Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Kejutan untuk Bian


__ADS_3

Bian masuk ke dalam rumah dengan wajah kusut. Seharian sibuk di Kampus membuat kewarasannya hampir hilang. Belum lagi teman-temannya yang selalu saja banyak protes membuatnya ingin marah pada siapapun yang menyapanya.


Sampai rumah, ia hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak ada sambutan hangat dari sang Ibu yang biasanya bisa mengobati rasa lelah setelah seharian berjuang. Kali ini, ia hanya bisa menarik nafas dalam melihat rumah luas yang sangat sepi penghuni.


Kedatangan Asisten rumahnya membuat Bian beralih menatap Asisten itu. "Tuan silahkan makan dulu. Tadi Non Amara kemari, Tuan. Dia menyiapkan makan malam untuk Tuan. Tapi, dia tidak bisa menunggu Tuan pulang karena adiknya ikut kemari tadi. Nggak enak katanya Tuan."


Sepersekian detik Bian melongo. Antara percaya dan tidak dengan ucapan Asisten itu. "Bibi bilang Rara datang kemari?" Bertanya masih dengan ekspresi tidak percaya.


"Iya, Tuan. Tapi dia datang bersama adiknya tadi. Terus, dia cuman ke dapur dan memasak untuk Tuan. Kata Non Amara, dia sudah lama tidak masak untuk Tuan."


Senyum tipis muncul di bibir Bian. "Ah, Rara sakit kemarin, Bik." Matanya langsung menatap ke arah pintu dapur. "Rara masakin apa untukku, Bik?"


"Mm.. sup iga, Tuan. Dia juga membuat sambal matah. Bibi jadi bingung dengan menu itu."


Bian kembali tersenyum. Tapi, kali ini senyumannya lebih lebar. "Aku makan sekarang, Bik. Minta tolong Bibi bawakan tas saya ke kamar. Letakkan saja di atas meja." Menyerahkan tas ranselnya. Bian melipat lengan kemejanya. Sudah satu minggu lebih dia tidak makan dengan baik. Kepergian ibunya ke Pesantren cukup mempengaruhi nafsu makannya. Sejak ibunya ke Pesantren, dia kebanyakan makan mie instan.


"Aku harus berterimakasih padamu, Ra." Ucapnya setelah duduk di depan meja makan. Makanan yang terhidang di atas meja benar-benar menggugah selera makannya. Tapi, Dia mengurungkan niatnya untuk menyuap nasi. Jangan sampai Asisten itu membohonginya, kalau Amara yang memasak untuknya.


"Bibi, coba Bibi kemari sebentar."


"Iya, Tuan." Berjalan tergopoh mendekati Bian. "Mm.. maaf, Tuan. Handphone Tuan berbunyi tadi. Tapi, Bibi tidak berani mengambilnya karena handphone itu di dalam tas ransel Tuan."


"Oh, bisa minta tolong ambilkan, Bi. Tas itu isinya cuman laptop dan kertas, Bi. Tidak ada emas permata kok di dalamnya."


Asisten itu tersenyum salah tingkah, lalu menunduk sopan pasa Bian seraya meninggalkan pria itu.


Bian mengambil benda gepeng yang di sodorkan kepadanya. "Terimakasih, Bi. Silahkan Bibi kembali bekerja."


"Iya, Tuan."


Bian membuka handphonenya. Ada panggilan tak terjawab dari ibunya dan Amara. Ia beralih membuka pesan. Ada beberapa pesan juga dari orang yang sama. Pria itu membuka pesan dari ibunya terlebih dahulu.

__ADS_1


Assalamu'alaikum, Nak. Kamu pasti masih sibuk di Kampus, makanya tidak menjawab panggilan Ibu. Ibu cuman mengkhawatirkan kamu, Nak. Jangan lupa makan yang teratur ya, Nak. Ibu tidak mau kamu sakit.


Kalau kamu ada waktu senggang, Abah dan Ummi kamu ingin melihat kamu datang ke Pesantren. Ada yang ingin mereka sampaikan. Kakek kamu juga tiba-tiba sakit. Sekarang beliau masih di rawat di Rumah Sakit Xx.


Kamu usahakan untuk datang ya, Nak. Ibu juga sudah menghubungi kakak kamu. Kata Ayra, suaminya bisa kemari lusa.


Bian tertegun membaca pesan dari ibunya. Kakeknya sakit apa sampai harus di rawat. Orang tua itu terlihat sangat sehat ketika mengunjungi rumahnya kemarin. Ia beralih membuka pesan dari Amara.


Assalamu'alaikum, Kak. Tadi aku datang ke rumah Kak Bian. Rumahnya sepi banget. Aku sudah mempersiapkan makan malam untuk Kak Bian. Kata Bibi tadi, Kak Bian jarang makan sejak Ibu pergi ke Pesantren.


Aku membuat sup iga untuk Kak Bian. Mudah-mudahan Kak Bian suka. Insya Allah sup itu enak, walaupun tidak seenak yang di jual di Restoran mewah.


Maaf, aku langsung pulang. Aku membawa Carissa tadi. Dia tidak ada teman di rumah. Aku akan menunggu Kak Bian di lain waktu.


Oh iya, Kak. Tadi pagi Kakek menghubungiku. Ternyata beliau sedang sakit. Kalau Kak Bian pergi, aku titip salam untuk Kakek. Semoga Kakek lekas sembuh.


Bian mengernyit membaca pesan terakhir Amara. Kakeknya bahkan menghubungi gadis itu dan mengabarinya kalau dia sedang sakit. Lalu, kenapa Pak Akmal tidak menghubunginya sama sekali.


Akhirnya Bian hanya bisa menghela nafas berat. Meletakkan handphonenya, mencuci tangannya kembali untuk melanjutkan makan makanan yang batal ia sentuh tadi.


**********


Bian menguap beberapa kali sepanjang perjalanan. Hari ini, dia memutuskan untuk pergi ke Pesantren menggunakan kendaraan darat. Terlalu lama pisah dengan ibunya membuat perasaannya tidak tenang. Belum lagi karena Kakeknya yang sakit membuatnya semakin tidak tenang. Ia berangkat bersama Chayra dan Ardian. Perjalanan yang terlalu jauh membuat mereka harus gantian saat menyetir.


Bian menepikan kendaraannya untuk istirahat sejenak. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam dan perjalanan masih sepuluh kilometer lagi. Berbalik ke belakang untuk melihat penumpang yang lain. Kakak dan dua keponakannya terlihat tidur pulas. Begitu juga dengan Ardian yang duduk di sampingnya.


Bian meneguk sisa kopi kaleng yang dibawanya dari rumah. Ini adalah pengalaman pertamanya menyetir kendaraan dengan jarak tempuh sejauh ini. Dulu, Ardian hanya memintanya menggantikan Ardian sebentar-sebentar karena umurnya juga yang masih muda waktu itu.


Mata Bian terasa benar-benar berat. Jika tetap memaksakan diri untuk melanjutkan perjalanan, takutnya tidak bisa konsentrasi menyetir dan itu bisa menjadi bahaya untuknya dan penumpang yang lain.


"Bang, aku mau membeli minum. Abang mau titip apa?" Menggoyang-goyangkan bahu Ardian.

__ADS_1


"Hmm.." Ardian merubah posisi duduknya. Membuka matanya perlahan dan melihat sekitar. "Kita sudah sampai mana, Bi?"


"Aku nggak tau nama daerah ini. Tapi, perjalanan kurang lebih sepuluh kilometer lagi, Bang."


"Hmm.. ya udah, kita istirahat saja dulu kalau begitu. Kamu juga terlihat lelah." Timpal Ardian. Mengucek matanya, berusaha mengusir kantuk yang masih menderanya.


Bian dan Ardian keluar dari mobilnya dan berjalan mendekati warung yang terlihat masih ramai pengunjung. Sepertinya, warung itu biasa digunakan sebagai tempat istirahat oleh sopir-sopir truk yang parkir rapi di pinggir jalan tempat mereka parkir tadi.


"Abang mau pesan kopi saja, Bi. Sekarang Kakak yang akan menggantikan kamu menyetir."


"Aku sudah menghabiskan dua kaleng kopi kemasan, Kak. Kalau mau ngopi lagi..." Bian termenung sejenak. "Nggak ah, Bang. Aku terlalu banyak ngopi. Aku mau makan saja. Aku tidak sempat makan saat kita berangkat tadi."


Ardian hampir saja menyemburkan air putih yang sedang dia teguk. Matanya langsung menatap tajam pada Bian yang terlihat santai bercerita tanpa rasa bersalah. "Ya ampun, Dek. Tadi sore pas Abang tanya, kamu bilang sudah makan." Sedikit melototkan matanya agar Bian sadar kesalahannya.


"Eh, Abang kaget karena itu?" Masih bertanya dengan ekspresi tanpa dosa.


"Kamu ini benar-benar deh, Dek."


"Huh, aku memang jarang makan selama Ibu nggak ada di rumah. Bibi yang di rumah kan, nggak ahli masak, Bang. Kemarin aja Rara yang datang ke rumah masakin aku. Makanya aku makan banyak."


Ardian menatap adik iparnya dengan heran. "Kamu kok gini, Dek. Kayak orang kurang bersyukur gitu. Padahal dulu itu kamu paling suka protes pada orang yang ytidak pandai bersyukur."


Bian diam sesaat. Menarik nafas panjang sebelum menjawab ucapan kakaknya itu. "Bukannya aku nggak bersyukur, Bang. Tapi apa yang mesti disyukuri. Bibi masak aja nggak pernah. Mau makan apa aku?" Melengos sambil membuang pandangan.


"Terus kenapa kamu nggak pernah ke rumah untuk makan?" Ardian masih tidak mau kalah. Bian masih ada pilihan lain sekiranya tidak ada yang bisa dimakan di rumahnya.


Bian kembali menatap kakaknya. "Aku benar-benar sibuk, Bang. Kemarin aja pulangnya mau maghrib. Sampai rumah senangnya minta ampun saat Bibi bilang kalau Rara datang masak khusus untukku. Apalagi dia masak sup iga, Bang. Hmm... aku benar-benar menikmatinya. Aku sampai minta Bibi untuk menyimpannya di kulkas, Bang." Bian terlihat bersemangat menceritakan hal itu pada Ardian. "Itu adalah sebuah kejutan dari Rara untukku, Bang."


Ardian langsung menelan ludahnya. Bukan kata 'kejutan dari Rara' yang masuk ke otak Ardian. Tapi, sup iga yang menggugah selera. Sup iga adalah makanan favoritnya.


*******

__ADS_1


__ADS_2