
Bian melamun di ruang tunggu kedatangan di Bandara XYZ. Diminta Neneknya untuk ikut menjemput ke Bandara adalah suatu hal yang paling dia hindari dari dulu. Melihat pesawat selalu saja membuat perasaannya menjadi aneh. Padahal waktu kejadian kecelakaan itu, dia masih berumur sangat kecil dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Tuan, Tuan Besar dan Nyonya sudah mendarat." Pak Anton langsung melaporkan berita terupdate pada Bian.
"Pak Anton saja yang menyambut mereka. Aku akan tunggu di dalam mobil." Bian berkata datar seraya beranjak bangkit.
"T.. tapi, Tuan.." Pak Anton mengangkat tangannya untuk mencegah Bian pergi. Terlambat, Bian sudah meninggalkan tempat itu dan bergegas ke dalam mobilnya. "Kenapa Tuan Muda terlihat tidak suka kalau Nyonya Besar ikut kemari." Berucap lirih seraya menggeleng-geleng pelan. Ia mengambil handphone dan segera menghubungi seseorang. "Tuan Muda masuk ke dalam mobil. Awasi dia, jangan sampai meninggalkan tempat ini." Kembali memasukkan benda gepeng itu dan langsung bergegas menuju pintu kedatangan.
Sementara itu, Bian merengut kesal di dalam mobil. Entah darimana datangnya perasaan kesal itu. Setiap Bu Fatimah ikut datang ke rumahnya, dia selalu seperti ini. Wanita itu terlalu banyak bicara dan banyak permintaan pada ibunya, mungkin itu yang membuat perasaan kesal itu selalu ada. Bu Santi bahkan sengaja berlama-lama di Toko kalau mertuanya itu sedang di rumahnya. Bu Fatimah yang terlalu banyak aturan akan mengomplain setiap sudut ruangan rumahnya jika dia menemani wanita itu terlalu lama.
Bian mengambil handphonenya yang bergetar dari tadi. "Astaghfirullah, ternyata Ibu.." segera menggeser ikon berwarna hijau agar ibunya tidak terlalu lama menunggu jawabannya.
"Assalamu'alaikum, Bu."
"Wa'alaikumsalam, Nak. Kamu kemana aja, kenapa lama sekali angkat teleponnya?"
"Mm.. maaf, Bu. Aku di dalam mobil, tapi aku nggak tau kenapa malas sekali angkat telpon. Aku kira teman-teman yang menghubungiku, makanya aku diamkan. Tapi, saat melihat Ibu, aku langsung menjawabnya kok tadi."
Bu Santi menghela nafas berat. "Jam berapa Kakek dan Nenek kamu akan mendarat, Nak?"
"Sudah, Bu. Aku meminta Pak Anton yang menyambut mereka."
"Loh, kok gitu, Nak?" Bu Santi menautkan alisnya dengan heran. Putranya itu selalu saja bersikap cuek kalau itu menyangkut masalah neneknya. Apa mungkin kejahatan Bu Fatimah di masa lalu dirasakan anaknya itu, sehingga dia selalu terlihat malas kalau diminta neneknya ikut menjemput ke Bandara.
"Nanti juga kita akan banyak ngobrol kalau sudah di rumah." Jawab Bian singkat.
"Ibu akan pulang agak malam nanti. Kamu temani Kakek dan Nenek kamu sementara Ibu pulang. Ibu sudah meminta Bibi untuk mempersiapkan semuanya. Kamu hanya tinggal menemani mereka saja."
"Iya, Bu." Bian menghela nafas berat setelah ibunya memutus sambungan telepon.
Bian masih fokus pada handphonenya. Tiba-tiba dia teringat dengan pembicaraannya dengan Amara semalam. Gadis itu belum memberinya jawaban karena Bu Santi yang terbangun.
Ra, aku ingin bertemu dan melanjutkan pembicaraan kita yang semalam. Nanti malam aku akan datang ke tempat kamu.
__ADS_1
Bian tersenyum setelah mengirim pesan itu. Tapi, sepertinya Amara sedang sibuk sehingga tidak langsung membalas pesannya. Bian tetap menunggu. Rasa kesalnya sedikit berkurang karena perhatiannya teralihkan.
Aku sedang kuliah, Kak. Nanti kita bahas..
"Oh, astagfirullah.." Bian mengurungkan niatnya untuk mengirim pesan kembali. Amara tidak pernah cerita kalau dia sudah aktif kuliah. "Kalau udah masuk, waktu untuk bersama akan semakin berkurang." Ucapnya lirih seraya termenung. "Hmm.. bagaimana ceritanya kalau kami berjauhan nanti? Apakah Rara akan selalu setia menunggu sampai aku kembali?" Bian tersenyum getir membayangkan itu semua. Berbagai rencana dan bayangan sudah tersusun rapi dalam memori otaknya.
"Hmm.. ya Allah, seandainya aku menghalalkannya sekarang, aku tidak akan berjauhan dengannya. Tentunya dia akan ikut denganku ke Singapura. Rara akan menemaniku melanjutkan studi ku di sana." Bian tersenyum sendiri membayangkan hidup di luar negeri bersama pasangan yang halal, tentu akan terasa sangat indah dan berkesan.
Namun, senyum itu perlahan pudar. Jika itu terjadi, itu berarti Amara akan mengorbankan pendidikannya. Jika gadis itu menikah dengannya lalu ikut dengannya untuk menemaninya menyelesaikan studinya. Otomatis, Amara akan berhenti kuliah. Bian tidak mungkin merusak masa depan wanita itu.
"Huh, ternyata semuanya harus dipertimbangkan dengan benar agar tidak ada yang menjadi korban. Keindahan itu akan datang saat waktunya. Mungkin Allah ingin agar aku menikmati proses ini dulu." Bian mengusap wajahnya dengan kasar. Mengembungkan pipinya, lalu mengeluarkan dengan perlahan.
Ketukan di pintu mobil membuat Bian tersentak kaget. Pria itu mendengus saat melihat Pak Anton sedang menempelkan wajahnya di kaca mobilnya.
"Apa Tuan baik-baik saja?" Pak Anton menampakkan raut wajah khawatir.
"Kenapa Pak Anton di sini?" Bian menatap pria botak itu dengan tajam. "Mana Kakek dan Nenek?" tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun.
Bian tertegun. Kapan Kakak sepupunya itu datang. Perasaan, pas dia pergi dari hadapan Pak Anton, tidak ada penampakan Zidane di sana. Bian menghela nafas berat. Dia harus siap-siap mendengarkan omelan pedasnya nanti jika seperti ini ceritanya. "Kapan Kak Zidane datang?" Akhirnya pertanyaan itu yang terlontar dari mulutnya setelah cukup lama diam.
"Tuan Besar yang menghubunginya tadi. Saya menjelaskan kalau Tuan sedang tidak baik-baik saja. Itulah mengapa Tuan Besar langsung meminta Tuan Zidane untuk datang menjemputnya."
Bian tersenyum meringis mendengar penjelasan Pak Anton. "Terimakasih, Pak."
"Apa kita bisa pulang sekarang, Tuan?"
"Tentu saja, Pak." Bian tersenyum sumringah seraya memperbaiki posisi duduknya.
Bian hanya pulang untuk bersalaman pada kakek dan neneknya. Setelah itu, pria itu pamit untuk pergi.
"Mau kemana, Sayang?" Pak Akmal menahan tangan Bian saat bersalaman.
"Mm.. mau ke rumah teman, Kek." Jawab Bian dengan ekspresi datar. Kakeknya itu pasti sudah tau hubungannya dengan Amara.
__ADS_1
"Nanti kita bicara panjang lebar. Kamu pergi lah, temui temanmu itu. Jangan lupa ceritakan pada Kakek nanti."
Bian tersenyum. "Aku sudah menduga, kalau Kakek pasti tau semuanya."
"Tau apa, Abi?" Bu Fatimah yang duduk di samping suaminya tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Ummi nggak usah tau. Ini urusan laki-laki. Kalau Ummi mau jadi laki-laki, Abi akan menceritakan semuanya pada Ummi."
Bu Fatimah mendengus. "Abi kok ngomong gitu," menepuk pelan paha suaminya. "Sudah, Bi. Berangkat sana, nanti kamu terlambat."
"Titip salam untuknya ya. Kakek menunggu kedatangannya di rumah ini."
Bian tersenyum sumringah. Ucapan kakeknya itu merupakan sebuah pertanda kalau Kakeknya itu memberikan lampu hijau. "Terimakasih, Kek."
"Jangan lupa pulang cepat. Kakek mau bicara serius dengan kamu."
"Iya, Kek. Kakek memang yang terbaik. Assalamu'alaikum.." Bian menarik tangannya dari genggaman Pak Akmal. Pria paruh baya itu tersenyum lembut menatap kepergian cucunya.
Terkadang, Pak Akmal masih tidak percaya dengan kehadiran Bian. Baginya, Bian adalah anak laki-lakinya sebagai sosok pengganti Almarhum Ari.
"Kenapa Abi membiarkan Bian pergi? Kita harus segera bicara padanya. Ummi tidak mau Bian mencari sendiri pasangannya. Kalau dia cari sendiri, Ummi takut kalau seleranya sama dengan Almarhum Ari."
Pak Akmal langsung menepis tangan istrinya. "Ummi ini bagaimana sih? Kita kan sudah sepakat. Kita akan memperkenalkan wanita itu jika Bian belum ada calon. Kita tidak bisa memaksanya untuk menikah dengan orang lain, sedangkan dia mencintai yang lain. Apa Ummi berniat untuk menyakiti mereka?"
"Ah, Abi selalu saja berkata begitu. Kenapa sih, Abi tidak pernah mendukung Ummi."
"Abi akan mendukung, jika yang dilakukan Ummi sebuah kebenaran." Pak Akmal membuang nafas dengan kasar. "Jangan sampai Bian mengikuti jejak Almarhum Bapaknya. Abi tidak mau Bian kabur dari kita gara-gara keegoisan Ummi." Pak Akmal beranjak bangkit meninggalkan istrinya.
Sementara itu, Bian yang berdiri dibalik pintu hanya bisa menghela nafas berat. Ternyata dugaannya tidak meleset sama sekali. Bu Fatimah datang ke rumahnya, pasti membawa suatu rencana yang akan membuatnya tidak nyaman. Ia akhirnya memilih pergi. Dia berniat tidak akan pulang ke rumahnya sebelum Bu Fatimah pergi. Tapi, itu hanya sebatas rencana. Kalau ibunya sudah memintanya untuk pulang, tidak ada alasannya untuk menentang ucapan wanita yang sudah melahirkannya itu.
*********
*********
__ADS_1