
Amara hanya tersenyum kecil menanggapi, walaupun Bian menautkan alisnya mendengar jawaban gadis itu. Kata meninggalkan tidak pernah masuk dalam kamus perjalanan cinta mereka.
Bian POV...
Aku hanya bisa menarik nafas dalam-dalam mendengar jawaban Rara. Sungguh, dia menjawab dengan sangat tenang. Huh, apa dia tidak menyadari kekhawatiran ku jika harus menjauh darinya. Andaikan dia mau menikah, ingin rasanya aku menikahinya saat ini juga, agar dia bisa menjadi milikku seutuhnya.
Setahun lebih menjalin hubungan dengannya. Tidak ada kata pacaran, tetapi kami seperti saling memiliki satu sama lain. Iya... alhamdulillah, sampai saat ini tidak pernah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Walaupun kami sering jalan berdua. Bahkan, Rara juga sering sekali ke Apartemen. Tapi, wanitaku ini benar-benar pandai menjaga diri. Mudah-mudahan Allah selalu melindungi kami dari kekhilafan yang sekiranya bisa merusak iman.
Masalah di Pesantren kemarin..
Aku mengaku khilaf. Aku benar-benar takut kalau Rara meninggalkanku. Apalagi dia berlari dengan sangat kencang. Kalau dia benar-benar pergi kemarin, mungkin Papa tidak akan pernah mengizinkan aku menemuinya lagi. Ya Allah, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada diriku jika itu benar-benar terjadi. Kehilangan sosok wanita yang berhasil mencuri perhatian ku dan mengusik ketenangan jiwaku. Itu semua di luar bayangan. Mudah-mudahan itu semua hanya bayangan dan tidak akan pernah terjadi.
Aku berharap acara makan malam itu adalah pertemuan terakhir Rara dengan Nenek. Aku tidak mau mereka bertemu karena khawatir kalau Nenek menyakiti Raraku lagi.
Aku tidak tau bagaimana caranya harus menghormati Nenek. Dihormati, dia sendiri tidak bisa menghargai ku. Bukan hanya aku, tetapi Ibuku juga. Beberapa kali aku hampir lepas kendali karena dia tidak bisa mengontrol ucapannya pada Ibu. Untungnya aku memiliki Ibu yang memiliki tingkat kesabaran di atas rata-rata. Ibu selalu berhasil menenangkan ku jika Nenek berkata semaunya. Merubah sifat orang yang sudah usia lanjut memang susah. Aku hanya bisa berdoa. Semoga Nenek segera mendapatkan hidayah dia menyadari kesalahannya.
Aku menatap Rara. Wanitaku ini malah melamun. Apa kejadian semalam masih memenuhi pikirannya? Mudah-mudahan dia bisa segera melupakan semua itu. Walaupun itu semua sulit, aku yakin, Rara adalah wanita yang baik.
"Ra, kamu mikirin apa, kenapa sampai melamun?" Aku melambai-lambaikan tanganku di depan wajahnya.
"Eh, ng.. nggak mikirin apa-apa, Kak."
Aku tersenyum lemah mendengar jawabannya. Tidak semuanya boleh aku ketahui. Rara juga memiliki hati yang berhak dia sembunyikan isinya. Biarlah Allah yang mengatur segalanya.
__________
"Mm.. aku lupa membuatkan Kak Bian minuman." Amara mengalihkan pembicaraan karena melihat Bian menatapnya dengan tatapan yang berbeda.
"Aku nggak butuh minuman manis, Sayang. Yang duduk di depan ku saja sudah terlalu manis."
Amara mengatupkan bibirnya. Matanya sampai tidak bisa berkedip. Belum lagi gaya Bian menopang dagu sambil menatapnya membuatnya seperti terhipnotis.
"Ra..."
"Rara.."
"Amara..."
"Amara Andini.."
__ADS_1
Amara mengerjap-ngerjap. "K.. Kak Bian bilang apa?" Ucapnya spontan karena benar-benar tidak menyadari apa yang dikatakan pria itu.
"Apa aku terlalu tampan, sampai kamu bengong dan tidak menyadari apa yang aku katakan?" Bian memperbaiki posisi duduknya. Memperbaiki kerah bajunya yang tidak berantakan untuk bergaya di depan Amara.
Amara mengangkat sebelah bibirnya. "Iya, Kak Bian memang terlalu tampan. Aku bahkan tidak bisa berkedip karena tatapan Kak Bian seperti hipnotis yang menghipnotis ku." Menjawab dengan ekspresi datar. Hal itu membuat Bian spontan menatap Amara. Tatapan mata itu terlihat sangat jujur, membuat pria itu jadi salah tingkah.
"Ra, aku mau minum teh manis saja. Manisnya Kamu tidak bisa menghilangkan rasa haus ini."
Amara tersenyum kecil. "Dasar pria! Makanya, kalau Kak Bian haus, jangan coba-coba bilang tidak. Aku tidak akan meracuni Kak Bian kok." Beranjak bangkit untuk membuatkan minuman untuk Bian.
Saat Amara beranjak ke dapur, Bian di kejutkan oleh kedatangan Ameena. Gadis itu datang menggunakan sepeda motor. Mengucap salam dengan setengah berteriak.
"Assalamu'alaikum, Amara Andini. Gue datang..." Ameena menghentikan langkahnya di depan pintu. "Ehehehe.. maaf, Bos. Aku nggak tau kalau ada Kak Bian. Hehehe..." Ameena cengengesan seraya berjalan mendekat.
"Silahkan duduk, Na. Amara sedang ke belakang. Kamu sudah menyelesaikan tugasmu, kan?"
"Siap, Bos. Aku sudah mengkopi semua materinya untuk Amara. Aku tidak mungkin membiarkan teman terbaikku ketinggalan materi kuliah. Iya.. walaupun tujuannya izin hanya untuk bertemu keluarga besar calon suami. Hmm... calon suami yang entah kapan.." Ameena mengalihkan pandangannya. Melirik sejenak ke arah Bian. Pria itu sedang menatapnya dengan tajam. "Bercanda, Bos. Tatapannya serem banget sih.." ucapnya lirih hampir tak terdengar.
Bian masih terus mengintimidasi Ameena sampai Amara datang membawa teh hangat untuk Bian.
**********
Suara klakson mobil di halaman rumah membuat Amara segera bergegas keluar. "Na, Kak Bian datang. Mau ikut gue atau mau membawa motor sendiri."
Ameena yang sedang memasang sepatunya menatap Amara sekilas lalu kembali fokus. "Ikut lho aja. Gue kan nantinya pulang kemari lagi."
"Iya udah cepetan kalau begitu. Pulang kuliah nanti, gue mau pergi sebentar."
"Lho mau kemana gue ikut."
"Mau ke rumah Kak Bian jemput Kak Mayra."
Ameena terdiam beberapa saat. "Mm.. iya dah gue ikut. Tapi nggak lama kan?"
"Nggak.."
Ameena akhirnya bangkit, bergegas mengikuti langkah Amara yang sudah keluar duluan.
Jam terasa begitu cepat berputar. Usai mendirikan shalat Zuhur di sebuah Masjid di depan Kampus, Amara bengong sendiri menunggu Ameena yang sedang shalat. Ternyata, hinaan Bu Fatimah malam itu masih membekas kuat dalam ingatan Amara. Sampai saat ini, Amara masih sering mengingat kejadian buruk itu.
__ADS_1
Amara dan Ameena mengerjakan kewajiban mereka secara bergantian. Terlalu banyak barang berharga di dalam tas ransel yang dibawa Amara, sehingga mereka gantian menjaganya.
"Woi, lamunin apa lho?!" Ameena melambai-lambaikan tangan di depan wajah Amara. Temannya itu terlihat tidak bersemangat hari ini. Dari semalam, Ameena sudah curiga karena Amara kebanyakan melamun. "Kalau ada masalah cerita sama gue, Mara. Dari semalam gue lihat, lho kayak gini terus deh." Ameena duduk memeluk lututnya setelah selesai memasang sepatu. Menatap Amara yang hanya diam mendengar ucapannya.
Amara tersenyum kecil. "Nggak ada apa-apa, Na. Gue cuman mengingat kejadian-kejadian kemarin."
"Kejadian buruk ya, makanya sampai menghayal kayak gitu."
"Ih, lho ini asal tebak aja. Mana ada kayak gitu, Na." Amara berusaha tersenyum kembali. Takutnya Ameena semakin curiga dan membuatnya harus berkata jujur.
Ameena melengos. "Jangan coba-coba membohongi gue, Mara. Sudah berapa tahun lho jadi teman gue? Lho nggak pernah melamun kalau nggak ada masalah. Jadi, gue saranin lho segera cerita sebelum gue maksa lho."
"Nggak ada apa-apa, Na." Amara masih berusaha mengelak. Ameena orangnya suka maksa.
"Lho sedang ada masalah, Mara. Kalau lho masih berat untuk cerita, gue masih bersedia menunggu sampai nanti malam. Intinya, gue mau lho jujur menceritakan semuanya sama gue. Masalah lho harus dibagi ke gue, biar beban hidup lho berkurang." Ameena menepuk-nepuk pundak Amara. Gadis itu sulit dibohongi karena keakraban mereka yang sudah seperti saudara kandung.
"T.. tidak ada masalah apa-apa, Na. Gue cuman capek aja."
"Huh," Ameena mendengus. "Sudah jelas banget, tapi masih aja ngelak. Kalau lho tetap ngeyel nggak mau cerita, gue akan bilang ke Om Arif."
"Eh, mau bilang apa lho?" Amara menepis lengan Ameena.
"Tuh kan.." Ameena menunjuk Amara karena ekspresi gadis itu langsung berubah begitu dia menyebut nama Pak Arif. "Lho masih mau membohongi gue, jangan sampai gue mengadukan masalah lho ke Om. Om Arif sudah terlalu banyak beban pikiran, Mara. Kan kasihan kalau gue datang dan menambah beban itu lagi."
"Gue..."
"Jangan coba-coba untuk mengelak lagi. Kalau lho masih berisik membuat alasan bla.. bla.. bla.. lagi, gue nggak akan maksa lho u tuk cerita. Tapi, gue juga nggak akan pernah meminta lho untuk menceritakan apapun." Ameena berkata dengan ekspresi datar.
"Na, kok lho ngomong gitu sih..?!" Amara kembali menepis lengan Ameena. Yang ditepis sengaja membuang pandangan. Umpan yang diberikannya ternyata bekerja dengan cukup baik.
"Iya, nanti gue cerita sama lho. Tapi ingat, Na. Jangan pernah lho ngomong apapun sama Papa."
Ameena kembali menatap Amara dengan senyum sumringah. "Nah, gitu dong.." menguyel-uyel pipi Amara gemas.
"Lho ini, Na. Kenapa sih gue nggak pernah bisa bohong sama lho?"
Ameena tersenyum. "Teman itu akan saling mendukung dalam segala kondisi, Mara."
"Terimakasih sudah menjadi teman terbaikku, Na."
__ADS_1
*********