
"Jangan seperti ini, Sayang." Bian memaksa Amara membalik tubuhnya agar bisa memeluknya dengan lebih leluasa. "Insya Allah, aku tidak akan mengulangi kejadian tadi siang. Aku benar-benar tidak tau harus bagaimana, Ra." Memeluk tubuh Amara dengan erat.
Amara memejamkan matanya. Tetes demi tetes air matanya jatuh ke baju koko suaminya. Tangannya perlahan terangkat dan membalas pelukan suaminya. "Tidak usah di bahas lagi, Mas. Anggap saja itu hanya mimpi buruk yang tidak akan terulang lagi." Menarik paksa tubuhnya dari pelukan suaminya. "Kita masuk, Mas. Nggak enak dilihat Bi Sumi dan Ida nanti." Amara menatap sekitar. Jangan sampai dua asisten rumahnya itu memergoki apa yang terjadi antara dirinya dan suaminya.
"Biarkan saja mereka melihat. Toh ini rumah kita bukan rumah mereka." Timpal Bian, tetapi ia menggandeng tangan istrinya dan melanjutkan langkahnya menuju kamar mereka.
Bian menggandeng tangan istrinya keluar dari rumah setelah merasa semua sudah siap. "Sepertinya Kak Ayra akan marah karena kita telat keluar." Bian membuka percakapan setelah cukup lama mereka diam. Selama melakukan persiapan tadi pun, Amara tidak banyak bicara. Hanya sesekali menimpali ucapan Bian jika ada yang perlu di jawab.
"Kamu yang terlalu santai, Mas. Dibilang juga nggak usah urus pekerjaan dulu, masih aja teleponan."
Bian hanya tersenyum seraya mengangkat bahu. Hal ini yang paling dia suka di dari istrinya. Jika masalah sudah berlalu, maka masalah itu akan seperti angin lalu yang tidak membekas setelah pergi. Amara tidak suka membahas masalah yang sudah lewat dan menganggapnya tidak pernah terjadi.
"Apa penampilanku sudah sempurna, Mas? Aku tidak mau membuat kamu malu nantinya karena punya istri yang tidak pandai berdandan." Amara memutar tubuhnya beberapa kali di hadapan suaminya sebelum mereka naik ke dalam mobil.
"Sssttt... siapa yang bilang begitu, Nak?" Bu Santi muncul dari belakang Amara dengan senyuman yang mengembang sempurna. "Menantu Ibu akan menjadi wanita tercantik malam ini." Meletakkan kedua tangannya di pundak Amara. "Bukankah begitu, Nak?" Beralih menatap Bian seraya mengerlingkan mata pada putranya.
"Tentu saja, Bu." Jawab Bian dengan pasti. "Silahkan masuk, Tuan Putri.." membuka pintu mobil dengan gaya khas seorang pelayan yang sedang membukakan pintu untuk tuannya.
"Ish, kamu ada-ada saja deh, Mas." Mencubit pelan lengan suaminya. Bian tertawa kecil melihat ekspresi malu-malu istrinya. Beralih membukakan pintu depan untuk ibunya.
Bu Santi menahan tangan putranya. "Ibu duduk di belakang bersama Amara. Masa iya, Ibu di depan bersama kamu, lalu Amara duduk sendirian di belakang." Bu Santi menggeleng-geleng pelan.
"Dia yang meminta hal itu, Bu. Yang ada dia malah nggak nyaman kalau..."
"Ibu duduk di belakang." Memotong ucapan putranya, memaksanya menutup kembali pintu mobil yang sudah terbuka.
Bian akhirnya tidak bisa berkata apa-apa. Membiarkan ibunya duduk di samping istrinya yang duduk di belakang. "Hah, kok aku merasa kayak sopir duduk di depan sendirian kayak gini." Ucapnya setelah masuk ke dalam mobil seraya menghidupkan mesin mobil.
"Iya.. kamu memang menjadi sopir kami malam ini." Jawab Bu Santi dengan santai.
"Huh," Bian hanya mendengus melihat ekspresi ibu dan istrinya yang terlihat senang melihatnya menderita.
__ADS_1
***********
Sudah banyak tamu undangan yang hadir saat rombongan keluarga Bu Santi sampai di lokasi acara. Amara menautkan alisnya heran. Katanya pesta keluarga. Tapi, yang dilihatnya adalah kebanyakan orang luar yang tidak dikenalnya sama sekali.
"Ibu.." Amara menyentuh tangan Bu Santi yang masih fokus menatap sekitar.
"Eh, iya, Nak."
"Aku.. aku sedikit grogi, Bu. Kok, tamu undangannya kebanyakan terlihat seperti orang asing. Atau ... aku yang memang kurang mengenal keluarga besar ini."
"Kamu salah, Nak. Apa suamimu tidak pernah menjelaskan tentang pesta ini padamu sebelumnya?"
Amara menggeleng pelan, matanya langsung menatap ke arah suaminya yang sedang ngobrol dengan salah satu tamu undangan. Wajah pria yang ngobrol tidak terlalu asing di matanya. Tapi, entahlah, dia tidak mau memaksakan diri untuk mengingatnya.
"Pesta ini di adakan untuk memperkenalkan salah satu anggota baru keluarga Akmal. Kakek kalian selalu mengadakan pesta keluarga ini ketika ada salah satu cucunya yang menikah. Itulah mengapa, malam ini kamu diminta mempersiapkan diri. Nanti kamu akan diminta naik ke atas panggung bersama Bian. Bian akan mengumumkan ke pada seluruh tamu undangan, kalau dia sudah menikah dengan kamu."
Amara tertegun mendengar cerita mertuanya. Suaminya pun, tidak pernah menjelaskan apapun sebelum ini. Bian hanya memintanya untuk bersiap menghadiri pesta malam ini. Ia akhirnya hanya bisa menghela nafas berat. Pantas saja suaminya mempersiapkan gaun yang terlihat tidak biasa untuk dipakainya malam ini.
"Kamu ajak Bian masuk ya, Nak. Ibu mau gabung dengan anggota keluarga yang lain."
"Kamu dan Bian akan menjadi pusat perhatian malam ini. Kamu juga punya tempat khusus."
Amara kembali tertegun. Tiba-tiba saja ia sedikit kesal karena suaminya tidak membicarakan apapun padanya sebelum ini. Ia merasa berat saat Bu Santi melangkah pergi meninggalkannya, sedangkan dia tidak tau apa yang harus dilakukannya saat ini. Beralih menatap Bian yang masih asyik ngobrol. Dengan ragu, ia mendekati Bian dan menyentuh lengannya.
"Mas, kita diminta masuk sama Ibu."
"Iya, wait for a moment." Kembali menatap teman ngobrolnya.
"Hei, Bian.. gue nggak salah lihat. Ini beneran istri lho. Ini Amara kan, cewek yang sering lho tolong itu. Yang sering lho bawa ke Apartemen lho dulu. Benar kan?"
"Hehe.. iya, Bob."
__ADS_1
Kepala Amara langsung berputar mengingat pria itu. "Oh," ucapnya pelan saat mengingat siapa orang itu. Itu adalah teman Bian waktu Bian masih kuliah S1 dulu.
"Gila, cantik bener dia sekarang. Itu berarti dia bahagia menikah dengan lho." Bobi menepuk-nepuk pundak Bian sambil menggeleng-geleng tidak percaya. "Lho juga nikah nggak ada cerita. Tiba-tiba undang gue ke acara perkenalan anggota baru keluarga besar Akmal. Benar-benar hebat lho, bisa menyembunyikan itu semua dari teman-teman lho."
Bian tersenyum kecil. "Aku nggak menikah di daerah ini, Bob. Sorry, Bro.. bukannya aku mau menyembunyikan status. Tapi, waktu yang mepet membuatku tidak sempat mengundang kerabat jauh. Waktu itu Kakek sakit keras. Beliau memaksaku untuk segera menikah. Sedangkan Rara ada di Singapura waktu itu. Tapi, Allah memang sebaik-baik pengatur kehidupan hambanya." Giliran Bian yang menepuk-nepuk pundak Bobi. "Kita masuk sekarang, yang lain pasti sudah menunggu di dalam." Beralih meraih tangan Amara yang hanya tersenyum kecil menatapnya.
"Maaf, Sayang. Bobi akan banyak tingkah kalau tidak direspon dengan baik." Berbisik di telinga istrinya.
"Yes, I know about that." Timpal Amara asal. Ia merasa suaminya saja yang terlalu berlebihan dalam menyapa temannya itu.
"Jangan marah di sini, Sayang." Bisik Bian lagi. "Kita pisah di sini, Bob. Aku mau mengajak istriku menyapa tamu undangan yang lain." Melambai pelan pada Bobi yang sudah berbeda jalur dengannya.
"Apa kamu marah karena aku menyapa Bobi?"
"Sebenarnya tidak karena itu. Tapi, Kak Bian terlihat terlalu berlebihan dalam menyapanya." Amara menjawab tanpa menatap suaminya.
"Jangan marah disini. Kalau sudah di rumah, terserah kamu mau apakan aku, aku tidak perduli. Mau kamu buka semua pakaianku pun, aku pasrah asalkan itu terjadi di rumah."
"Ish," Amara mengernyitkan bibirnya mendengar ucapan suaminya. "Kepedean banget sih jadi orang."
Bian tertawa kecil. Mengajak istrinya duduk di tempat yang sudah dipersiapkan untuk mereka.
Acara di mulai tepat pukul sembilan malam. Sambutan demi sambutan dari berbagai kalangan membuat Amara tidak bisa menyembunyikan ekspresi kagumnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia menghadiri pesta semegah ini. Tamu undangan pun terlihat sangat berkelas. Pantas saja suaminya sampai mempersiapkan gaun yang tidak biasa untuknya.
Bian menggenggam erat tangan istrinya saat kakeknya memberikan sambutan di atas panggung. "Kamu bersiap, sebentar lagi kita akan dipanggil Kakek."
"Hah...?!" Amara meremas tangan Bian yang masih menggenggam tangannya.
"Kita akan naik ke atas panggung. Aku akan memperkenalkan kamu ke semua teman bisnis Kakek, agar mereka mengenal kamu sebagai keluarga Akmal."
"Kenapa Kak Bian tidak menjelaskan apapun sebelum ini? Seharusnya Kak Bian ngomong biar aku ada persiapan." Ucap Amara sambil mengeratkan giginya kesal.
__ADS_1
Bian mengangkat tangan Amara lalu menciumnya dengan lembut. "Percaya padaku, semua akan baik-baik saja." Menatap istrinya dengan penuh keyakinan.
Tepat setelah itu, Pak Akmal menyebut nama Bian dan Amara dengan gelarnya masing-masing dan memintanya untuk naik ke atas panggung.