
Amara masuk ke tempat shalat wanita usai mengambil air wudhu'. Hanya beberapa orang yang terlihat sedang duduk. Mungkin karena Adzan baru berkumandang sehingga belum banyak orang di tempat itu. Ia mendekati wanita yang dia yakini adalah Chayra.
"Assalamu'alaikum, Kak Ayra." Menyentuh pelan pundak Chayra.
"Eh, wa'alaikumsalam.." mendongak menatap orang yang menyapanya. "Amara.. kamu kok bisa ada di sini?" Mata Chayra menyipit menandakan kalau wanita itu sedang tersenyum pada Amara.
"Hmm.. iya, Kak. Aku.. aku mau beli sesuatu." Jawabnya seraya duduk di samping Chayra.
"Kenapa tidak bawa mukenah sendiri, Dek?" Chayra bertanya karena melihat Amara memakai mukenah yang disediakan di tempat itu.
"Mm.." Amara tersenyum meringis menatap Chayra. "Tadinya nggak ada rencana untuk mampir kemari, Kak. Tapi nggak taunya tiba-tiba Kak Bian malah mau ditemani beli sesuatu."
"Hah, kamu kemari bersama Bian?"
"I.. iya, Kak. Rencananya dia mau membawaku ke rumah Kak Ayra setelah ini. Tapi untungnya kita bertemu disini. Kalau langsung ke rumah, kayaknya kami tidak akan bertemu siapa-siapa di sana."
"Siapa bilang begitu, Dek. Di rumah ada Ibu, Adzra dan adiknya juga. Kata Ibu, Kakek dan Nenek mau ke rumah besok. Hah, bingung Kakak dengan peminatan Kakek dan Nenek. Katanya tidak mau mengatur kehidupan cucu-cucunya. Tapi, sampai sekarang mereka masih sibuk menjodohkan Bian dengan wanita pilihan mereka."
Deg..!
Amara tersentak mendengar ucapan Chayra. Spontan ia mengalihkan pandangannya agar perubahan raut wajahnya tidak dilihat oleh Chayra. Ia menelan ludahnya dengan susah payah. Tidak ada yang bisa ia ucapkan untuk menimpali ucapan Chayra.
"Ayo shalat dulu, Ra."
Amara terkejut mendengar panggilan Chayra. Ia mendongak menatap Chayra yang sudah berdiri. "K.. kok, Kak Ayra memanggilku begitu?"
"Kakak hanya suka mendengarnya. Terkesan lebih manis kalau disebut. Nggak apa kan, kalau Kakak manggil kamu begitu?"
"Ehehe.. ng.. nggak apa-apa, Kak." Amara mengusap-usap tengkuknya seraya bangkit. Dia harus segera shalat agar tidak membuat orang lain menunggu. "Mm.. kita jama'ah aja ya, Kak."
"Hmm..." Chayra berbalik. Sepersekian detik dia tertegun. Jarang-jarang ada orang yang mengatakan seperti yang dikatakan Amara itu. "Boleh, Dek. Mm.. kenapa tiba-tiba mau shalat jama'ah. Bukannya dulu kamu paling malas untuk shalat jama'ah?"
"Eheheh..." Amara tersenyum salah tingkah. "Tadi sore aku mendengar Kak Bian berkata pada temannya. Dia bilang gini, Kak. Kalau kita shalat jama'ah, pahala yang kita dapatkan itu dua puluh tujuh derajat. Aku mau mendapatkan pahala yang lebih banyak, Kak. Mumpung ada kesempatan dan ada yang jadi imamnya."
__ADS_1
Chayra tersenyum mendengar ucapan Amara. Kembali membalik tubuhnya menghadap kiblat untuk mendirikan shalat bersama gadis itu.
Perasaan Amara jadi tidak tenang setelah mendengar ucapan Chayra tadi. Dia hanya bisa berharap, semoga Bian mau mengakuinya di depan keluarga besarnya.
Usai mendirikan shalat, Amara berpamitan untuk keluar duluan pada Chayra. Tapi, Chayra mencegahnya dan memintanya untuk menunggunya terlebih dahulu.
"Kamu tunggu Kakak sebentar, Ra. Ada yang mau Kakak bicarakan sama kamu. Tidak usah pikirkan masalah Bian. Dia tidak akan marah karena hal ini kok. Biar Kakak yang bantu jelaskan ini padanya."
Amara akhirnya mengangguk seraya duduk kembali. "Biar aku yang membereskan alat shalat Kak Ayra. Kakak perbaiki saja jilbab dan cadar Kakak." Segera mengambil mukenah Chayra. Sebenarnya perasaannya campur aduk, tapi dia sengaja mengalihkan perhatiannya. mungkin saja dengan begini pikirannya bisa lebih baik.
"Nggak usah, Dek." Chayra menahan tangan Amara yang sudah memegang mukenahnya. Kakak bisa melakukanya sendiri."
"Nggak apa-apa Kak, biar kita lebih menghemat waktu." Kembali mengambil mukenah Chayra untuk melipatnya. "Ini sih nggak ribet dibawa, Kak. Mukenah nya simpel gini, ringan tapi nggak nerawang. Pasti harganya mahal ya, Kak."
"Nggak kok, Dek. Kakak punya banyak di rumah. Nanti kamu boleh ambil satu. Ini hadiah dari Mas Ardian. Tapi, orangnya lebay sampai beli sepuluh pcs."
"Oh, wahahah.. itu sih kebanyakan, Kak."
"Itu makanya, Kakak menyuruh kamu ambil satu." Chayra bangkit setelah merasa semua urusannya selesai. "Ayo kita keluar."
"Kakak memang mau ngomong, tapi nggak di sini, Dek. Tempat ini diperuntukkan sebagai tempat kita beribadah. Masa iya, kita mau ngomongin masalah pribadi di sini?" Chayra menggeleng-geleng pelan menatap Amara.
"Eh, iya.. iya.. maaf, Kak." Amara ikut bangkit dengan menenteng mukenah Chayra di tangannya.
Chayra tersenyum saat melihat suami dan adiknya sedang menunggu di bangku panjang di depan Musholla. Berjalan mendekati Bian yang sedang tersenyum lebar. "Kenapa kamu..." Chayra menghentikan ucapannya saat sadar kalau senyuman lebar itu tidak di peruntukkan untuknya. Menoleh ke belakang dan ternyata..
"Oh, jadi dari tadi kamu senyum lebar untuk Amara? Kakak kira kamu memberikan senyuman itu untuk Kakak, Dek. Sudah satu bulan lebih tidak bertemu saudara, seharusnya salim dan peluk Kakak." Chayra langsung mencubit perut adiknya dangan keras.
"Aduh, Kak. Sakiiiit..." Bian menarik paksa tangan kakaknya yang masih menempel di perutnya.
Chayra menarik paksa, lebih tepatnya menyeret Bian untuk mengikutinya keluar. "Ra, ikut. Kita tidak jadi bicara berdua. Semua harus di perjelas malam ini."
Ardian tidak bisa menahan senyum melihat Bian yang terlihat pasrah dangan nasibnya. "Sayang, udah... ini tempat umum. Kasihan Bian kalau diseret seperti itu. Apa kamu sudah lupa, kalau dia punya pengawal?"
__ADS_1
"Heh, aku juga cucu Kakek. Pak Anton tidak akan berani melabrak aku gara-gara hal ini." Chayra menarik nafas panjang lalu membuangnya dengan kasar. "Astagfirullah... ya Allah, aku baru aja selesai shalat, ni anak udah menguji kesabaran aja."
"Apaan sih, Kak." Bian melengos kesal mendengar ucapan kakaknya. "Kak Ayra aja yang tiba-tiba marah nggak jelas. Memangnya aku ketahuan mencuri sampai harus diseret seperti ini."
"Diam, Dek! Katanya sibuk kuliah. Banyak yang harus di selesaikan karena sebentar lagi mau wisuda. Nggak sempat tengok keponakan sampai satu bulan lebih karena terlalu sibuk."
"Oh, jadi Kakak marah gara-gara itu. Ini sekarang aku mau ke rumah Kakak bersama Rara."
Hening..
Tidak ada yang bicara lagi. Chayra menunduk sambil menarik nafas panjang, Bian membuang pandangan karena kesal, Amara melongo bingung, sedangkan Ardian menahan tawa..
"Kita pulang aja sekarang kalau begitu." Ucap Chayra seraya mengangkat wajahnya.
"Nggak, kami mau makan malam dulu. Kalau Kak Ayra mau pulang, pulang aja duluan. Ayo, Ra." Bian menarik lengan baju Amara menjauh dari kakaknya. "Percepat langkahmu, agar Kakak cerewet nggak mengikuti kita."
Amara akhirnya tidak bisa menahan tawa. Ia serentak berlari menyeimbangi langkah lebar Bian. "Kak Bian tau nggak, kenapa Kak Ayra marah kayak tadi?"
"Nggak tau dan nggak mau tau. Huh, baru ketemu juga. Untung aja nggak banyak orang." Bian berbelok mengajak Amara masuk ke toko pakaian. "Kamu cari jaket, Ra. Kamu kan alergi dingin. Nanti angin malamnya menembus ke kulit kamu. Pakaian kamu sepertinya tidak bisa melindungi tubuh kamu."
Amara menautkan alisnya. "Nggak perlu, Kak. Aku masih kuat kok, kalau di bawah jam sepuluh malam."
"Jangan menolak, Ra! Lagian kita sedang bersembunyi dari Kakak cerewet. Kalau langsung turun ke bawah, yang ada dia akan menemukan kita di food court."
"Oh," Amara akhirnya tersenyum. "Ok, aku beli satu. Tapi, aku nggak mau Kak Bian mengomentari yang akan aku ambil."
"Terserah kamu, yang penting kita aman dari mereka." Bian celingukan menatap keluar. "Huh, bertemu Kak Ayra di tempat umum bikin malu aja. Masa gara-gara aku nggak pernah datang ke rumahnya, dia sampai bersikap seperti itu." Masih celingukan melihat keberadaan kakaknya.
"Sebenarnya Kak Ayra cemburu tadi. Baru bertemu, seharusnya Kak Bian menyapanya terlebih dahulu. Eh, Kak Bian tersenyum lebar, tapi itu bukan untuknya."
Bian beralih menatap Amara. "Nggak perduli. Emangnya salah, kalau aku tersenyum untuk calon istri.."
Deg..!
__ADS_1
Ucapan Bian mengingatkan Amara pada ucapan Chayra saat mereka shalat Maghrib tadi.
********