
Bian terjaga pukul tiga dini hari. Ia meringis karena tubuhnya jatuh dari sofa. Baru sadar kalau dirinya ketiduran saat menunggu istrinya keluar dari kamar tamu. Belum lagi tubuhnya menggigil karena kedinginan.
Matanya kembali menatap pintu kamar yang masih tertutup rapat. Sepertinya Amara benar-benar tidak mau keluar dari kamar itu. Wanita itu pasti sangat kecewa dengan sikapnya semalam. Tersenyum lemah, karena kecewa pada dirinya sendiri yang tidak bisa mengontrol ucapannya sendiri. Ia melangkah ragu untuk kembali ke kamarnya.
Bian mengurungkan niatnya untuk menutup pintu kamar saat teringat pada istrinya. Siapa tau Amara tiba-tiba kembali ke dalam kamar. Ia memilih mengambil air wudhu karena belum shalat tahajud.
Namun, sampai waktu subuh tiba, tidak ada tanda-tanda Amara akan kembali ke kamar. Bian menghela nafas berat. Sepertinya, kesalahannya saat ini sangat fatal sehingga Amara tidak bisa langsung memaafkannya begitu saja.
Sementara itu...
Amara kembali merebahkan tubuhnya usai shalat subuh. Tubuhnya terasa lemah. Belum lagi rasa mual yang tidak kunjung berhenti. Baru saja memejamkan mata, rasa mual kembali datang. Terpaksa ia bangkit lagi dan bergegas ke kamar mandi.
Ia segera mengelap mulutnya saat mendengar suara Bu Santi di depan pintu. Dia tidak mungkin mengabaikan wanita itu hanya karena kesal pada suaminya.
"Amara, buka pintunya, Nak."
"Iya, Bu. Sebentar..." segera menaikkan tutup kepala jaketnya untuk menyembunyikan wajahnya yang bengkak.
Ceklek..!
"Maaf, Bu. Aku baru keluar dari kamar mandi." Ucap Amara dengan kepala tertunduk.
Bu Santi mengangkat wajah Amara dengan perlahan. Wanita itu terhenyak melihat wajah menantunya yang membengkak. "Astagfirullah, Nak. Wajah kamu kenapa sampai seperti ini? Bian..."
"Jangan memintanya untuk kemari, Bu." Menahan tangan mertuanya yang sudah berbalik untuk memanggil Bian ke dalam kamar. "Aku... aku..." Amara kembali menunduk. "Aku tidak mau bertemu dengannya saat ini."
Bu Santi tertegun beberapa saat. "Ibu tidak menduga kalau seperti ini jadinya." Menarik tubuh Amara ke dalam pelukannya. "Apa Bian sudah tau tentang kehamilanmu, Nak?"
Amara menggeleng pelan dalam pelukan mertuanya. "Aku mau menenangkan diri dulu, Bu. Aku nggak bisa bicara dengannya saat ini. Jangankan bicara, Bu, mengingatnya saja membuatku ingin menangis lagi." Amara menumpahkan air matanya dalam pelukan mertuanya.
"Sudah, jangan menangis lagi. Nanti Ibu antar kamu ke Dokter. Ibu khawatir melihat keadaan kamu yang seperti ini." Mengelus-elus kepala Amara dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Pertengkaran itu adalah bumbu rumah tangga, Nak. Semua orang pasti pernah merasakan seperti yang kamu rasakan saat ini. Nanti Ibu nasehati Bian, biar bisa menjaga keseimbangan antara mengurus pekerjaan dan rumah tangga. Anak itu..." melepaskan pelukannya dan kembali menatap wajah Amara. "Ayo keluar dulu. Kamu pasti belum makan dari semalam. Habis sarapan nanti, Ibu antar kamu periksa ke Dokter."
Amara langsung menggeleng. "Aku tidak mau keluar, Bu. Aku.. aku tidak mau bertemu dengannya."
Bu Santi menatap Amara dengan prihatin. "Kalau begitu Ibu akan bawakan sarapan kamu kemari. Kalau kamu tidak nyaman di sini, kamu tinggal di rumah Ibu sementara waktu. Nanti kalau perasaan kamu sudah membaik, kamu bisa pulang lagi."
"Aku mau minta izin pergi ke lingkungan yang berbeda, Bu." Ucap Amara sambil mengusap air matanya.
"Apa kamu mau ke rumah papa kamu, Nak?" Menatap Amara seraya menautkan alisnya.
Amara mengangguk dengan ragu. Sebenarnya dia tidak ingin ke rumah orang tuanya. Dia hanya ingin pergi dari rumah itu untuk mengusir perasaan sedih setiap kali mengingat Bian.
"Kalau kamu pergi ke rumah orang tua kamu, apa kamu bisa menjawab pertanyaan papa atau mama kamu nantinya, Nak?" Mencengkram lembut pundak Amara. "Masalah rumah tangga itu tidak baik diumbar, Nak. Yang paling baik itu, dibicarakan dengan baik-baik. Diskusikan dengan pasangan, apa yang membuat kalian sampai seperti ini."
Amara menatap mertuanya sekilas lalu menunduk. Dia tidak bisa berpikir jernih saat ini. Yang ada di pikirannya hanya ingin pergi dan tidak mau melihat Bian. Mengingat suaminya hanya membuat dadanya terasa sesak.
"Pikirkan ucapan Ibu ini, Nak. Apa kamu mau masalah keluarga kamu menjadi konsumsi orang banyak. Apa kamu mau orang lain menjadikan kamu bahan pembicaraan dan menjadi tranding topik. Apa kamu mau orang yang sekiranya tidak suka padamu tertawa bahagia mendengar masalah kamu dengan suamimu?" Menatap Amara dengan dalam, menunggu jawabannya.
"Aku hanya ingin menghindarinya saat ini, Bu." Jawab Amara seraya mengalihkan pandangannya. Air mata kembali mengalir di pipinya.
Amara akhirnya menatap mertuanya. "Tapi... di rumah Ibu juga banyak sekali gambar dia, Bu. Apa bedanya rumah ini dan rumah Ibu. Dua rumah ini penuh dengan penampakan dia."
Bu Santi tersenyum kecil. "Ada banyak ruangan yang tidak ada penampakan dia. Ada tiga kamar tamu di rumah Ibu. Kamu bisa memakai salah satunya sebagai tempat kamu beristirahat. Nanti Ibu yang akan bicara pada Bian. Ibu juga tidak akan bilang kalau kamu menenangkan diri di rumah Ibu. Ibu akan bilang, kamu mengasingkan diri karena merasa asing di rumah sendiri."
Amara tersenyum lalu memeluk tubuh Bu Santi dengan erat. Hal itu membuat Bu Santi bisa bernafas dengan lega. Untungnya Amara lebih cepat di luluhkan. Tidak keras kepala seperti Bian.
Bu Santi keluar dari kamar setelah menyelimuti tubuh Amara dan memintanya untuk beristirahat.
"Ibu..."
"Astagfirullahal'adzim.." Bu Santi mengusap-usap dadanya karena terkejut dengan Bian yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Bagaimana..?"
"Ssstttt...." Bu Santi memotong pertanyaan yang belum keluar. "Jangan tanyakan apapun." Menarik tangan putranya menjauhi pintu kamar. "Ibu mau kamu menjelaskan apa yang terjadi semalam. Istri kamu terlihat sangat marah sama kamu." Melirik putranya dengan kesal.
Bian menghela nafas berat. "Aku tidak sadar dengan apa yang aku ucapkan, Bu."
Bu Santi menggeleng-geleng pelan, tidak percaya dengan pengakuan putranya. Mendudukkan tubuhnya di depan meja makan. "Salah dia apa, sampai kamu marah dan tidak bisa mengendalikan ucapan kamu sendiri?"
"Hah, aku juga tidak tau, Bu. Dari kemarin dia itu rewel dan banyak maunya. Semalam sampai muntah-muntah di pinggir jalan. Bilang nggak kuat dengan udara di dalam mobil lah. Aku kan jadinya nggak ngerti dengan maunya dia."
"Kamu yang terlalu egois, Nak. Kalau kamu melihat keadaan istri kamu yang sekarang. Kamu akan menyesal telah mengatakan istri kamu menyebalkan."
Bian tersentak. "M.. maksud Ibu?"
"Tubuh istri kamu bengkak karena alergi dingin semalam." Jawab Bu Santi dangan ekspresi datar.
Bian langsung bangkit karena terkejut. "Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" Bersiap meninggalkan meja makan untuk melihat keadaan Amara.
"Jangan menemuinya, Nak!"
Bian berbalik menatap ibunya. "Ibu..."
"Menemuinya saat ini hanya akan membuatnya semakin sakit, Nak. Mengingatmu saja membuatnya mengeluarkan air mata. Sepertinya ucapan kamu keterlaluan sehingga membuatnya sangat sakit." Kembali duduk dan mengambil sendok untuk mulai sarapan. "Lebih baik kamu sarapan dan bersiap berangkat kerja. Untuk sementara waktu biarkan istrimu menenangkan diri dulu. Dia bilang mau pergi ke rumah orang tuanya. Ibu yang akan mengantarnya nanti."
"Tapi..."
Bu Santi langsung menggerak-gerakkan jari telunjuk di depan wajahnya. "Tidak ada kata tapi. Kesalahan kamu terlalu fatal, Bian. Kalau Ibu yang jadi Amara, Ibu bahkan tidak akan mau pulang ke rumah ini."
"Ibu..."
"Kamu itu tidak hidup sendiri lagi, Nak. Hargai pasangan hidup. Wanita yang kamu sakiti semalam adalah wanita yang akan menemani kamu sampai tua. Dia yang akan menjadi penyemangat hidup kamu. Jangan hanya karena dia banyak maunya, lalu kamu tidak menjaga ucapan kamu padanya. Perasaannya sangat rapuh saat ini. Ada sesuatu yang belum kamu ketahui tentang dirinya. Tadi malam dia ingin manyampaikan hal itu padamu. Tapi, kamu terlalu sibuk sampai-sampai tidak sadar sedang bersamanya. Kamu juga mengabaikannya dan memilih berkumpul dengan rekan-rekan Kakek kamu tanpa mengajaknya ikut serta. Yang ada kamu malah marah gara-gara dia mengajak kamu pulang."
__ADS_1
Bian terdiam, tidak bisa mengatakan apapun untuk menepis ucapan Ibunya. Dia tidak bisa tidur sejak tahajud tadi karena memikirkan kesalahannya. Belum lagi karena Amara yang benar-benar tidak kembali ke kamar. Jangankan Amara, dia saja malu pada dirinya sendiri karena sangat kekanak-kanakan dalam manghadapi masalah itu.
***********