Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Ra, Nikah yuk!


__ADS_3

"Om kenapa senyum-senyum sendiri?" Ucap Ameena sambil menepuk pundak Pak Arif. Hal itu membuat Pak Arif tersentak kaget. "Kamu ini, Na.. ngagetin Om aja." Timpal Pak Arif sambil mengusap-usap dadanya. "Om sudah tua, jangan suka dikagetin kayak gitu. Bagaimana kalau Om kenapa-kenapa, siapa yang akan tanggung jawab?"


Ameena akhirnya duduk di samping Pak Arif sambil memutar bola matanya. "Ya elah, Om.. kemalangan itu jangan dicari lah."


"Heh, kamu ini selalu saja ada kata untuk menimpali ucapan Om." Memperbaiki posisi duduknya. "Kapan kamu pindah kemari? Perasaan Om, tadi kamu duduk di sebelah Mara."


"Kalau sudah ada Kak Bian di sana, aku pasti tidak dibutuhkan lagi, Om. Yang ada aku malah seperti lalat pengganggu." Jawab Ameena sambil menatap ke arah Bian dan Amara.


Bian langsung menggeleng-geleng pelan mendengar ocehan Ameena.


Bian POV...


Aku hanya bisa menghela nafas berat. Ameena.. Ameena.. semakin ke sini, kok kamu semakin blak-blakan ngomongnya. Aku beberapa kali melirik ke arah Papa Arif. Tapi, tampangnya biasa-biasa aja. Malah terkesan lebih friendly dari sebelumnya. Calon mertuaku itu malah terlihat menikmati candaan Ameena. Ah, kok dia terlihat sangat berbeda sekarang. Dia memang terlihat lebih perduli pada Rara. Aku nggak tau kapan dia mulai berubah. Tapi, hal itu memang patut disyukuri. Hal itu yang dinanti-nantikan Rara sejak dulu.


Hah, aku hanya bisa menghela nafas berat melihat kondisi Rara. Dia terlihat sangat memprihatinkan. Wajah dan bibir yang pucat. Dia benar-benar terlihat lemah. Bibirnya bahkan sampai pecah-pecah seperti orang kekurangan vitamin C. Seminggu tidak bertemu terasa sangat lama.


"Ra, bibir kamu kok sampai pecah-pecah kayak gini sih?" Aku bertanya sambil menatapnya dengan prihatin. Eh, dia malah tersenyum. Tapi, senyumannya kali ini terlihat berbeda. Iya.. namanya juga senyuman orang sakit. Senyumnya terlihat sangat lemah dan dipaksakan.


"Aku nggak boleh makan buah, Kak. Biasanya aku selalu makan buah. Tapi sekarang Dokter tidak memperbolehkan aku. Aku hanya diminta banyak minum air putih untuk menghindari dehidrasi."


Aku akhirnya hanya bisa diam karena tidak tau mau berkata apa lagi.


_________


Ameena dan Pak Arif terus melihat interaksi Amara dan Bian dari sofa. Bian memang tipe pria romantis. Tapi, romantisnya pria itu kebanyakan hanya dengan ucapan. Selama perjalanan hubungan mereka, tidak pernah sekalipun dia sampai bersentuhan kulit dengan Amara. Sepertinya dia akan romantis sesungguhnya jika Amara sudah menjadi miliknya.


"Ra, kita nikah aja yuk.." Bian menatap Amara dengan sendu. Menatapnya lama menunggu jawaban wanita itu.


"Walinya di sini, Kak. Kalau mau ajak Mara menikah, minta restu pada walinya terlebih dahulu." Ameena menunjuk-nunjuk Pak Arif dengan semangat.


Bian tersenyum meringis seraya beralih menatap Pak Arif. "Mm.. Pa.. aku sama Rara nikah aja ya." Ucapnya dengan hati-hati.


Pak Arif tersenyum. "Memangnya Nak Bian sudah siap lahir batin? Menikah itu bukan hanya soal saling mencintai, Nak. Menikah itu melibatkan dua manusia yang berbeda karakter, hidup bersama dalam satu naungan yang disebut pernikahan. Cobaan pernikahan itu juga banyak, Nak. Apa lagi kalau kalian menikah di usia kalian yang sekarang. Kalian itu harus mempersiapkan dengan matang sebelum memutuskan akan melangkah ke tahap itu.


Tidak ada yang merespon, semua diam mendengar penjelasan Pak Arif.


"Nak Bian sudah ada persiapan untuk itu?"

__ADS_1


Bian mengangkat wajahnya menatap Pak Arif. "Insya Allah, Pa. Semua anggota keluarga juga sudah mendukung untuk itu."


Pak Arif kembali tersenyum. "Kamu memang didukung keluarga untuk menikah. Akan tetapi, apakah Amara juga akan di terima oleh keluarga besar Nak Bian?"


Bian langsung menunduk mendengar pertanyaan itu. "I.. insya Allah, Pa." Jawabnya, tetapi terdengar sedikit ragu. Pertikaian terakhirnya dengan sang nenek membuat keraguan itu muncul dalam hatinya.


"Pak Arif bangkit, mendekati Bian lalu duduk di hadapan pria itu. Meraih tangan Bian lalu menggenggamnya dengan erat. " Bukannya Papa merayakan keseriusan dan kemampuan kamu untuk membahagiakan putri Papa, Nak. Tapi, Papa ingin Amara menyelesaikan pendidikannya terlebih dahulu." Masih menggenggam erat tangan Bian.


"Kamu ini orang berada, Nak. Kelas keluarga Papa hanyalah seujung kuku dari keluargamu. Jika kamu mengajak Amara menikah sekarang, tidak ada gelar yang akan ditunjukkan pada keluarga besar kamu nantinya. Papa tidak mau kalau putri Papa malah merasa menjadi semakin kecil saat berada di tengah keluarga kamu nantinya." Menepuk-nepuk pundak Bian untuk meyakinkan.


Bian mengangkat kepalanya menatap Pak Arif. "Jadi, Papa tidak mengizinkan Rara menikah sekarang?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir pria itu.


Pak Arif mengangguk. "Papa belum rela kalau putri Papa harus menjadi milik orang lain. Papa ingin menebus dosa Papa yang kurang menyayanginya sejak dulu. Kamu tau sendiri bagaimana kehidupan yang dia jalani sebelum ini." Pak Arif menatap ke bawah. "Lagian.. Papa juga sudah bercerai dengan Hanum."


Duar...!


Bagai petir di siang bolong. Semua langsung tersentak dan menatap Pak Arif.


"Papa..." bibir Amara bergetar menyebut nama papanya.


"Carissa.. lalu Carissa di mana sekarang, Pa?" Bibir Amara masih bergetar.


"Adik kamu ada di rumah. Papa tidak mungkin mengizinkan Hanum membawanya pergi. Makanya, kamu cepat sembuh, Nak. Nanti kita pulang ke rumah bersama. Adikmu juga menanyakan kamu terus."


"Om.. jangan membuat Mara sedih dulu. Dia kan tidak boleh banyak pikiran kata Dokter." Ameena mendekat lalu duduk di bawah kaki Amara. Air mata haru menggenang di mata gadis itu. Tidak bisa dipungkiri kalau dirinya juga ikut bahagia mendengar berita yang disampaikan Pak Arif. Bagaimana pun juga, kehadiran Bu Hanum dalam kehidupan Pak Arif benar-benar menjadi luka bagi Amara.


Pak Arif hanya tersenyum. Pria itu bangkit seraya berjalan menjauh. "Mm... Nak Bian sibuk atau tidak?"


Bian sedikit terkejut, tetapi buru-buru ia menggelengkan kepalanya. "Aku selesaikan tugas dulu tadi, Pa. Alhamdulillah sekarang aku tidak sibuk lagi."


"Hmm... kalau begitu, Papa titip Mara sebentar. Papa mau pulang menengok Carissa."


"Oh, boleh boleh.."


"Tunggu, Pa!"


Pak Arif menghentikan langkahnya lalu berbalik. "Ada apa, Nak?"

__ADS_1


"Papa ajak Rissa kemari. Mara.. Mara ingin memeluknya, Pa."


"Iya, Nak. Nanti Papa ajak dia. Kamu jangan luoa minum obat. Na, minta tolong bantu Mara minum obatnya nanti."


"Siap, Om.."


Selepas kepergian Pak Arif, Bian berpindah duduk di sofa. Kebetulan juga ada Dokter yang visite yang akan memeriksa perkembangan keadaan Amara.


Dokter itu meminta hasil pemeriksaan laboratorium pagi tadi. "Masih sering mual, Dek? Dokter cantik itu bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas hasil pemeriksaan lab di tangannya.


"Alhamdulillah nggak lagi, Dok." Amara menjawab dengan tenang. Dalam hal ini, semua harus dikatakan dengan jujur sesuai dengan yang dirasakan, agar Dokter bisa mengambil tindakan selanjutnya.


"Mm.. bagus ya.. cuman typus kamu masih tinggi. Penyuntikan antibiotiknya sudah berapa kali?"


"Baru sekali, Dok." Ameena yang menjawab. "Kemarin dia langsung muntah-muntah setelah disuntik antibiotik."


"Tapi nggak ada ruam-ruam merah, kan?"


"Nggak ada sih, Dok. Cuman kata Dokter cowok yang memeriksanya kemarin, mau ditunggu asam lambungnya turun dulu, biar bisa dilanjutkan penyuntikan antibiotik."


"Oh, ya sudah. Karena sekarang sudah tidak mual lagi, nanti jam lima akan dilakukan penyuntikan antibiotik nya." Dokter menyerahkan kertas hasil pemeriksaan lab pada perawat yang menemaninya visite. Mendekatkan stetoskop ke dada Amara, tersenyum lembut setelah itu. "Semangat ya, Cantik. Rajin minum obat, biar cepat sembuh.." Dokter itu berlalu setelah menyelesaikan ucapannya.


Bian membuang nafas dengan kasar setelah kepergian Dokter itu. "Huh, aku kira kamu mau disuntik tadi. Jantungku sudah berdetak tidak normal dari tadi." Kembali duduk di sisi kanan Amara.


"Loh, kenapa emangnya kalau disuntik?" Ameena menatap Bian. Mendengar Bian mengatakan jantungnya tidak normal membuat gadis itu penasaran. "Apa Kak Bian takut sama jarum suntik?"


"Eh, ng.. nggak. Aku cuman tegang aja kalau melihat jarum suntik."


Ameena melengos. "Iya.. itu namanya takut, Kak."


"Nggak, Na. Buktinya aku berani kok disuntik." Bian berusaha mengelak.


"Tetap saja takut, Kak. Belum disuntik sudah keluar keringat dingin, itu namanya takut."


Bian hanya bisa cengengesan menanggapi.


"Huh, ganteng-ganteng kok takut jarum infus.."

__ADS_1


__ADS_2