Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Ketegasan Bian


__ADS_3

Bian masuk kembali ke kamarnya setelah selesai shalat ashar. Melihat dua asistennya masih membereskan kamarnya, ia kembali keluar dan menunggu di sofa depan kamarnya. Pikirannya lebih tenang setelah selesai shalat dan menumpahkan keluh kesahnya pada yang Maha Pencipta.


"Tuan,"


Bian mengangkat wajahnya saat mendengar suara Ida memanggilnya. "Ada apa, Ida?"


"Mm.. saya menemukan handphone Nyonya tergeletak di bawah ranjang, Tuan." Menyerahkan handphone Amara.


Bian mengambil handphone istrinya dengan ragu. "Apa handphonenya masih hidup?" Bertanya karena sudah tiga hari dia tidak melihat benda gepeng itu.


"Saya tidak tau, Tuan. Tadi Bu Sumi hanya meminta saya untuk menyerahkannya pada Tuan. Saya tidak pernah membukanya sama sekali."


"Terimakasih, Ida." Ucapnya kemudian. Mencoba menekan tombol power handphone itu. "Handphonenya mati," kembali menatap ke arah Ida. "Bisa minta tolong ambilkan cahrger, Ida."


"Biar saya yang membantu Tuan mengisikan daya di dalam."


"Terimakasih.." menyerahakan kembali handphone itu pada Ida. Ida langsung membawa handphone itu ke dalam kamar untuk mengisikan daya.


"Tuan, kamarnya sudah rapi. Kami permisi dulu." Sumi dan Ida menunduk sopan seraya berlalu kembali ke lantai satu untuk mempersiapkan makan malam.


Bian masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan hampa. Menatap sekeliling kamar yang terlihat rapi setelah dirapikan tadi. Bibirnya mengulas senyum tipis saat mengingat istrinya yang selalu rajin membereskan kamar sendiri tanpa bantuan asisten. Amara tidak suka kalau ada orang lain yang mengurus tempat pribadinya dengan sang suami.


Mata Bian menatap tajam ke arah handphone istrinya yang sedang di charge di samping tempat tidur. Dia penasaran dengan chat yang dikirim istrinya terakhir kali. Malam itu Amara mengeluh karena tidak bisa menghubunginya. Biasanya dia akan mengirimkan keluh kesahnya itu lewat pesan.


Bian langsung membuka aplikasi W****A** begitu handphone itu aktif. Alisnya tertaut sempurna melihat pesan yang belum terbaca dari nomor tak di kenal di chat teratas. Walaupun sedikit ragu, ia akhirnya membuka pesan itu.


Itu yang di lakukan suami kepercayaan lu di luar. Menikmati hari tanpa adanya gangguan dari wanita sensitif dan manja kayak lu.


Duar ...!


Bian mensecroll pesan ke bawah. "Astagfirullahal'adzim..." mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pikirannya langsung melayang memikirkan kejadian hari itu. Ia juga teringat dengan ucapan Daniel yang mengatakan kecelakaan yang dialami Khanza tidak alami. Tanpa pikir panjang, ia langsung menghubungi Daniel.


Tut...


"Kak Daniel antar aku ke tempatnya Khanza sekarang."


"Tuan, saya sedang menemani Tuan Besar mengadakan rapat dengan para manager.


"Aku tidak mau tau. Sekarang Kak Daniel ke rumahku."


"Tuan, saya tidak mungkin meninggalkan rapat tanpa sebab yang pasti."


Bian membuang nafas dengan kasar. Meletakkan handphone istrinya dengan kesal. Hampir saja ia membanting handphone itu karena tidak bisa menguasai dirinya. Mengusap wajahnya dengan kasar. Mengambil kunci mobil tanpa berkata sepatah kata pun. Ia akan pergi sendiri mencari wanita itu.

__ADS_1


Sampai di Kantor Khanza...


Bian langsung mendekati resepsionis yang sedang membereskan meja kerjanya karena sedang bersiap untuk pulang. "Tunjukkan di mana ruangan Direktur kalian." Ucap Bian tanpa basa-basi.


"Maaf, apa Bapak sudah ada janji sebelumnya dengan beliau?"


"Saya tidak butuh janji dengannya. Kalau anda tidak mau menunjukkan ruangannya, panggilkan dia kemari sekarang."


"Setiap tamu yang datang setidaknya sudah membuat janji dengan Bu Khanza, Pak. Bu Khanza adalah orang yang sangat sibuk."


Brak ...!


"Jangan banyak bicara kalau kamu masih mau hidup."


"P.. Pak.." resepsionis itu mengerjap-ngerjapkan matanya seraya menelan ludahnya dengan susah payah.


"Panggilkan wanita berengsek itu sekarang atau kamu akan menyesal seumur hidupmu." Ancam Bian dengan penuh penekanan. Ia tidak perduli dengan ekspresi ketakutan yang ditunjukkan resepsionis itu.


"S.. saya akan mencobanya sekarang, Pak. Silahkan Bapak duduk menunggu." Menempelkan telpon di telinganya dengan tangan bergetar.


Bian tidak menimpali. Dia tetap berdiri di depan resepsionis itu sambil mengetuk-mengetuk meja menunggunya selesai menghubungi bosnya.


Selang beberapa menit, Khanza muncul di hadapan Bian dengan senyum sumringah. "Hei ada apa Kak Bian mencariku?" Menepuk pundak Bian seolah-olah sangat akrab dengan pria itu.


Bian tersenyum getir. "Singkirkan tangan kotormu dari pundakku." Menatap Khanza dengan tajam. "Apa maksud kamu mengirimkan gambar kotor itu ke istriku?"


Brak..!


"JANGAN PURA-PURA BODOH!" Tangan Bian spontan meraih leher Khanza. Mencekik wanita itu sambil mendorongnya sampai menempel di tembok. Resepsionis yang melihat kejadian itu langsung menjerit ketakutan.


"Katakan apa yang kamu ingin kan sebelum kamu mati tercekik."


Khanza tidak berani mengatakan apapun. Ia hanya berusaha melepaskan tangan Bian yang mencekik lehernya semakin kuat. Tangan Bian benar-benar kuat walaupun beberapa orang termasuk satpam yang berjaga di depan mencoba melepaskan tangan pria itu. Untungnya resepsionis itu menjerit dan mengundang perhatian, sehingga kejadian itu bisa dilerai dengan cepat.


"Pak, mohon tenang, Pak. Bapak bisa membunuh Ibu Khanza." Bian di tarik paksa oleh tiga orang karyawan Khanza yang bertubuh kekar.


Tubuh Khanza langsung lemas begitu tangan Bian terlepas. Dia terbatuk-batuk sambil memegang lehernya yang terasa sakit.


"Aku memang menginginkan hal itu. Dia hampir membunuh anak istriku karena gambar bodoh yang dikirimnya pada istriku. APA KAU TAU NONA KHANZA?! ISTRIKU SAMPAI KOMA KARENA KELAKUAN JAHATMU ITU. AKU AKAN MENUNTUTMU KARENA PERBUATAN BUSUKMU ITU. Lepaskan aku!" Bian menghempaskan tangan yang masih menahan tubuhnya.


"Jangan sakiti Bu Khanza lagi, Pak." Satpam itu kembali memegang tangan Bian.


"Aku akan pergi sekarang." Kembali menghempaskan tangannya agar terlepas.

__ADS_1


Sampai di halaman, Bian di kejutkan dengan keberadaan Daniel di tempat itu. Dia hanya mendengus tanpa ada niat untuk menyapa asistennya itu. Masuk ke dalam mobil dan langsung tancap gas meninggalkan tempat itu.


**********


Keesokan harinya...


Bian mencoba mendatangi Amara. Istrinya itu sudah di pindah ke ruang rawat biasa karena keadaannya semakin membaik. Ia pura-pura menghampiri anaknya terlebih dahulu karena merasa tidak enak kalau langsung mendekati pembaringan istrinya. Mata Amara juga terpejam. Entah, wanita itu benar-benar tidur atau hanya pura-pura karena menyadari kedatangannya.


"Kemarahan istri kamu sedikit meredam, Nak." Bu Santi mendekati putranya seraya berbisik pelan pada Bian yang sedang mempermainkan tangan putrinya.


"Maksud Ibu?" Bian melirik ibunya lalu melirik ke arah istrinya.


"Semalam Daniel datang dan menjelaskan banyak hal padanya. Aku sampai tidak mengerti. Daniel sampai menunjukkan serpihan handphone kamu padannya. Dia juga membahas masalah penabrakan Khanza."


"Aku sudah menduga kalau wanita itu adalah dalang dari semua ini. Aku sudah memberikan peringatan keras untuknya."


Tok.. tok...


Bu Santi dan Bian langsung menoleh ke arah pintu saat mendengar suara pintu di ketuk. Terlihat Pak Akmal dan Daniel masuk ke dalam ruangan. Pak Akmal langsung mendekati Bian yang masih duduk di samping ranjang mungil bayinya.


"Kita harus bicara, Bian."


"Aku nggak mau, Kek."


"Bian.. ini masalah serius, Nak. Kamu hampir membunuh Nona Khanza. Keluarganya keberatan dan akan melaporkan perbuatan kamu ke polisi. Mereka sudah mempunyai bukti hasil visumnya. Bekas cekikan kamu itu, Nak."


Bian tersenyum getir. "Itu tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang sudah dia lakukan pada istriku. Mereka melapor, aku pun bisa melakukan hal yang serupa. Dia telah mengirim gambar bodoh yang membuat Rara sampai seperti ini. Dia mengirim beberapa kata provokatif pada Rara. Dia mengirimkan gambar saat aku membopongnya ketika kecelakaan itu, seolah-olah aku sedang berselingkuh dengannya."


"Darimana kamu tau hal itu?" Pak Akmal akhirnya duduk di samping Bu Santi. Ucapan Bian ini bisa dimasuakkan sebagai barang bukti tambahan untuk melakukan pembelaan atau mungkin untuk membuat laporan balik.


"Aku menemukan semuanya di handphone Rara, Kek. Dia benar-benar wanita busuk. Aku tidak mau lagi bekerja sama dengannya. Kalau Kakek masih terus memaksaku untuk bekerja sama dengannya. Aku akan mengundurkan diri."


"Bian.."


"Kakek bebas memilih. Mau memilih cucu Kakek, atau mungkin anak teman Kakek yang hampir membunuh anak istri cucu Kakek."


"Astagfirullah, Nak."


"Kesabaranku sudah cukup sampai di sini, Kek. Ke depannya, aku ingin hidup tenang bersama anak istriku. Aku tidak mau lagi berurusan dengan wanita itu. Silahkan Kakek mau pilih siapa. Kalau pun Kakek tidak memilih aku, aku akan mencari pekerjaan lain. Toko Ibu masih butuh karyawan tambahan. Aku juga punya beberapa butik sebagai sumber penghasilan. Istriku juga bukan wanita yang bergaya hidup mewah. Dia adalah wanita yang penuh dengan kesederhanaan."


Pak Akmal menarik nafas dalam. "Kakek akan mempertimbangkan ucapan kamu ini. Tapi, apa kamu yakin, kalau Nona Khanza mengirimkan gambar itu?"


Bian mendengus. "Siapa lagi kalau bukan dia. Dia adalah wanita terlicik yang pernah aku kenal."

__ADS_1


Pak Akmal beralih menatap Daniel. Andaikan Bian tau kalau wanita itu yang mengambil handphone dan membayar orang untuk menabraknya. Entah, gelar apa lagi yang akan diberikan Bian untuknya.


***********


__ADS_2