
Bian membuang nafasnya dengan kasar. Setelah Ameena dipanggil dan menjelaskan semuanya, pria itu baru puas. "Terimakasih, Na. Lain kali, jika ada bayangan Nenek, kamu segera hubungi aku." Pria itu berkata dengan menatap lurus ke depan. Raut wajahnya benar-benar terlihat datar. Walaupun begitu, dia tetap terlihat tampan. Bahkan dengan tatapan datar itu, Bian terlihat seperti pria dingin yang arogan.
"Ra, aku akan menemui Kakek sekarang. Ingat pesanku, jika Nenek datang, segera hubungi aku." Memperbaiki jasnya yang tidak berantakan. "Jangankan orangnya yang datang, ada bayangannya saja segera lapor." Bian melirik Ameena lalu menatap Amara. "Kamu yang bertugas melakukan itu, Na. Raraku terlalu baik dan tidak akan tega melakukan itu." Bian mengangkat tangannya, meletakkan telapak tangan itu di atas kepala Amara. Pria itu memejamkan matanya. Sebelah tangannya tergenggam berat. Sepertinya dia sedang menahan kesal karena ulah neneknya.
Amara yang menyaksikan kejadian itu tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya menatap Bian dalam diam. Pria itu sedang menahan amarah. Diam adalah satu-satunya cara untuk menghadapinya.
"Rara, aku tidak ridho jika ada orang yang menyakitimu. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi. Aku benci keadaan ini."
Amara langsung menunduk. Kepalanya terasa berat karena Bian seperti menekan tangannya yang masih menempel di atas kepala Amara. "M.. maafkan aku, Kak."
"Jangan pernah berniat melindunginya walaupun dia adalah Nenekku." Kali ini Bian membuka matanya, menatap Amara dengan prihatin. "Aku menyayanginya karena dia adalah nenekku, Rara. Tapi, kamu juga perlu ingat, kalau kamu adalah satu-satunya wanita yang menjadi prioritasku setelah Ibu dan kakakku."
Amara menunduk semakin dalam. Mulutnya seperti terkunci, tidak bisa berkata apa pun.
"Aku akan pergi beberapa hari. Jaga dirimu baik-baik selama aku pergi. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu padamu selama aku pergi." Bian menarik kepala Amara lebih mendekat padanya. Pria itu mencium pucuk kepala Amara sambil memejamkan matanya. Wanita itu terbelalak saat menyadari apa yang dilakukan pria itu.
"Jangan bergerak, Ra. Aku hanya mencium jilbabmu. Aku tidak akan melakukan yang lebih dari ini." Bian membuang nafas dengan kasar. Pria itu menarik tubuh Amara ke dalam pelukannya. "Aku mencintaimu, Ra. Aku mohon, jangan sakiti dirimu hanya karena ingin melindungi orang lain."
Amara berdiri kaku dan tidak bisa berkata apa-apa. Tubuhnya terasa seperti robot karena tidak bergerak dalam pelukan Bian. Dia tidak menyangka kalau Bian akan memeluknya juga.
Bian melepaskan pelukan ya karena merasakan kekakuan Amara. "Maafkan aku, Ra. Aku... aku hanya..." Bian mengurungkan niatnya untuk bicara. Pria berbalik membelakangi Amara. Keadaan ini benar-benar menguji iman dan kesabarannya.
"Aku pamit, Ra. Assalamu'alaikum..." Bian bergegas meninggalkan Amara tanpa berbalik lagi. Pria itu merasa malu karena tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluk Amara.
Ameena mengerjap-ngerjapkan matanya setelah mobil Bian meninggalkan halaman rumah. Gadis itu menepuk-nepuk pipinya beberapa kali. "Mara, Mara... gue nggak lagi mimpi kan?! Aaaa... Kak Bian mencium kepala lho. Hah, itu terlihat so sweet banget." Dada Ameena turun naik karena tidak bisa menguasai perasaan yang entah apa namanya. Amara yang dicium dan dipeluk, tapi malah dia yang berjingkat-jingkat seperti orang kerasukan.
*********
__ADS_1
Bian menatap sekeliling ruang kerja Pak Akmal. Satu jam yang lalu dia sampai dan langsung menemui kakeknya. Usai shalat maghrib, Pak Akmal langsung mengajak Bian ke Ruang kerjanya. Ruangan itu adalah tempat yang paling aman bagi Pak Akmal jika ingin membicarakan sesuatu yang penting.
Setelah meminta Bian menandatangani beberapa berkas, Pak Akmal menyerahkan sebuah kotak kecil yang berkilau pada Bian.
Bian menatap kotak itu dengan alis tertaut. Kakeknya selalu penuh kejutan. Selama ini, yang lebih sering memberikan hadiah untuk Amara adalah kakeknya itu.
"Berikan itu pada Amara saat kamu mengkhitbahnya. Kakek yakin, kamu pasti belum membeli cincin untuknya, kan?" Pak Akmal membuka percakapan setelah cukup lama mereka diam.
"Hah," Bian mengalihkan pandangannya pada sang Kakek. "Rencananya aku akan membelinya setelah menemui Kakek. Aku akan pergi bersama Rara, agar dia bisa memilih yang menurutnya bagus."
Pak Akmal mendengus. "Gerakan kamu terlalu lambat. Wanita itu perlu diistimewakan agar dia tetap bahagia. Masalah beginian tidak usah sampai melibatkan dia. Kalau kamu membelinya sendiri, dia akan merasa bahagia karena merasa diberi kejutan."
Bian tersenyum kecil. "Aku hanya takut Rara tidak suka dengan pilihanku."
"Heh, mana ada seperti itu, Nak." Giliran Pak Akmal yang tersenyum. "Namanya diberikan oleh orang spesial, sudah pasti dia akan menerima dengan senang hati."
Bian terdiam. Dalam hal ini dia memang tidak ada pengalaman sama sekali. Kakeknya yang sudah berumur pasti tau banyak tentang wanita. "Ini adalah salah satu perbedaan kamu dengan Almarhum Bapak kamu. Baoak kamu itu selalu bergerak cepat jika itu menyangkut masalah wanita. Kalau kamu, kamu terlalu kaku dan masih minim pengalaman. Iya.. Kakek hampir lupa kalau kamu bukanlah Ari. Tapi, kamu adalah Bian putranya Ari." Pak Akmal termenung mengingat mendiang putranya. "Tapi, kamu tetaplah kesayangan Kakek." Menepuk-nepuk pundak Bian seraya memperbaiki posisi duduknya.
Bian tersenyum sebelum akhirnya mengangguk pasti. "Iya, Kek."
"Sekarang istirahatlah, Kakek tau kamu capek. Kamu tidur di kamar Almarhum Bapak kamu."
"Iya, Kek." Bian kembali mengangguk pasti. Ia beranjak bangkit untuk istirahat. Badannya memang terasa lelah. Sudah beberapa hari tidak tidur dengan baik karena tuntutan kerja.
Bian menatap sekeliling kamar yang ditempatinya saat ini. Kamar itu terlihat sama seperti saat terakhir kali dia memasukinya. Bibirnya mengulas senyum tipis saat melihat deretan foto Almarhum bapaknya yang memenuhi dinding kamar itu.
"Bapak, Bian udah besar sekarang. Bian mencintai seorang wanita dan berniat akan menikahi wanita itu. Nasib Bian dan Bapak hampir sama, Pak. Nenek tidak merestui Bian dengan wanita pilihan Bian. Tapi, Bian juga sama seperti Bapak. Bian tidak mau mengganti wanita itu. Bian mencintai wanita itu. Jika Bapak masih ada, Bian yakin kalau Bapak pasti akan mendukung Bian juga." Bian mengakhiri ucapannya dengan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tidak berselang lama, mata pria itu terpejam karena capek.
__ADS_1
Bian terjaga setelah lewat jam sebelas malam. Pria itu mengucek-ngucek matanya. Baru tersadar kalau dirinya belum mendirikan shalat Isya. Pembicaraan dengan Kakeknya berujung dengan dirinya tidur di kamar Almarhum Bapaknya.
Usai mendirikan shalat, Bian kembali merebahkan tubuhnya. Mengambil benda gepeng yang tidak pernah ia sentuh setelah bicara dengan Kakeknya. Ada beberapa pesan yang masuk. Namun, dia hanya membuka pesan dari Amara.
Assalamu'alaikum, Kak. Kalau udah sampai, jangan lupa hubungi aku. Miss you..
Bian mengulas senyum tipis membaca pesan itu. Tidak ada niat untuk menghubungi gadis itu karena waktu yang sudah menunjukkan hampir tengah malam. Ia hanya menjawab pesan itu agar Amara tidak merasa diabaikan.
Maaf, Ra. Aku baru sempat lihat handphone. Selesai bicara dengan Kakek, aku malah ketiduran di kamar Almarhum Bapak. Aku mau komplain nih tentang ucapan kamu.
Pesan terkirim. Namun, mata Bian terbelalak saat melihat tentang dua yang berubah warna. Eh, malah ada status sedang mengetik. Itu berarti Amara masih bangun.
Ucapan yang mana, Sayang..?
Bian kembali terbelalak. Hah, seperti mendapat angin surga mendengar kata sayang keluar dari mulut seorang Amara Andini.
Nantang nih.. awas saja kalau kita sudah menikah nanti. Huh, kamu ini.. katanya miss you. Tapi, saat dipeluk malah kaku kayak robot.
Emoji marah muncul di layar handphone Bian. Pria itu langsung tertawa. Menggoda Amara memang menjadi kesenangan tersendiri baginya. Rasa kantuknya langsung sirna dan berganti dengan mata yang segar bugar.
Situ sendiri yang ajarin cara menjaga akhlak dengan lawan jenis. Kita kan belum halal, Kak. Aku juga terkejut banget saat tiba-tiba Kak Bian mencium kepalaku.
Cuman mencium luarnya saja. Maaf kalau itu membuatmu tidak nyaman. Lain kali, aku akan izin kalau mau melakukan itu lagi. Aku benar-benar tidak bisa menahan perasaan bersalahku. Tadinya aku hanya berniat mencium pucuk kepalamu. Tapi, nafsuku mendorongku untuk memelukmu juga.
Awas...
Setan itu akan menggoda dua manusia yang saling mencintai.
__ADS_1
Bian tersenyum kecil membaca pesan Amara. Mereka terus saling mengirim pesan entah sampai jam berapa.
***********