Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Rencana Siapa?


__ADS_3

"Tuan, Nona Khanza sudah sampai. Dia masih di lantai dasar." Daniel langsung memberikan informasi begitu datang pemberitahuan dari anak buahnya di lantai satu.


Bian melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Itu berarti dugaan Daniel benar, kalau wanita itu sengaja datang agak siang agar bisa makan siang bersamanya.


"Dugaan Kak Daniel tidak meleset. Wanita itu memang sudah merencanakan semua ini." Bian beranjak bangkit, membereskan sisa pekerjaannya di atas meja sebelum pertemuan dengan Nona Khanza dimulai.


"Biar saya yang membereskan meja Tuan. Tuan persiapkan diri saja." Daniel mengambil alih lembar demi lembar dari tangan Bian.


"Apa yang harus dipersiapkan, Kak? Dia itu orang biasa. Mau dibilang tamu penting, biasa saja." Jawab Bian acuh tak acuh.


"Setidaknya Tuan persiapkan mental Tuan agar tidak tersulut emosi jika ada ucapannya yang tidak berkenan nantinya."


"Hah," Bian membuang nafas dengan kasar. "Aku akan langsung mengusirnya kalau dia berani macam-macam." Mengusap wajahnya dengan kasar. "Kak Daniel keluarlah. Berikan sambutan hangat untuk Nona Khanza yang terhormat.


"Baik, Tuan." Daniel beranjak keluar. Bian langsung duduk kembali setelah Daniel keluar dari ruangannya. Entah mengapa hari ini benar-benar terasa berat.


Hanya menunggu beberapa menit, pintu ruangannya terbuka dari luar. Daniel muncul bersama seorang wanita yang tidak lain adalah Khanza. Daniel menunduk sopan di hadapan pasangan Bian. "Tamunya sudah sampai, Tuan."


"Mm..." timpal Bian tanpa sedikit pun menatap Khanza. "Persilahkan dia duduk."


Khanza mengernyit melihat ekspresi dingin Bian. Laki-laki itu ... dulunya selalu memberikan senyuman hangat dan bersahabat untuknya. Pas pertemuan kemarin juga dia tidak bersikap seperti ini. Entah, apakah Bian benar-benar tersinggung dengan ucapannya waktu itu pada Amara, sehingga sikapnya sangat dingin kali ini.


"Oh iya, Kak Daniel juga mintakan OB untuk buatkan dia minuman hangat. Di luar sedang gerimis. Nona Khanza pasti membutuhkan minuman yang bisa menghangatkan tubuhnya." Kali ini Bian berucap dengan ekspresi datar.


"Oh, terimakasih, Kak." Jawab Khanza dengan ekspresi bahagia. Mendapat secuil perhatian dari Bian membuatnya benar-benar merasa tersanjung.


Bian berjalan mendekati sofa tempat Khanza sedang duduk. "Apa kita sudah bisa memulai diskusinya?"


Khanza menautkan alisnya mendengar pertanyaan Bian. Apa pria itu benar-benar tidak mengajaknya berbasa-basi terlebih dahulu. Dia sudah mempersiapkan pertemuan hari ini dari jauh-jauh hari. Apalagi melihat pria itu benar-benar membuka berkas yang sudah dipersiapkan Daniel di atas meja. Ia langsung mendengus melihat hal itu.


Bian mengangkat wajahnya. "Apa ada yang salah?"


"Eh, t.. tidak.." Khanza memperbaiki posisi duduknya.


Bian kembali fokus menatap berkas di depannya. Meminta Daniel untuk membacakan beberapa poin penting yang perlu di setujui Khanza sebelum menjalin kerjasama.


Diskusi itu berlangsung dengan serius sampai lewat jam setengah dua belas. Tidak ada keributan apapun. Khanza juga benar-benar fokus kali ini. Tidak ada lagi kalimatnya yang tidak nyambung dengan pembahasan. Mungkin karena Bian yang bersikap dingin padanya, itu yang membuatnya menjadi canggung untuk membuka percakapan yang lain.


Daniel izin keluar ruangan saat menyadari ada tugasnya yang belum terlaksana. "Tuan, saya pamit ke kamar mandi sebentar."

__ADS_1


"Mmm..." jawab Bian tanpa menatap Daniel. Tangannya sibuk menandatangani kontrak kerjasama yang sudah disepakati.


Daniel bergegas keluar dan masuk ke dalam ruangannya. Mengambil handphone miliknya dan segera menghubungi Amara. Jangan sampai Pak Akmal marah karena dia tidak mengikut sertakan Amara dalam pertemuan ini.


Daniel menarik nafas lega saat panggilannya langsung terjawab. "Ha... assalamu'alaikum, Nyonya."


"Wa'alaikum salam, ada apa, Pak?"


"Mm..." Daniel menggaruk-garuk kepalanya bingung. "Anu, Nyonya.. mm.."


"Katakan saja, Pak. Pak Daniel mau ngomong apa."


Daniel menarik nafas panjang. "Apa Nyonya bisa mengantarkan makan siang untuk Tuan Muda?"


"Hah..?! Tadi pagi Mas Bian bilang tidak mau diantarkan makan siang. Kok sekarang malah berubah jalur."


"Eheheh... itu.. saya juga kurang tau, Nyonya. Tapi, Tuan Muda memintaku untuk menghubungi Nyonya sebelum masuk waktu makan siang."


"Oh, saya akan segera bersiap Kalau begitu."


"Tunggu, Nyonya!"


"Ada apa lagi, Pak?"


"Hah..?! Kok Mas Bian jadi aneh gitu." Amara tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya mendengar perintah suaminya.


"Saya juga kurang tau, Nyonya. Saya hanya menjalankan perintah dari Tuan Muda. Kalau begitu saya tutup dulu. Kami masih berdiskusi."


"I.. iya, Pak." Amara meletakkan handphonenya setelah sambungan telepon terputus. Dia masih tertegun mendengar perintah suaminya. Tidak biasanya Bian memintanya dandan cantik, tapi meminta orang untuk mengatakan itu.


Daniel pun segera masuk kembali ke ruangan Bian agar tuannya itu tidak curiga karena dia pergi terlalu lama.


**********


Amara sampai di kantor Bian setelah masuk waktu zuhur. Daniel memang pandai mengatur situasi, sehingga Bian tidak curiga sama sekali.


"Apa Kak Daniel sudah memesan tempat makan siang? Kita tidak mungkin menjamu Nona Khanza di Kantin kantor kan, Kak?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Bian setelah selesai melaksanakan shalat zuhur.


"Mm.. saya akan langsung memesannya sekarang. Nona Khanza juga masih shalat di Musholla. Saya ragu untuk memesannya, Tuan. Saya takut Nona Khanza malah sudah membooking tempat yang menurutnya cocok."

__ADS_1


Bian terdiam mendengar penjelasan Daniel. Dia hampir lupa kalau kliennya kali ini adalah wanita high class yang memiliki selera tidak biasa. "Kalau begitu Kak Daniel tanyakan saja sama dia."


"Baik, Tuan."


Bian segera bangkit. Mengganti baju koko dan sarungnya dengan pakaian kerjanya. Keluar dari Musholla mininya untuk melanjutkan diskusinya yang terpotong karena masuk waktu shalat.


Mata Bian terbelalak saat melihat istrinya sudah duduk di ruangannya. Bibirnya terkatup rapat. Hanya kakinya yang berjalan mendekati istrinya perlahan.


"Eh, Mas. Kamu udah selesai shalat?" Amara melanjutkan menata makanan di atas meja tanpa memperhatikan ekspresi suaminya.


"S.. Sayang..."


"Mm... ayo sini makan. Maaf ya, pekerjaan Mas Bian aku pindahkan dulu. Takutnya terkena cipratan air nantinya."


Bian duduk perlahan di samping istrinya. Matanya menelisik berbagai macam menu makanan yang sudah di tata istrinya dengan sangat rapi. "Sayang ... kenapa kamu harus repot-repot mengantarkan makanan? Aku kan sudah bilang, Kamu istirahat saja di rumah. Jangan terlalu banyak aktivitas." Mengusap-usap kepala istrinya dengan lembut. Hal itu selalu di lakukan Bian jika menasehati istrinya atau sejenisnya.


"Kok kamu jadi aneh gini sih, Mas?" Menatap suaminya dengan heran. "Kata Pak Daniel, kamu yang memintaku untuk datang. Kamu juga memintaku untuk dandan yang cantik dan memakai pakaian terbaikku." Kembali melanjutkan aktivitasnya. "Makanan ini juga bukan aku yang masak. Tadi pas keluar dari rumah, Kakek tiba-tiba memanggilku. Dia bilang makan siang untuk kamu sudah dimasukkan ke dalam mobil."


Bian tertegun mendengar penjelasan istrinya. Apakah semua ini sudah di atur kakeknya atau apa. "Mm.. apa.. apa.. kamu tidak merasa ada yang aneh, Ra?"


"Aneh?"


Mengangguk sambil menatap istrinya. Amara memang terlihat berbeda. Istrinya itu terlihat lebih fresh dan elegan dengan penampilannya saat ini. "Tapi.. kamu terlihat semakin cantik, Sayang." Mencubit pelan pipi istrinya.


"Ish, apaan sih. Jangan macam-macam deh, Mas. Ini Kantor kamu, bukan dalam kamar. Kalau ada yang masuk dan melihat perbuatan kamu, kamu mau apa? Mau di bilang laki-laki genit.." melirik Bian dengan kesal.


"Genit sama istri sendiri apa salahnya?" Mengambil anggur hijau di atas meja dan memasukkan ke dalam mulutnya.


Amara beralih menatap sekitar. "Mm.. Mas, Kakek bilang, kamu mau makan siang dengan tamu. Terus, tamunya mana sekarang?"


"Nggak tau." Mengangkat bahu. Terlihat tidak perduli dengan pertanyaan istrinya. Bian berpikir, untuk apa dia mengkhawatirkan Amara mengetahui pertemuannya hari ini dengan Khanza. Tidak ada yang salah dengan pertemuan ini. Lagian mereka hanya membahas masalah pekerjaan dari tadi. Dia hanya berdoa, semoga semuanya bisa saling menjaga sikap saat bertemu dalam satu meja nantinya.


Pintu ruangan terbuka perlahan. Daniel masuk membawa sebuah map dan meletakkannya di atas meja kerja Bian. Pria itu terlihat salah tingkah melihat Bian dan Amara yang sedang duduk berdua di sofa. Bukan karena apa-apa. Tapi, dia jadi mau sendiri karena sudah berbohong pada Amara tadi.


"Kak Daniel kemari lah." Bian menatap ke arah pintu. "Di mana tamu kita?"


"Nona... Nona Khanza masih di Musholla, Tuan."


Amara hanya diam mendengar nama itu di sebut. Walaupun sedikit terkejut, tapi dia tidak mau memberi komentar.

__ADS_1


"Kak Daniel harus menjelaskan semua ini nanti. Aku tau ini adalah rencana Kakek dan Kak Daniel. Awas saja kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Kak Daniel yang harus tanggung akibatnya."


"Ehehehe..." Daniel hanya bisa tersenyum meringis mendengar ancaman tuannya.


__ADS_2