
Ameena tersenyum sumringah selepas kepergian Bian. "Gila, gue beneran dikasih duit sama Kak Bian." Menatap kartu di tangannya dengan mata berbinar. Tangannya menggoyang-goyang tubuh Amara yang masih terlelap. "Mara, Mara.. bangun.." mencoba membangunkan Amara, tetapi mata masih fokus menatap kartu di tangannya.
"Ada apa, Na?" Amara membuka matanya perlahan seraya menggeliat pelan. "Ngapain lho bangunin gue, Na? Gue masih ngantuk."
"Eh, dasar lho. Lho ingat nggak kita sedang dimana?" Ameena menepuk-nepuk pipi Amara untuk memulihkan kesadaran gadis itu.
"Eh," Amara membuka matanya lebar-lebar lalu menatap sekeliling. "Mm.. kita masih di dalam mobil Kak Bian. Kita sedang berada di parkiran suatu tempat." Menutup mulutnya dengan tangan karena menguap lebar. Setelah merenung beberapa saat, ia akhirnya mengingat semuanya. "Oh iya, Na. Kita kan mau ke Kampus Kak Bian. Tapi.."
"Kak Bian meninggalkan kita di sini." Timpal Ameena."
Amara tersentak dan langsung menatap Ameena. "M.. maksud kamu, Kak Bian meninggalkan kita.. terus kita Bagaimana..?"
Ameena memutar bola matanya kesal. "Makanya kalau tidur itu dikondisikan tempatnya, Mbak. Lho ini untung aja ada gue. Bagaimana kalau lho cuman berdua dengan Kak Bian. Apa lho yakin tidak akan terjadi apa-apa selama lho tidur seperti tadi?"
"Hus, lho ngomong apa sih?! Kak Bian itu bukan orang sembarangan, Na. Gue juga udah sering kali, semobil berdua dengan dia. Alhamdulillah tidak pernah terjadi apa-apa. Bahkan dia selalu memakai bantal untuk membangunkan kalau aku ketiduran. Tidak pernah ada kontak fisik sama sekali. Jangan berpikir terlalu jauh. Bersentuhan tangan aja gue nggak pernah. Kak Bian itu walaupun friendly sama siapa saja. Tapi, dia pandai menjaga jarak dengan siapapun itu. Jangan berpikir kotor lho, otak lho kayaknya perlu dicuci dengan siraman ceramah Ustadz, biar dapat pencerahan."
Ameena menyebikkan bibirnya. "Terserah lho deh. Kata Kak Bian, kita diminta untuk menunggunya di Kafe. Nih.." Ameena menunjukkan kartu yang diberikan Bian. "Kak Bian sangat pengertian. Dia tau kalau kita hanya wanita MissQueen yang sudah pasti tidak banyak duit. Dia meninggalkan ini untuk kita." Menyerahkan kartun pada Amara. "Kata Kak Bian, lho yang tau passwordnya."
Amara mengambil kartu yang diserahkan Ameena. "Tapi.. Kak Bian pergi kemana, Na? K.. kenapa dia malah meninggalkan kita di sini?"
Ameena tersenyum meringis. "Hihihi... dia lagi ada kelas. Katanya sih, kurang lebih satu jam ke depan. Makanya dia meminta kita untuk menunggunya di Kafe biar tidak bosan."
Amara menghela nafas berat. "Kenapa lho nggak bangunin gue dari tadi?" Menatap Ameena dengan tatapan sendu.
"Kak Bian melarang gue. Dia malahan menyuruh gue untuk menunggu lho bangun sendiri. Maunya dia membiarkan lho tidur. Saat gue minta tempat lain untuk menunggunya, dia malah mengkhawatirkan lho. Huh," Ameena melengos. "Iya.. gue minta aja dia gendong lho kalau tidak mau mengganggu tidur lho."
"What...?!" Amara melotot mendengar ucapan Ameena.
__ADS_1
Ameena tersenyum sinis. "Siapa yang nggak kesal kalau cuman disuruh jaga orang tidur. Yang seharusnya tidur kan gue. Yang kurang tidur semalam itu gue. Eh, malah lho yang molor dengan pulasnya." Kembali melengos seraya membuang pandangan.
"Siapa suruh lho nggak tidur juga. Terlelap beberapa menit, lumayan menambah tenaga."
"Hah, lho bilang beberapa menit, Mara?" Lho tidur hampir satu jam."
"Ck, kan cuman dari Butik tadi sampai ke Kampus Kak Bian. Perjalannya aja kurang lebih lima menit."
Ameena terdiam beberapa saat dengan mata tidak beralih dari Amara. Sepertinya dia harus menceritakan semuanya pada Amara. "Lho nggak tau cerita detailnya, Mara. Tadi Kak Bian membawa kita kembali ke rumahnya terlebih dahulu. Awalnya gue juga bingung. Gue kira ada sesuatu yang mau dia ambil. Tapi, saat dia sampai depan pintu, dia malah berbalik lalu masuk kembali ke dalam mobil. Lho tau, dia malah menyalahkan gue karena kejadian itu."
Amara menautkan alisnya. Mendengar cerita Ameena tanpa ada niat untuk memotong.
"Dia malah menggaruk-garuk kepalanya, benar-benar terlihat seperti orang bodoh, Mara. Belum lagi dia bilang gini," Ameena memperbaiki duduknya seraya berdehem pelan. "Mm.. aku salah jalur apa lupa jalur.." menirukan ekspresi Bian saat kebingungan tadi. "Hahaha.. dia benar-benar terlihat lucu, Mara. Tapi, syukurnya gue berhasil menahan tawa. Gkgkgk.." Ameena cekikikan. Ternyata dia benar-benar menikmati ekspresi bodoh Bian tadi.
"Huh, nggak lucu tau nggak. Seharusnya lho memperingati Kak Bian dari awal. Kan kasihan waktunya jadi terbuang sia-sia gara-gara harus bolak-balik."
Amara menggeleng. "Kita keluar sekarang, yuk. "Ngapain coba, aja gue berdiam disini?"
"Eh, tunggu tunggu.." Ameena menarik tangan Amara yang sudah mengeluarkan setengah badannya dari mobil. "Ada apa lagi, Na?"
"Touch up dulu. Tadi pagi kamu salah pakai lipstik. Seharusnya kalau mau keluar itu pakai yang long lasting, biar tidak dipoles lagi. Bibir kamu udah kembali ke warna dasarnya." Ameena ngoceh sambil mengeluarkan lipstik dan bedak tabur dari dalam tasnya. "Kayaknya lho lupa, kalau kita dibawa kemari untuk bertemu dengan mantan sahabat kita."
"Apaan sih, Na?!"
"Nggak usah dibahas. Sekarang lho butuh di poles biar wajah lho terlihat lebih fresh. Jangan mau kalah dong dengan wanita seperti dia. Apalagi lho udah dapat lampu hijau dari calon mertua." Ameena terus ngoceh, walaupun tangannya sibuk memoles bibir Amara.
Amara menahan tangan Ameena yang akan memoleskan bedak tabur di pipinya. "Jangan pakai itu, Na. Gue nggak biasa pakai bedak. Gue takut nggak cocok sama produk itu."
__ADS_1
"Ck..!" Ameena menepis tangan Amara. Segera menaburkan sedikit bedak di atas spon dan mengaplikasikan di wajah Amara. "Lho akan terlihat pucat kalau nggak pakai bedak. Lagian ini aman kok. Udah ada label halalnya juga. Lho nggak perlu khawatir."
"Sudah, Na.. jangan terlalu banyak. Aku nggak pede nanti."
"Sedikit parfum juga.."
Amara kembali menahan tangan Ameena. "Gue nggak mau, Na. Jangan buat gue seperti ini. Gue nggak mau terlihat berubah hanya karena akan bertemu dengan Khanza." Amara melepaskan tangannya. "Biarin gue apa adanya."
Ameena tidak memperdulikan ucapan Amara. Ia menyemprotkan parfum beberapa kali ke pakaian temannya itu. "Kak Bian aja membelikan kita pakaian, agar kita terlihat berbeda. Masa kamu nggak mau berusaha sih?! Setidaknya hargai pengorbanan Kak Bian untuk kita." Ameena Memasukkan kembali barang-barangnya ke dalam tas. "Ayo, kita keluar sekarang." Keluar dari dalam mobil duluan.
Amara masih berdiam diri. Masih ragu untuk keluar gara-gara touch up tadi. "Na, muka gue nggak terlihat belang kan, karena pakai bedak?"
"Astaga, Mara.." Ameena membuang nafas dengan kasar. "Lho ini nggak ada gaul-gaulnya deh. Mana ada muka lho belang. Wajah lho putih bersih, Mara. Mm.. bukan cuman wajah saja, tapi seluruh badan lho itu putih bersih. Jadi nggak mungkin banget bisa terlihat belang hanya karena sedikit bedak." Ameena menatap Amara. Yang ditatap masih terlihat ragu.
"Ayo, Mara.. gue udah lapar nih. Lho tadi pagi nggak bagi-bagi sarapan. Sekarang sudah jam sebelas. Gue nggak kuat lagi kalau harus menunda lapar."
Amara akhirnya mau turun, walaupun masih terlihat ragu.
Amara melongo melihat pesanan Amara saat waiters mengantar ke meja mereka. "Na.." beralih menatap Ameena yang tersenyum sumringah melihat pesanannya datang.
"Mm.. apa?" Ameena menyeruput jus wortel yang baru saja diletakkan di depannya.
"Mm.. lho yakin bisa menghabiskan semua ini?"
"Yakin banget, Mara. Perasaan lho udah tau porsi makan gue. Lho tau sendiri kan, sejak tinggal di Kost, perut kita jarang terisi penuh." Kembali menyeruput jusnya. "Lagian ini semua kan ditraktir. Kalau pakai uang sendiri sih, kayaknya aku akan berpikir panjang sebelum memesannya."
Amara akhirnya hanya bisa menggeleng-geleng lemah. Dia hampir lupa, kalau Bian sudah meninggalkan alat bayar untuk mereka.
__ADS_1
************