
Dua minggu kemudian...
Bian sudah bersiap untuk memboyong keluarga besarnya untuk kembali ke rumahnya. Pak Akmal terlihat sedih saat anak cucunya harus kembali ke rumah masing-masing. Mereka sedang berkumpul di ruang keluarga untuk perpisahan dengan sang kakek.
"Jangan terlalu lama menghilang, Nak. Sering-seringlah datang menjenguk Kakek. Kalian tau, kalau Kakek sudah tua."
"Kenapa Kakek nggak ikut bersama kami saja. Kalau Kakek di sana, Kakek akan dekat dengan anak cucu Kakek." Chayra berjongkok di hadapan Pak Akmal sambil terus mengeluarkan kata-kata rayuan agar sang Kakek mau ikut serta tinggal di salah satu rumah mereka dimana pun yang dikehendaki pria paruh baya itu.
"Jangan, Abi." Bu Ainun menahan Pak Akmal agar tidak bicara. "Kalau Abi ikut mereka, Abi akan jauh dari putri Abi satu-satunya." Menunjuk dirinya sendiri karena dia adalah anak Pak Akmal satu-satunya. "Lebih baik Abi tinggal bersama Ainun di Pesantren. Selain tetap bisa melihat putri Abi, Abi juga bisa mendengarkan ceramah setiap waktu shalat."
"Ah, Ummi Ainun punya banyak anak yang akan menemaninya, Kek." Bian angkat bicara. Tidak mau kalau kakeknya sampai memilih untuk tinggal bersama Bu Ainun. "Kalau Kakek ikut bersama kami, setidaknya Kakek akan selalu melihat putra Kakek yang sudah pergi mendahului Kakek." Menaik-turunkan alisnya pada Pak Akmal.
Pak Akmal menarik nafas panjang mendengar perdebatan anak cucunya. "Bagaimana pendapat kamu, Santi?" Beralih menatap Bu Santi yang sedang tersenyum melihat mertuanya di perebutkan oleh anak dan kakak iparnya.
Bu Santi kembali tersenyum. "Kalau aku ... terserah Abi saja. Yang terpenting Abi nyaman dan selalu bahagia. Kami harus bisa menjamin, Abi tetap bahagia dan terurus di masa tua Abi."
"Ah," Pak Akmal menyeka air matanya. "Abi terharu dengan perlakuan kalian. Biasanya, orang akan malas mengurus orang tua. Tapi, Abi sangat bersyukur karena Abi memiliki orang-orang yang berakhlak mulai seperti kalian. Mudah-mudahan Allah selalu melimpahkan keberkahan untuk keluarga kita. Dimana pun Abi tinggal, Abi pasti selalu bahagia karena sikap kalian yang sangat menjaga perasaan Abi." Kembali menyeka air matanya. "Kalian tidak usah repot-repot untuk meminta Abi tinggal bersama kalian. Abi akan tetap tinggal di rumah ini bersama Zidane dan Alesha. Akan sangat disayangkan kalau rumah besar ini tidak berpenghuni." Menatap ke semua sudut rumah besarnya. "Lebih baik kalian yang datang kemari untuk menjengukku. Aku tidak mau kemana-mana sekarang. Lagian, kalau aku ikut salah satu dari kalian, itu berarti aku akan jauh dari Nenek kalian. Nenek kalian pasti kesepian."
Semua orang di ruangan itu saling pandang mendengar ucapan Pak Akmal. Masalah kesetiaan pria itu memang tidak perlu diragukan lagi. Walaupun Bu Fatimah pernah mengkhianatinya dulu. Tapi, tak sedikit pun ia berniat untuk menyimpang. Apalagi sampai harus mencari penggantinya.
***********
Bian mendekati istrinya yang sedang istirahat siang. Sebenarnya ia tidak tega untuk membangunkan istrinya. Tapi, ia khawatir kalau Amara berpikir yang tidak-tidak, karena dia akan ke Kantor Polisi untuk menemui Khanza.
"Ra, bangun sebentar, Sayang. Ada yang mau aku omongin sama kamu."
Amara membuka sedikit matanya yang terasa berat. "Ada apa, Mas?"
"Bangun dulu makanya, biar kamu nggak salah dengar nantinya."
"Mata aku benar-benar sulit kebuka, Mas. Semalam Adreena melek terus. Mau tinggalin dia bangun sendirian, aku kasihan. Ngomong aja. Aku sudah pasang telinga baik-baik nih."
Bian menghela nafas berat. Memaksa Amara untuk bangun dengan cara menarik tangan Amara agar duduk. "Sayang ... dengarkan aku. Aku tidak mau kamu salah sangka nantinya." Menangkup pipi istrinya sampai wanita itu membuka matanya dengan paksa.
"Iya, Mas. Aku akan dengarkan apapun yang akan kamu ucapkan. Sadis banget sih, sampai maksa aku kayak gini."
__ADS_1
"Mm.. ini masalah sensitif, Sayang. Aku hanya mau menjaga perasaan kamu."
"Iya, suamiku. Hoaam..." Amara menguap lebar. Bian langsung menutup mulut istrinya dengan b*b*rnya."
Amara melotot, spontan menepis tangan suaminya yang menangkup pipinya. "Astagfirullah, Mas. Kamu ini ... benar-benar deh," memanyunkan bibirnya kesal.
"Kalau nggak digituin, kamu nggak bakalan melek dengan benar. Nah, sekarang kantuk kamu langsung hilang kan."
"Ish," Amara melengos kesal."
Bian tertawa renyah melihat ekspresi istrinya. "Ah, jangan manyun kayak gitu, Ra. Aku merasa kayak sedang digoda kamu."
"Jangan menyebalkan deh, Mas. Ayo ngomong sekarang. Kamu mau bilang apa tadi."
Bian tersenyum lembut. Menarik tubuh istrinya dan memeluknya. Mengusap-usap kepala Amara dengan penuh kasih sayang. "Rara, suami kamu mau minta izin untuk ke kantor polisi. Ada yang harus di urus lagi. Kemarin tertunda karena kepergian Nenek."
Amara terdiam. Mendongak menatap suaminya sebelum memberikan jawaban. "Hmm.. gitu ya, Mas. Kamu mau pergi dengan siapa?"
"Tuh kan, kamu pasti bertanya dengan siapa aku pergi. Itu makanya, aku harus melaporkan Semua aktivitasku hari ini, biar kamu nggak curiga."
"Iya nggak lah. Aku akan pergi dengan Kak Daniel. Dia juga perlu membawakan berkas yang perlu ditanda tangani wanita itu."
"Iya udah, pergi aja kalau begitu. Yang penting kamu ada teman dan tidak menemuinya sendirian."
"Maaf ya, aku harus melakukan ini demi kebaikan kita ke depannya. Aku nggak mau hidup kita terus-terusan diganggu wanita itu."
"Iya makanya pergi aja, Mas. Aku percaya kok sama kamu."
Bian kembali menarik tubuh istrinya. "Aku mencintai kamu dan menyayangi kamu dengan apa adanya dirimu, Sayang."
Wajah Amara menyemburkan rona merah. Semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Kenapa sembunyi?" Bian memaksa Amara untuk mengangkat wajahnya.
"Jangan dilihat, Mas. Aku malu.."
__ADS_1
"Ah, aku jadi malas pergi kalau sudah kayak gini sama kamu." Kembali mengangkat wajah istrinya walaupun dengan sedikit memaksa. "Aku mau cium kamu saja, Ra."
"Eh," Amara menahan mulut suaminya yang sudah beberapa centi. "Jangan macam-macam, Mas. Anak kamu melek tuh. Kalau dia lihat, bagaimana?"
"Iya.. dia akan tersenyum bahagia, Ra. Itu berarti orang tuanya bahagia karena saling mencintai."
"Mas..."
"Ehehehe... bercanda, Sayang. Lagian Adreena nggak akan bisa melihat kemari. Pandangan bayi seumuran dia itu masih terbatas, Sayang. Dia tidur di ujung barat, sedangkan kita di ujung timur."
Amara mendengus."Tapi tetap saja. Kita harus bisa menjaga adab di depan anak kita."
"Mmm... kalau begitu kita turun ke bawah. Aku mau mencium kamu di bawah." Benar-benar menarik tangan Amara dan mengajaknya duduk di kaki tempat tidur. "Aku akan mencium kamu di sini, biar Adreena tidak bisa melihat apa yang kita lakukan."
"Ya Allah.. Mas.. kok gini amat sih." Amara ingin tertawa.
"Jangan tertawa, Ra. Kesabaran aku sudah menipis karena puasa panjang kita. Berikan obat untukku walaupun hanya sekadar mencium kamu saja. Itu cukup untuk menjadi bekalku sampai sore nanti."
Amara menghela nafas berat. Memberikan ciuman di pipi kanan, kiri dan dahi suaminya. "Satu ciuman untuk bekal kamu satu hari. Tadi aku memberikan kamu tiga ciuman. Itu berarti kamu akan kuat untuk tiga hari ke depan."
"Ah, kamu kok jahat banget sih, Sayang. Masa ciuman di pipi untuk bekal satu hari sih. Ciuman itu hanya bertahan beberapa jam saja."
"Iya.. terserah kamu, Mas. Tapi, aku cuman bisa ngasih sebatas itu, Mas. Kalau mau yang lebih, tahan satu bulan setengah lagi."
Bian tersenyum sambil memeluk tubuh Amara. "Aku bercanda, Sayang. Melihat kamu bisa tersenyum dan sehat saja aku sudah bahagia banget. Sekarang ..." beranjak bangkit. "Aku berangkat dulu. Doakan aku semoga urusanku hari ini berjalan lancar." Mengulurkan tangannya pada Amara. Hal itu membuat Amara tersenyum kecil dan meraih uluran tangan suaminya. "Insya Allah, aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Mas."
"Semua akan indah pada waktunya. Sekarang kita sedang berjalan menuju keindahan itu. Kita hanya perlu bersabar saja. Satu persatu cobaan ini akan berlalu."
"Iya, Mas." Amara tersenyum kecil. "Sekarang kamu berangkat. Pastikan kamu melakukan yang terbaik, agar tidak ada orang yang tersakiti."
Bian mengangguk pasti. "Aku berangkat ya, Kak Daniel sudah menungguku di bawah." Mendaratkan satu ciuman di dahi istrinya. "Assalamualaikum.."
"Wa'alaikum salam, Mas." Menatap Bian sampai pria itu menghilang di balik pintu.
Amara duduk di sisi ranjang. Wanita itu merenungi perjalanan hidupnya selama menjadi istri Bian. Cobaan rumah tangganya tidak banyak dari suaminya. Namun, cobaan itu lebih banyak datang dari orang lain. Satu cobaan besar sudah berlalu. Kini, Amara harus kuat menghadapi cobaan yang datang dari orang yang pernah sangat dekat dengannya dulu.
__ADS_1
***********