Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Ameena yang banyak bicara


__ADS_3

Amara langsung tersedak. Bian langsung menyodorkan gelas ke dekat mulut gadis itu. "Hati-hati Rara ku sayang." Bian mengeluarkan sapu tangan untuk mengelap mulut Amara. "Kalian kenapa tidak menyediakan tisu sih, biar nggak ribet kalau kayak gini." Sambungnya sambil terus membersihkan mulut gadis itu.


Ameena langsung membuang pandangan. "Kak Bian ... please deh, jangan romantisan di depan gue. Bikin baper tau nggak?!" ucapnya sambil bersungut-sungut. Dia sudah di buat baper sejak kedatangan pria itu. Mulai dari menjaga hati, makan sepiring berdua, mendapat salam dari mertua sampai acara mengelap mulut, membuat Ameena benar-benar mati gaya.


"Lagian tisu ada kok di dalam. Kak Bian aja yang sok romantis, pakai acara mengeluarkan sapu tangan segala. Pantas saja Amara cepat jatuh cinta. Kak Bian merespon semuanya dengan berlebihan. Huh, belum halal aja udah kayak gini, bagaimana kalau halal nanti. Kayaknya Amara tidak boleh menginjak tanah deh." Ameena bangkit seraya meninggalkan pasangan itu.


"Mau ke mana, Na?" Amara mencoba menghentikan langkah Ameena.


"Mau tidur, ngantuk." Menjawab tanpa berbalik.


"Aku mau ikut ke rumah Kak Bian, boleh kan?"


Ameena membuang nafas dengan kasar. "Terserah lho. Tapi, kalau lho mau ikut Kak Bian, gue mau numpang pulang. Kalau lho ke sana lho pasti nggak bisa cepat kembali. Mungkin saja lho pulang satu minggu lagi."


Amara hanya tersenyum meringis. Bian ikut tersenyum meringis. Akan sangat disayangkan kalau Amara hanya berkunjung beberapa jam ke rumah pria itu. Bu Santi terlalu baik dan sangat tidak rela kalau harus berpisah cepat dengannya.


"Kalau mau ikut sekarang, kamu langsung bersiap. Nggak usah bawa baju ganti. Nanti kita mampir ke rumah Kak Ayra untuk mengambil pakaian kamu. Di sana baju kamu masih banyak kata Kak Ayra."


"Gue ikut ya, Kak." Ameena akhirnya duduk kembali di depan Amara.


"Boleh, tapi aku mau ke Kampus dulu sebentar. Kalau kalian nggak mau bosan menungguku, kalian bisa istirahat di Apartemenku dulu."


"Wah, it's amazing. Gue mau ambil tas dulu kalau begitu." Ameena kembali bangkit untuk mengambil tasnya. Amara menggeleng-geleng pelan melihat tingkah temannya. Hanya bisa menghela nafas berat setelah Ameena masuk ke dalam kamar.


"Apakah dia bertingkah seperti itu setiap hari?" Tanya Bian, melirik Amara lalu kembali menatap ke dalam Kost.


Amara mengangguk. "Dulu aku yang selalu bertingkah aneh. Bahkan kelakuanku lebih buruk dari dia..."


"Aku tau itu. Kamu bahkan di cap sebagai gadis yang paling berani waktu kita SMA dulu."


"Hah, masa sih?!" Amara langsung fokus menatap Bian.


"Mm.." Bian tersenyum kecil. "Bagaimana tidak dicap begitu. Kamu selalu cuek dalam keadaan apa pun. Kamu bahkan sering beradu mulut dengan anak pemilik Kantin waktu kamu masih murid baru."


Amara menautkan alisnya, mencoba mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu saat dia masih ingusan. Tersenyum meringis pada Bian setelah berhasil mengingat kejadian itu. Waktu itu dia sampai tidak berani ke Kantin setelah mengetahui kalau laki-laki tengil yang dia ajak berdebat ternyata anak dari pemilik tempatnya sering makan. Tapi, ujung-ujungnya pria itu malah jatuh cinta padanya. Dan Amara pun menolak mentah-mentah karena mereka memang masih ingusan waktu itu.


"Sudah ingat kan, sekarang?"


"Hihihi.. itu kan terjadi pas aku masih ingusan, Kak." Amara menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Tidak usah diingat juga nggak apa-apa. Aku malah bersyukur kalau kamu lupa. Aku hanya ingin, ada aku dalam ingatanmu saat ini."


"Ew.. sejak datang sampai sekarang, kerjaan Kak Bian gombal terus. Nggak tau apa, kalau telingaku udah sakit mendengar kata-kata gombal Kak Bian. Nggak ucapan, nggak tindakan semuanya terlihat berlebihan." Ameena berucap sambil melengos. Padahal dia tidak tau arah pembicaraan orang. Saat dia keluar tadi, hanya ucapan terakhir Bian yang berhasil dia tangkap.


"Mau ikut pulang nggak?!" Bian malah menanyakan itu.


"Iya maulah. Gue nggak mungkin betah kalau sendirian di sini."


"Kalau mau ikut, kamu jangan mengomentari apa pun yang aku lakukan atau ucapkan pada Rara. Itu adalah syarat wajib yang harus kamu penuhi kalau kamu mau ikut."


Ameena membuang nafas dengan kasar seraya memutar bola matanya kesal. "Iya, iya.. gue akan pura-pura buta dan tuli. Tapi, gue nggak mau menanggung dosa kalau kalian sampai berciuman."


"Astagfirullah, Na.." Amara dan Bian berucap serentak. "Pikiran kamu kok kotor gitu sih?!" Sambung Bian seraya menatap Ameena dengan tajam.


"Just kidding, Mas. Jangan di ambil hati lah.." Ameena menatap Bian dan Amara secara bergantian. "Ayo kita berangkat sekarang. Nanti Kak Bian telat loh. Katanya sibuk pisaaaan..." menarik tangan Amara agar bangkit. Ia harus bisa mengalihkan situasi agar tidak terus dipelototin oleh dua manusia ini.


********


Bian mengantar dua gadis itu terlebih dahulu ke Apartemennya. Tidak ingin membawanya ke lingkungan Kampus, karena takut kalau mereka diganggu lagi. "Aku antar sampai di sini ya. Password pintunya tanggal kita berjanji untuk saling menjaga hati. Kalau ada yang ketuk pintu, kalian jangan buka. Niko tidak bisa bebas masuk ke sini lagi setelah aku ganti passwordnya." Bian sudah berbalik bersiap untuk pergi.


"Tunggu, Kak!" Ucapan Amara membuat Bian berbalik lagi.


"Ada apa, Ra?"


"Oh, boleh. Aku mau lihat kamu melakukannya." Bian akhirnya diam menunggu Amara membuka pintu.


"Tuh, kan.. kamu sudah cerdas. Aku pergi dulu, waktunya sudah mepet."


"Iya, Kak. Hati-hati.."


Ameena langsung menarik tangan Amara setelah Bian pergi. "Oh, Amara Andini.. aku tidak menyangka kalau lho ternyata bisa membuka pintu menggunakan password." Menghempaskan tubuhnya di atas sofa.


Amara mengernyit. "Maksud lho apa, Na?"


"Heh, gue nggak nyangka aja, kalau lho menjadi gadis yang lebih gaul daripada Khanza. Dulu kan dia selalu meremehkan kita, Mara."


"Nggak usah bahas itu, Na."


Ting..!

__ADS_1


Amara langsung merogoh handphonenya seraya tersenyum menatap Ameena.


"Heh, itu pasti dari soulmate lho. Nggak usah bilang dari orang lain. Kayaknya dia benar-benar nggak kuat pisah lama sama lho. Ajak aja dia nikah, Mara. Kalau udah nikah kan, lho bebas mau ngapain aja dengan dia."


"Na, mulut lho dikondisikan, bisa nggak?! Perasaan mulut lho pedas banget deh akhir-akhir ini." Beralih menatap handphonenya.


Ra, buatkan aku nasi goreng ya. Kayaknya aku akan lapar saat selesai praktek nanti.


Untuk nasinya aku udah delivery. Nanti kamu minta tolong Ameena untuk mengambilnya ke


bawah. Sepertinya lima menit lagi sampai.


Ada pesan yang ketinggalan, Ra. I miss you so much.


Amara tersenyum seraya duduk di samping Ameena. "Na, gue boleh minta tolong nggak?"


"Tingkah lho mencurigakan, Mara. Lho minta tolong, tapi lho senyum-senyum kayak gitu." Ameena memperbaiki posisi duduknya. "Lho mau kerjain gue ya.."


"Apaan sih?! Gue kan udah bilang, gue mau minta tolong sama lho."


"Makanya buruan katakan. Tingkah lho mencurigakan gini." Menepis lengan Amara karena temannya itu masih senyum-senyum.


"Hehehe.. gue senyum-senyum gini bukan karena mau ngerjain lho, Na. Gue cuma terlampau bahagia aja. Sampai disini sudah paham kan?"


"Hah, gue nggak paham. Lho mau minta tolong apa?"


Amara tersenyum sumringah. "Bisa minta tolong, ambilkan aku pesanan Kak Bian di lantai satu nggak?"


"Hah, ogah ah. Gue nggak bisa buka pintunya nanti. Gue kan biasanya buka pintu menggunakan kunci."


Amara kembali tersenyum. "Nanti lho ketuk aja, biar gue yang bukakan dari dalam."


"Tapi..."


"Ini permintaan Kak Bian sendiri loh."


Ameena langsung menegakkan duduknya. "Mana buktinya?" Mencondongkan kepalanya ke handphone yang sedang di pegang Amara. "Ini.." Amara memperlihatkan lapar handphonenya pada Ameena. Temannya itu benar-benar tidak mau mengalah kalau belum melihat bukti.


Ameena melotot membaca pesan itu. "Hah, itu berarti Kak Bian tidak mau kalau lho yang turun langsung. Gue lupa, kalau gue disini bertugas sebagai Asisten lho. Okelah, gue turun sekarang. Tapi, lho harus cepat-cepat bukakan pintu saat gue menggedornya nanti."

__ADS_1


"Iya, Na.. lho itu banyak bicara deh dari tadi.."


"Hehehe.." Ameena cengengesan seraya berlalu. "Jangan kemana-mana ya. Lho tunggu gue disini." Masih terus memperingatkan Amara agar tidak meninggalkannya jauh-jauh dari pintu.


__ADS_2