Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
debat


__ADS_3

Kini, Doni sedang berada di tempat kerja barunya, dan ternyata ia bekerja di kafe milik Joe. Baru beberapa hari bekerja, Doni langsung menjadi sorotan pelanggan kafe milik Joe, sontak banyak pelanggan yang berdatangan dari biasanya. Umumnya mereka adalah gadis-gadis remaja sekolahan datang untuk melihat Doni secara langsung. Mereka terus menatap kearah Doni dan berbisik sesuatu sesama mereka. Bahkan ada yang berani mengambil fotonya secara diam-diam sambil senyum-senyum. Hal ini membuat kafe milik Joe mendadak terkenal.


Joe tampak senang, tak biasanya pelanggan begitu ramai yang datang ke kafe miliknya. Itupun kalau ada, pasti tidak seramai ini juga. Apalagi dengan rombongan gadis-gadis remaja sekolahan itu. Mereka terus datang bergantian hanya untuk melihat Doni langsung.


Disisi lain, ia merasa jengkel karena dari tadi para gadis-gadis itu terus memperhatikan Doni yang berlaga keren di depan mereka dan tidak mempedulikannya. Dilihatnya Doni dari kejauhan dengan tatapan sinisnya. Biasanya, setiap kali pelanggan yang datang pasti selalu memujinya karena ia paling tampan. Namun, kali ini hal itu terjadi pada Doni si karyawan barunya yang lebih muda dan tampan darinya.


“Yang benar saja? Dia seperti penyihir hebat yang menyulap kafeku menjadi tempat perkumpulan penggemarnya dalam satu jam. Aku tidak percaya, pria itu membawa aura keberuntungan untukku,” seru Joe antara senang dan kesal. Senang karena ia banyak pelanggan, kesal karena ia jadi terabaikan.


Doni memang melakukan pekerjaanya dengan baik. Ia yang paling sibuk dari karyawan lainnya. Karena sedaritadi para pelanggan terus memanggilnya meminta pesanan. Doni yang tak bisa menolak, hanya menurut saja. Apalagi ia juga sedang di awasai oleh bosnya, Joe.


Seorang gadis cantik berusia dua puluhan mengenakan rok mini nan seksi datang dan melihat-lihat papan menu kafe. Doni yang berada di meja layan hendak menyapanya namun disambar langsung oleh Joe yang datang entah dari mananya dengan melempar senyum terbaiknya pada gadis itu.


“Selamat datang nona. Apa ada yang ingin dipesan?” sapa Joe dengan tatapan menggoda. Diperhatikannya penampilan wanita itu dengan saksama. Benar-benar menggoda dan seksi. Bisa dikatakan ia memiliki lekuk tubuh yang indah, dan nyaris membuat Joe kehilangan akal sehatnya.


Gadis cantik berambut pirang itu melihat sebentar dan menoleh ke arah Doni yang berada di hadapanya berdiri melempar senyum. Ia tak menanggapi Joe sama sekali yang berdiri disebelahnya menebar pesona.


“Oo, Jadi kau pria yang dibicarakan itu. Kau benar terlihat sangat tampan,” kata gadis itu memuji. Ia bisa menebak sendiri tentang apa yang membuatnya penasaran dengan sekali pandang ke arah Doni.


Joe kikuk dibuatnya. Ia diabaikan begitu saja.


Doni tersenyum malu mendengarnya. "Ya begitulah" jawabnya.


“Jadi benar, kafe ini memiliki karyawan yang tampan dan muda, karena itu aku sangat penasaran dan datang kesini. Setelah melihatmu, aku jadi percaya,” seru gadis itu girang. Terjawab sudah rasa penasarannya selama ini.


Doni tersenyum manis dan jadi malu mendengarnya. Joe menelan ludah seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Kemudian ia memotong pembicaraan mereka segera. Mencuri-curi kesempatan untuk mengambil simpati wanita itu.


“Itu benar. Selain makanan disini sangat enak, memiliki karyawan pria tampan memang menjadi ciri khas kafe ini,” seru Joe dengan wajah sumringahnya.


Gadis itu menoleh kearah Joe dan mengangguk-anggukan kepala tak berkomentar.


Diperhatikannya penampilan Joe dengan seksama.


“Kau siapa? Apa kau juga karyawan di tempat ini?” gadis usia dua puluh delapan tahun itu bertanya.


Dengan semangatnya ia hendak menjawab bahwa ia adalah bos kafe ini, tapi ia mengurung niat kembali justru berkata lain.


“Bukan… Maksudku... Iya benar, aku juga karywan disini,” jawabnya dengan terbata-bata dan lugu.


Gadis itu tersenyum puas.


“Benarkah?” ia kemudian mengangguk-angguk mengerti dan tak melanjutkan katanya.


Doni juga membenarkan. Hal itu membuat Joe menelan ludah dengan reaksi gadis itu. “Jadi, apa yang ingin anda pesan nona manis?” tanya Doni dengan sikap menggoda tak kalah dengan Joe dengan kebiasaannya menggoda dan merayu pelanggan cantik.


Gadis itu tersenyum dengan perlakuan manja Doni padanya.


“Americcano. Aku pesan americcano, dan aku ingin Americano buatanmu,” katanya setelah melihat daftar menu minuman di hadapannya.


“Dengan senang hati. Tunggu sebentar, aku akan membuatkannya untukmu,” balas Doni dengan ramah.


Gadis itu menurut dan menghampiri kursi kosong untuk menunggu pesanannya.


Joe menghampiri Doni yang sedang membuatkan minuman.


“Hei anak baru. Sihir apa yang kau gunakan, hah? Kenapa semua gadis selalu menatapmu seoalah-olah mereka tidak melihatku?” bisik Joe mengada-ngada. “Kau menurunkan reputasiku.”


Doni terkekeh geli mendengarnya.


“Itu sangat mustahil. Apa bos iri padaku?” Doni berbalik bertanya.

__ADS_1


Joe menyangkal.


“Itu tidak mungkin. Aku adalah pria tampan dan juga mapan yang jauh lebih berkelas darimu. Secara alami, aku banyak dikelilingi wanita cantik. Kau tidak tau itu.”


“Tapi kenyataanya mereka lebih tertarik denganku. Ah, aku sangat malu mengatakannya,” ejek Doni sambil menahan tawanya. Ia membawakan pesanan wanita tadi dan hendak mengantarkannya.


Tiba-tiba Bob yang baru saja datang langsung marah-marah pada Joe dan Doni tanpa sebab.


“Apa yang kalian lakukan disini? Kenapa tidak melayaniku? Aku ini adalah pelanggan!” umpat Bob yang baru datang sudah kelihatan kesal sendiri. Terutama untuk Joe yang tidak menyadari kedatangannya.


Joe pun beralih ke arah Bob.


“Selamat datang. Silahkan duduk tuan. Apa yang ingin kau pesan?” kata Joe segera dengan sopan seraya melempar senyum.


Bob tak menyahutnya malah menoleh kearah Doni yang belum pernah dilihatnya.


“Aku sudah mengenal semua karyawan disini, tapi aku belum pernah melihatmu. Kau? Apa kau karyawan baru disini?” tanya Bob menebak.


Doni mengangguk membenarkan.


“Ya. Aku baru saja bekerja di kafe ini.”


Bob sekarang memperhatikan penampilan Doni. Diperhatikan setiap detailnya dengan seksama. Memang diakuinya Doni memang pria yang tampan dan rupawan. Ia juga memiliki tubuh yang tinggi dan tegap. Sangat jelas, Doni merupakan pria olahragawan dengat otot-otot lengannya yang berisi.


“Penampilanmu boleh juga. Kau juga tampan,” puji Bob.


“Terima kasih,” balas Doni terharu. Ia pun beranjak dari tempatnya untuk mengantarkan pesanan wanita tadi.


Bob cukup terkejut dengan pemandangan hari ini yang berbeda. Dilihatnya, ada banyak yang datang berkunjung ke kafe Joe. Dan lebih anehnya, yang datang adalah gadis-gadis remaja sekolahan yang selalu melirik ke arah Doni.


“Ada apa ini? Sepertinya semua gadis disini memperhatikanmu.” seru Bob saat Doni sudah kembali. “Dengan wajah tampanmu itu seharusnya kau jadi artis saja,” lanjutnya memberi usul.


“Aku tidak tertarik dengan hal itu,” balas Doni.


Joe mendesah. Sementara Doni hanya senyum-senyum saja.


“Sudahlah. Apa kau lapar? Kau mau pesan sesuatu? Biar aku buatkan,” katanya memotong pembicaraan Bob.


“Tentu saja, karena itu aku datang kesini,” balas Bob sambil tersenyum. “Aku pesan seperti biasa,” lanjutnya.


Joe mengeluh saat semua meja sudah penuh.


“Tapi kelihatanya tidak ada lagi tempat untukmu. Bagaimana ini?” kata Joe begitu menyadari semua kursi sudah penuh.


Bob memperhatikan keadaan sekitarnya. Ia merenggut kesal.


“Kenapa?” Bob ikut memperhatikan keadaan seputarnya.


“Mejanya sudah penuh dengan gadis-gadis itu. Apa yang mereka lakukan disini? Mereka malah keluyuran disini. Seharusnya mereka sudah berada dirumah sekarang. Bukankah sebentar lagi mereka akan ujian?”


Joe memberikan pandangan ke arah Doni.


“Mereka adalah penggemarnya. Kafeku jadi terkenal karena dia. Mereka datang untuk melihatnya. Lihatlah,”


Bob jadi kagum mendengar penjelasan Joe barusan dan belum sempat bersuara tiba-tiba Alex datang dan meramaikan suasana saat ini. Ia juga jadi sorotan para gadis yang melihatnya karena wajah tampannya.


“Ada apa ini? Kenapa malah berkumpul disini? Apa aku melewatkan sesuatu?” seru Alex yang datang langsung mengalihkan perhatian.


“Kenapa kau ada disini?” tanya Bob dengan kesal.

__ADS_1


“Apa? Ini jam makan siangku. Aku tidak boleh datang kesini? Apa kau menyewa tempat ini sehingga tidak membolehkanku datang?” ejek Alex segera tak ingin kalah.


Lalu kemudian Dave datang setelahnya dan menyapa dengan santainya. Suasana semakin bertambah heboh.


“Apa pestanya sudah selesai?” kata Dave menduga-duga.


“Kau juga datang?” kata Joe ditujukan pada Dave.


Dave membenarkan.


“Alex mengajakku untuk datang kesini. Ia bilang membutuhkan sedikit hiburan. Aku paling tidak bisa menolaknya jika seorang bos yang meminta padaku,” jelas Dave.


Alex membenarkan.


“Kali ini aku membenarkannya.”


“Lalu apalagi, pesanlah sesuatu yang mengenyangkan dan menyegarkan. Perutku sangat lapar” sorak Dave. Ia menoleh kearah Doni. “Kau pasti pelayannya, aku ingin menu spesial hari ini dan jus jeruknya,” kata Dave pada Doni.


“Baik. Tapi bisakah anda untuk menunggu sebentar. Mejanya sudah penuh,” kata Doni memberitahu.


Alex dan Dave kikuk di buatnya. Ia memperhatikan keadaan di sekelilingnya, dan ternyata benar. Tempat ini sudah penuh.


Alex mendengus kesal.


“Apa-apaan ini? Kenapa tempat ini mendadak dengan lautan gadis-gadis remaja? Dan kenapa mereka terus memperhatikan kearah kita? kata Alex dengan pede.


Joe terlihat senang.


“Jangan senang dulu. Sudah jelas bahwa mereka adalah penggemar karyawanku,” jawab Joe memberi pandangan pada Doni. “Mereka datang untuk melihatnya. Sekarang mereka datang bukan untuk melihatmu” lanjutnya menjelaskan.


Kening Alex dan Dave berkerut, tidak mengerti apa yang di jelaskan Bob pada mereka.


“Apa?” alex terkejut. “Memangnya tempat ini sudah berubah menjadi tempat perkumpulan penggemarnya? Bagaimana bisa mereka adalah penggemar pria ini? Siapa kau?”


“Memangnya kenapa? Mereka hanyalah seorang pelanggan seperti yang lainnya. Dan mereka sudah datang sejak tadi. Aku rasa hari ini adalah hari keberuntungan bosku. Jadi, mohon bersabarlah untuk menunggu meja kosong.” bantah Doni dengan berani.


Alex tidak percaya dengan apa yang dikatakan Doni padanya.


Alex jadi jengkel dengan perkataan Doni padanya.


“Sebaiknya cari tempat lain saja. Aku tidak bisa menunggu,” ujar Alex memberi usul.


“Jangan seperti itu. Tunggulah sebentar lagi. Temanmu sudah memesan makanannya,” kata Doni dengan santai.


Joe membenarkan.


“Itu benar,” balasnya cepat. “Baiklah. Aku akan menyediakan ruangan spesial untuk kalian.”


"Memangnya ada ruangan spesial disini?" tanya Bob dengan polos.


"Tentu saja ada. Itu ruangan tidak sembarangan orang di dalamnya. Ayo ikut aku" balas Joe.


Ketiganya hanya menurut. Ternyata tidak lain tidak bukan Joe membawanya keruangannya di lantai atas.


"Sudah ku duga, kau membawa kami kesini. Tidak apa-apa, aku suka susana tenang ini" kata Dave.


Joe terkekeh mendengarya.


"Iya benar. Silahkan tunggu sebentar, aku akan membuatkan pesanan kalian dulu"

__ADS_1


Disana mereka bisa menyantap makanan mereka sambil diselangi obrolan kecil yang mengundang banyak tawa.


__ADS_2