
Bian masuk kembali ke ruang IGD tempat Amara di rawat. Ia mendapati kakaknya sedang duduk di samping pembaringan Amara. Tangan Chayra menggenggam erat tangan Amara yang belum juga membuka matanya. Ia juga mendapati ibunya dan Pak Arif sudah berdiri di sana. Sementara Ameena dan Humaira tidak terlihat di tempat itu.
"Ibu, Papa..." Bian berjalan ragu mendekati ibunya dan Pak Arif.
Bu Santi hanya tersenyum nanar menatap putranya. Terlihat jelas kalau wanita itu sedang bingung dengan keadaan ini.
"Papa.." Bian beralih menatap Pak Arif.
"Ini adalah cobaan, Nak. Papa yakin, pasti ada hikmah di balik semua ini." Pak Arif menepuk-nepuk punggung Bian untuk menguatkan. Walaupun dirinya juga sangat menyayangkan kejadian ini, setidaknya dia tidak terlihat rapuh seperti Bian.
"Iya, Pa. Kita harus bisa saling menguatkan." Timpal Bian. Matanya menatap lurus ke arah Amara yang belum juga sadarkan diri.
"Apa Dokter belum memberikan keterangan lebih lanjut tentang penyakit yang diderita Amara?" Pak Arif menyentuh pundak Bian.
Bian menggeleng pelan. "Rara kecanduan obat tidur, Pa." Jawabnya dengan ekspresi datar.
Chayra langsung mengangkat wajahnya. Bu Santi pun langsung menatap putranya. Jangan tanyakan lagi ekspresi Pak Arif, pria itu sampai tidak bisa berkedip mendengar ucapan Bian.
"Kenapa kamu berani menyimpulkannya begitu, Dek? Rara tidak mungkin..."
Bian mengangkat tangannya agar kakaknya tidak melanjutkan ucapannya. "Ada orang yang sengaja mencampurkan obat tidur pada minuman Rara setiap malam. Kak Ayra jangan su'udzon pada Rara. Dia juga tidak tau apa-apa tentang hal ini. Dia hanyalah korban dari keserakahan seseorang."
Chayra tidak bisa berkata apa-apa untuk mengomentari ucapan adiknya. Ia akhirnya menggenggam tangan Amara kembali seraya menatap wanita itu. Menatap dalam diam wanita yang sudah menjadi adik iparnya itu.
"Darimana kamu tau tentang hal itu, Nak?" Bu Santi meraih tangan putranya.
"Kak Daniel sudah menyelidiki hal ini dari beberapa hari yang lalu. Bodohnya aku tidak menanyakan apapun padanya sebelum ini."
Pak Arif hanya menyimak apapun yang diucapkan Bian. Ingin marah, tetapi tidak tau marah pada siapa. Syukur-syukur Bian mau menyelidiki hal yang membuat putrinya mendadak seperti ini.
********
Bian duduk di sisi Amara. Mereka sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Bian memilih ruangan terbaik untuk istrinya agar nyaman selama masa pemulihannya.
"Maafkan aku yang selalu merepotkan Kak Bian." Ucap Amara sambil terisak. Meremas baju pasien yang dipakainya. Entah kapan gaun pengantinnya diganti. Dia benar-benar tidak menyadari apa yang terjadi selama empat jam tidak sadarkan diri.
"Tidak, Sayang. Aku tidak merasa di direpotkan. Justru aku merasa direpotkan oleh orang yang kurang kerjaan yang terus mengganggu kamu. Aku akan berusaha mengupas habis masalah ini. Orang itu harus bertanggung jawab penuh dengan apa yang sudah dia lakukan padamu." Bian menghela nafas berat. "Sekarang kamu harus menjalani terapi untuk menghilangkan efek obat itu." Menatap Amara sambil tersenyum lembut. Tangannya pun terus menggenggam tangan Amara.
Amara tersenyum lemah. Pikirannya masih kacau. Dia juga tidak bisa fokus. Ternyata efek obat tidur itu cukup kuat. Ia mengalihkan pandangannya dari Bian. Menatap ke arah luar ruangan yang terlihat sudah gelap. Ia tidak tau ini jam berapa karena jam dinding di letakkan di atas kepalanya.
__ADS_1
"Rara..."
"Mm.." kembali menatap Bian.
Bian tersenyum sambil menunduk. Melihat Amara membuka matanya membuatnya benar-benar merasa bahagia saat ini.
"Kenapa Kak Bian terus memegang tanganku? Kita kan belum menikah, Kak." Amara menunduk menyembunyikan kesedihannya. "Maafkan aku. Karena aku begini, semua rencana harus tertunda."
Bian menautkan alisnya menatap istrinya. Perlahan, tangannya terangkat dan mengangkat dagu Amara. "Hey.. tatap aku, Sayang.."
Amara menggelengkan kepalanya tanpa sedikit pun mengangkat wajahnya. "Aku merasa bersalah, Kak. Maafkan aku.."
"Rara..." Bian benar-benar memaksa Amara mengangkat wajahnya. "Amara Andini.. apa kamu lupa kejadian terakhir sebelum kamu tidak sadarkan diri?" Bian bertanya dengan sangat pelan.
"Aku.. aku.." Amara melirik Bian lalu kembali menunduk. "Aku sedang menunggu Kak Bian di ruangan khusus sebelum ijab qobul. Tapi.." Amara menghela nafas berat. "Maafkan aku.."
Bian menahan senyum. Itu berarti saat Amara berjalan keluar, wanita itu sudah tidak fokus dengan keadaan sekitarnya. Itulah mengapa dia tidak ingat kalau dia sudah menjadi istri sah Bian Putra Arianto. Ia bangkit untuk pindah ke sisi kiri Amara. Meraih tangan Amara yang tertancap jarum infus.
"Kak Bian mau ngapain..?" Amara menatap tangannya yang ditarik Bian.
"Biar kamu ingat, kalau kamu sudah menjadi istriku."
"Hah..?!" Amara tersentak. Wanita itu sampai menarik tangannya dengan spontan karena terkejut mendengar ucapan Bian.
"Mm... m.. maaf. Aku cuman terkejut tadi."
"Mana, sini tangan kamu." Bian kembali meraih tangan Amara. "Jangan di tarik lagi. Aku cuman mau memasang cincin pernikahan kita. Tadi siang belum sempat di sematkan di jari manis kamu."
"Aku nggak ngerti, Kak. Seingat aku, Kak Bian belum ijab qobul dengan Papa."
"Hah.." Bian membuang nafas dengan kasar. "Aku tidak mungkin berani duduk seperti ini, memegang tangan kamu dan lain sebagainya. Aku suami kamu, Ra."
Amara menatap tepat di mata Bian. "Apa Kak Bian bercanda?"
"Astagfirullahal'adzim.." Bian mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku suamimu, Ra. Kak Ayra dan yang lain tidak mungkin membiarkan aku menjaga kamu sendirian jika kita belum halal." Ucap Bian sambil memasang cincin di jari manis Amara. Sengaja menyebut nama kakaknya, karena Chayra lah orang yang paling sensitif selama ini.
Amara mencoba mengingat kejadian terakhir. Ia benar-benar masih ragu dengan penjelasan Bian.
"Kita belum menandatangani buku nikah. Mungkin itu yang membuat kamu lupa status kamu yang sekarang. Kamu belum mencium tanganku. Dan.. aku juga belum mencium keningmu untuk yang pertama kalinya. Semua itu harus tertunda karena kamu pingsan tadi siang." Bian menatap dalam istrinya.
__ADS_1
Amara memijit pelipisnya yang berdenyut semakin hebat saat mencoba mengingat semuanya.
"Sudah, jangan dipaksa lagi kalau itu menyiksa. Intinya, aku adalah suami kamu." Bian menurunkan tangan Amara dengan perlahan. Ia tersenyum saat melihat cincin pernikahan sudah melingkar di jari manis Amara.
Sepersekian detik Amara menatap Bian sebelum akhirnya mengangguk lemah.
"Bagus.." Bian tersenyum puas. "Biar kamu tambah yakin.." Bian mendekatkan wajahnya ke wajah Amara. "Izinkan aku mencium keningmu untuk pertama kalinya." Hidung Bian kembang kempis karena grogi. "Ini... ini adalah yang pertama kalinya untukku." Membaca basmalah lalu mencium dahi Amara.
"Tapi.. ini tidak menjadi yang pertama untukmu. Kamu pernah mencium ku tanpa izin waktu itu." Bian menahan senyum sambil menatap Amara.
Sepersekian detik Amara terdiam mencoba mencerna maksud ucapan Bian. Wanita itu langsung melotot setelah sadar. "Ih, Kak Bian menyebalkan deh..." spontan tangannya mencubit lengan Bian. Rona merah langsung menyembur di pipi putihnya.
"Hahaha..." Bian tertawa kecil melihat wajah istrinya. "Yang aku katakan benar kan?"
"Nggak..!" Amara melengos membuang pandangannya. "Itu mah kecelakaan. Aku tidak segatal itu mencium pria duluan."
"Hehehe.. terserah kamu. Intinya, sekarang kita sudah menjadi pasangan yang halal. Kamu boleh kok, mencium ku di bagian mana pun yang kamu mau. Sekarang, kamu tidak akan menyebut hal itu sebagai sebuah kecelakaan lagi." Bian menaik turunkan alisnya menggoda istrinya.
Amara mengernyit seraya menatap Bian dengan kesal. Baru saja akan menimpali ucapan Bian, kepalanya terasa semakin berat. Sepertinya dia harus merebahkan tubuhnya lagi.
"Kenapa meringis, Ra.. apa ada yang sakit?" Raut wajah Bian langsung berubah.
"Kepala aku.."
"Sudah.. sudah, kamu istirahat lagi kalau begitu." Bian membantu Amara merebahkan tubuhnya. Pria itu langsung menekan tombol Nurse Call agar perawat yang bertugas merawat istrinya segera datang ke dalam ruangan.
Amara di periksa sekitar sepuluh menit. Dokter menyuntikkan obat tidur sesuai dosis agar Amara bisa terlelap lagi. Ketergantungan dengan obat tidak bisa dihentikan secara langsung. Harus dengan perlahan-lahan dan di dampingi oleh dokter, psikolog dan psikiater.
"Biarkan pasien tidur dengan tenang. Tuan bisa istirahat karena pasien akan tidur beberapa jam ke depan. Sepertinya selama mengkonsumsi obat itu, pasien mengkonsumsinya dalam dosis besar. Sehingga efek yang dirasakannya sangat buruk saat ini."
Bian hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Dokter. "Terimakasih bantuannya, Dokter."
Dokter itu mengangguk sopan. "Saya permisi, Tuan." Menunduk sopan seraya keluar dari ruangan.
Bian mengangguk seraya tersenyum kecil. Sejak orang-orang di Rumah Sakit itu tau siapa dirinya, semuanya selalu menunduk sopan saat bicara atau sekedar berpapasan dengannya.
Bian kembali duduk di samping Amara. Pria itu tersenyum menatap istrinya yang sudah terlelap. Ada rasa kasihan padanya, karena Amara harus mengalami hal ini. Andai saja neneknya tidak ikut campur dalam hubungannya. Ini semua pasti tidak akan terjadi.
Bian mengalihkan pandangannya saat terdengar ketukan di pintu. Ia menautkan alisnya heran. Waktunya sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Siapa yang datang berkunjung selarut itu. "Masuk saja, pintunya tidak di kunci." Ucapnya.
__ADS_1
Pintu terbuka lebar. "Tuan..." Daniel menunduk sopan diikuti oleh seorang wanita di belakangnya.
********