Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Aji


__ADS_3

Setelah beberapa hari dirawat dirumah sakit, akhirnya direktur Ali diperbolehkan untuk beristirahat dirumah. Segala persiapan dilakukan untuk merawat direktur Ali. Pelayan juga sedang menjaganya dengan hati-hati.


Mereka mempersiapkan segala keperluan untuk direktur Ali tanpa kesalahan sedikitpun. Salah satu dari mereka merupakan bibi Aina, yang bertugas dan mengontrol kerja para pelayan sekalipun merupakan kepala pelayan dirumah itu tampak sibuknya mengarahkan semuanya dengan detail.


Kemudian setelah memberikan beberapa perintah pada para pelayannya, barulah ia keluar dari ruangan itu dengan langkah tergesa-gesa menuju luar untuk menemui putra direktur Ali yang baru saja kembali dari luar negeri.


Tampak sosok seorang pria tampan dan gagah mengenakan kemeja putih jas hitamnya keluar dari dalam mobil memasuki rumah besar itu dan disambut oleh ketua pelayan, bibi Aina dengan hangat dan beberapa pelayan lainnya. Wajah yang sudah lama tidak menginjakkan kaki di Nirwana beberapa tahun ini. Dan kini ia sudah kembali kesini.


“Anda sudah kembali tuan muda. Selamat datang kembali tuan Aji,” kata bibi Aina dengan rasa hormat dan senang. Sosok wanita tua yang sudah lama mengabdi padanya yang sudah seperti ibu sendiri bagi Aji.


Aji segera merangkul ibu keduanya itu dengan hangat dan melepas kerinduannya yang dalam.


“Hmm. Iya bibi. Bagaimana dengan keadaan bibi?” tanya Aji dengan lembut dan perhatian.


“Aku baik-baik saja tuan.” Balas bibi Aina sambil tersenyum bangga. Ia mengelus lembuta rambut Aji dan berkata lirih. “Lihatlah, kau sudah tumbuh tinggi sekarang, dan juga sangat tampan” pujinya senang.


Aji tersenyum mendengar pujian itu.


“Terima kasih bibi. Bagaimana keadaan ayah?”


“Direktur sedang berada di kamarnya. Beliau baru saja selesai meminum obatnya,” jelas bibi Aina.


Aji mengangguk mengerti.


“Aku cepat-cepat kembali untuk melihat keadaanya.”


“Tentu saja. Ikuti aku,” bibi Aina membawa Aji keruangan direktur Ali.


Aji yang sudah tahu kabar baik itu langsung menemui ayahnya yang tengah duduk santai membaca berkas tentang hasil kerja putranya yang tak sempat terurus di kamarnya. Untungnya Aji segera turun tangan untuk menangani masalah perusahaan ayahnya yang kini sudah melonjak drastis. Karena itu ia rela meninggalkan pekerjaannya di Arizona.


“Ayah,” sapa Aji yang masih mengkhawatirkan sang ayah masih terlihat lemah. Dia mengambil kursi yang berhadapan dengan kursi sanga ayah.


Ali menatap kearah putra satu-satunya itu dan menyunggingkan senyum resmi di bibirnya, dengan melepas kaca matanya. “Manager Kuncoro memberitahuku bahwa klien di Arizona menyukai sketsa yang kau buat. Perusahaan Jeguk mendapatkan dana itu kembali berkat kerja kerasmu. Aku sangat bangga padamu, putraku,” katanya.


“Aku dan manager Kun melakukannya ayah. Bagaimana kondisi ayah sekarang?” balas Aji dengan hangat.


“Kalian berdua memang yang jenius. Kau tau, mendengar berita ini aku semakin membaik. Terima kasih, putraku.”


Aji mengangguk kecil. “Ayah harus banyak istirahat. Jangan membuatku cemas lagi.”


“Tentu, karena aku selalu meminum obatnya,” balas sang ayah senang. “Ngomong-ngomong bagaimana perkembangan SH Group, apa cucu SH Group berhasil mengurusnya?”


Aji membenarkan. “Benar ayah. Ia berhasil mencuri perhatian ketua. Saat ini bisnis mereka sedang menjalani masa perkembangan. Keuntungan mereka naik dari sebelumnya.”

__ADS_1


“Dia bahkan belum dua tahun mengambil alih, tapi perusahaan sudah berkembang pesat. Tak lama lagi donasi juga akan meningkat. Aku juga mendengar bahwa ketua sudah mengeluarkan surat wasiatnya, dan itu ditujukan untuknya. Kenapa bisa ketua membuat suatu keputusan tanpa mempertimbangkannya. Apa kau diam begitu saja?”


Aji tak berkutip. Ia diam sejenak mencari jawaban yang tepat takut membuat ayahnya kecewa.


“Sebenarnya nenek juga menawarkanya padaku.Tapi..”


Ayah Aji memotong tajam dan pedih. “Lalu? Kau menolaknya! Benar kan?”


“Aku akan memikirkannya dulu ayah,” balas Aji dengan tenang.


“Kenapa? Apa karena syarat yang tidak masuk akal itu?” kata ayah menduga.


Aji mengangguk membenarkan.


“Bagaimana bisa kau langsung menolaknya begitu saja? Kau tidak memikirkan keuntungan besar yang akan datang padamu jika kau menerimanya. Menikah dengan wanita yang tak kau kenal bukan jadi masalah. Kau bisa mengurusnya nanti. Kenapa kau begitu bodoh sekali,” ketus ayah Aji emosi.


“Maafkan aku, ayah. Aku tidak bisa melakukannya. Karena nenek tau aku menyukai wanita lain. Dan itu bukan hakku sepenuhnya. Lagipula ketua sudah memikirkan wasiat yang akan ia berikan padaku. Ayah tidak perlu khawatir, ketua juga memberikan wasiatnya untukku.”


Mendengar hal itu, ayah Aji sedikit kecewa dan kesal. Tapi, ia hanya diam saja dan menatap putranya dengan sinis.


“Kalau seperti ini terus, cepat atau lambat dia akan menduduki kepala kita. Cepat tangani sebelum masalah ini.”


“Ya. Grup kita juga sedang berusaha mencari solusi. Tapi belum ada yang benar-benar berguna. Dan aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mengatasinya, ayah.”


“Tapi ayah…” Aji mencoba membantah.


“Aku tidak ingin mendengar alasan apapun. Aku membesarkanmu untuk menggantikanku sebagai pemilik saham dan meneruskan wasiat SH Gruop milik nenekmu. Apa kau mengerti!”


Tidak mudah begitu saja Aji menuriti keinginan sang ayah. Ia mencoba meyakinkan ayahnya itu.


“Baik, ayah. Maafkan aku. Aku akan menangani masalah ini dengan caraku sendiri. Kalau begitu, aku permisi.”


Ayah Aji tidak menjawab, hanya membalas tatapan putranya dengan diam. Aji berlalu begitu saja.


Diluar, ternyata sudah ada manager Kun yang sedang menunggu. Pertama-tama ia memberi hormat kepada Aji dan bersalaman dengannya dengan rasa suka yang sangat. Mereka memutuskan untuk berbicara empat mata di ruang tengah.


“Lama tidak bertemu tuan muda,” sapa manager Kun.


“Maaf, lama tidak datang mengunjungi Paman,” balas Aji dalam menjawab ia tersenyum hangat.


“Aji,” kata manager Kun.


“Ya paman,” Aji menatap manager Kun.

__ADS_1


“Dalam waktu dekat ini akan ada rapat SH Group dan Jegguk. Jika semuanya berjalan lancar, ada kemungkinan akan merugikan pihak Alex yang bersikeras ingin menarik hotel cabang Arizona,” jelas manager Kun.


“Alex adalah orang yang sewaktu-waktu bisa memberontak.”


“Justru orang yang seperti itu gampang dimanipulasi.”


“Aku sangat memahami orang itu. Dia adalah orang yang berprinsip tidak sudi diajak kompromi. Ayah benar-benar bekerja keras. Sejak kapan ayah berhasil mengumpulkan begitu banyak orang?”


“Kemarin dewan direksi kantor pusat pergi bertemu muka dengan ayahmu.”


“Aku juga sudah dengar kabarnya. Mereka selalu membicarakan soal kencan buta dengan wanita muda sambil minum teh bersama. Aku sangat membenci itu.”


“Tuan. Sekarang bukan saatnya untuk bercanda.”


“Tidak masalah jika aku dianggap tidak kompeten. Tapi, aku tidak sudi dibilang anak durhaka. Menyerahlah. Kita tidak akan sanggup bertarung melawan mereka.”


“Ayahmu memiliki harapan yang tinggi atas dirimu. Beliau menginginkan kau yang memimpin SH Group nantinya.”


“Aku tidak dapat memimpin perusahaan besar itu. Sekarang ini aku lebih mengkhawatirkan kondisinya. Itulah yang paling utama.”


“Izinkan aku membantu tuan,” pinta manager Kun.


“Tentu saja paman,” balas Aji sambil tersenyum. Lalu menatap manager Kun dengan dalam. Ia ingin mengatakan hal lain dengan hati-hati dan takut, tapi ia memberanikan diri untuk bertanya. “Paman,” kata Aji dengan tenang.


“Ya, tuan?”


“Apa ibuku baik-baik saja?” tanya Aji dengan ragu. Ia tertahan untuk mengucapakan kata-kata itu. Hatinya sekelabat jadi iba. Penuh kerinduan yang mendalam pada sosok ibu yang sudah lama tidak dijumpainya. Betapa sedihnya ia saat mengucapkan kata ibu dalam mulutnya. Selain bisa menahan, Aji sangat kecewa dengan dirinya sendiri yang tak bisa berbuat apa-apa saat waktu melihat ibunya yang pergi meninggalkan rumah megah ini karena tak bisa mempertahankan keluarganya. Kejadian itu sangat diingat Aji sejak ia berusia 13 tahun lalu. Itu menjadi hari yang terburuk dalam hidupnya.


Manager Kun tersintak kaget mendengarnya. Ia pun juga akan menyangka Aji akan bertanya hal itu padanya.


“Ibumu baik-baik saja. Dia sudah mempunyai restoran kecil di kampung. Mendengar kau akan kembali, ia sangat senang sekali. Datanglah, dan temui ibumu. Dia mungkin sedang menunggumu,” jawab manager Kun.


Aji terdiam kaku. Ia begitu merindukan sosok ibunya. Sebagai balasan, Aji hanya memberi anggukan kecil. “Aku akan menemuinya segera,” ujarnya.


“Ya. Beritahu aku jika kau akan menemuinya,”


“Baik paman,”


“Kalau begitu istirahatlah, kau pasti sangat lelah dengan perjalananmu yang cukup jauh”


“Ya,”


Aji pun pamit pergi dari hadapan manager Kun menuju ruangannya untuk beristirahat. Manager Kun pun mohon undur diri dari tempatnya dan kembali ke kantor.

__ADS_1


__ADS_2