
"Coba Nak Bian pikir lagi. Mungkin Nak Bian pernah salah ucap sebelum ini." Pak Arif menepuk pundak Bian.
Bian tidak bisa berkata apapun. Bibirnya terkatup rapat. Hanya matanya yang menatap nanar kepergian Amara dan Ameena.
"Wanita itu sensitif, Nak. Dulu Amara selalu berusaha menyembunyikan perasaannya dari Papa. Dia bahkan sangat tertutup pada Papa. Mau di pukul atau apa sama Hanum dulu, dia tidak pernah bercerita. Papa akan tau semuanya dari orang lain." Pak Arif menuntun Bian untuk duduk.
"Sejak Papa memutuskan untuk menceraikan Hanum, sejak itu Amara mulai menampakkan dirinya pada Papa. Dia bukanlah wanita setegar karang. Dia akan menangis jika merasa terluka."
Bian menatap Pak Arif. Mulutnya masih terasa berat untuk bicara. Lama termenung, ia akhirnya memilih untuk mengambil benda gepeng di saku hoody yang dikenakannya. Mungkin saja ada bukti di benda itu, yang bisa membuktikan kalau dirinya bersalah.
Lamunan Bian buyar saat tiba-tiba Pak Arif menepuk pundaknya lagi. "Papa mau antar Carissa dulu. Nak Bian masuk saja ke dalam. Nak Bian duduk di ruang tamu sementara Papa kembali. Nggak enak kalau Nak Bian duduk di sini sendirian. Nanti malah Papa yang dikira tidak menghormati tamu."
"I.. iya, Pa. Nanti Bian masuk. Sekarang Bian mau mengurus sesuatu sebentar." Kembali menatap benda gepeng di tangannya setelah selesai bicara dengan Pak Arif. Matanya langsung membuka pesan terakhir dari Amara.
Kak Bian dimana? Kalau masih lama, aku dan Ameena mau pulang duluan. Kami ada kuliah pagi.
Bian memejamkan matanya lalu membuang nafas dengan kasar. Permainan yang dibuat Humaira akankah berakhir fatal. Ia membuka menu telepon. Ada lima panggilan tak terjawab dari Amara kemarin. Ingin menghubungi gadis itu, tetapi dia merasa malu dan tidak pantas melakukannya.
Bian menyandarkan tubuhnya seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Menatap benda gepeng yang tiba-tiba berkedip. Sebuah pesan masuk dari Ameena.
Kak Bian pulang saja. Amara tidak akan mau keluar menemui Kak Bian. Terlalu banyak makan hati dari kemarin. Aku kira sudah lupa sama kami setelah bertemu teman lama. Kenapa nggak sekalian ngajak wanita itu kemari, biar semuanya lengkap dan jelas.
Bian melototkan matanya. Ia menoleh ke belakang, ke dalam rumah. Tidak terlihat ada siapapun di sana. Dua gadis itu berarti masih di dalam kamar.
Na, maksud kamu apa? Aku nggak bertemu siapa-siapa kemarin.
Bian mencoba membalas pesan itu. Mudah-mudahan ada titik terang sehingga dia tau salahnya apa. Pesan langsung terjawab membuat Bian langsung fokus.
Ew, pria memang pintar ngeles. Kalau lu nggak bertemu siapa-siapa, ngapain ninggalin gw dan Amara di Kafe itu. Lain kali jangan pernah bawa kami keluar lagi kalau lu nggak bisa tanggung jawab.
__ADS_1
Astagfirullah.. ini kok jadi seperti ini, batin Bian. "Kak Mayra bagaimana sih?!" Ngedumel sendiri karena tidak tau mau marah ke siapa.
Na, please bujuk Amara biar dia mau keluar. Aku mau ngomong sesuatu sama dia.
Bian mencoba melakukan negosiasi lagi. Mudah-mudahan Amara luluh dan mau mendengarkan penjelasannya. Bian menarik nafas dalam seraya beristighfar.
Amara nggak mau. Biarkan dia menenangkan diri dulu. Kak Bian terlalu menyepelekannya kemarin. Kami sampai telat masuk kuliah gara-gara nggak ada kendaraan pulang. Kalau saja aku teguh pendirian dan tidak mau mengikutinya kemarin. Aku tidak akan kena sial.
Sudahlah, Kak Bian pulang saja sana. Tanggung resikonya sendiri. Kami mau istirahat. Kurang tidur dari kemarin gara-gara lu.
Bian tertegun, bingung mau berbuat apa. Jika sudah seperti ini, kepada siapa dia akan mengadu. Dirinya benar-benar tidak mempunyai pengalaman dalam mengurus wanita ngambek seperti ini.
Saat Bian masih melamun, tiba-tiba Amara dan Ameena keluar dari rumah. Tapi, dua gadis itu langsung masuk ke dalam mobil milik Pak Arif. Tidak perduli dengan Bian yang langsung bangkit begitu melihat mereka.
Sekali lagi Bian diabaikan.
Mobil berhenti di sebuah lapangan yang sedang sepi. Bian hanya diam di dalam mobil melihat apa yang akan dilakukan dua wanita itu.
Bibirnya mengulas senyum saat melihat Amara yang pindah duduk di balik kemudi. Ternyata, Amara mendatangi tempat itu untuk belajar mengemudi.
Sambil menunggu, Bian duduk di bawah pohon mangga yang sedang berbunga lebat. Pria itu terus tersenyum ke arah Amara. Ia akan menunggu sampai Amara selesai belajar dan memberinya kesempatan untuk bicara.
Satu jam berlalu, Amara menepikan mobilnya. Gadis itu sengaja berhenti di tempat yang jauh dari Bian. Saat ini, dia benar-benar belum kuat kalau harus diminta bertemu. Air matanya terasa ingin tumpah jika mengingat bagaimana Bian mengabaikannya hari itu. Apakah temannya itu terlalu berarti sampai pria itu lupa padanya.
"Mara.. mm.. lho baik-baik aja kan?" Ameena memperhatikan raut wajah Amara yang terlihat berubah. Namun, gadis itu hanya diam, tidak merespon ucapan temannya.
Ameena menghela nafas berat seraya menyandarkan tubuhnya. "Gue tau lho kecewa, Mara. Gue yang bertugas menjadi Satpam lho aja kecewa dengan sikap Kak Bian kemarin. Apa lagi lho yang berstatus wanitanya dia." Melirik Amara untuk melihat reaksi wanita itu. "Tapi, mungkin kalau lho memberinya kesempatan untuk bicara, itu akan lebih baik."
Amara hanya menarik sudut bibirnya. "Gue butuh waktu, Na. Perlakuannya itu membekas banget loh. Andaikan dia hanya pergi dengan Kak Mayra." Amara membuang nafas dengan kasar. "Sebenarnya gue nggak mempermasalahkan dengan siapa dia bertemu. Gue hanya kecewa, kenapa dia sampai meninggalkan kita di tempat itu. Apalagi waktunya masih jam segitu. Malah nggak ada rasa bersalah lagi. Pesan yang terakhir gue kirim aja nggak pernah dibaca. Apa iya, gue harus sebaik itu sampai mengasihaninya secepat ini." Amara membuang pandangannya seraya menghela nafas berat.
__ADS_1
"Hm.... iya.. udah.. terserah lho kalau begitu." Ameena akhirnya tidak bisa berkata apa-apa.
"Kita pulang, Na. Sini, lho pindah posisi dulu." Amara keluar dari mobil. Ia melirik sekilas ke arah Bian. Pria itu terlihat sedang menatapnya.
"Lho nggak mau coba nyetir di jalan raya."
"Belum ada nyali. Buruan, nanti tu orang ngikutin kita lagi." Amara berkata dengan ekspresi datar. Ameena kembali mengiyakan tanpa bisa berkata apa-apa.
*********
Amara langsung masuk ke dalam kamarnya setelah sampai rumah. Sedangkan Ameena langsung meluncur pulang setelah mengantar Amara. Amara benar-benar tidak perduli dengan Bian yang sudah duduk di teras rumahnya.
Pak Arif tidak tinggal diam. Pria itu kasihan melihat Bian yang terus mengikuti putrinya. Perlahan, Pak Arif mendekati pintu kamar Amara yang sudah terkunci. "Mara, Mara, buka pintunya sebentar, Nak."
"Mara mau istirahat, Pa. Mara nggak enak badan."
"Bicaralah dengan Nak Bian sebentar, Nak. Kasihan dia. Dari tadi siang ngikutin kamu terus." Pak Arif bicara dengan sangat hati-hati.
"Mara nggak memintanya, Pa. Kalau Papa kasihan, Papa aja yang temani dia."
Pak Arif mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu kamar itu kembali. Kalau sudah seperti ini, itu berarti putrinya tidak bisa diganggu gugat.
"Iya sudah, Nak. Biar Papa yang mencoba memberikan pengertian pada Nak Bian."
Hening..
Amara tidak merespon lagi. Sebenarnya gadis itu sedang terisak. Baru kali ini ia merasakan sakit hati karena diabaikan. Sebelumnya, dia tidak pernah memikirkan laki-laki karena keadaan yang tidak memungkinkan. Ternyata, sakit karena cinta benar-benar menyiksa. Lukanya seperti tersayat pisau tajam, tetapi tidak berdarah. Lukanya lebih sakit daripada luka berdarah.
Ia semakin terisak keras saat kembali mengingat pesan yang dikirim Humaira pagi itu. Ada perasaan tidak rela saat membaca pesan itu. Namun, yang membuatnya sampai kecewa tingkat dewa seperti ini adalah, Bian tidak mengabarinya setelah itu. Pria itu tidak menghubunginya sama sekali. Akankah wanita yang bertemu dengannya pagi itu adalah wanita spesialnya di masa lalu?
__ADS_1