
Amara mengeluarkan barang belanjaannya dari dalam mobil. Chayra menatap kesibukan itu dari depan pintu rumahnya. "Butuh bantuan, Dek?" Tanyanya sambil menahan senyum. Melipat tangannya di dada sambil menyandarkan tubuhnya di tiang pintu.
"Kalau Kak Ayra ikhlas, silahkan dibantu, Kak." Amara tersenyum ramah. Memberikan senyuman terbaiknya pada Chayra.
Chayra tersenyum seraya berjalan mendekat. "Sudah, kamu duduk sini. Chayra memanggil Satpam rumahnya untuk membantu menurunkan barang belanjaan Amara.
"Maaf ya, Kakak jadi merepotkan kamu." Menguyel-uyel pipi Amara yang terlihat lebih berisi dari sebelumnya.
"Ih, Kak Ayra kenapa jadi suka jahil kayak gini." Amara mengusap-usap pipinya yang memerah karena ulah Chayra.
"Habisnya pipi kamu terlihat berisi, Dek." Kali ini mencubit pipi Amara. "Kakak nggak salah lihat kan. Kamu memang lebih montok dari sebelumnya."
"Mm..." Amara kembali meraba-raba pipinya. "Nggak tau, Kak. Mungkin karena Mama Mutia selalu perhatian sama aku."
"Wah... alhamdulillah kalau begitu, Dek. Itu berarti kamu selalu bahagia sekarang." Chayra menarik tangan Amara agar duduk di kursi panjang di depan rumahnya. Wanita bercadar itu mengambil benda gepeng yang berbunyi di saku baju gamis yang dikenakannya. "Nih, penyayang kamu nelpon, Ra. Dari semalam dia menghubungi Kakak terus. Tapi, dia ngomong nggak jelas, sehingga Kakak mengabaikan panggilannya beberapa kali." Menyerahkan handphonenya pada Amara.
"Kamu yang ngomong ya. Tapi, aktifkan loudspeaker." Menekan sendiri tanda loudspeaker di handphone itu.
Amara menatap wanita itu seraya mengambil handphone yang disodorkannya. "A.. aku mau bilang apa, Kak?" Terlihat seperti wanita bodoh yang kebingungan.
"Jawab aja dulu lalu ucap salam." Chayra duduk santai di samping Amara. Sebenarnya dia penasaran dengan reaksi Bian jika tau Amara yang menjawab panggilannya. Menatap Amara menunggu wanita itu mengucap salam untuk Bian.
"Assalamu'alaikum..." Amara mengucap salam dengan ragu.
"Wa'alaikumsalam.. Kak Ayra... Kak Ayra apa-apaan sih? Apa maksud Kakak meminta Rara untuk belanja banyak di Super Market. Rara itu calon istriku, Kak. Kakak tidak boleh dong bertingkah semaunya sama dia. Pokoknya aku nggak suka kalau Kak Ayra memperlakukan Rara seperti itu lagi. Aku tidak suka Kakak seperti itu. Kak Ayra itu kok lama-lama seperti Nenek yang tidak bisa membedakan kotoran tikus dan ketan hitam."
Hening..
Amara tidak bisa berkata-kata karena terkejut mendengar omelan pedas Bian. Sementara Chayra, wanita itu menutup mulutnya uang tertutup cadar untuk menahan tawa yang terasa mau meledak. Sedangkan Bian, pria itu sedang kebingungan karena tidak ada respon dari sebrang. Daniel yang di samping Bian pun, hanya bisa diam mendengar omelan pedas tuannya pada kakaknya sendiri.
"Halo ..."
"Halo..."
"Halo ... Kak Ayra.."
Chayra tersenyum seraya menarik handphonenya dari tangan Amara. "Iya, Dek ... apa kamu masih mau bicara? Kakak sedang pasang telinga baik-baik nih."
"Kak Ayra jangan bercanda. Aku sedang bicara serius. Kak Ayra sudah keterlaluan pada Rara. Kenapa tidak pergi sendiri untuk belanja. Rara juga sedang sibuk, Kak. Sebentar lagi kuliahnya akan kelar. Kalau Kakak kekurangan tenaga Asisten, aku akan mengirimkan seorang Asisten lagi untuk Kakak. Aku yang akan menggajinya setiap bulan."
"Wahahaha... adikku ternyata sudah jadi Bos besar sekarang. Uang untuk menggaji lima orang pembantu pun, tidak akan berat. Karena itu hanya seujung kuku dari penghasilanmu." Chayra menarik nafas panjang. "Amara ada disini loh, Dek. Tadi dia yang menjawab panggilan kamu. Tapi, dianya bingung karena kamu ngomel-ngomel nggak jelas. Kayak orang kerasukan makhluk halus."
"Eh, Kak Ayra jangan suka ngomong ngawur. Rara tidak mungkin ada di sana. Rara sedang kuliah, Kak."
Chayra tersenyum kecil. Mengisyaratkan pada Amara agar tidak bicara. "Kan dia baru selesai praktek. Seharusnya dia libur dong hari ini. Terus, kalau memang dia pergi kuliah, kenapa dia mau membantu Kakak belanja. Coba kamu tanya orang suruhan kamu untuk mengatakan dimana Amara sekarang."
__ADS_1
Bian tertelungkup beberapa saat. "Kak Daniel, dimana posisi Rara sekarang." Bertanya tanpa ekspresi pada Daniel.
"Nona Amara sedang di rumah Nona Chayra, Tuan." Daniel menjawab dengan lugas
Bian terdiam. "Awas Kak Ayra. Nanti aku akan buat perhitungan pada saat aku pulang."
"Hah, pulang aja sekarang. Nanti kita adu jotos saat kamu pulang." Chayra mematikan sambungan telepon. Beralih menatap Amara yang hanya bisa melongo.
"Masuk yuk!"
"Tunggu, Kak!" Amara menghentikan langkah Chayra. "K.. kenapa Kak Bian marah tadi?"
Chayra menghela nafas berat. "Dia marah gara-gara aku meminta kamu untuk belanja di Super Market. Ayo masuk, Dek."
Amara mengerjap-ngerjap bingung. Namun, gadis itu akhirnya melangkah masuk mengikuti Chayra.
*********
"Amara Andini.."
"Mara.."
"Amaraaa..."
Amara mengerjap-ngerjap saat suara Ameena melengking di telinganya. Ia berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya yang masih berceceran. "Ada apa, Na..? Kenapa berisik banget sih.." membuka matanya dengan malas.
"Hah.." Amara langsung bangkit karena terkejut. Melempar bantal guling yang sedang di peluknya pada Ameena. "Apaan sih, Na. Jangan bercanda berlebihan ah. Gue kaget nih." Mengusap-usap wajahnya untuk mengusir kantuk.
"Ya Allah, Mara.. gue ngomong serius. Tadi Asistennya masuk dan melapor pada Satpam. Pak Satpam yang bilang ke gue. Buruan sana cuci muka." Ameena menarik kaki Amara. Tapi, Amara terlihat masih meragukan ucapannya.
"Lho nggak bohong kan, Na? Kak Bian tidak mungkin ada di sini. Semalam dia bilang baru pulang bekerja dan mau istirahat di Apartemennya.
Ameena melengos kesal. Bicara dengan orang yang baru bangun harus menggunakan akal sehat. "Lho keluar sekarang, atau lho hubungi orangnya. Gue nggak mau dibilang Satpam tak berguna nanti sama dia. Ayo.. bangun.." menarik paksa tangan Amara agar turun dari ranjang. Dengan malas, Amara akhirnya bangkit juga.
"Sudah sana cuci muka. Gue tunggu di depan."
"Mmm..." Amara menimpali dengan malas.
Amara menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Tiba-tiba dadanya berdebar tak menentu. Tangannya mulai memoleskan krim tipis di wajahnya. Entah, omongan Ameena benar atau tidak. Namun, dia hanya ingin mempersiapkan diri. Temannya itu tidak pernah bercanda kelewatan batas. Hatinya juga membenarkan keadaan ini.
Saat keluar dari pintu utama Kostnya, Ameena langsung mengeluarkan tatapan tajam. "Lama banget sih..?! Tuh, lihat ke depan. Itu beneran Kak Bian, Mara."
Amara langsung menatap ke arah tatapan Ameena. Samar-samar, sudut bibir wanita itu tertarik membentuk sebuah lengkungan.
Bian melambai pelan sambil tersenyum. Pria itu masuk ke komplek Kost setelah melihat Amara di sana. "Kak Daniel, kita ke dalam saja. Rara ada di sana." Bian langsung melangkah masuk. Pria itu kembali menyunggingkan senyuman saat sudah berdiri di depan Amara. "Assalamu'alaikum, Rara cantik.."
__ADS_1
"Eh, w.. wa'alaikumsalam.. k.. kapan Kaka Bian pulang?" Amara benar-benar merasa bermimpi. Tiga bulan lebih tidak pernah bertemu dengan Bian. Pria itu terlihat semakin tampan dengan setelan jas yang dikenakannya.
"Apa aku tidak akan dipersilahkan untuk duduk?"
"D.. duduk, Kak.." Ameena mendorong kursi tunggal pada Bian.
"Aku tidak sendiri, Na. Kak Daniel apakah akan berdiri selama kita bicara?"
"Tidak apa-apa, Tuan." Daniel langsung menimpali karena melihat Ameena yang kebingungan.
Bian akhirnya mengangguk. Beralih menatap Amara yang terlihat masih gerogi. "Ra, kenapa tampang kamu kayak gitu? Apa kamu tidak suka melihat kedatanganku?"
"Siapa yang nggak suka, Kak. Aku cuman heran, Kak Bian nggak ada kabar, tiba-tiba udah disini. Kak Bian tau nggak, lagu jelangkung itu?"
"Apa?" Bian menatap Amara dengan tajam. Mendengar kata jelangkung membuat bulu kuduknya merinding.
Amara menghela nafas berat. "Datang tak dijemput pulang tak diantar."
"Lah, itu hubungannya apa denganku? Aku datang dibawa sopir, nanti pulang juga dibawa sopir."
"Tapi, Kak Bian nggak ada kabar pas berangkat pulang. Tau-taunya udah di sini aja."
Bian terdiam beberapa saat. Dia berniat ingin membuat kejutan pada gadis itu. Dari Bandara langsung menuju Kost Amada karena berniat mengajak wanita itu ke rumahnya untuk menemui sang ibu. "Apa kamu nggak suka, Ra?"
Amara menatap Bian dengan menautkan alisnya. "Nggak suka apaan?"
"Kamu nggak suka melihat aku pulang, makanya kamu protes kayak gini."
"Eh, siapa yang nggak suka? Ini.. aku malah seperti sedang bermimpi melihat Kak Bian berada di depanku. Padahal pagi tadi cuman melihat bayangan Kak Bian lewat vc."
"Rindu aku nggak?"
"Rindu.."
"Sayang aku nggak?"
"Sayang..."
"Senang bertemu aku?"
"Mm.. masih berasa kayak mimpi di siang bolong."
"Mm.. gitu." Bian manggut-manggut sambil menahan senyum. "Kalau begitu, kamu mau kan nikah denganku?"
"Hah...?!"
__ADS_1
******