Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Berita Duka


__ADS_3

Amara akhirnya menjawab panggilan suara dari Pak Akmal. Namun, saat dia menjawabnya, Pak Akmal malah mencari Bian karena ada hal penting yang ingin disampaikan.


"Minta suamimu hubungi Kakek setelah dia selesai shalat nanti. Kakek tutup dulu, ada yang harus segera di selesaikan. Assalamu'alaikum..."


"Baik, Kek, wa'alaikumsalam.." Amara meletakkan kembali handphone suaminya. Menunggu Bian keluar dari kamar mandi untuk menyampaikan pesan dari Pak Akmal.


Bian hanya mengangguk mendengar ucapan istrinya. Ia langsung menghubungi kakeknya setelah selesai shalat. Tapi, saat bicara dengan Pak Akmal, dia menghindar ke balkon karena tidak mau istrinya mendengar apa yang dibicarakannya dengan sang kakek.


"Kamu mau ke Kantor, Mas?" Amara menatap suaminya yang sedang berganti pakaian.


"Nggak, Ra. Aku mau ke Rumah Sakit sebentar."


"Siapa yang sakit, Mas?"


"Nenek.." jawab Bian singkat. Tidak mengalihkan pandangannya dari cermin.


"Loh, Nenek sakit apa? Kenapa tidak ada orang yang memberitahukan hal itu padaku." Menyentuh pelan pundak suaminya. "Aku ikut, Mas."


"Jangan!" Bian menahan tangan istrinya. "Kamu belum pulih betul, Ra."


"Aku sudah sembuh, Mas. Aku juga mau mengetahui keadaan Nenek."


"Terus Adreena mau kamu tinggal di rumah? Kalau dia nangis, bagaimana? Nanti aku kabari kamu keadaan Nenek. Lagian, aku juga mau ke kantor polisi sebentar."


"Apa kamu mau menjenguk Nona Khanza?" Tanya Amara dengan sinis.


"Ada negosiasi yang perlu di lakukan dengan wanita itu. Ini penting, Sayang." Beralih menatap istrinya. Merengkuh pundak istrinya untuk meyakinkan. "Aku nggak ada niat lain. Kalau aku tidak pergi, Kakek harus turun tangan lagi. Sementara Kakek sedang banyak pikiran karena Nenek belum siuman."


"Mas..." Amara menatap mata suaminya. "Sebenarnya Nenek sakit apa?"


"Mm.. ada pembuluh darah yang pecah. Aku nggak bisa menjelaskan kondisinya pada kamu, Sayang."


Amara tertegun. Keadaan yang disebutkan suaminya itu adalah sebuah kondisi yang sering sekali berakibat fatal. "Apa.. apa ada pemicunya sebelum Nenek tidak sadarkan diri?"


Bian terdiam sejenak. Dia berniat untuk tidak menjelaskan apapun pada istrinya. Namun, melihat wajah Amara yang menatapnya seperti itu membuatnya menghela nafas berat. "Nenek bertengkar hebat dengan Kak Alesha. Kata para asisten yang menyaksikan kejadian itu, Nenek mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas untuk Kak Alesha. Kak Alesha jadinya ngelawan karena tidak tahan mendengar ucapan Nenek. Kamu kan tau kerasnya Kak Alesha. Tapi ... kita juga tidak bisa menyalahkan Kak Alesha sepenuhnya."


"Apa kamu benar-benar tidak mau mengajakku pergi, Mas?" Menatap suaminya dengan penuh harap.


"Maafkan aku, Sayang. Aku benar-benar tidak mau mengajakmu pergi saat ini."


"Mas.."


"Jangan keras kepala, Sayang. Ini demi kebaikan kamu. Kakek pun sengaja tidak mengatakan apapun pada kamu tadi. Dia tidak mau kamu memikirkan Nenek, karena kamu masih dalam tahap pemulihan." Mencengkram pelan pundak Amara, agar wanitanya itu mau mengerti.

__ADS_1


"Langsung kabari aku kalau kamu sudah sampai Rumah Sakit nanti."


"Iya..." tersenyum lembut karena Amara mau cepat mengalah. Bagaimanapun juga, kota tempat tinggal kakeknya sangat jauh dengan tempat tinggalnya sekarang. Dia tidak mungkin mengajak istrinya naik pesawat dengan keadaannya yang baru selesai melahirkan.


***********


Malam itu...


Amara mondar-mandir di ruang tamu menunggu kepulangan suaminya. Sudah jam sepuluh malam, tapi tidak ada tanda-tanda suaminya akan pulang. Bian menghilang dari pagi dan tidak ada kabar sampai sekarang. Bian berjanji akan pergi sebentar dan akan langsung pulang. Tapi, suaminya malah hilang kabar sampai jam sigini.


"Nyonya, Nona Adreena nangis. Sepertinya dia lapar." Ida datang dengan tergopoh karena Amara meminta asistennya itu menjaga anaknya saat dia turun tadi.


"Mm... kamu diam di sini, Ida. Tunggu Mas Bian pulang."


"Mm.. bagaimana ya, Nyonya. Saya mau panggil Bu Sumi dulu, biar dia yang akan menemani saya."


"Iya, terserah kamu, Da." Amara bergegas ke kamarnya untuk menyusui putrinya. Padahal ia baru beberapa menit turun, tapi Adreena benar-benar tidak bisa tidur lelap malam ini.


Sambil menyusui putrinya, Amara mencoba menghubungi suaminya kembali. Ia menarik nafas lega saat suaminya bisa menjawab panggilannya.


"Ra, nanti aku hubungi kamu. Nenek sedang kritis. Kalau ada apa-apa nanti aku kabari kamu."


Tut.. tut.. tut..


Amara tidak bisa terlelap sepanjang malam. Sampai waktu subuh tiba, suaminya tidak pulang ke rumah. Hal itu membuat Amara semakin khawatir. Untuk menghubungi suaminya pun, ia tidak berani melakukan itu. Dia takut mengganggu suaminya.


Amara terkejut saat tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar. "Siapa..."


"Nyonya.. saya diminta Ibu untuk membangunkan Nyonya."


"Saya sudah bangun, Bik. Ada apa?"


"Nanti Ibu yang akan menyampaikan. Ibu sedang menunggu Nyonya di bawah."


"Saya akan segera keluar, Bik." Amara segera memasang jilbab instannya karena tidak mau mertuanya menunggunya terlalu lama. Perasaannya semakin campur aduk. Jantungnya berpacu dengan sangat cepat. Ia segera turun untuk menemui mertuanya.


Bu Santi langsung berdiri saat melihat kedatangan Amara. Wanita itu menarik tubuh menantunya san memeluknya dengan erat. "Nak, Ummi sudah pergi, Nak."


"Ibu... maksud Ibu apa?"


"Ummi ... Ummi meninggal dunia, Nak."


"Innalillahiwainnailaihiroji'un.."

__ADS_1


"Kita akan pergi ke sana bersama-sama sekarang." Bu Santi melepaskan pelukannya. Mata wanita itu terlihat sembab karena terlalu banyak menangis. Minta bantuan Bi Sumi dan Ida menyiapkan barang yang akan kamu bawa. Kita akan menginap sekitar sepuluh malam di sana."


Amara masih tertegun, antara percaya dan tidak dengan apa yang disampaikan mertuanya.


"Bi Sumi, Ida..."


Sumi dan Ida datang dengan tergopoh. Berdiri di hadapan Bu Santi dan Amara menunggu perintah.


"Bantu Amara mengemasi barang-barang yang akan dibawanya. Kami akan berangkat ke Bandara setelah shalat subuh."


"Baik, Bu." Timpal Sumi dan Ida serentak.


"Mohon kerjasama kalian untuk menjaga rumah dengan baik selama kami pergi."


Sumi dan Ida mengangguk serentak. Dua asisten Amara itu langsung gerak cepat untuk mempersiapkan keperluan Amara dan Adreena selama di sana nanti.


Amara juga ikut naik ke kamarnya untuk membersihkan badannya sebelum berangkat. Dia juga memompa ASI sebagai persiapan untuk selama di pesawat nantinya.


Bu Santi dan Amara sampai di rumah duka pukul setengah delapan pagi. Bian langsung menghampiri Ibu dan istrinya saat melihat kedatangan mereka.


"Mas..." Amara menghambur memeluk tubuh suaminya setelah Bian selesai menyalami ibunya.


"Kita harus kuat, Sayang. Nenek memang sudah ditakdirkan untuk pergi secepat ini."


Amara mengangguk-angguk dalam pelukan suaminya. "Aku belum sempat minta maaf sama Nenek Mas."


"Cukup ikhlas, Sayang. Kamu hanya perlu mendoakan Nenek, semoga amal ibadahnya di terima Allah. Maafkan semua kesalahan yang pernah di perbuatnya selama hidup dulu."


"Insya Allah, aku sudah ikhlas, Mas. Tidak ada hal yang paling indah selain memaafkan. Walaupun memaafkan itu berat. Tapi, insya Allah, aku sudah ikhlas dengan semuanya."


Bian tersenyum kecil mendengar jawaban bijak istrinya. Membawa Amara untuk mendekat ke jenazah Bu Fatimah sebelum di semayamkan. Mengajak istrinya membacakan seuntai doa untuk sang nenek.


Selesai berdoa, Bian meminta istrinya untuk bergabung dengan anggota keluarga yang lain. Semua anggota keluarga hanya diam saat Amara masuk. Di sana juga ada Alesha. Tatapan matanya terlihat layu dan lelah karena banyak orang yang menyalahkannya atas kepergian Bu Fatimah. Zidane pun mengambil tempat duduk yang tidak sama dengan istrinya. Apa mungkin pria itu juga ikut menyalahkan istrinya atas kejadian ini. Hanya Chayra yang duduk di sampingnya. Membiarkan Alesha menyandarkan kepalanya di bahunya. Walaupun dia juga merasa terpukul atas kejadian ini. Alesha juga perlu membela dirinya sendiri.


"Sudah, Sha.. jangan menyalahkan diri sendiri." Chayra menepuk-nepuk punggung Alesha untuk menguatkan. "Ini semua sudah menjadi takdir. Allah sudah menggariskan usia Nenek memang sampai di sini."


"Tapi aku yang menyebabkan semuanya, Ayra. Kalau saja aku bisa menahan diri untuk tidak menimpali perkataannya waktu itu, setidaknya Nenek tidak akan pergi dengan cara seperti ini."


"Tidak ada yang perlu disesali, Sha. Kita hanya perlu berdoa untuk Nenek. Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosa Nenek. Semoga amal ibadahnya di terima yang Maha Kuasa."


"Aku salah, Ayra. Aku yang terlalu keras kepala dan tidak memikirkan perasaan Nenek."


"Sudah.. jangan di bahas lagi. Tidak ada yang patut di sesali setelah semua terjadi." Zidane tiba-tiba mendekati istrinya dan menarik tubuhnya ke dalam pelukannya. Pria itu mendekati istrinya setelah mendengarkan seuntai nasehat dari Bu Santi. Apalagi saat ini Alesha sedang hamil anaknya. Dia tidak bisa terus-terusan di pojokkan seperti ini karena itu bisa mempengaruhi kehamilannya.

__ADS_1


************


__ADS_2