
"Assalamu'alaikum..." Bian membuka pintu dengan wajah lesu. Zidane mengekor di belakangnya dengan wajah tak kalah lesu dengan Bian.
"Capek, Kak.." Amara mengambil alih tas kerja suaminya. Mencium tangan Bian. Sementara Bian meraih kepala istrinya dsn menciumnya.
"Kakak kamu mana, Mara?" Zidane menanyakan keberadaan istrinya karena tidak ada yang terlihat menunggunya seperti Amara.
"Kak Alesha masuk duluan tadi. Sebenarnya dia juga menunggu Kak Zidane. Tapi, adik kecil nangis mau bobo. Jadinya Kak Lesha masuk duluan. Terus anak yang ketiga juga rewel. Anak yang pertama dan kedua sih, aku yang bantu bobokin. Tapi, anak ketiga Dan keempatnya rewelnya nggak ketulungan."
"Oh, gitu." Jawab Zidane pendek. Perasaannya sedikit kecewa karena tidak di sambut oleh istrinya. Tapi, mau bagaimana lagi. Istrinya memang terlihat kewalahan mengurus keempat anaknya.
Bian tiba-tiba tertawa kecil sambil merangkul pundak istrinya. "Makanya jangan suka ngebuntingin istri setiap tahun. Tahu sendiri kan akibatnya. Kak Lesha jadinya tidak bisa memberikan perhatian pada Kak Zidane."
Zidane melotot, "lah, dianya yang mau hamil setiap tahun. Tapi, alhamdulilah.. Allah memberikan kepercayaan dengan memberikan kami keturunan. Orang aja lelah ikhtiar, tapi belum juga di karuniai anak. Aku mah, tiga kali tembak aja langsung jadi." Zidane tersenyum mengejek seraya berlalu dari hadapan Bian dan Amara.
Bian mengernyitkan bibirnya. Melihat hal itu membuat Amara tersenyum. "Kenapa tampang Kak Bian kayak gitu?" Menarik wajah Bian agar menghadapnya. Walaupun ia sedikit berjinjit untuk melakukan itu.
"Apa kamu mau seperti Kak Lesha, Sayang?" Menatap istrinya tanpa berkedip.
"Mau apa?"
"Bunting setiap tahun, biar kita punya anak selusin." Berbisik dengan lembut di telinga Amara.
"Eh, astagfirullah...." Amara langsung menepis lengan suaminya.
Bian kembali tertawa kecil. "Hahaha... ayo kita masuk. Kita buat anak biar cepat punya anak selusin kayak Kak Zidane."
Amara langsung mencubit perut Bian. "Ish, jangan ngomong yang aneh-aneh deh. Kita juga belum shalat Isya. Kita makan malam dulu, shalat isya, baru deh pikirin yang kayak begituan."
"Mm.. kayaknya aku juga bisa kenyang kalau makan malam pakai itu."
Amara menyebikkan bibirnya. "Mana bisa kayak gitu. Yang ada Kak Bian malah kelaparan setelah itu."
"Hehehe..." Bian cengengesan.
"Masuk, ah. Kak Bian suka ngomong aneh. Ini bukan di kamar. Kalau ada orang yang dengar bagaimana?"
"Ngapain pikirin orang. Yang jadi tuan rumah kan kita. Lagian kalau jam segini, asisten sudah di rumah belakang semua. Nanti waktu selesai makan malam, baru ada yang masuk untuk membereskan semuanya."
"Hmm..." timpal Amara. Meninggalkan suaminya yang masih ngomong ngelantur tidak jelas.
Amara bersiap masuk ke kamar mandi setelah masuk ke dalam kamar. Namun, tangannya di tahan oleh Bian. "Mau kemana, Ra..?" Menarik tangan istrinya sampaj jatuh di atas tubuhnya yang sedang terlentang di atas ranjang.
"Eh, aku mau ambil air wudhu. Memangnya Kak Bian sudah shalat? Kak Bian juga belum menyimak bacaanku. Kemarin udah janji mau melanjutkan hari ini."
__ADS_1
"Iya.. aku masih ingat, Sayang. Tapi nanti dulu. Aku mau dipeluk kamu sejenak untuk menghilangkan penat." Memindahkan istrinya ke sampingnya. Membelai lembut kepala istrinya yang sedang tidak memakai hijab. Memeluk tubuh wanitanya itu dengan erat.
"Mau dipeluk berapa menit?" Amara melingkarkan tangannya di pinggang suaminya.
"Satu atau dua jam." Bian memejamkan matanya menikmati pelukan istrinya.
"Jangan terlalu lama."
"Aku cuman bercanda, Ra. Sebentar saja, Sayang. Aku benar-benar lelah." Masih memejamkan matanya.
Amara tersenyum, membiarkan apapun yang ingin di lakukan suaminya. Ia ikut memejamkan matanya, walaupun sudah pasti tidak akan bisa terlelap.
___________
Amara bangkit setelah memindahkan tangan suaminya yang terlelap di sampingnya. Ia tersenyum seraya menatap wajah Bian, mengusap wajahnya lalu mencium dahinya. Beranjak bangkit, meninggalkan suaminya. Ia akan shalat terlebih dahulu karena Bian benar-benar terlelap dalam pelukannya.
Bian membuka sebelah matanya, mengangkat sedikit kepalanya menatap Amara yang sudah masuk ke kamar mandi. Ia tersenyum sambil mengusap dahinya yang di cium Amara tadi. "Hah, dapat ciuman gratis.." kembali memejamkan matanya untuk melanjutkan tidurnya. Tetapi, ia bangkit kembali seraya melafadzkan istighfar.
"Astagfirullah.. aku belum shalat isya." Mengucek pelan matanya. Mengalihkan pandangannya saat terdengar notifikasi pesan masuk di handphonenya. Ada pesan masuk dari Zidane. Bian langsung membuka pesan itu karena khawatir ada yang darurat.
Dek, sepertinya kita harus ke kota B besok. Masalah ini terlihat cukup serius. Jangan sampai berita ini sampai ke telinga Kakek. Aku mengkhawatirkan keadaan Kakek, Dek.
Bian mendengus. Padahal Zidane sudah masuk ke dalam kamar, tetapi ia masih bisa mengirimkan pesan itu padanya. Ternyata, kakak sepupunya itu lebih gila kerja daripada dirinya.
"Ha ...."
"Kenapa tidak langsung menjawab pesan Kakak, Dek? Kakak sudah bilang kalau ini adalah masalah serius."
Bian menyebikkan bibirnya. Niat hati ingin mengucap salam ia urungkan karena Zidane langsung memotong ucapannya begitu ia menjawab panggilan. "Aku baru saja membacanya, Kak."
"Huh, bagaimana dengan ajakan Kakak? Kita harus segera turun tangan. Pelakunya ini terlihat sangat berani. Kakak takut dia semakin berani dan kita sendiri yang rugi."
"Iya, Kak. Aku akan meminta Kak Daniel mengatur jadwalku."
"Kamu kemasi koper kamu malam ini. Jangan lupa minta bekal pada istrimu, agar tidak tergiur dengan jajanan di luar. Kita tidak tau pasti berapa hari kita akan mengurus masalah ini."
Bian hanya tersenyum lemah seraya menggeleng-geleng pelan menanggapi. Di saat pikiran mereka sedang kacau karena masalah perusahaan. Ternyata Zidane tidak pernah lupa masalah bekal batin.
Bian menghela nafas berat. Perjalanan kali ini terasa agar berat. Entah karena tidak ada persiapan atau apa. Tetapi, Bian hanya merasa ada yang ganjal.
"Kak.."
Bian mengangkat wajahnya, beralih menatap Amara yang entah sejak kapan berdiri di hadapannya. Terlalu fokus menatap benda gepeng di tangannya membuatnya tidak fokus menatap sekitar. "Ada apa, Ra?" Menatap istrinya sekilas lalu kembali menatap handphone.
__ADS_1
"Aku kedatangan tamu tak diundang."
Bian kembali menatap istrinya. Tetapi, kali ini ia menatapnya dengan serius. "Maksud kamu?"
Amara menghela nafas berat seraya duduk di sisi ranjang. Aku datang bulan, Kak." Menunduk kecewa. Karena telat beberapa hari, ia mengira dirinya hamil.
Bian terkejut. Spontan ia menatap istrinya yang terlihat kecewa di depannya. "Kamu menstruasi, Ra?"
Amara mengangguk lemah. Terlihat jelas kalau wanitanya itu tidak menginginkan situasi ini.
Bian tersenyum. "Kok lesu, Sayang. Nggak apa-apa kok. Lagian, besok aku mau ke luar kota bersama Kak Zidane."
Amara menatap suaminya. "Kenapa aku tidak langsung hamil seperti kebanyakan wanita pada umumnya, Kak. Padahal sudah dua minggu kita berhubungan." Mengalihkan pandangannya, masih menampakkan wajah kecewa.
"Hei, Astagfirullah.. nggak boleh ngomong gitu, Sayang. Rizki kita belum sampai sana." Bian menangkup pipi istrinya. Menatapnya lalu mencium lembut dahinya. "Lagian kamu juga baru selesai terapi. Mungkin saja hal itu mempengaruhi kesuburan kamu. Santai saja, Sayang. Jangan merasa bersalah kayak gitu. Allah yang mengatur segalanyam."
"Mmm..." Amara menundukkan pandangannya karena tidak kuat menatap mata suaminya.
"Yang seharusnya kecewa itu aku, Ra. Aku nggak bisa minta bekal untuk cadangan di luar kota."
Amara mengernyit, menurunkan tangan Bian yang masih menangkup pipinya. "Kapan Kak Bian ke luar kota?" Bertanya tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari suaminya.
"Besok, Ra. Ada masalah yang cukup serius di kantor cabang di kota B. Itulah mengapa Kak Zidane datang kemari. Nggak apa-apa kan, kalau aku pergi beberapa hari?"
Amara menggeleng pelan. "Nggak apa-apa. Mudah-mudahan urusannya cepat selesai. "Maaf tidak bisa melayani Kak Bian malam ini."
"Tidak usah di pikirkan." Bian menyandarkan kepala Amara di dadanya. Sebenarnya ia juga merasa kecewa. Tapi, ia tidak mau menunjukkan hal itu karena mengkhawatirkan istrinya. Baru bersama dua minggu. Apa ada yang patut di permasalahkan dari hubungan itu.
*********
Malam itu....
Amara keluar dari kamar karena merasa haus. Stok air di kamarnya habis, sehingga dia harus keluar agar bisa menyegarkan tenggorokannya yang terasa kering. Tidak ada Bian di sampingnya membuatnya harus bergerak sendiri. Biasanya Bian selalu melarangnya keluar karena dia yang akan melakukan itu untuk istrinya.
Amara masuk kembali ke dalam kamar setelah mengisi penuh botolnya. Namun, ia menghentikan langkahnya saat ada suara di belakangnya.
"Amara, Tunggu!"
Amara berbalik dan sangat terkejut saat mendapati Bu Fatimah yang memanggilnya tadi. Wanita paruh baya itu melipat tangannya seraya menatap Amara dengan tatapan tidak suka. "Nenek mau bicara sama kamu." Berjalan pelan mendekati Amara.
Amara mengernyit. Bu Fatimah berjalan dengan sangat baik. Padahal kemarin wanita itu jalan tertatih-tatih saat ada Bian di rumah. Namun, Amara tidak mau mempermasalahkan hal itu. Yang jadi masalahnya sekarang. Ada Apa, sehingga wanita itu mendatanginya saat suaminya tidak ada di rumah. Ia hanya diam, tak sedikit pun ia menimpali ucapan wanita paruh baya itu.
"Minum ini setiap malam." Menyodorkan sekotak obat pada Amara.
__ADS_1
********