
Bian melangkah gesit meninggalkan rumahnya yang sepi penghuni. Saat sampai rumah tadi, Bian hanya mendapati Sumi dan Ida yang sedang ngobrol di bagian belakang rumah tempat kamar mereka. Dia langsung melangkah meninggalkan dua asistennya itu saat mereka bilang, kalau Nyonya mereka di bawa ke Klinik kandungan karena tiba-tiba pingsan pagi tadi setelah muntah hebat. Satu minggu lebih di luar kota membuatnya benar-benar rindu berat pada ibu dan istrinya.
Ia mencoba mengingat nama klinik tempat istrinya melakukan pemeriksaan beberapa bulan yang lalu. Bian benar-benar merasa bersalah karena dia tidak ada di rumah saat keadaan istrinya melemah seperti ini. Belum lagi, selama kehamilan istrinya, dia hanya sekali menemani Amara memeriksakan kandungannya.
Pria itu menepikan kendaraannya karena pikirannya semakin kacau. Istrinya sakit, tapi tidak ada yang mengabarinya hal itu. Ibunya hanya memintanya untuk segera pulang karena ada urusan yang mendesak. Itu yang dikatakan ibunya terakhir kali menghubunginya pagi tadi. Ia langsung meluncur begitu urusannya selesai pagi tadi. Ia meminta Daniel untuk menutup pertemuan dengan pihak luar yang menjadi rekannya dalam meninjau lokasi pembangunan pabrik cabang.
Memilih menarik nafas panjang beberapa kali seraya beristighfar. Ia harus tenang agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tergesa-gesa tidak akan membuatnya bisa menyembuhkan istrinya.
Perlahan, ia meraih handphonenya yang tergeletak di sampingnya. Menghubungi nomor handphone ibunya untuk menanyakan keberadaannya.
"Assalamu'alaikum, Nak." Suara Bu Santi terdengar lemah.
"Wa'alaikum salam.. Ibu membawa Rara ke Klinik mana?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Bian.
Bu Santi tersentak mendengar pertanyaan putranya. "Loh, kamu tau dari mana, Nak?"
"Aku sudah sampai rumah, Bu. Tapi, tidak ada orang yang menyambut kepulanganku. Hanya ada Bi Sumi dan Ida. Mereka terlihat panik saat melihatku datang.
Bu Santi menarik nafas dalam. "Ibu ada di Rumah Sakit, Nak."
"Kok Rumah Sakit, Bu. Bi Sumi bilang, Ibu membawa Rara ke Klinik." Memperbaiki posisi duduknya.
"Tidak, Nak. Ibu berada di Rumah Sakit Xx."
"Aku ke sana sekarang. Assalamu'alaikum..." Bian mematikan sambungan telepon dan menghidupkan kembali mobilnya. Dia harus tenang. Istrinya pasti sudah mendapatkan pertolongan dan baik-baik saja sekarang.
Sampai Rumah Sakit...
Bian langsung menuju ruang rawat istrinya yang sudah diberitahukan ibunya lewat pesan. Pria itu tertegun di depan pintu ruang perawatan saat melihat pemandangan di depan matanya. Ibunya menelungkupkan wajahnya di sisi bed bagian kiri. Chayra juga satu posisi dengan ibunya. Tapi, ia menelungkupkan wajahnya di sisi kanan. Ardian terlentang di atas sofa. Bahkan kakak iparnya itu masih memakai pakaian kerjanya. Sepertinya, keadaan pagi tadi benar-benar darurat sehingga semua terlihat kelelahan.
Perlahan, Bian mendekati ibunya. Menyentuh pelan pundak wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Eh, Nak.. kamu sudah sampai?" Bu Santi mengangkat wajahnya. Tampangnya terlihat kuyu dan lelah.
Bian mengangguk seraya tersenyum kecil. "Ibu terlihat pucat. Apa Ibu tidak enak badan?" Meraba dahi ibunya.
"Tidak, Nak. Ibu baik-baik saja. Ibu cuman mengkhawatirkan istri kamu. Kita ngobrol di sofa saja." Menarik tangan Bian agar menjauhi pembaringan Amara.
"Amara baru saja istirahat. Dari tadi dia tidak bisa istirahat dengan baik. Badannya sangat lemah. Kata Dokter, dia mengalami gejala dehidrasi. Dia kurang minum air putih. Itu juga dipengaruhi karena dia terlalu sering muntah-muntah. Tekanan darahnya juga rendah. Itu yang membuat Ibu tidak bisa tenang dari tadi. Amara sedang hamil, Nak. Tekanan darahnya itu yang membuat Ibu benar-benar tidak bisa menguasai diri dari tadi.
Pintu ruangan terbuka. Bu Santi dan Bian langsung menoleh ke arah pintu. Pak Arif masuk ke dalam ruangan dengan menenteng beberapa bungkus makanan. " Eh, Nak Bian kapan pulang?" Berjalan mendekat ke arah menantunya.
__ADS_1
"Barusan, Pa. Aku langsung kemari saat tidak menemukan Rara di rumah." Meraih tangan mertuanya. "Maaf karena Bian belum bisa menjadi suami yang baik untuk Rara."
"Jangan ngomong gitu, Nak. Nak Bian meninggalkan dia karena bekerja. Mencari nafkah agar dia mendapatkan kehidupan yang layak. Jangan merasa bersalah gitu, Nak. Dalam hal ini, kita semua harus saling mendukung agar tidak ada yang merasa tersakiti." Pak Arif beralih menatap Bu Santi. "Mari, Bu Santi makan dulu. Dari pagi nggak pernah makan apa-apa."
Bian mengernyit mendengar ucapan papa mertuanya. "Ibu..." menatap ibunya, menuntut penjelasan atas ucapan Pak Arif itu.
"Ah, kami terlalu panik tadi pagi, Nak. Ibu sedang sarapan saat Ida tiba-tiba datang menjemput Ibu dengan wajah pucat. Kamu tidak usah khawatir, Ibu akan makan sekarang."
Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut Bian. Hanya matanya yang menatap ibunya yang meraih kantong plastik yang diletakkan mertuanya tadi.
"Ibu boleh minta tolong, Nak?" Menatap Bian yang masih menatapnya. Bian hanya menjawab dengan anggukan kecil.
"Minta tolong, bangunkan kakak kamu untuk makan. Mereka berdua juga belum sempat makan."
Bian langsung bangkit tanpa diperintah dua kali. Berpindah duduk di samping pembaringan Amara setelah membangunkan kakaknya.
"Kamu kapan pulang, Mas?" Tanya Amara pelan. Hal itu membuat Bian tersentak.
"Kamu bangun, Sayang.." meraih tangan istrinya lalu menciumnya dengan lembut.
"Aku kira aku mimpi mendengar suara kamu."
"Nggak apa-apa, Mas." Mengusap wajahnya pelan.
"Kamu kenapa bisa drop kayak gini, Ra?"
Amara tersenyum lemah menatap suaminya. "Nggak tau, Mas. Dua hari terakhir ini rasa mual yang aku alami semakin menjadi-jadi. Mau minum air putih, tapi rasanya sangat pahit. Jadinya aku jarang minum. Makan pun terkadang hanya masuk dua atau tiga suap saja."
"Hmm.. itu berarti kamu tidak memaksakan untuk makan."
"Kan tidak ada kamu yang jadi tukang paksa, Mas." Kembali tersenyum lemah.
Bian menghela nafas berat. "Maaf ya, Sayang. Aku terlalu sibuk sampai jarang bisa menghubungi kamu. Tadi pagi aja, aku meninggalkan lokasi sebelum acara penutupan. Tapi, aku sudah minta Kak Daniel untuk menutup acara itu."
"Nggak apa-apa, Mas. Nggak usah minta maaf lagi. Insya Allah aku sudah baik-baik saja kok sekarang."
"Sekarang mau makan sesuatu nggak?" Mencoba menawarkan karena istrinya benar-benar terlihat lemah.
Amara menggeleng. "Nggak ada makanan yang enak, Mas. Tadi juga udah dikasih makan bubur sama Ibu."
"Itu kamu sudah diantarkan makanan lagi. Kamu mau nggak aku suapin makan sekarang?"
__ADS_1
Amara terdiam. Jika dia menolak lagi, Bian tidak akan berhenti memaksanya sebelum dia mengangguk. "Boleh lah, Mas. Tapi sedikit ya. Aku takut mual lagi. Aku capek muntah terus."
Senyum kebahagiaan langsung terbit di wajah tampan Bian. Walaupun lelah, tapi dia tetap mengutamakan istrinya. Baginya, Amara adalah wanita berharga dalam hidupnya setelah sang ibu. "Aku ambil makanannya sekarang. Tunggu sebentar." Beranjak bangkit mendekati ibu dan papa mertuanya yang masih makan. Entah makan apa namanya di jam segini. Sepertinya mereka menggabung tiga waktu makan sekaligus.
"Ibu dan Papa sudah shalat ashar?"
"Mm.." Bu Santi dan Pak Arif mengangkat wajahnya bersamaan. "Belum, Nak. Ini sudah jam berapa ya?"
Bian tersenyum kecil. Ibunya pasti tidak sempat menengok jam sehingga lupa waktu. "Ibu dan Papa shalat dulu sekarang. Sekalian istirahat. Biar aku yang jaga Rara sekarang."
"Iya, Nak. Tapi kamu bangunin lagi kakak kamu. Mereka lelap sekali."
"Tadi cuman bilang mm mm aja pas aku bangunin. Abang malahan cuman memperbaiki posisinya saja."
"Abang kamu lari maraton dari tadi. Dia yang membopong istri kamu dari lantai dua rumah kamu. Dia sudah sampai kantor pas kakak kamu menghubunginya. Jangan tanyakan lagi di sini, dia yang bolak-balik urus ini urus itu. Kayaknya capeknya baru berasa sekarang."
"Aku harus berterimakasih pada Abang."
"Lakukan itu nanti. Sekarang kamu urus istri kamu dulu. Pastikan dia makan habis makanan yang disediakan Rumah Sakit. Ibu tidak berani memberinya makanan dari luar karena tidak bisa menyortir makanan yang bisa diterima lambungnya."
Bian mengangguk paham. Mengambil makanan yang baru saja diantarkan untuk istrinya. Mendekati kembali pembaringan istrinya setelah membangunkan Chayra dan Ardian terlebih dahulu.
"Makan ya..."
"Jangan banyak-banyak, Mas. Sendoknya nggak usah dikasih penuh kayak gitu. Aku mau muntah lihatnya.
"Oh," Bian meletakkan kembali sendok yang sudah terisi penuh. "Aku juga lupa memperbaiki posisi kamu."
Amara hanya diam. Membiarkan apapun yang ingin dilakukan suaminya.
"Kamu pasti tidak memperhatikan pola makan selama aku tidak ada." Bian menatap istrinya. "Kayaknya berat badan kamu turun drastis, Sayang. Ini.. kamu ringan sekali.
Amara mendengus. "Kamu kan cuman mengangkat setengahnya saja, Mas. Beratnya pasti beda kalau kamu mengangkat semuanya."
"Tetap saja kamu terasa lebih ringan. Kamu juga sering menguji iman suami kamu. Sengaja memakai pakaian seksi, tapi setelah aku tergoda kamu akan menggantinya dengan baju gamis. Huh, hal itu tidak akan pernah aku lupakan. Aku tidak akan tertipu lagi lain kali.
"Bian...."
"Eh," Bian menoleh ke arah ibunya. "Astagfirullah.." mengusap-usap tengkuknya karena malu. Lupa kalau di ruangan itu masih ada ibu dan papa mertuanya.
***********
__ADS_1