Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Pesona Seorang Bian


__ADS_3

Bian terdiam mendengar ucapan Ameena. Ingin menimpali, tetapi suaranya tidak bisa keluar.


"Na, please.. lho jangan ngomong yang aneh-aneh lagi." Amara menggeleng-geleng lemah pada Ameena. Perasaan tidak enak merayap di hatinya.


Amara POV...


Aku tidak tau mau berkata apa lagi pada Ameena. Temanku yang satu ini benar-benar tidak bisa mengontrol ucapannya. Entah sejak kapan dia mulai blak-blakan ngomong pada Kak Bian. Dulunya, dia hanya bisa berdecak kagum saat pria itu bicara. Dan tentunya akan menelan ludahnya jika mendapatkan senyuman Kak Bian.


Aku melirik ke arah Kak Bian. Hmm.. dia terlihat tidak nyaman. Sepertinya ucapan Ameena yang membuatnya seperti itu. Tapi, aku tidak bisa berbuat banyak. Aku hanya bisa meminta Ameena untuk berhenti mengatakan hal-hal konyol seperti tadi.


Sebenarnya aku merasa tidak enak pada Kak Bian. Aku juga tidak enak pada diriku sendiri. Aku tidak pantas bersanding dengan pria di depanku ini. Kak Bian terlalu sempurna untukku. Sedangkan aku sendiri tidak termasuk dalam calon yang diseleksi oleh Kakek dan Neneknya. Mungkin bagi mereka aku tidak pantas, karena aku tidak lebih dari seorang pengasuh untuk Adzra.


Ucapan Ibu yang memintaku untuk memantaskan diri terlebih dahulu, sudah cukup untuk menjadi peringatan bagiku. Saat ini, aku tidak pantas untuk Bian Putra Arianto. Jadi, kalau aku benar-benar mencintai pria itu, aku harus memantaskan diri terlebih dahulu. Iya.. walaupun Ibunya sendiri mendukungku, tapi keputusan akhir ada di tangan kakeknya.


Hah, Ya Allah.. aku tau semua butuh perjuangan. Tapi, jika aku benar-benar berusaha, usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Ucapan Kak Bian yang mengatakan telah mencari pengasuh baru untuk Adzra menjadi beban pikiranku. Huh, beban pikiranku menjadi bertambah sekarang. Mengapa aku merasa Kak Bian malah mempersempit akses kami. Kalau aku jarang ke rumah si Gembul. Itu berarti aku akan semakin jarang bertemu dengan pria ini. Tapi, aku tidak punya kuasa untuk melarangnya. Aku hanya bisa tersenyum lemah mendengar ucapannya tadi.


"Eh, Kak Bian Kampusnya udah kelewatan itu." Ameena sedikit berteriak sambil menunjuk-nunjuk keluar. Lamunanku langsung buyar dan langsung fokus menatap Ameena.


"Aku harus mengurus kalian terlebih dahulu." Kak Bian menjawab dengan ekspresi yang aku sendiri tidak bisa menebaknya.


"Kami udah gede kalee.. ngapain pakai diurus segala." Ameena melengos seraya membuang pandanganya.


Aku melirik Ameena seraya menghela nafas berat. Apakah karena dia kurang tidur semalam, sehingga moodnya hancur pagi ini. Selama ini dia memang sering kayak gitu kalau kurang tidur.


"Kalau kalian datang ke Kampus dengan berpenampilan seperti itu, Khanza akan meremehkan kalian seperti dulu."


"Terus maksud Kak Bian apa, mau mengurus kami?" Ameena melirik Kak Bian lalu kembali menatap keluar.


"Aku cuma mau membawa kalian ke Butik milikku. Kalian harus memukau agar tidak ada yang meremehkan kalian."


"Hah..?!" Spontan aku dan Ameena melotot ke arah pria yang kalem-kalem aja melihat ekspresi terkejut kami.


"Kalian bersiap, satu menit lagi kita sampai." Kak Bian masih terlihat kalem walaupun kami masih melotot ke arahnya.


___________


Bian menuggu dua wanita yang sedang memilih kostum di dalam butiknya.Walaupun ada handphone yang menemaninya, tetapi rasa bosan karena menunggu masih saja terasa. Terlihat beberapa kali ia melirik ke arah pintu yang menghubungkannya ruangan tempatnya menunggu dengan ruangan tempat kedua gadis itu sedang memilih pakaian.


Bian memutuskan untuk menghubungi Amara karena benar-benar tidak kuat menunggu lagi. "Kamu belum selesai, Mara? Aku sudah setengah jam menungggu kalian."

__ADS_1


"Eh," Amara menjauhkan handphone dari telinganya. Tidak biasanya Bian langsung ngegas tanpa mengucap salam terlebih dahulu. "A.. aku udah selesai, Kak. Tapi aku masih menunggu Ameena. Dia masih memilih.."


Tut.. tut.. tut..


Amara mengernyit saat telpon terputus. Ia akhirnya menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. Ameena memang selalu boros waktu kalau itu menyangkut masalah belanja.


Amara mendekati salah satu karyawan yang ditugaskan Bian untuk menemani mereka. "Mm.. Kak, temanku yang tadi kemana ya.." tanya Amara dengannya sedikit hati-hati.


"Oh, temannya yang tadi sedang mencoba salah satu jilbab koleksi terbaru dari butik ini."


"Ya Allah, Ameena.. kok lama banget sih.." Amara berdecak seraya membuang nafas dengan kasar.


"Mm.. maaf kalau saya lancang, Dek." Pegawai yang berdiri di dekat Amara itu tersenyum kaku pada Amara.


"Eh, maaf.. ada apa ya, Kak." Amara ikut tersenyum kaku.


"Mm.. sebelumnya.. perkenalkan nama saya Dira. Saya karyawan senior di tempat ini. Aku betah bekerja disini karena Pak Bian yang terlampau baik pada kami. Bahkan, karyawan di Butik ini bisa dibilang selalu betah bekerja di sini. Tidak pernah ada yang mundur. Kami semua merasa bersaudara disini. Pak Bian selalu mengajarkan kami untuk selalu saling melengkapi dan saling tolong menolong." Dira bercerita dengan santai pada Amara. Gadis temannya ngobrol ini terlihat friendly, sehingga ia langsung merasa nyaman.


Amara tersenyum mendengar cerita Dira. Orang yang mengenal Bian pasti akan mengatakan hal yang tidak jauh berbeda seperti yang dikatakan Dira. "Kak Bian memang baik pada semua orang." Ucapnya menimpali.


"Mm.. apa aku boleh bertanya sesuatu sama kamu?" Dira kembali bertanya karena melihat Amara yang terlihat masih santai.


"Mm.. tapi.. kamu jangan marah ya.." Dira mewanti-wanti, takutnya Amara tersinggung jika mengeluarkan pertanyaan ini.


"Insya Allah, aku nggak akan marah."


"Mm.." Dira melirik ke arah Amara sebelum benar-benar mengeluarkan pertanyaaan. "Apa.. apa.. salah satu dari kalian adalah orang spesialnya Pak Bian?"


Amara menautkan alisnya. "Maksud Mbak Dira?"


"Ih, masa nggak ngerti sih?" Dira mengigit bibirnya bawahnya.


"Kamu bertanya pada orang yang tepat. Dia inilah orang spesialnya Kak Bian. Kalau aku.. aku hanya temannya dan fansnya Kak Bian." Ameena tiba-tiba menepuk pundak Dira dari belakang. "Tapi, dia ini masih bodoh kalau itu berhubungan dengan masalah cinta."


"Maksud lho apa, Na mengatakan itu?" Amara menepis tangan Ameena seraya merengut kesal.


"Nggak ada maksud apa-apa, Mara. Aku cuma menjawab pertanyaan Kakak ini. Kan kasihan kalau dia capek-capek bertanya, tapi lho malah nggak bisa jawab." Ameena menjawab dengan santai.


"Wah, kamu beruntung banget dong kalau begitu. Aku bertanya, soalnya selama ini Pak Bian tidak pernah membawa teman wanitanya kemari."

__ADS_1


Perhatian mereka teralihkan saat handphone Asmara kembali berbunyi. Wanita itu langsung meletakkan jari telunjuknya di depan bibir.


"Apa kalian belum juga selesai?" Bian langsung bertanya tanpa basa-basi.


"Ameena baru keluar, Kak. Kami akan langsung keluar sekarang." Amara menatap Ameena, kembali meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, agar Ameena tidak berisik. Sambungan telepon langsung terputus setelah Amara memberikan jawaban.


"Na, Kak Bian udah dua kali nelpon gue. Dia udah capek nunggu."


Ameena melengos mendengar ucapan Amara. "Masa udah mau keluar aja sih? Aku baru dapat satu setel pakaian."


Amara menutup matanya menahan kesal. "Ck, iya memang kita diminta mengambil satu setel aja, Na. Kalau lho mau beli banyak, lain kali lho datang lagi kemari. Lho ini, ditraktir malah banyak tingkah. Ayo kita keluar sekarang." Amara menarik paksa tangan Ameena keluar. Perasaannya sudah tidak enak sejak Bian menghubunginya lima belas menit yang lalu.


Sampai di ruang tunggu, kedua gadis itu langsung mendapatkan tatapan tajam dari Bian. "Memangnya harus ya.. wanita itu harus lama saat memilih kostum?"


Amara dan Ameena saling tatap seraya tersenyum meringis. Tidak ada yang mengeluarkan suara, karena mereka berdua sedang memikirkan jawaban untuk pria itu.


"Terus kenapa kalian belum ganti baju?" Bian berdecak kesal. "Mbak Dira...!"


Dira langsung mendekat saat mendengar namanya dipanggil oleh tuannya.


"Iya, Pak."


"Antar mereka berdua untuk ganti kostum sekarang. Aku tunggu sepuluh menit lagi. Kalau kalian telat, aku tinggalkan kalian di sini. Rencana akan batal secara otomatis.


Dira menahan senyum. " Silahkan ikuti saya. Saya akan mengantar kalian ke ruang ganti."


Bian memijit pelipisnya seraya kembali duduk. Kelamaan menunggu membuat tekanan darahnya sedikit naik. Andaikan ini tidak penting, dia pasti sudah meninggalkan dua wanita yang boros waktu ini.


"Sudah selesai, Pak." Dira sedikit membungkukkan badannya saat di depan Bian.


"Terimakasih, Mbak. Sekalian bungkus pakaian mereka yang tadi ya. Kalau menunggu mereka melakukannya sendiri. Bisa-bisa mereka menghabiskan waktu satu jam."


Amara dan Ameena hanya diam. Melihat tampang Bian saat ini membuat mereka malas bicara.


Dira keluar dengan membawa dua paper bag yang berisi pakaian Amara dan Ameena. "Ini, Pak pakaiannya. Yang ini punya calonnya Pak Bian dan yang ini punya temannya." Dira menyerahkan paper bag ke masing-masing pemiliknya.


"Hah, calon..? Maksud Mbak Dira?" Bian menganga tidak percaya.


*******

__ADS_1


__ADS_2