
"Sejak kapan kamu dekat dengan Bian?" Pak Akmal bertanya sambil menahan senyum. Wajah Amara yang berubah merah seperti kepiting rebus membuatnya ingin tertawa. Tapi, wanita itu terlihat malu untuk mengangkat wajahnya.
"Bi, Amara tidak mau menjawab pertanyaan Kakek." Masih menahan senyum, tapi tatapannya kali ini berpindah ke Bian.
Bian menatap Kakeknya lalu beralih menatap Amara. "Kakek tau Rara sedang gugup, malah pakai acara bertanya segala. Coba kalau orangnya sedang santai, pasti menjawab dengan lugas. Bahkan tanpa Kakek bertanya dia akan menjawab dan membeberkan sampai anak-anaknya juga ikut disebut."
"Apa pekerjaan orang tua kamu?" Pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari Bu Fatimah. Hal itu membuat Pak Akmal langsung melotot kesal pada istrinya. Pria itu tidak mau pertemuan pertama mereka memberikan kesan yang buruk. Apalagi kalau itu sampai menyinggung Amara. "Ummi, kita sudah sepakat sebelumnya. Apa Ummi masih ingat janji Ummi? Kita tidak akan membahas masalah kehidupan siapapun dalam pertemuan ini. Saat ini kita hanya akan berkenalan dengan wanita yang sudah mau menerima Bian dengan segala kekurangannya."
"Kalau Nenek melanggar perjanjian kita, aku akan membawa Rara pergi sekarang."
"Bian..." Bu Santi menggeleng-geleng pelan. Wanita itu sangat tidak suka dengan sikap putranya yang seperti itu pada orang tua. "Tidak boleh seperti itu, Sayang."
"Aku hanya nggak suka, kalau Nenek terlalu mencampuri kehidupan pribadiku." Berkata sambil membuang pandangannya.
Pak Akmal malah tersenyum menyaksikan perdebatan itu. "Kamu semakin mirip dengan Almarhum ayah kamu, Nak. Melihatmu seperti ini mengingatkan Kakek pada Almarhum. Betapa dulu dia sangat benci dengan peraturan. Tapi..." Pak Akmal mengusap wajahnya dengan kasar. "Ah, sudahlah.. mengingat hal itu membuatku ingin menangis saja." Pak Akmal beranjak bangkit. "Ayo, Bi.. kita pergi jalan-jalan saja. Amara, ayo kita pergi. Jangan terlalu fokus dengan keadaan. Lebih baik dibawa happy saja. Nenekmu itu, pantas saja dia terlihat lebih tua daripada Kakek. Hidupnya terlalu pelit dan tidak suka bergaul dengan banyak orang. Kurang senyum juga. Padahal dia sendiri tau kalau senyum itu adalah sedekah."
Bian menahan senyum. Ekspresi neneknya langsung berubah kecut saat suaminya sendiri tidak mendukungnya.
"Ayra, Amara, kalian masuk ke mobil duluan. Sepertinya Bian mau bicara sebentar dengan neneknya."
Amara dan Chayra mengangguk serentak. Dua wanita itu masing-masing menggandeng satu anak untuk dibawanya keluar.
Setelah Pak Akmal memastikan Amara dan Chayra masuk ke dalam mobil, raut wajah pria itu langsung berubah.
__ADS_1
Brak..!!
Pak Akmal melempar nampan di atas meja ke lantai. Tangannya tergenggam erat, menandakan betapa ia sangat kesal pada istrinya yang tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak bicara.
"Ummi, sudah berapa kali Abi bilang, jangan membiasakan diri menanyakan hal pribadi orang. Ummi ini selalu saja.." Pak Akmal menghempaskan tangannya yang masih terkepal.
"Hah," Bu Fatimah membuang pandangannya. "Begini sudah kalian. Mau tidak ikut campur, tapi Abi selalu membebaskan Bian memilih pasangannya sendiri. Kenapa sih, kamu tidak berniat untuk merubah kesalahan Almarhum Bapak kamu dulu. Apa tidak bisa kesalahan itu cukup sampai di Bapak kamu saja?! Bu Fatimah berucap sambil mengernyit kesal. Nenek kecewa, Bian. Selera kamu itu.. hah, sungguh rendahan sekali. Dia itu cuman pengasuh keponakan kamu, Bian. Dari sisi mana kamu melihat dia sebagai wanita yang.."
"Cukup, Ummi! Sudah waktunya mulut Ummi disumbat." Pak Akmal mengangkat tangan untuk mencegah istrinya bicara lagi.
"Pokoknya Bian harus menikah dengan wanita yang sudah kita tentukan, Abi." Bu Fatimah masih nekat bicara walaupun melihat suaminya sedang marah.
"Tidak!" Bian berdiri. "Tidak akan terjadi pernikahan antara aku dengan siapa pun itu wanita pilihan Nenek. Aku bisa mencari sendiri wanita yang akan mendampingiku." Bian berkata tanpa mengedipkan matanya dari menatap Bu Fatimah. Benar-benar kecewa dengan neneknya itu. "Apa Nenek sudah lupa, aku lahir dari rahim wanita yang Nenek anggap rendahan. Wanita yang tidak pernah Nenek muliakan sampai sekarang. " Aku pernah mengatakan pada Nenek, aku tidak akan pernah menuruti keinginan Nenek karena aku anak Ibuku. Bapak tidak salah memilih Ibu, tapi Nenek saja yang tidak bersyukur dengan karunia Allah." Bian mendekati ibunya lalu memeluknya dengan erat. "Wanita yang Nenek rendahkan ini adalah wanita yang melahirkan aku. Dia yang melahirkan keturunan untuk keluarga kalian. Tapi, sampai saat ini, Ibuku ini tidak pernah minta belas kasihan Nenek untuk menghidupiku. Dia bahkan memintaku untuk memisahkan uang yang datang dari Kakek, dari harta peninggalan Bapak dari kalian dan dari hasil keringat Ibu sendiri." Nafas Bian turun naik karena dadanya terasa sesak. Tidak terasa air mata mengalir di wajah tampannya. "Jangan pernah Nenek mengira kalau aku pernah menyentuh uang yang dikirim Kakek setiap bulan. Aku hanya menempati Apartemen dan Memakai mobil pemberian Kakek. Itu karena aku menghargai Kakek." Mengusap wajahnya dengan kasar seraya menuntun ibunya duduk kembali. Mengusap air mata yang mengalir di pipi ibunya.
"Bagus, Nak. Katakanlah apapun yang ingin kamu katakan." Pak Akmal berdiri dengan melipat tangannya di dada. Pria paruh baya itu sepertinya menghayati setiap mata yang keluar dari mulut Bian. Sedangkan Bu Fatimah menatap ke sembarang arah. Wanita itu tidak bisa berkata apa-apa karena tidak ada yang mendukungnya.
"Kek,"
Pak Akmal langsung menatap Bian begitu cucunya itu menyebut namanya. "Iya, Sayang." Menjawab dengan tenang, seperti tidak pernah terjadi perang mulut sebelumnya.
"Aku tidak akan menikah sebelum aku selesai S2. Jika Kakek terus memaksa, aku terpaksa akan menentang Kakek juga."
"Iya, Kakek akan mendukung apapun keputusan kamu."
__ADS_1
"Abi...!" Bu Fatimah menatap tajam suaminya. Kesepakatan dari rumah sepertinya tidak dihiraukan lagi oleh suaminya itu. "Kenapa Abi mudah sekali memutuskan. Kita sudah sepakat untuk..."
"Berhentikan bicara, Ummi!" Pak Akmal kembali mengangkat tangannya. "Bian tidak mau diatur. Sesekali Ummi mengalah, apa itu terasa berat untuk Ummi?"
"Hah, kalian ini semuanya sama saja. Aku selalu diminta untuk mengalah. Dari pernikahan Ayra, aku yang mengalah. Pernikahan Zidane, aku juga yang mengalah. Dan sekarang untuk Bian pun, aku lagi yang harus mengalah." Bu Fatimah meninggikan suaranya. Wanita keras kepala itu terlihat sangat kesal karena tidak ada orang yang mendukungnya sama sekali.
"Aku mau membawa Ibuku ke kamar. Kakek selesaikan masalah ini dengan Nenek." Bian menuntun ibunya untuk meninggalkan ruang keluarga.
Sampai di dalam kamar...
Bian mendudukkan ibunya di sisi ranjang. Tanpa aba-aba, pria itu langsung bersujud mencium kaki ibunya. "Maafkan Bian, Bu. Maafkan Bian yang tidak bisa menjaga kehormatan Ibu." Pipinya dibanjiri air mata sampai membasahi kaki Bu Santi yang sedang diciumnya.
"Kenapa kamu seperti ini, Nak? Bangunlah..! Ibu tidak mau kamu terlihat lemah seperti ini." Memaksa Bian untuk bangun agar duduk disampingnya.
"Bangun, Bian..!" Bu Santi menggoyangkan tubuh Bian karena laki-laki itu tidak bereaksi sama sekali. "Ibu tidak suka anak Ibu lemah seperti ini. Kalau kamu seperti ini, apa kamu bisa melindungi Ibu dari hinaan orang, Nak? Kamu harus menjadi laki-laki kuat untuk Ibu. Ibu tidak punya laki-laki lain yang akan melindungi Ibu, Nak. Bapakmu sudah pergi meninggalkan Ibu. Hanya kamu satu-satunya harapan Ibu..!" Wanita itu berteriak sambil menggoyang-goyangkan tubuh putranya. Kejadian ini mengingatkan Bu Santai pada kejadian sekitar sembilan belas tahun yang lalu. Di saat satu-satunya orang yang selalu ada untuknya pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Bian langsung bangkit saat menyadari kalau tangis ibunya pecah. "Ibu..."
"Jangan lemah, Nak. Jadilah laki-laki tangguh seperti Bapak kamu. Laki-laki yang selalu membela ibu disaat ibunya sendiri merendahkan Ibumu ini." Bu Santi terisak semakin keras. Kedatang Bu Fatimah kali ini benar-benar membuka luka lama. Selama ini, Bu Santi selalu berusaha tegar menghadapi wanita itu.
Namun, ucapan Bu Fatimah yang menyebut-nyebut nama Almarhum suaminya benar-benar membuat darahnya mendidih. Air mata sudah mengalir sejak Bu Fatimah menyebut Bian yang memiliki selera yang sama dengan Almarhum suaminya. Tapi, ia berhasil menyembunyikan perasaan itu. Jika boleh dilakukan, ingin rasanya dia menimpali ucapan Bu Fatimah dan membantah semua ucapan buruk wanita itu.
*********
__ADS_1