
Tulisan hijau dimesin medis berdengking. Perawat yang tengah terkantuk yang menunggui langsung tersintak memeriksa layar hijau yang tergantung di dinding. Lalu memeriksa dengan teliti. Semuanya bagus. Tak ada yang salah. Akhirnya kejutan itu datang setelah lama menunggu kabar baik.
Perawat itu terlihat senang, matanya berbinar-binar. Segera ia menghubungi dokter di ruang jaga. Tak lama setelah itu datang tiga orang berseragam putih-putih mendekat. Tiga dokter spesialis terhebat dan sekaligus paling terkenal dirumah sakit itu pun memeriksa keadaan pasien lelaki tua yang umurnya terbilang lima puluh tahunan itu.
“Akan ku periksa,” salah satu dokter berkata.
“Dia sepertinya mulai membaik,” kata dokter paruh baya sebelahnya sambil mencatat.
Sudah hampir dua minggu pasien itu dirawat di ruang VVIP rumah sakit Arwana. Siapa sangka pria pemilik kongsi bisnis terbesar, yang sekarang terbaring tak berdaya dibelit infus dan dibantu pernapasannya dengan selang. Ia yang sedang sekarat. Di tangani oleh dokter ahli memang tidak bisa diragukan lagi, meskipun keadaannya belum sepenuhnya pulih, tapi sudah bisa membuat ketiga dokter itu merasa sedikit puas.
“Syukurlah. Pasien sudah melewati masa kritisnya,” kata dokter yang baru selesai memeriksanya.
“Itu berita yang bagus yang kita dengar sejak pertama pasien tiba disini,” sahut dokter satu lagi yang sebaya denganya menampakkan raut senang. “Kerja yang bagus dokter Rehan.”
“Ini berkat kerja keras kita. Bukankah begitu?” balas dokter Rehan.
“Jangan terlalu senang dulu. Sesuatu yang buruk bisa saja terjadi pada pasien ini. Karena itu kita tidak boleh lengah. Selalu tetap waspasa dan mengontrol keadaan pasien setiap waktunya,” seru dokter yang paling tua di antara mereka.
“Baik dokter,” jawab kedua dokter muda itu bersamaan.
Dokter pria paruh baya itu menoleh ke arah perawat.
__ADS_1
“Perawat Aira. Lakukan pekerjaanmu dengan benar. Nyawa kita sedang dipertaruhkan untuk pasien ini. Apa kau mengerti?”
Perawat Aira mengangguk dengan sigap.
“Ya. Aku mengerti dokter. Percayakan semuanya padaku,” balas perawat Aira.
Setelah dilihat tidak ada lagi yang perlu di periksa, barulah ketiga dokter itu berlalu pergi dengan nafas lega.
“Hubungi manager Kun untuk memberitahu berita baik ini,” kata dokter paruh baya itu.
Perawat Aira mengangguk. “Baik dok. Mereka sedang dalam perjalanan menuju kesini dok” balasnya.
“Bagus. Kalau begitu kita kembali sekarang. Aku harus melakukan operasi pada pasien lain. Jika terjadi sesuatu segera beritahu aku.”
Dokter paruh baya itu kemudian menuju ruangannya.
***
Manager Kun baru saja mendapat panggilan dari rumah sakit, langsung bergegas menuju rumah sakit untuk melihat langsung keadaan presdir setelah beberpa hari dirawat.
Tak sampai lima belas menit, mobilnya sudah meluncur memasuki pelantaran parkir rumah sakit itu. Ia memarkirkan mobilnya dengan hati-hati dan keluar dari dalam mobil, menaiki lift menuju lantai lima dimana disana merupakan ruang perawat presdir.
__ADS_1
Tibanya disana ia disambut baik oleh perawat Aira yang selaku petugas yang bertanggungjawab atas pasien.
"Anda sudah datang manager Kun"
"Hmm, bagaimana keadaan presdir?"
"Sudah mulai menunjukkan perubahan yang baik. Presdir sudah melewati masa kritisnya sekarang. Tinggal menunggu beliau siuman sekarang"
"Baiklah. Aku akan menemui dokter"
"Dokter sedang ada jadwal operasi hari ini tuan"
"Berapa lama lagi jadwal operasinya selesai"
"Mungkin sekitar dua puluh menit lagi tuan. Apa anda akan menunggu dokter?
"Iya. Aku ingin bicara langsung padanya mengenao presdir"
"Baiklah. Silahkan menunggu diruangannya tua. Aku akan buatkan teh hangat untukmu"
"Hmm"
__ADS_1
Perawat Aira menuntun manager Kun menuju ruangan dokter.