
Alex mendadak dapat kabar untuk segera kembali ke rumahnya. Ketika ponsel Alex tidak bisa dihubungi, Sekretaris Adam-lah yang memberitahunya segera. Ia sampai-sampai berlarian menuju ruangan Alex, tanpa mengetok pintu pula. Karena ini merupakan berita besar dan sangat mendesak.
“Bos. Ketua ingin anda menemuinya sekarang juga. Beliau sedang menunggu anda, bos,” kata sekretaris Adam dengan napas tersengal-sengal. Ia mencoba mengontrol napasnya kembali.
Kenapa tidak, bayangkan saja ketika sekretaris Adam harus berlari untuk menemui Alex ketika ia menerima panggilan dari ketua dan memerintahkannya langsung. Padahal tadinya sekretaris Adam dalam perjalanan menuju lokasi proyek bersama Bob, terpaksa ia tunda karena Alex tidak dapat dihubungi. Tapi apa yang ia dapat dari reaksi Alex yang ternyata sengaja tidak mengangkat telepon darinya.
“Ada apa? Aku sangat sibuk,” bantah Alex. Ia sibuk dengan menatap layar laptopnya dan sibuk mengerjakan sesuatu disana.
Raut wajah sekretaris Adam langsung berubah. “Tapi ini sangat mendesak dan tidak bisa ditunda lagi. Aku sudah menyiapkan mobil untuk menemui ketua, bos. Sebaiknya kita pergi sekarang sebelum ketua..” jelas sekretaris Adam tidak melanjutkan kata-katanya.
“Kenapa? Kenapa bisa begitu? Apa kau sedang memaksaku? Siapa sebenarnya bos disini?” ia memotong tajam dengan pedih.
Sekretaris Adam menggeleng.
“Bukan begitu bos. Ketua sudah mengeluarkan surat wasiatnya” ujarnya dengan cepat.
Alex mengangguk. Ia sudah menantikan itu juga.
“Aku mengerti. Aku akan pergi menemui nenek. Aku penasaran apa yang ingin dikatakannya, hingga begitu mendesak dan tidak bisa ditunda seperti ini,” katanya yang luluh begitu saja meski sedikit terpaksa.
“Ya,” sekretaris Adam amat senang dengan itu.
Merekapun berangkat menuju rumah. Tidak sampai lima belas menit mobil yang dikendarai sekretaris Adam sudah meluncur memasuki pelataran rumah Alex. Ia langsung menghentikan mobilnya di depan pintu, lalu keluar dan disusul Alex sembari merapikan pakaianya. Keduanya masuk kedalam bersamaan dan disambut oleh pelayan dan biasa dipimpin oleh pelayan Sadi. Begitu sampai dirumah, Alex langsung dihadang oleh tatapan yang tajam oleh semua yang menunggunya. Disana sudah ada, nenek, ayah dan ibu Alex serta manager Hans di tempat duduknya yang sudah menunggu.
“Alex. Kau sudah datang. Kami sudah menunggumu,” sahut nyonya Retno saat melihat kedatangan Alex. Raut mukanya terlihat senang.
“Hmm, ada apa nenek memanggilku?” ia bertanya dengan tenang. “Ada hal apa yang ingin nenek bicarakan?” ia mengambil tempat duduknya, lalu duduk disitu.
Seorang pelayan datang membawa napan berisikan cangkir teh yang diberikan untuk Alex. Ia meletakkanya dengan hati-hati, lalu berlalu.
Nyonya Retno menatap kearah Alex dengan lembut nan tenang. “Ada beberapa urusan penting yang harus ku sampaikan padamu, ini mengenai masa depan SH Group dan juga masa depanmu,” nyonya Retno memberitahu. Kata-katanya membuat Alex sedikit cemas.
“Lalu?” Alex mengangkat alisnya, mungkin ia tidak memahami maksud neneknya itu.
“Sekaranglah saatnya. Kita harus memikirkan tentang masa depanmu. Dengan pernikahan untukmu. Kita harus menyiapkannya dengan mengikuti aturan tradisi kita. Ini adalah tugas penting kita sebagai penerus SH Group. Selain itu, untuk menepati janji dari mediang kakekmu, yang dia janjikan pada teman dekatnya. Bagaimana pendapatmu?” jelas nyonya Retno berterus terang dan berkata tenang. Matanya fokus menatap ke arah Alex tanpa berkedip.
Alex nyaris tersendak mendengar hal itu. Dia terkejut dan tidak percaya. Ia bahkan tidak menduga hal ini akan terjadi begitu cepat.
Ia segera menolaknya. Sekretaris Adam bahkan terbelalak kaget mendengarnya. Tapi ia hanya bisa berdiri dan diam di tempat.
“Apa! Menikah? Apa maksud nenek? Kenapa jadi seperti ini?” ia bertanya seolah-olah ia salah dengar. Semua memandang kearahnya seperti memojokkannya.
“Aku ingin kau menjalankan amanat ini. Pengacara Dave akan memberitahumu tentang wasiat kakekmu nanti.”
Alex mengeluarkan desahan napas panjang yang dingin.
“Kenapa aku harus menikah dengan pilihan kakek? Aku akan mencari pasanganku sendiri tapi tidak dengan pilihan kakek atau siapapun,” bantah Alex. Suaranya jadi meninggi.
“Karena kau telah dijodohkan, Alex,” timpal Wirya, Ayah Alex dengan pandangan tajam. “Ini adalah wasiat dari mendiang kakekmu. Dan kau tidak bisa untuk menolaknya.”
Alex keberatan dengan itu. “Pernikahan adalah persoalan yang sangat besar. Aku harus mempertimbangkannya” Nadanya lebih serius daripada sebelumnya. Tampaknya ia menyesal untuk datang kesini.
“Kau tahu menikah adalah kewajiban semua orang. Karena menikah, bukan berarti hidupmu akan berakhir, Alex,” ujar nyonya Retno dengan tegas.
“Tapi nek. Jangan terlampau terburu-buru. Aku bukan remaja belasan tahun.” Sangkal Alex.
“Karena itulah aku sangat terburu-buru. Kau sudah cukup tua untuk menikah! Ingat umurmu sekarang,” bantah nyonya Retno.
“Tapi semuanya akan tetap sama. Kau tidak bisa menyangkalnya, Alex. Buatlah dirimu senyaman mungkin sebagai penerus SH Group,” tambah Wirya menekankan putranya itu.
__ADS_1
Untuk beberapa saat, Alex hanya bisa duduk ditempatnya, berpikir. Pada mulanya ia ingin menolak, tetapi itu akan membuat keadaan lebih rumit lagi. Sementara itu Aida, ibu Alex tak bisa berkata apa-apa hanya diam menyaksikan.
“Maafkan aku,” Alex mengeluarkan napas panjang yang telah ditahanya lama. “Aku membutuhkan sedikit waktu,” katanya kemudian. “Ini berbeda dari apa yang aku sangkakan. Aku sendiri tidak menyangka hal ini akan terjadi.”
“Berapa lama waktu yang kau perlukan untuk berfikir?” tanya nyonya Retno mendesak
Alex tampak berpikir. Kemudian menghempa udara.
“Aku akan memberitahu nanti. Ada beberapa masalah yang harus ku urus lebih dulu. Sekarang ini aku hanya memikirkan tentang perusahaan.”
“Masalah apa, Alex? Aku pikir kau hanya mencari alasan untuk menghindari perjodohan ini.”
Alex menatap neneknya dengan penuh percaya diri.
“Aku tidak bisa menjelaskanya. Jangan salah paham padaku. Aku bisa menyelesaikanya sendiri,” kata Alex datar.
“Tolong pertimbangkan ucapanmu. Secepatnya berita tentang pernikahanmu akan segera di umumkan,” ujar nyonya Retno memutuskan.
“Silahkan lakukan sesuka nenek. Tapi biarkan aku untuk merenungkan hal ini. Aku tidak ingin menyia-nyiakan impianku dengan menikah. Aku sedang membangun perusahaan jauh lebih baik lagi sekarang,” balas Alex bersikeras hati.
Sang nenek terdiam sejenak. Sementara itu ayah Alex menghempa udara kesal. Nyonya Retno kembali bersuara.
“Baiklah jika itu maumu. Aku akan memberikanmu kesempatan untukmu berfikir,” katanya kemudian.
Untuk pertama kalinya Aida angkat bicara sesaat ia hanya membiarkan putranya merasa tersudutkan.
“Ibu. Apakah tidak apa-apa untuk membiarkan Alex menikah dengan orang biasa? Bukankah kita belum mengenalnya?” katanya saat memperhatikan putranya yang sudah terpojok.
“Janji harus ditepati. Tak peduli siapa yang ku berikan. Di masa lalu, keduanya saling membantu dan melalui masa yang sulit bersama-sama. Kita hanya perlu membalas kebaikan keluarga Shin” balas nyonya Retno dengan bijak.
“Putraku sepertinya tidak senang bahwa dia harus segera menikah. Aku takut,” bantah ibu Alex.
“Dia harus tahu posisinya. Untuk apa dia dilahirkan. Sisa waktuku hanyalah sebentar. Suatu hari dia akan menggantikanku. Dia harus mempelajari bahwa dia tidak bisa melakukan apapun untuk kepuasanya sendiri,” sangkal nyonya Retno tak ingin kalah.
“Maafkan aku. Aku harus kembali bekerja. Aku permisi dulu,” kata Alex.
“Baiklah. Jangan diambil hati betul, jika suatu saat wasiat itu akan aku alihkan pada orang lain,” kata nyonya Retno seperti mengancam.
Alex bangkit dari tempat duduknya tanpa sepatah katapun dan beranjak dari situ dengan penuh kekecewaan.
Disusul oleh sekretaris Adam yang tak bisa berbuat apa-apa. Diluar, Alex baru tampak panik dan resah sendiri.
“Hubungi pengacara Dave agar ia menemuiku sekarang juga,” perintah Alex pada sekretaris Adam. Ia masuk kedalam mobilnya dan bersiap-siap untuk pergi.
“Baik bos,” kata sekretaris Adam mengerti.
Ia pun menyusul masuk kedalam mobil dan bergegas pergi. Mobil kembali meluncur menuju jalan raya menemui pengacara Dave.
***
Alex segera menemui pengacara Dave. Mereka pun memutuskan untuk bertemu di kafe dekat kantor untuk membicarakan hal serius mengenai wasiat neneknya itu. Mereka mendatangi kafe didekat kantor Dave bekerja. Dave yang tiba duluan memesan minuman segar yang sudah di saji di atas meja untuk menemani perbincangan mereka. Ia langsung menyambut kedatangan Alex dengan hormat dan bersikap sopan tak seperti biasanya.
Dave bukan cuma temanya Alex, tetapi ia juga pengacara kepercayaan neneknya. Bahkan saat Dave mencoba bersikap profesional layaknya pengacara dengan klien, Alex langsung mendengus sinis dan mengejeknya.
“Selamat siang CEO Alex,” sapa Dave dengan elegan.
“Bersikaplah seperti biasa. Disini hanya ada kita berdua. Kau membuat suasana jadi terasa lebih kaku” tukas Alex seraya menyambar tempat duduknya, lalu duduk disitu.
Dave segera mengklaim. “Aku menemuimu kesini sebagai pengacara SH Group dan bukannya sebagai temanmu. Dengan begitu aku akan terlihat sebagai pengacara sungguhan di matamu,” ujarnya dengan masih bersikap wibawa yang begitu antusias.
__ADS_1
Alex tergelak mendengarnya. Bahkan Dave masih sempat membuatnya tertawa disaat keadaan sedang genting seperti saat ini. Lalu bibirnya terkatup saat Dave mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
“Ketua mengeluarkan surat wasiatnya,” kata Dave sambil menunjukkan surat wasiat yang baru di sahkan oleh nyonya Retno.
Alex segera mengabaikan surat itu.
“Aku memutuskan tidak peduli dengan itu. Harta itu milik nenekku. Jadi terserah nenek mau di apakan hartanya itu,” tukas Alex dan hendak beranjak dari situ.
Tapi dengan segera Dave menghentikanya untuk menjelaskan lebih jauh. “Jangan pergi begitu saja. Aku harus menjelaskan semuanya padamu. Kita perlu bicara sebentar,” kata Dave meyakinkan Alex.
Alex yang merasa dirugikan hanya bisa menurut. Ia kembali duduk di tempatnya.
Pertama-tama Dave menarik napas panjang. Ia memulai pembicaraanya dengan sangat tenang dan pasti.
“Kau hanya bisa sepenuhnya mengambil alih SH Group jika kau mendapatkan saham milik ketua...” Dave belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
“Tapi sebagai gantinya aku harus menikah dengan orang yang nenek inginkan, itu syaratnya! Tapi aku tidak mau melakukan itu.” Kata Alex memotong ucapan Dave dengan tajam.
Dave langsung terdiam membeku. Tapi ia segera memutar otak melanjutnya pembicaraanya. Ia menetralkan suasana dan hati temannya itu.
“Apa kau bahkan tidak mau tau siapa wanitanya?” tanya Dave penasaran. Ingin tahu bagaimana pendapat temanya itu.
Alex menolak mentah-mentah.
“Tidak sedikitpun!” kata Alex dengan yakin dan meneguk minumannya.
“Aku yakin kau tidak tau siapa wanita itu. Ini kan pertama kalinya terjadi. Ketua sudah menulis wasiat ini satu tahun yang lalu. Kali ini wanitanya bukan Bella putri perusahaan tambang itu, bukan pula seorang yang kita kenal,” jelas Dave dengan sarkatisme.
Alex kaget mendengarnya, tapi ia tetap bersikeras menolaknya. Ia paling tidak mudah terpengaruh oleh Dave. Wajahnya tampak kekesalan yang terpendam dan membara.
“Siapapun wanita itu, pokoknya aku tidak tertarik. Semua itu tidak ada hubungannya denganku, bahkan sekalipun nenek menyerahkan semua harta kekayaanya. Aku puas dengan apa yang aku miliki sekarang. Aku bisa bangkit dengan kekuatanku sendiri. Jika nenek bisa membangun perusahaan ini seorang diri, aku juga pasti bisa,” tegas Alex dengan bijak.
“Walaupun kau tidak menginginkan harta warisan ketua, tapi kali ini kasusnya lain. Keputusan yang kau ambil kali ini bukan pilihan yang tepat.” Dave dengan frustasi memberitahu Alex yang terus saja menolak dan selalu dengan pendiriannya.
Alex hanya diam saja menahan geram. Lagi-lagi ia meneguk minumanya siapa tau bisa untuk menenangkan dirinya. Ia menepis pandanganya dari Dave melihat keadaan seputarnya..
Dave semakin penasaran. Ia membuyarkan pandangan Alex yang mengabaikannya. Karena lebih memilih memperhatikan orang lain daripada dirinya yang sedang bersamanya di meja yang sama.
“Aku penasaran, wanita seperti apa yang begitu dicintai kakekmu itu?” ia mencondongkan badanya kedepan dengan tatapan penasaran.
“Mungkin dia adalah wanita siluman serigala berekor sembilan yang ahli dalam merayu,” Alex dengan sinis menduga, lalu menatap Dave sebentar. “Kau selidiki wanita itu,” perintahnya kemudian.
Dave langsung menolaknya.
“Aku sibuk dan banyak pekerjaan. Seharian ini aku tidak tidur karena mengurus masalahmu. Kenapa tidak menyuruh sekretarismu saja? Dia tidak akan keberatan.”
Alex tetap bersikeras memaksa Dave untuk melakukannya.
“Aku tidak mau tahu, dan mengingatkanmu bahwa kau adalah pengacara SH Group dan juga temanku. Jadi, kau juga harus bertanggung jawab mengatasi masalah ini,” ancam Alex.
Dave mendesah karena ditugaskan begitu banyak oleh Alex dan juga ketua. Ia hanya bisa menghela nafas panjang dan menerima kenyataan.
“Baiklah. Aku akan melakukannya. Tapi jangan salahkan aku jika kau terus bersikeras menolaknya dan membuat ketua beralih menyerahkan wasiat itu pada cucu tirinya. Kau akan menyesal nantinya,” balasnya seperti terlihat sedang mengancam.
Alex menyangkalnya segera.
“Itu tidak akan terjadi. Semuanya ku serahkan padamu. Beritahu aku jika kau sudah mendapat informasinya. Aku akan menghubungimu lagi.” Kata Alex dan hendak beranjak dari situ, ia mengarahkan minumannya di hadapan Dave sebelum ia benar-benar beranjak dari situ, ia hanya menyisakan minumanya sedikit saja. “Aku pergi.” Alex pun berlalu pergi.
Dave hanya diam mematung dan menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Alex yang tak berubah.
__ADS_1
“Hhhh!” keluhnya. “Dasar Alex si keras kepala. Dia membuatku pusing saja. Sepertinya aku harus lembur lagi.”
Saat Alex benar-benar hilang dari pandanganya Dave memanggil waiters dan membayar pesananya. Setelah itu ia juga berlalu pergi dari situ melanjutkan pekerjaannya.