
Bian menarik nafas dalam sebelum keluar dari mobilnya. Daniel yang duduk di balik kemudi pun hanya diam menunggu perintah tuannya. Bian bertolak untuk mengurus kembali Perusahaan Tekstilnya Setelah Amara memberikan jawaban yang pasti. Namun, saat ini pria itu sedang berada di rumah kakeknya untuk mengkonfirmasi pada Pak Akmal tentang rencana pernikahannya.
"Kan Daniel,"
"Iya, Tuan."
"Kan Daniel turun duluan. Cari keberadaan Kakek. Kalau Kakek di tempat, aku akan turun dan masuk ke rumah."
"Tuan Besar ada di rumah, Tuan. Barusan saya menanyakannya pada Papa saya."
"Oh," Bian kembali menarik nafas dalam. "Bagaimana dengan Nenek?"
"Nyonya Besar sedang keluar, Tuan. Dia sedang arisan di Kafe Xxx bersama sambilan orang rekannya."
"Bagus.." samar-samar bibir Bian menyunggingkan senyum. Urusannya akan menjadi lebih mudah jika Bu Fatimah tidak ada di rumah. "Kalau begitu kita masuk sekarang."
"Baik, Tuan." Dengan sigap, Daniel keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Bian.
Pertemuan dengan sang Kakek berlangsung sekitar satu jam. Namun, saat pertemuan akan berakhir, tiba-tiba Bu Fatimah muncul di depan pintu. Hal itu membuat Bian segera pamit. Dia tidak ingin Bu Fatimah bertanya lebih lanjut dan masalah akan menjadi bara-bere.
Setelah dari pertemuan itu, Bian kembali ke Apartemennya. Pria itu langsung sibuk dengan benda gepengnya. Pertama, ia menghubungi ibunya untuk memberitahukan hasil pertemuannya dengan sang kakek. Tidak lupa ia menceritakan kedatangan Bu Fatimah di akhir pertemuan dan menanyakan banyak hal.
Bian beralih menghubungi Amara. Dengan gadis itu, Bian menghubunginya lewat video call.
"Assalamu'alaikum.." Bian tersenyum lembut saat melihat tampang Amara. Wanita itu terlihat baru bangun. Jilbabnya acak-acakan dan sedang memeluk bantal guling. "Kenapa cemberut kayak gitu?"
"Rindu Kak Bian. Pulang tiga hari, eh malah pergi lagi. Sekarang malah mau pergi ke tempat yang lebih jauh lagi."
Bian menghela nafas berat. "Aku butuh ilmunya, Ra. Kalau aku nggak butuh, aku nggak akan mau pergi."
"Terus, apa Kak Bian sudah bicara pada Kakek?"
"Sudah, Sayang. Kakek mandukuang penuh rencana baik kita. Kembali dari Tiongkok nanti, aku akan langsung mengkhitbah kamu. Aku akan pulang ke rumah Ibu tanpa kesini."
"Mm.. bagaimana dengan Nenek?"
"Kenapa menanyakan itu?"
"Sebenarnya aku tidak perlu mendengar jawaban Kakek, Kak. Karena selama ini Kakek selalu mendukung kita. Itulah mengapa aku menanyakan pendapat Nenek."
__ADS_1
Bian terdiam, "aku tidak bertemu dangan Nenek, Ra. Waktu aku datang tadi, Nenek pergi arisan. Aku sih bersyukur. Kalau ada dia, pasti ceritanya akan berbeda."
"Tapi kan.."
"Sudahlah, Sayang. Ngapain coba membahas Nenek. Toh, aku akan tetap menikahimu walaupun dia tidak setuju. Aku tidak akan mengurungkan niat baikku selama Ibu masih mendukungku."
Amara hanya tersenyum kecil. Terlihat jelas kalau wanita itu masih memikirkan tentang Bu Fatimah.
"Ra, kamu mau oleh-oleh apa nanti saat aku pulang dari Tiongkok?" Bian sengaja mengalihkan pambicaraan karena melihat Amara seperti itu.
"Hmm... tumben sekali menanyakan mau oleh-oleh apa. Biasanya juga langsung kasih."
Bian tersenyum jahil. "Kan udah resmi jadi calon sekarang. Calon istri harus ditanya mau apa. Kalau nggak di tanya, nanti nyangkanya aku tidak perhatian."
"Aku nggak pernah bilang gitu. Aku sih, dbawakan oleh-oleh alhamdulillah, mau tidak juga nggak akan protes kok."
"Sayang kamu yang kayak gini."
"Hm.. sudah. Kak Bian istirahat sekarang. Besok kan harus perjalanan jauh."
"Iya, Sayang. Kamu juga lanjutkan istirahat. Jangan begadang ya. Terus, jangan memikirkan tentang Nenek lagi. Percaya sama aku, semuanya pasti baik-baik saja."
Amara tersenyum kaku. "Iya, Kak."
"Wa'alaikum salam.." Amara tersenyum menatap layar handphonenya. Semoga ucapan Bian yang mengatakan semuanya baik-baik saja benar adanya. Wanita itu merebahkan kembali tubuhnya seraya melepas jilbabnya. Tadinya, saat melihat Bian melakukan vc, dia langsung memasang jilbabnya dengan asal.
Ting..!
Amara menatap kembali layar handphonenya. Ada pesan masuk dari Bian. Ia langsung membuka pesan itu.
Sayang, kalau kamu nggak sibuk. Aku ingin kamu ke Apartemen yang di depan Kampus. Kamu ambil kartu ATM yang tersimpan di dalam lemari pakaianku. Kamu pakai uang itu untuk membeli keperluan untuk acara Khitbah nanti.
"Loh, kok malah disuruh beginian lagi sih.." Amara segera menulis pesan balasan. Dia tidak mau menggunakan uang Bian untuk hal ini.
Nggak, Kak. Aku ada tabungan. Aku nggak mau merepotkan Kak Bian. Nanti kalau aku sudah resmi menjadi istri, aku akan memakai uang Kak Bian.
Amara tersenyum sendiri sambil menunggu balasan dari pria itu. Walaupun sudah vc tadi, ternyata itu belum cukup sebagai pengobat rindu.
Kalau kamu tidak mau memakainya, setidaknya kamu ambil dan bawa kartu itu. Aku khawatir kalau Niko menemukannya. Masalahnya dia sudah tau password kartu itu. Kartu itu isinya lumayan, Ra. Itu hasil dari Butik yang di dekat Kampus. Minta tolong ya, Sayang.. (Emoji sok imut melengkapi pesan itu).
__ADS_1
Amara menarik nafas dalam. Itu berarti dia harus ke Apartemen Bian besok. Dia sedikit heran, kenapa pria itu sangat lalai dalam menjaga barang berharganya.
Kenapa Kak Bian sangat lalai dalam menjaga barang berharga milik Kakak? Uang itu sulit dicari, Kak. Itu memang tidak seberapa. Tapi, setidaknya Kak Bian ingat bagaimana sulitnya Kak Bian mendapatkan uang itu.
Tidak ada balasan. Amara akhirnya meletakkan handphonenya. Dia akan pergi ke Apartemen itu sekarang. Mengamankan aset milik cslon suaminya adalah suatu bukti kesetiaannya.
**********
Amara masuk ke Apartemen dengan ragu. Apartemen itu sangat gelap karena lampunya mati. Belum lagi semua gorden tertutup rapat.
"Mara, kenapa gelap gini sih..? Kok berasa serem gini jadinya. Aku kayak ada di film horor." Ameena terus ngoceh dengan badan menempel di badan Amara. Tangannya bahkan meremas pergelangan tangan Amara.
"Ssstttt... lho ini apa-apaan sih, Na. Ini juga gue sedang mencari saklar lampunya. Tempat ini juga sangat pengap, Na. Sepertinya kita harus bersih-bersih dulu sebelum kembali ke Kost.
"Terserah lho, Mara. Tapi, gue cuman butuh cahaya yang normal sekarang. Cahaya lampu senter ini membuat gue takut menatap sekeliling."
"Ssstttt..." Amara kembali meminta Ameena untuk diam. Temannya itu terlalu banyak bicara. "Lho terlalu berisik, Na. Gue lupa kalau saklar lampunya di dekat pintu utama."
"Ih, lho ini menyebalka sekali sih." Ameena menepuk-nepuk punggung Amara. Mereka berbalik lagi ke pintu utama.
"Heh, tempat ini kenapa berantakan sekali, Mara. Apa Kak Bian tidak sayang lagi sama Apartemen ini. Mentang-mentang udah nggak tinggal di sini lagi. Dia malah...."
"Kak Bian mana ada waktu untuk membersihkan tempat ini, Na. Kamu kan tau, kalau dia itu sudah berubah menjadi orang yang super sibuk sekarang." Amara merogoh handphonenya yang berbunyi. Bian menghubunginya lagi.
"Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam.. kamu dimana, Ra?"
"Di Apartemen Kak Bian. Tempat ini terlihat sangat buruk, Kak. Aku akan membersihkannya sebelum kembali ke Kost."
"Itu salah satu aset milikku, Sayang. Tapi, Niko itu bukan orang yang cinta kebersihan. Makanya Apartemen itu jadi berantakan. Tapi, sebentar 'agi akan ada orang yang datang membersihkannya. Kamu jangan mengotori tanganmu untuk hal tidak penting itu. Itu memang asetku, Ra. Tapi, aku lebih perduli dengan aset yang ada di tubuhmu. Aku nggak mau kamu kecapekan gara-gara membersihkan tempat itu."
"Eh, eh.. itu maksudnya apa bilang aset di tubuh. Kak Bian udah mulai mesum nih. Belum aja nikah, pembicaraannya udah ke ranah yang begituan." Ameena menimpali sambil melengos kesal.
Amara mengernyit, bingung dengan ucapan Ameen yang mengatakan calon suaminya mesum. "Lho nggak nyambung atau apa sih, Na? Perasaan Kak Bian tidak pernah ngomong yang aneh-aneh deh."
"Itu tadi dia bilang aset di tubuh lho. Itu kan sudah termauk mesum, Mara."
Amara tertawa kecil. "Memang seharusnya pasangan itu aaling menjaga aset kan? Tadi Kak Bian bilang tidak mau melihatku membersihkan tempat ini, karena dia tidak mau aku kecapekan."
__ADS_1
Bian yang disebrang sana ikut tertawa. Ternyata Ameena salah menafsirkan maksud perkataannya. "Saling menjaga aset itu penting, Na. Baik aset lahir maupun batin. Maksud aku, saling menghargai dan saling menjaga itu sangat penting.
" Iya.. iya.. aku paham maksud Kak Bian." Timpalnya dengan malas.