istrinya seraya menatap matanya dengan dalam. "Justru kalau kamu tidak mau makan mie ini. Aku akan merasa sangat tidak dihargai. Aku sudah keliling mencarikan kamu ini."


Amara menatap mata suaminya. Mata yang selalu memancarkan ketulusan untuknya. "K.. kamu capek, Mas."


"Ra.." meraih kedua tangan istrinya. "Aku tau ini bukan keinginan kamu. Ini pasti keinginan anak kita kan. Sebelum ini kamu sangat jarang, bahkan bisa dibilang tidak pernah makan mie instan. Sekarang kamu ikut ke dapur. Aku akan masak untukmu." Bian menarik tangan istrinya agar mengikutinya ke dapur.


"Kenapa kamu melakukan ini, Mas?"


Bian langsung menghentikan langkahnya. "Kenapa kami harus menanyakan itu, Sayang. Aku melakukan ini karena aku mencintaimu. Ayo..."


Amara tidak bisa berkata apa-apa. Ia akhirnya pasrah mengikuti suaminya masuk ke dalam dapur. Bian memintanya untuk duduk sambil menunggunya selesai memasak mie. Mata Amara terus menatap ke arah suaminya yang terlihat lihai memainkan peralatan dapur. Ia mencampur beberapa lebar daun sayur yang sudah di rebusnya ke dalam mie yang sudah siap saji.


"Makanannya sudah siap.." menyodorkan semangkok mie ke hadapan Amara.


"Wah... baunya enak, Mas." Menatap semangkok mie di hadapannya lalu beralih menatap suaminya. "Kamu terlihat lihai, Mas. Perasaan dulu kamu itu selalu malam masak."


"Kamu nggak tau apa-apa, Ra. Sejak masuk SD, Ibu selalu mengajarkan aku hidup mandiri. Kalau Ibu sibuk, aku harus masak sendiri agar bisa makan. Iya.. melihat wanita yang pandai masak kayak kamu berdiam di Apartemen, timbullah rasa malas untuk merawat diri. Malas masak, malas nyuci dan lain sebagainya."


Amara mengernyit. "Huh, dasar laki-laki.." tersenyum kecil pada suaminya.


"Mienya di makan dong, Ra. Suami kamu ini capek loh memasaknya."


Bian tidak menimpali. Hanya bibirnya yang tersenyum lembut menatap istrinya. Menatap Amara yang menikmati hidangan yang dibuatnya.


Mereka kembali ke kamar hampir jam tiga dini hari. "Aku mau langsung tahajud, Ra. Kamu mau ikut atau mau tidur dulu." Bian membuka baju tidurnya dan mengambil handuk di ruang ganti agar lebih mudah mengambil air wudhu.


"Nggak boleh langsung tidur habis makan, Mas. Aku ikut kamu saja. Tapi, kamu duluan ambil air wudhu. Aku mau menetralkan perutku yang terasa agak kenyang."


"Agak kenyang atau kekenyangan?" Bian mencoba menggoda, walaupun matanya terlihat layu karena mengantuk.


"Agak kenyang, Mas... udah, wudhu dulu sana. Nanti aku nyusul. Kamu terlihat lelah. Biar kamu bisa istirahat setelah shalat."


"Mm... aku akan tidur setelah shalat subuh nanti. Kalau tidur sekarang, takutnya shalat yang fardu nggak bisa dikerjakan tepat waktu."


Amara tidak menimpali. Ia hanya menatap Bian yang sudah berlalu ke kamar mandi. Suaminya itu selalu menjaga shalatnya. Jika tidak ada sesuatu yang mendesak, dia tidak pernah menunda shalat.


**********

__ADS_1


Pagi itu...


Handphone Bian terus berdering. Amara tidak berani menjawab panggilan itu karena tidak ada perintah langsung dari suaminya. Ingin membangunkannya, tetapi dia tidak tega karena Bian kurang tidur gara-gara keinginan anehnya.


"Ra, jawab panggilan itu, biar handphonenya tidak berisik." Bian mengangkat kepalanya. Suaranya serak karena masih mengantuk. Namun, karena bunyi handphone yang berisik mengusik ketenangan indra pendengarannya.


"Aku mau bilang apa, Mas?"


"Kalau itu Kak Daniel, bilang aja kalau aku akan ke kantor nanti siang. Kepalaku terasa berat. Ini jam berapa sih?" Bian memicingkan matanya ke arah jam dinding.


"Mas, ini Kakek yang menghubungi kamu." Menyerahkan handphone suaminya."


"Ish, Kakek ini ada apa sih, pagi-pagi udah berisik aja." Menjawab panggilan sambil menggerutu kesal. "Assalamualaikum, Kek."


"Wa'alaikum salam.. kamu kenapa belum bangun? Ini sudah jam delapan, Bian."


"Aku begadang semalam, Kek. Kepalaku agak berat. Semalam, anakku meronta dalam perut ibunya. Katanya, dia lapar dan mau makan mie instan. Stok di dapur nggak ada. Jadinya aku keluar untuk membelinya. Aku nggak tidur setelah itu, Kek. Aku langsung tahajud dan menunggu sampai waktu subuh."


"Memangnya jam berapa kamu keluar?"


"Jam satu, Kek." Menguap lebar karena benar-benar masih mengantuk.


"Kakek ada di rumah ibu kamu. Kalau kamu berangkat ke Kantor, jangan lupa panggil Kakek. Kakek mau meninjau tempat kerja kamu."


Bian tidak terkejut sama sekali mendengar pengakuan kakeknya yang sudah di rumah ibunya jam segini. Dia juga tidak terkejut mendengarnya mau ikut ke Kantor. Selama ini, dia selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk perusahaan."Kayaknya nanti siang, Kek. Aku benar-benar pusing pagi ini."


"Iya sudah. Kamu istirahat lagi kalau begitu. Lusa kita akan mengadakan syukuran untuk kehamilan istri kamu."


"Mmm..."


"Jangan lupa ajak istri kamu jalan-jalan setiap pagi agar kandungannya sehat."


"Iya, Kek." Bian meletakkan handphonenya setelah sambungan telepon terputus. "Kakek ada di rumah Ibu, Ra. Apa kamu mau kesana menemuinya?"


"Aku belum mandi, Mas. Nggak enak menemui beliau dengan keadaan seperti ini."


Bian memeluk tubuh istrinya. "Kakek itu lebih suka dengan orang yang apa adanya, Ra. Daripada banyak berpura-pura, itu hanya akan membuatnya kesal."

__ADS_1


"Iya.. tapi nggak segininya juga kali, Mas."


**********


__ADS_2