Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Makan Malam


__ADS_3

Raka memarkir mobilnya tepat di depan gerbang rumah Yuna dan keluar dari mobil. Dia membunyikan bel pintu dulu, lalu mengetuk pintu itu. Dia hampir saja menekan bel itu kedua kalinya ketika tiba-tiba pintu terbuka dan Yuna muncul dari dalam,


Raka lagi-lagi terperanjat oleh penampilan Yuna, sebab ia kelihatan teramat cantik dengan pakaian biru indah yang apik, sederhana dan pas, dan cocok dengan tumitnya. Rambutnya, lengannya yang halus yang tampak keluar dari baju yang berlengan segitiga menambag pesona pada bentuk tubuhnya yang sudah sangat menarik.


Raka menengadah memandanginya selama beberapa detik, tetapi serasa seperti berjam-jam. Tatapan mereka beradu.


“Kau sudah datang,” sapa Yuna. Bibirnya yang basah melekuk membentuk sebuah senyuman.


“Baik. Aku kira kita sudah terlambat. Cepatlah, aku harus segera kembali.”


Yuna bisa merasakan mata Raka menjelajahi bagian tubuhnya yang sensitif dan terbuka. Namun, anehnya, itu tidak membuatnya risih. Hal itu justru memberinya suatu dorongan rasa bangga terhadap tubuh indah yang dimilikinya.


Yuna mengamatinya ketika Raka mendahuluinya berjalan menuju mobil. Dia lebih tinggi beberapa inci daripada dirinya, dengan bahu lebar, rambut hitamnya yang indah, namun mata Rakalah yang paling mengguncanginya.


Seperti janji Raka padanya, mereka akan makan malam bersama. Ada suasana damai di antara mereka ketika keduanya mengambil meja mereka di sebuah restoran yang berpenerangan lilin, yang jendela-jendelanya berhiasan pemandangan laut Arwana yang sangat indah. Tempat yang sangat nyaman.


Ketika mereka berdua duduk disana, Yuna merasakan suatu kobaran dalam dirinya saat ia mengamati wajah Raka dengan matanya. Penampilan kekasihnya sangat menawan. Tangannya yang tampak kuat, tapi indah dan ditaburi bulu hitam yang lembut, sebagaimana bidang dada yang lebar terlihat melalui baju putihnya yang terbuka di leher.


“Orang-orang kelihatan tampan hari ini,” Yuna menggodanya.


“Jangan puji aku,” Raka mengalihkan pandang dan memalingkan kepalanya untuk menyembunyikan ekspresi pada mukanya yang diakibatkan oleh perkataan Yuna.


“Aku mengatakan yang sebenarnya,” kata Yuna kepadanya.

__ADS_1


Raka tersenyum sebagai balasannya.


Pelayan restoran membawakan pesanan menu makan malam dan minum mereka. Makanan itu termasuk nasi goreng khas-Arwana dengan jamur-jamur yang masih segar dan juga ada spageti. Minumannya termasuk limun segar, dan jus jeruk campur.


Keduanyapun mencicipi makanan mereka setelah pelayan itu mempersilahkan mereka.


Raka tampak menikmati makanannya.


“Apa makananya begitu enak?” tanya Yuna sedaritadi memperhatikan Raka melahap makananya. Tapi sebenarnya tidak ada pembicaraan yang khusus malam ini untuk dirinya yang sudah datang dengan berpenampilan begitu mempesona.


“Iya. Aku menyukai makanannya,” balas Raka singkat sambil menganggukkan kepala.


“Kau kelihatan tidak bersemangat saja. Apa yang terjadi?” Yuna bertanya dengan penuh perhatian.


Raka menggeleng. Menutupi kegelisahanya dari pandangan Yuna.


Ada sosok yang tak ingin si ceritakan Raka. Ia hanya menunduk mengunyah makanannya. Yuna kembali bertanya padanya. Ia tahu kenapa Raka seperti ini padanya. Selalu bersikap dingin dan datar. Tapi jauh dari itu, Yuna selalu beranggapan bahwa Raka tetap ada sisi romantisnya.


“Besok siang bisakah kau menemaniku untuk pemotretan? Aku sudah mengatakan pada managerku bahwa kau yang menjemputku” ajaknya mengalihkan pertanyaan mencari suasana nyaman agar tidak terlihat kaku. Karena dari tadi banyak waktu untuk diam daripada berbicara saling bertukar pikiran.


Raka menolaknya dengan lembut. Tidak mau membuat gadis dihadapanya itu merasa kecewa untuk kesekian kalinya. Ia memandang kearah Yuna.


“Maaf aku tidak bisa, aku ada jadwal kuliah hari itu. Bukankah ibumu yang selalu menemaimu?” lalu tersenyum simpul, kembali melahap makananya.

__ADS_1


“Memangnya kenapa? Kali ini aku ingin kau yang menemaniku. Ibuku ada urusan lain ke luar kota,” Yuna menatap Raka dalam-dalam. Ia sedikit terkejut mendengar penolakan Raka.


Raka dengan santai menjawab. “Maafkan aku. Aku juga ada janji dengan teman-temanku untuk latihan. Kau mengatakannya mendadak sekali.”


“Tidak bisa ditunda saja? Kau akan pergi denganku.” Yuna menatap Raka lebih dalam lagi. Wajahnya menampakkan kemurungan.


“Tapi ini sangat penting. Kami akan bertanding dalam pekan ini” Raka bersikeras memberi alasan. Berharap Yuna bisa memahaminya.


“Ternyata kau lebih memilih teman daripada aku. Aku begitu terlihat bodoh karena tidak bisa membujukmu.” Yuna mulai mempertanyakan arti dirinya dimata Raka sekarang. Itu sama saja ia memancing emosi Raka di disaat moodnya yang tidak baik.


“Bukan itu maksudku,” Raka mengelak. Ia tetap bersikap tenang agar tidak menjadi perdebatan yang serius. Ia hanya perlu bersikap lunak pada Yuna yang mulai terlihat marah.


Yuna mendengus kesal, ia mendelik. Suasana romantis itupun berubah jadi kacau. Keadaan disekitar tak menanggapi mereka yang sedang berdebat. Raka mulai kelihatan tidak berselera karena itu.


“Apa kau sudah selesai? Aku akan mengantarmu pulang,” katanya kemudian.


“Apa ini yang dinamakan kencan? Bahkan makanannya belum habis.”


“Bukankah kau memintaku untuk menemanimu makan malam. Aku sudah melakukanya. Aku sudah menuruti permintaanmu. Lalu?”


“Lima menit saja. Beri aku waktumu lima menit saja untuk makan malam denganku tanpa pertengkaran ini. Bisakah kau menurutinya? Makan malam seperti ini terasa asing jika kita bertengkar seperti ini. Aku tidak akan mengacaukannya kali ini. Ku mohon.


Raka mengangguk dan terdiam sejenak, ia melanjutkan makan malamnya yang terhenti sebentar itu.

__ADS_1


“Hmm.”


“Setidaknya biarkan aku menghabiskan makananku,” seru Yuna. Ia menarik napas yang dalam, lalu meyesap terakhir minumannya.


__ADS_2