Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Kamu Tidak Bersalah, Ra


__ADS_3

"Aku benar-benar merasa bersalah, Kak." Amara membuang nafas dengan kasar.


"Jangan memikirkan yang tidak-tidak, Sayang. Intinya, jangan pernah minta maaf jika aku tidak memintanya." Bian masuk ke dalam mobil yang sudah dibuka pintunya oleh Daniel. "Sekarang kamu istirahat saja. Love you, Sayang. Assalamu'alaikum..." mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban istrinya. "Kita langsung menuju bandara, Kak. Lima menit lagi Ibu dan Kak Ayra akan mendarat." Perintah Bian pada Daniel sambil sibuk memasang seat belt.


"Baik, Tuan."


Bian menarik nafas panjang. Ia sengaja tidak memberitahu Amara kalau dia akan pulang cepat dan pulang ke rumah bersama ibunya. Namun, mendengar laporan istrinya tadi membuat perasaannya sedikit tidak enak. Apa yang akan dikatakannya pada ibunya nanti, jika neneknya mengatakan semuanya pada ibunya.


"Kenapa Tuan terlihat cemas? Apa ada yang mengganggu pikiran Tuan?" Daniel bertanya, tetapi tatapan matanya fokus ke jalan raya.


"Aku yakin Kak Daniel sudah tau apa yang aku bicarakan dengan Rara tadi."


Daniel tertawa kecil. "Aku rasa itu adalah sebuah perkembangan, Tuan. Nona Amara berani melawan. Itu berarti Nyonya Besar tidak akan bisa berbuat atau mengatakan apapun sesuai kehendaknya. Siapa tau hal itu malah membuat Nyonya bisa berdamai dengan takdir seperti yang selalu dikatakan Nona Amara padanya. Nanti saya akan tunjukkan bukti kuatnya pada Tuan."


"Kenapa harus nanti kalau buktinya sudah ada di tangan Kak Daniel sekarang."


"Hmm.. saya akan memberikannya saat kita sampai di Bandara nanti. Saya takut tidak konsentrasi menyetir. Apa lagi saat ini saya sedang bersama Tuan."


"Baiklah.." Bian memperbaiki posisi duduknya. "Terimakasih karena Kak Daniel selalu membantuku menyelesaikan masalah keluargaku."


Daniel mengangguk seraya tersenyum kecil. "Sebenarnya saya tidak suka terlibat dalam urusan rumah tangan orang lain, Tuan. Tapi, saya harus melakukan ini pada keluarga Tuan karena perintah dari Papa saya. Sedangkan papa saya menyampaikan amanat dari Tuan Besar. Jadi, mau tidak mau saya harus mau."


Bian manggut-manggut mendengar ucapan Daniel. Bagaimanapun juga, pria itu sangat berjasa pada keluarga besarnya.


Bian POV...


Aku akui keahlian Kak Daniel. Pria ini sering melakukan pekerjaan yang tidak mampu dicerna oleh akal sehat manusia. Memang sih, dia melakukan banyak hal atas perintah Kakek. Tapi, apakah karena uang yang dikeluarkan Kakek tidak sedikit, itu yang membuatnya bisa melakukan banyak hal.


Hah, entahlah. Aku nggak mau menambah beban pikiranku untuk memikirkan Kak Daniel. Dia terlalu cerdas untuk digambarkan sifatnya. Yang terpenting sekarang, aku hanya ingin tau apa yang terjadi sebenarnya antara Nenek dan istriku. Kenapa Rara bilang kalau dirinya merasa sangat bersalah. Apakah terjafi adu jotos dan Nenek kalah, sehingga Rara merasa bersalah?

__ADS_1


Ah, aku memikirkan apa sih. Astagfirullah... aku tidak boleh memikirkan hal yang tidak-tidak. Aku sendiri melarang istriku berfikir negatif. Kok aku sekarang yang melakukan itu.


Sebenarnya aku sudah kehabisan akal untuk membuat Nenek menerima Rara. Orang tuaku yang satu ini benar-benar keras kepala kebangetan. Padahal sudah berulang kali Kakek menolak keinginannya. Hmm.. aku akan melihat seburuk apa pertikaian mereka kali ini. Jika terlihat sangat fatal, aku harus berani memutuskan untuk pisah rumah dengannya. Aku kasihan pada istriku. Dia pasti tidak tenang karena terus-menerus bertikai dengan Nenek. Aku akan meminta pertimbangan dari Ibu. Kalau untuk Kakek, aku sudah punya jalan keluar agar bisa membuatnya mengerti.


Ya Allah, lama-lama aku ikut pusing dengan masalah ini. Apa sebenarnya yang membuat Nenek sangat membenci Rara. Wanita yang bagaimana yang menurutnya baik. Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Mudah-mudahan Allah segera membuka hatinya agar bisa menerima istriku.


__________


Lamunan Bian buyar saat Daniel menyentuh lengan kirinya. Saat Bian sadar, ternyata pintu mobil sudah terbuka. "Eh, kita sudah sampai, Kak."


"Saya sudah membuka pintu dari dua menit yang lalu, Tuan. Sepertinya Tuan terlalu asyik berperang dengan pikiran Tuan."


Bian hanya tersenyum samar. Segera keluar dari mobil tanpa berkata sepatah kata pun. Menatap sekitar sambil memperbaiki kemejanya. "Apa Ibuku ..."


"Nyonya sedang mengambil bagasinya, Tuan." Potong Daniel. Tapi, Tuan Ardian yang melakukan itu. Sedangkan Nyonya dan Nona Ayra sedang berjalan kemari."


Daniel hanya menghela nafas berat melihat tingkah bosnya. Menyerahkan handphonenya pada Bian agar tuannya itu bisa melihat apa yang terjadi sebenarnya antara istrinya dan neneknya. "Kalau begitu saya yang akan menjemput...."


"Kak Daniel pergilah." Giliran Bian yang memotong. Pikirannya yang kacau membuatnya malas melakukan apapun. Untungnya tidak ada pekerjaan saat ini, sehingga pikirannya bisa fokus untuk memikirkan masalah keluarganya. Ia membuka handphone Daniel. Ternyata, banyak sekali rahasia neneknya yang disimpan Daniel di sana.


Lima belas menit kemudian..


Daniel kembali diikuti oleh keluarga Bian. Chayra melangkah lebih cepat setelah sampai di dekat mobil. Ingin rasanya dia marah pada adiknya karena tidak ikut menyambut kedatangannya. Namun, saat ia membuka pintu mobil, ia mendapati Bian sedang fokus menatap hamdphone sambil sesekali mengusap air matanya.


Bian terlihat gugup saat menyadari kedatangan ibu dan kakaknya. Ia berusaha menyunggingkan senyum saat melihat Chayra yang sedang menatapnya. "K.. Kak Ayra sudah sampai?" Tanyanya dengan gugup. Segera meraih tangan Kakaknya dan menciumnya. Terlihat jelas, dia melakukan itu untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya.


"Iya, kamu geser dikit. Biar Kakak bisa duduk di sini." Chayra segera duduk untuk menghindari ibunya agar tidak duduk di samping Bian. Mereka saling menjaga perasaan ibunya. Tidak mau ibunya ikut menanggung beban keluarga mereka.


"Amara tidak ikut, Nak?" Bu Santi yang duduk di depan berbalik menatap Bian.

__ADS_1


"Mm... tidak, Bu. Aku sengaja tidak bilang padanya, kalau aku ikut menjemput Ibu. Aku memintanya untuk istirahat di rumah."


Bu Santi hanya menatap putranya tanpa mengatakan apapun. Berbalik kembali karena tidak mendapatkan apa yang di harapkannya.


"Kalau kalian ada masalah, cerita pada Ibu. Ibu nggak suka kalian kayak gini." Ucap Bu Santi setelah berbalik. Ekspresi wajahnya terlihat tidak suka mendengar jawaban putranya.


"Eh," Bian menelan ludahnya. Melirik Chayra yang juga sedang tertegun mendengar ucapan ibunya.


"Tidak ada masalah apa-apa, Bu. Ibu bisa menanyakan itu pada Rara nanti. Aku berangkat dari kantor tadi. Nggak sempat pulang dulu karena waktu sedikit mendesak." Bian berusaha menjelaskan.


"Iya, terserah kamu saja." Jawab Bu Santi datar.


**********


Bian masuk ke dalam kamarnya setelah mengantar ibu dan kakaknya menemui Pak Akmal. Sekalian juga mangantar mereka ke kamar masing-masing untuk beristirahat terlebih dahulu.


Ia tersenyum samar saat melihat istrinya sedang terlelap dengan posisi tubuh yang meringkuk. Ia merasa berdosa pada wanita itu. Sudah banyak sekali penderitaan yang di alami wanita itu setelah mengenalnya.


Bian duduk perlahan di sisi ranjang. Kembali tersenyum menatap wanita yang dicintainya itu. Tangannya terangkat, memindahkan anak rambut yang menutupi wajah cantik wanita itu.


"Kamu tidak bersalah, Ra. Memang seharusnya kamu melakukan itu agar Nenek tidak terus-terusan mengusik mu. Maafkan aku, Sayang. Sejauh ini aku belum bisa membuatmu bahagia. Yang ada aku malah menambah penderitaanmu karena Nenek. Aku tidak berani berjanji padamu. Tapi, aku akan usahakan kalau pertikaian tadi adalah yang terakhir. Kalau itu terjadi lagi, aku akan memberimu kuasa untuk memilih tempat yang nyaman untuk kau tempati." Mengusap-usap pipi istrinya. Mencium dahi dan bibir Amara.


Bian membuka kemeja yang membalut tubuhnya. Mengambil kaos tipis dan memakainya agar merasa nyaman beristirahat. Merebahkan tubuhnya di samping Amara. Memeluk tubuh wanitanya itu dari belakang. Entah mengapa hal itu sangat dia senangi saat ada waktu beristirahat siang bersama istrinya.


Amara mengerjap-ngerjap setelah merasakan hembusan nafas Bian teratur di tengkuknya. Tadinya dia menyangka kalau dirinya sedang bermimpi, Bian pulang dan melakukan itu semua padanya. Ternyata, itu semua adalah kenyataan.


Ia berbalik lalu tersenyum menatap wajah tenang Bian yang sedang tertidur. Pria itu sudah berjuang banyak untuknya. Ia mendekat kan wajahnya dan mencium bibir Bian. "Terimakasih untuk semuanya, suamiku. Maafkan aku yang menambah beban hidupmu." Menenggelamkan wajahnya di dada pria itu sebelum akhirnya ikut terlelap kembali. Aroma tubuh Bian menambah ketenangannya dalam tidur.


*********

__ADS_1


__ADS_2