
"Hah..?!" Amara dan Bian saling tatap. Benar-benar terkejut mendengar ucapan orang itu.
"Eh, kok malah bengong, Mas? Kasihan istrinya itu. Kenapa nggak pengertian banget sih. Tampang aja yang tampan, anak tidur kok istri yang gendong. Itu kewajiban suami, Mas." Wanita itu melengos seraya berlalu. "Kenapa ya, laki-laki selalu mau santai sendiri." Ucap wanita itu lagi.
Tidak ada yang berkata apa-apa setelah itu. Mereka masih bengong karena ucapan wanita itu. Bian yang mulanya sudah bangkit, akhirnya memilih duduk kembali. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskan dengan kasar. "Kok ada ya, orang aneh kayak gitu?" Bian menelan ludahnya. Matanya masih menatap wanita tadi yang duduk di kursi pojok Kafe itu.
"Itu hanya pandangan orang yang melihat kita sekilas, Kak. Mereka tidak tau kita siapa."
Bian kembali menatap ke arah wanita itu. "Memangnya tampang ku kayak bapak-bapak ya.."
"Hmm.. nggak kok. Kak Bian tetap tampan dan terlihat masih seperti anak SMA. Kayaknya orang itu sedang patah hati, makanya ngegas kemana-mana."
"Memangnya wanita kayak gitu?" Bian beralih menatap Amara.
"Hmm.. nggak tau sih. Kalau menurut aku, tergantung karakter orangnya. Aku orangnya lebih suka diam kalau lagi marah atau merasa bersalah pada seseorang. Cenderung lebih suka menutup diri kalau lagi ada masalah. Iya.. walaupun pada akhirnya aku sakit sendiri. Tapi, kalau sudah puas menangis, akan terasa plong dengan sendirinya."
"Kayak yang kemarin, kan?" Bian menahan senyum menunggu reaksi Amara.
"Nggak usah dibahas." Amara membuang pandangannya.
"It's ok. Sorry, aku nggak bermaksud begitu." Bian memperbaiki duduknya. "Mm.. kita nggak jadi masuk nih?" Bian mencoba mengalihkan pembicaraan.
Amara melirik Bian. "Ayo, Kak. Aku juga mau melihat keadaan Kak Ayra dan bayinya."
Bian langsung bangkit. "Ayo, Adzranya kemarikan dulu. Aku nggak mau dikatakan laki-laki tidak bertanggung jawab"
Amara POV..
Aku benar-benar terkejut mendengar ucapan wanita tadi. Hah, kok rasanya kayak gini juga ya..
Perasaan aku jadi campur aduk. Apa aku terlihat seperti istri yang kurang perhatian dari suami, sehingga orang itu berkata begitu. Aku hanya ingin tertawa karena orang itu mengatakan Kak Bian orang yang tidak bertanggung jawab. Nggak tau apa, kalau dia adalah laki-laki yang paling pengertian dan bertanggung jawab diantara banyaknya laki-laki yang ku kenal selama ini.
Aku terus memperhatikan Kak Bian yang terus melirik ke arah wanita tadi. Sepertinya pria di depanku ini tidak suka mendengar komentar orang tadi. Beberapa kali ia mengusap wajahnya dengan kasar seraya beristighfar.
Aku tersenyum dalam diam. Melihatnya seperti itu membuatku semakin kagum pada laki-laki ini. Tapi, aku harus bisa menahan mulutku agar tidak bicara blak-blakan kayak kemarin lagi.
__ADS_1
Aku memang tidak memikirkan apapun waktu itu. Seharusnya aku berpikir, kalau aku akan berpisah sebentar dengan keluarganya Kak Bian. Orang-orang baik ini.. Ya Allah, aku bersyukur sekali. Engkau telah mempertemukan aku dengan orang-orang sebaik mereka. Mudah-mudahan Allah selalu menjaga hubungan baik kami selamanya.
Saat aku menjelaskan karakter wanita yang berbeda-beda, Kak Bian malah mengomentari sikapku yang kemarin. Aku langsung membuang pandangan dan memintanya untuk tidak membahas itu lagi. Malas sekali rasanya kalau mengingat hal itu. Kayaknya mood booster akan hancur kembali kayak kemarin. Aku melirik Kak Bian sekilas. Sepetinya Kak Bian langsung paham dan mengalihkan pembicaraan.
"Kita nggak jadi masuk nih?"
Hmm.. sepertinya Kak Bian takut kalau aku berubah menjadi wanita pendiam kayak kemarin. Aku tersenyum kecil, "ayo, Kak. Aku juga mau melihat keadaan Kak Ayra dan bayinya." Ucapku menimpali. Kak Bian langsung bangkit setelah mendengar jawaban dariku.
Kak Bian menatapku setelah aku bangkit dari duduk. Hmm.. bocah ini memang lumayan berat. Tapi, kalau menggendongnya itu aku merasa kayak memeluk guling karena empuk. Adzra kan berisi, makanya enak dipeluk.
"Ayo, Adzranya kemarikan dulu. Aku nggak mau dibilang laki-laki tidak bertanggung jawab."
Aku tertawa kecil menanggapi. Kali ini aku benar-benar tidak bisa menahan tawaku. Ternyata pria ini benar-benar tersinggung mendengar komentar pedas wanita yang lewat tadi. Ia langsung mengambil alih bocah gembul dari gendonganku. Langsung berjalan cepat di depanku
"Kok kamu tertawa?" Eh, Kak Bian berbalik menatapku karena mendengar tawaku. Hihihi..
aku tersenyum meringis seraya mengangkat dua jari tanganku.
"Kok kamu bahagia banget melihat aku dibilang laki-laki tidak bertanggung jawab?!" Kak Bian melirikku sinis.
Kak Bian melengos mendengar pendapatku. "Siapa suruh kamu suka sama anak kecil. Siapa suruh kamu membuat Adzra nyaman sama kamu. Coba aja kamu tidak punya aura keibuan, kamu tidak akan terlihat seperti wanita yang ditindas suami kayak tadi."
Gk..gk..gk..
Aku cekikikan. "Ini mah sudah kodrat, Kak. Memang seharusnya seorang wanita itu harus senang sama anak kecil, kan?" Hadeh, ni mulut kok mau ketawa terus. Sepertinya, aku harus berbahagia saat ini, karena kemarin terlalu banyak bersedih.
"Terserah kamu mau bilang apa, Mara. Aku hanya tidak suka dikatakan pria yang tidak bertanggung jawab." Kak Bian melanjutkan kembali langkahnya. Aku hanya mengangguk beberapa kali sambil terus mengikuti langkah pria itu.
********
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Bian sudah menatap khawatir pada Amara. Gadis itu belum memintanya untuk mengantarnya pulang sampai sekarang. Karena khawatir, Bian akhirnya mendekati Amara yang sedang duduk di bangku panjang depan ruang tunggu. Pria itu juga kasihan karena Amara terlihat menguap beberapa kali. Belum lagi keponakannya yang nemplok seperti anak koala. Adzra langsung menangis saat mengetahui kalau Bian yang menggendongnya, bukan Amara
"Bian..!"
Bian mengurungkan niatnya untuk duduk di samping Amara. Ia berbalik karena mendengar suara kakeknya memanggilnya. Amara juga ikut menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
"Kakek baru sampai?" Bian langsung meraih tangan kakeknya, mencium tangan itu dengan penuh hormat. "Nenek mana, Kek?" Kembali Bian bertanya karena tidak melihat neneknya bersama sang kakek.
"Wanita terlalu banyak urusan, Sayang. Datang ke Rumah Sakit katanya dia mau beli cemilan dulu. Takutnya nanti nggak ada teman pas menunggu cicitnya yang baru lahir."
Bian tersenyum mendengar ucapan kakeknya. "Ayo, Kakek duduk dulu. Sepertinya Kakek capek setelah perjalanan jauh."
Pak Akmal mengernyit mendengar ajakan cucunya. "Kenapa kamu mengajak Kakek duduk disini? Apa Ardian belum memesankan kamar untuk kalian. Tempat ini terlalu umum kalau dipakai untuk beristirahat?" Suara Pak Akmal naik satu oktaf. Sia paling tidak suka diganggu privasinya.
"Kak Ardian masih di ruang tindakan, Kek. Kami tidak masalah kok, walaupun menunggu disini." Bian mencoba memberikan alasan yang paling mudah diterima.
Sejak kapan Amara disini?" Pak Akmal beralih menatap Amara.
"Barusan, Kek. Adzra yang merengek-rengek memintaku untuk menghubunginya. Awalnya aku tidak enak memintanya datang. Tapi, Adzra semakin menjadi-jadi." Lapor Bian.
Pak Akmal tersenyum seraya beralih menatap Amara. "Amara tidak sibuk kan?"
Amara tersenyum kaku. "Ng.. nggak, Kek. Belum masuk kuliah. Kalau udah masuk nanti sih, nggak tau deh."
"Terimakasih ya, Nak. Kalau tidak ada kamu, pasti Bian kewalahan untuk mengakali Adzra." Pak Akmal kembali tersenyum. Wanita seperi Amara sangat jarang ia jumpai saat ini. Kebanyakan anak muda yang dia jumpai hanya pandai mencari muka saja.
"Tadi aja rewelnya minta ampun, Kek." Bian menimpali lagi.
"Nggak boleh perhitungan, Nak. Ini juga kan demi kebaikan kakak kamu." Pak Akmal menepuk pelan pundak Bian.
Bian hanya mendengus mendengar ucapan kakeknya. Pandangan matanya tiba-tiba beralih pada tiga pria yang berdiri beberapa meter di belakang kakeknya. "Ngapain Kakek bawa pengawal masuk kemari?"
Pak Akmal ikut menoleh ke arah pandangan cucunya. "Ngapain urus itu. Nggak ada yang akan mengganggu kamu kok."
Bian mendengus. "Tapi keberadaan mereka mengganggu pandangan mata orang lain."
"Heh, kamu saja yang merasa seperti itu." Pak Akmal berusaha tidak menghiraukan protes cucunya. Ini bukan kali pertama Bian protes. Pria itu akan protes setiap kali melihat kakeknya muncul di tempat umum dengan banyak pengawal. "Apa kalian yakin mau menunggu disini?" Kembali bertanya karena masih tidak yakin dengan jawaban cucunya barusan.
"Yakin, Kek. Apalagi kalau Kakek bertanya pada Amara." Bian melirik Amara sambil mengerjapkan matanya memberi isyarat.
********
__ADS_1