Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Soulmate


__ADS_3

"Putramu telah mengikat seorang wanita." Ucap Bian seraya bersimpuh di kaki ibunya.


"M.. maksud kamu apa, Nak?" Memaksa putranya untuk bangkit dengan memegang bahunya.


Bian bangkit dengan sedikit tertatih. Jika ingin mendapat dukungan, dia harus mengatakan hal ini sejujurnya. "Aku mencintai Amara, Bu. Aku.. aku juga sudah mengatakan itu padanya."


Bu Santi menahan senyum mendengar pengaduan putranya. "Tumben sekali Bian Putra Arianto berbagi cerita pada ibunya." Menautkan alisnya seraya menatapnya.


Bian terdiam beberapa saat. "Ibu ..." menarik nafas panjang. "Aku menceritakan ini pada Ibu, karena aku butuh dukungan Ibu."


"Kita bicara di dalam. Ibu yakin, kamu pasti tidak mau kan, kalau Pak Anton mengetahui hal ini."


Bian mengangguk patuh, mengikuti langkah ibunya dari belakang.


"Feeling seorang Ibu itu kuat, Nak. Ibu yakin kalau kamu sudah memendam rasa itu sejak lama. Seharusnya kamu mengatakan hal ini pada Kakek dan Nenek kamu saat mereka datang kemarin."


Bian terdiam seraya menatap ibunya. "Aku tidak menyadari hal itu, Bu. Tapi, aku bertanya pada Niko tentang cinta. Aku bertanya padanya, apa yang dirasakannya saat dia jatuh cinta pada seseorang."


Bu Santi Tersenyum seraya memperbaiki posisi duduknya. "Kenapa tidak bertanya pada Ibu sejak dulu?"


"Aku nggak mau menambah beban Ibu."


"Tidak seperti itu, Nak. Jalan pikiran kamu itu salah. Semua orang tua akan senang kalau anaknya terbuka. Ke depannya Ibu hanya berharap kamu semakin terbuka dan mengatakan apapun yang membuat mu tidak nyaman."


"I.. iya, Bu."


"Apa ada masalah yang lain, Nak? Ibu lihat kamu seperti orang yang memiliki beban pikiran."


Bian membuang nafas dengan kasar seraya mengusap wajahnya. "Aku hanya kesal sama Pak Satpam yang bertugas di Kost Amara, Bu. Bisa-bisanya dia meminta denda lima ratus ribu, gara-gara aku telat membawa Rara pulang. Padahal telatnya cuma setengah jam."


Bu Santi ikut menghela nafas berat. "Sepertinya itu hanya permainan saja. Lain Kalau sebaiknya kamu lebih berhati-hati. Sekarang istirahat lah, kamu terlihat lelah."


Bian tersenyum seraya memeluk tubuh ibunya. "Terimakasih, Bu. Sebenarnya.. aku tidak lelah. Aku cuman keringat dingin saat bicara dengan Amara tadi. Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Mungkin ini yang membuatku seperti ini."


Kali ini Bu Santi tidak kuat untuk tidak tersenyum. Mengacak-acak rambut putranya dengan penuh sayang. "Pasti ada kata pertama kali dalam hidup ini, Nak. Ke depannya kamu harus memperkuat iman kamu. Cobaan orang pacaran itu berat. Ibu tidak melarang kamu pacaran, tapi kamu harus bisa menjaga batasan kamu pada yang bukan mahram. Hindari segala hal yang bisa merusak iman."


"Insya Allah, Bu." Bian beranjak bangkit. "Bian istirahat dulu ya, Bu."

__ADS_1


"Iya, Nak." Bu Santi tersenyum menatap kepergian putranya. "Tunggu dulu, Nak!"


Bian menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap ibunya.


"Kalau kamu ada waktu senggang, jangan lupa ajak Amara main kemari. Ibu rindu masak-masak bersama calon menantu Ibu."


"Eh," Bian tersenyum salah tingkah. Mengangguk asal seraya berbalik untuk melanjutkan langkahnya.


********


Amara membereskan alat infus yang berserakan di atas meja. "Huh, Alhamdulillah ... akhirnya kelar juga." Ucapnya sambil merenggangkan ototnya yang terasa kaku. Untuk kesekian kalinya ia dan Ameena melakukan praktek mandiri. Sengaja sering-sering latihan agar tidak tegang dan cepat terbiasa.


"Mara, kita cari makan, yuk. Lapar banget nih. Membereskan alat-alat itu nanti aja."


"Eh, gila lho. Ini rumah orang. Kalau pemilik rumahnya marah, bagaimana? Emangnya lho mau diusir secara tidak hormat." Amara mengomel sambil terus memasukkan alat-alat yang sudah selesai dipakai.


"Nggak bakalan kayak gitu." Jawab Ameena asal seraya menghempaskan tubuhnya di atas sofa. "Heh, uang bulanan habis dipakai untuk praktek. Jatah bulanan datang satu minggu lagi, tapi uang tinggal tiga lembar di dompet." Berucap sambil mendongak menatap langit-langit ruangan itu.


"Kita harus cerdas mengatur keuangan kalau sudah begini ceritanya." Timpal Amara,


"Soulmate lho ke mana sih Mara? Hampir satu bulan meminta lho untuk menjaga hati, tapi dianya nggak pernah manampakkan batang hidung."


Panjang umur, orang yang sedang dibicarakan mengirim pesan pada Amara.


"Mara, itu pesan dari siapa, kenapa lho senyum-senyum sendiri?"


Amara hanya melirik Ameena sambil tersenyum lalu kembali fokus pada benda gepeng di tangannya.


"Mara...please don't be annoying!"


"Hahaha.. berani juga lho pakai bahasa enggres."


"Huh, habisnya lho menyebalkan. Biasanya lho akan langsung merespon kalau gue ngomong pakai bahasa yang memutar balikan lidah itu." Timpal Ameena dengan sinis. Dia paling benci Bahasa Inggris karena dia benar-benar lemah di bidang itu.


"Jangan marah kayak gitu. Alis lho kelihatan menyatu tu. Belum lagi mata lho yang lebar. Lho jadi mirip Angry Bird tau.." Amara kembali menatap handphonenya. "Ini pesan dari soulmate gue. Katanya rindu berat ingin bertemu."


Ekspresi wajah Ameena langsung berubah. "Gue mau baca. Nggak adil banget deh rasanya kalau cuman mendengar cerita lho."

__ADS_1


Assalamu'alaikum, Rara cantik. Maaf belum bisa menemui mu. Aku benar-benar sibuk sekarang. Tapi, ini adalah hari terakhir. Besok aku libur. Maunya sih, main ke kost kamu. Tapi, aku akan datang kalau sudah mendapatkan izin dari kamu.


Aku mengalami penyakit rindu berat, Ra. Udah cari obatnya di Apotek, tapi nggak ada. Ternyata, obatnya ada di soulmatenya Bian. Gkgkgk...


Ameena menutup mulutnya setelah membaca pesan itu. "Ya ampun, Mara... kok Kak Bian alay gini sih?" Ameena menggeleng-geleng pelan lalu melanjutkan membaca pesan ketiga.


Besok bisa bertemu kan? Nggak apa-apa kok, walaupun Ameena ikut. Aku nggak berani berduaan karena kita belum halal. Kalau berduaan yang ada malah ada setan yang menjadi ketiganya. Kalau bersama Ameena kan, setannya di usir sama Ameena. Dia kan galak orangnya. Kayaknya setan akan sakit perut kalau matanya sudah melotot.


Pesan ketiga membuat Ameena benar-benar melotot kan matanya. "Mara.. ini apaan maksudnya?!" Memperlihatkan layar handphone pada Amara.


Amara langsung tertawa melihat ekspresi Ameena. "Kok lho beneran melotot, Na. Hahaha... soulmatenya Amara memang pandai menebak."


"Ew, soulmate.. soulmate.." melengos seraya membuang pandangan. "Ketemuan pas diminta jaga hati aja. Itu mah, kayaknya orangnya gila kerja nantinya. Hati-hati, nanti dia malah nggak ada waktu untuk lho karena terlalu sibuk bekerja." Meletakkan handphone di atas pangkuan Amara.


"Insya Allah, nggak akan seperti itu.." Amara menjawab dengan menunjukkan ekspresi aneh. Hal itu membuat Ameena kembali melengos. "Terserah.. gue hanya bisa berdoa semoga kalian berjodoh."


"Aamiin.." Amara mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Mengambil handphonenya yang diletakkan Ameena. Mereka diam beberapa saat. Amara fokus menatap handphonenya.


"Ayo cari makan sekarang. Ngapain coba diam disini. Tugas kita kan sudah selesai."


"Wait.. wait.." Amara masih fokus menatap benda gepeng di tangannya.


"Apa lagi, Mara..?"


"Kak Bian mau ke Kost sekarang." Amara memasukkan handphone ke dalam tasnya.


"Hah, yang benar saja. Katanya lagi sibuk.."


"Ada break katanya. Yuk, kembali ke Kost. Dia juga mau membawakan kita makan siang." Mengambil kantung berisi perlengkapannya.


"Wahahaha... Alhamdulillah... gue doain kalian benar-benar berjodoh. Kak Bian memang sangat baik. Sudah tampan, mapan, loyal, baik hati kepada siapapun. Aduh, kok aku jadi terharu gini. Barusan saja gue bilang lapar dan kekurangan uang. Eh, Malaikat tak bersayap langsung merespon."


Amara tersenyum seraya berlalu. Ameena mengekor di belakangnya dengan senyum sumringah. "Mudah-mudahan besok Kak Bian datang lagi untuk mentraktir kita makan. Jadinya kita bisa ngirit dan uang bersisa sampai jatah bulanan datang."


"Ya ampun, Na. Tadi aja lho bilang Kak Bian alay dan gila kerja. Eh, pas di bilang mau dibawakan makanan, langsung dah keluar pujian yang entah tulus atau nggak."


"Hehehehe.." Ameena menggaruk-garuk kepalanya salah tingkah. "Iya.. kita kan mau dikasih makan siang, masa gue harus bilang Kak Bian jahat. Gue akuain deh, Kak Bian itu laki-laki impian. Tapi, sayangnya dia baru belajar ngegombal, makanya terdengar alay."

__ADS_1


Amara membuang nafas dengan kasar. "Terserah lho, Na. Gue nggak ngerti jalan pikiran lho."


__ADS_2