Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Alex


__ADS_3

Saat ini kota Nirwana sudah memulai melakukan pengembangan dan kemajuan demi menjadikan kota paling banyak dikenal, dimana-mana setiap penjuru menyuguhkan wisata dan pemandangan yang luar biasa agar menarik simpati orang-orang lokal maupun orang asing sekalipun untuk berkunjung. Dan juga telah menjadikan kota Nirwana sebagai kota wisata terbaik sepanjang masa. Jadi tak heran, pendapatan kota Nirwana sangat melonjak tinggi dalam kurun waktu lima tahun ini.


Banyaknya perusahaan-perusahaan asing membuka bisnis mereka di Nirwana dan tentunya juga tidak mengalahkan perusahaan-perusahaan lokal. Salah satunya SH Grup menjadi perusahaan nomor satu yang telah mengalami banyak pertumbuhan dan perkembangan hingga mencapai jajaran perusahaan terkenal lainnya maupun di negara asing saat ini. Mereka telah membangun kerajaannya sendiri, sehingga menjadikan mereka sebagai konglomerat di kota Nirwana. SH Grup adalah salah satu perusahaan infrastruktur terbaik di dunia bisnis. Sejarahnya lebih dari 50 tahun dan sudah berkembang dimana-mana. Siapapun pemiliknya, pastilah keturunanya sangat sejahtera. Dan siapapun yang terlibat dalamnya, pastinya sangat beruntung. Perusahaan itu juga telah banyak berkontribusi untuk kemajuan Nirwana dan selalu membawa keberuntungan bagi Nirwana. Setiap pembangunan wisata, SH selalu jadi andalan pemerintah karena hasilnya tak pernah mengecewakan.


Selain perusahaan infrastruktur, SH Grup juga memiliki beberapa perusahaan besar lainnya yang tak kalah melejitnya di dunia bisnis, seperti SH Mall, SH Hotel, SH Food, SH Universitas dan baru-baru ini juga terdengar bahwa mereka akan membangun sebuah resort terbesar di kaki gunung. Maka, tak heran jika SH Grup sangat terkenal sekali, khususnya dalam dunia perbisnisan. Banyak perusahaan-perusahaan asing ingin bergabung dengan mereka, tidak lain tidak bukan mengenai keuntungan besar yang tidak akan pernah mengecewakan. Itulah sebabnya, banyak orang dari belahan manapun berlomba-lomba ingin masuk ke SH Grup. Untuk masuk ke sana tidaklah mudah. Jika tidak ada skill dan pengetahuan yang dalam, siap-siap saja perusahaan akan menolak mentah-mentah surat lamaran kerjamu.


Dimalam yang sama, hujan sudah mulai reda. Sebuah mobil memasuki perkarangan rumah dan memberhentikannya disitu. Sang supir bergegas keluar membukakan pintu belakang mobil. Tampak seorang pemuda keluar dari dalam mobil sedan mewah hitam mengkilap. Dia terlihat rupawan dan selalu memberikan kesan intelektual dan bijak. Bentuk tubuhnya yang mengesankan, dengan setelan jas abu-abu silver yang dikenakan tampak sangat sempurna padanya. Pria muda berbadan tegap yang dalam usia dua puluhan ini terlahir sebagai keluarga kaya dan terpandang.


Pria itu seperti tidak memiliki kekurangan apapun. Setiap bagian dari dirinya mempertunjukkan nilai keunggulan, dan tentunya pria yang juga berpengaruh bagi kaum hawa. Dengan rambut hitam kelamnya, dan mata hitam yang menusuk tajam yang sedemikian tampan dan mempesona membuat para wanita rela mengantri untuknya. Nama lengkapnya adalah Alex Putra Pratama, cucu satu-satunya sekaligus penerus SH Grup yang terkenal itu. Alex meneruskan bangunan infrastruktur milik keluarganya dan kini tengah disibukkan dengan urusan bisnis pembangunan gedung apartemen di tengah kota.


Tepat dihadapanya, berdiri rumah megah dan luas bak istana kerjaan dongeng seakan-akan ikut menyambutnya. Perkarangannya luas, menyuguhkan air mancur besar ditengah-tengahnya, lengkap dengan taman-taman aneka hiasan bunga hidup di sekitarnya dan tentunya beralaskan rumput-rumput hijau bak permadani terkembang. Semuanya tampak amat terawat. Dan itu sungguh mengesankan ditambah dengan belasan pelayan dan pengawal berseragam rapi yang sudah menanti dan menyambutnya dengan hormat di depan pintu seraya menunduk kepala.


Pria tua beruban yang tampak memimpin menghampiri dan menyapa pada Alex.


"Selamat malam tuan muda," katanya dengan ramah. Orang-orang memanggilnya pelayan Sadi yang hampir seumur hidupnya audah mengabdikan diri pada keluarga SH Grup ini.


Alex menyahut. "Malam paman Sadi"


"Tuan muda, ketua sedang menunggu anda di dalam" lanjutnya memberitahu segera saat dirasa Alex hendak beranjak dari sana. Ia kemudian mempersilahkan Alex masuk kedalam rumah dan beberapa pelayan mengantarkanya ke ruang tengah.


Alex mengayunkan beberapa langkah pendek menuju ruang tengah, lalu berhenti disitu. Ruang tengah itu sangat formal, kursi-kursi di dalamnya di atur pada tempat-tempat semestinya, dan mengelilingi meja panjang berdaun kaca. Tak lupa pula diterangi oleh lampu kristal yang berkelap menggantung di atas langit-lagit ruangan besar itu. Dinding perpustakaannya yang besar tertutup oleh rak-rak buku merupakan salah satu perabotan di ruangan itu. Tempat itu terlampau besar dan terlampau mewah. Dekorasi ruangan dengan nuansa pastel memberikan suasana yang lembut dan juga indah. Siapapun berada disana bisa merasakan kenyamanan dan kehangatan ruangan itu.


Alex menoleh kearah wanita tua dengan rambut hampir ubanan di hadapannya itu. Seorang wanita tua yang mengenakan pakaian biru cerah yang dilihatnya tengah membaca buku majalah dengan kacamata minusnya. Dia adalah ketua SH Grup, nyonya Retno Kertanegara yang merupakan pemegang sah atas SH Grup sekarang ini.


Nyonya Retno pertama-tama mengangkat mata, lalu kepalanya untuk melihat Alex. Ia tersenyum simpul saat melihat kehadiran cucunya. Diletakkanya majalah yang sudah satu jam dibacanya itu di atas meja di depanya.


"Alex, kemarilah" dia melambai untuk ke sofa kepada cucunya. Sementara itu, Alex menurut dan duduk di sofa dengan manis menghadap neneknya. Untuk sesaat mereka saling berhadapan di kursi itu. Nyonya Retno tersenyum memandangi wajah cucunya yang rupawan tengah duduk dihadapanya tanpa berkedip.


"Bagaimana kabar cucuku hari ini? Beberapa hari ini kita sudah jarang sekali bertemu walaupun kita tinggal di atap yang sama" suara ny. Retno yang lembut dan penuh perhatian membuka pembicaraan.


"Keadaanku sangat baik. Bagaimana dengan nenek?" balas Alex dengan tenang dan berbalik bertanya. Udara segar keluar dari mulutnya.


"Tentu saja aku sangat baik, karena aku sudah banyak istirahat sekarang ini. Dan aku sudah pensiun dari pekerjaanku. Aku akan mementingkan kesehatanku sekarang" balas nenek dengan senang.

__ADS_1


Alex tampak senang mendengarnya. "Nenek benar. Kesehatan adalah yang paling utama, itulah sebabnya nenek harus banyak istirahat. Jangan selalu membuatku khawatir seperti waktu itu" kata Alex membenarkan.


Ny. retno mendesah lega ketika mendengar jawaban Alex. "Tentu saja. Itu tidak akan terjadi lagi" ujar nenek tidak berhenti tersenyum. Kemudian ia diam sebentar, memastikan cucunya mencerna kalimatnya dengan baik, lalu Ia beralih ke topik lain. "Nah, bagaimana keadaan perusahaanmu? Aku ingin tahu langsung darimu" seru ny. Retno tanpa panjang lebar.


"Sangat baik dan semuanya berjalan dengan sangat lancar, nek" jawab Alex dengan mantap. "Hari ini aku berhasil mendapatkan client penting untuk bergabung dengan perusahaan kita. Sangat sulit membuat mereka percaya padaku. Tapi mereka sangat menyukai rencana yang akan ku buat. Mungkin perusahaan akan bertambah maju lagi setelah ini. Nenek, aku tidak percaya kalau ini telah berjalan lebih dari dua tahun sekarang" Alex menyelesaikan kalimatnya yang panjang dan lebar dengan lancar.


Ny. Retno tertawa kecil membenarkan. "Itu berita bagus. Meyakinkan client penting itu memang tidak mudah bukan? Kau bahkan melakukan pekerjaanmu di hari libur. Kau sudah bekerja keras, Alex" pujinya dengan tulus.


Alex mengangguk. "Aku rasa aku sudah memiliki bakat seperti mendiang kakek sekarang" ia memberikan senyumnya.


Mendengar itu, ny. Retno tertawa lembut nan tenang. Inilah saat ketika pelayan memasuki ruang itu, membawakan teh hangat untuk mereka berdua. Dengan hati-hati ia meletakkan cangkir mungil putih itu di atas meja. Setelah dirasa pekerjaannya benar, barulah ia pamit dari situ.


"Kamu benar-benar hebat, cucuku. Aku telah menanti lama untuk hari ini. Kau hanya perlu melakukan tugasmu sebagai penerus keluarga Herman" kata ny. retno sambil tersenyum.


"Iya nek. Aku akan bekerja keras dan melakukan yang terbaik pada perusahaan. Nenek tidak usaha khawatir, kita akan melakukanya bersama" kata Alex dengan mantap.


Sebuah tawa segar lagi-lagi keluar dari mulut neneknya. "Lihatlah, kau sudah lebih dewasa sekarang. Aku senang sekali bahwa kau adalah cucuku. Jika kau mengerti maksudku, kau pasti memahaminya kan?" gumamnya dengan ketertarikan yang nyata.


Dengan neneknya berkata begitu, Alex segera mengambil kesempatan mengenai perbincangan mereka yang sempat tertunda. "Benarkah? Jika begitu, bisakah nenek menyerahkan SH Hotel untukku? Kali ini biarkan aku mengurusnya untuk nenek. Percayakan padaku hotel itu" kata Alex merayu dan menggoda neneknya.


"Kau pintar sekali merayuku dan mencuri kesempatan saat kita berbicara" jawabnya pendek.


"Tidak nek. Sebut saja ini adalah sebagai hadiah untukku karena hari ini, nek. Apa nenek masih merasa keberatan seperti waktu itu?" Alex menambahkan dengan lembut. Namun ia sedikit terlihat ragu dan khawatir dengan jawaban neneknya nanti.


Ny. Retno diam kali ini, ia tak tau mesti berkata apa. Ia membuka sedikit bibirnya untuk berkata lagi, tapi kemudian menutupnya kembali saat Alex kembali bersuara. Alex tersenyum lebar berkata "Bagaimana? Aku akan bersyukur kali ini, nek. Dan aku pikir aku mulai tertarik dengan bisnis hotel sekarang. Jadi berikan hotel itu padaku, nek" katanya dengan mantap. Sekarang ia benar-benar serius dengan perkataannya.


ny. retno terlihat santai kembali menanggapinya. "Benarkah kau berfikir begitu?" ny. retno bertanya seraya bergurau.


Alex memberikan anggukan kecil, mencari satu alasan yang pas. "Ya, dan itu cara berfikirku" Alex berkata dengan bangga.


"Hmm. Aku memang tidak dapat memahaminya, kenapa kau sangat menginginkan hotel itu. Tapi tetap saja hotel itu tidak bisa ku berikan padamu atau pada siapapun" ny. retno mengatakan keputusanya, seperti biasanya bahkan tanpa meminta pendapat.


Alex benar-benar terhenyak kali ini. Untuk kesekian kalinya ia mendapat jawaban yang sama oleh neneknya. Ia tak menyangka hal yang sama terjadi lagi. Padahal pikirnya neneknya ingin menemuinya karena telah berubah pikiran untuk menyerahkan hotel itu padanya.

__ADS_1


"Maukah nenek mengatakan kepadaku alasanya?" ia kembali bertanya karena penasaran.


"Kenapa? Aku tidak bisa memberikan hotelku padamu. Sudah ku katakan, hotel itu bukan hakmu untuk memilikinya. Apa belum jelas juga?" balas nenek dengan bijak. Mata dan ekspresi wajahnya bahkan berubah.


Ucapan ny. retno membuat Alex kelihatan bingung. Keningnya berkerut dan memberikan pandangan ketidakmengertian. Ada yang menjanggal dari tatapan neneknya itu. Sesuatu yang telah ia sembunyikan selama ini. Tapi Alex tidak mengetahui itu. Apa yang membimuat Alex begitu yakin arti dari keraguan pada neneknya yang tak biasanya seperti ini.


"Kenapa bisa begitu nek? Aku bukan orang asing disini" Alex memprotes. Ia berupaya sebusanya untuk menguasai amarahnya.


"Ya memang. Seharusnya kau lebih memperhatikan dengan serius tentang perusahaanmu. Masalah hotel biar aku dulu yang menanganinya" kata nenek menjelaskan dengan bijak.


Alex terdiam kali ini. Untuk beberapa saat dia hanya duduk disana, berpikir. Ada suatu kejanggalan dari jawaban itu. Sementara itu, ny. retno menyeduh tehnya sedikit seraya meredam amarah.


"Aku hanya perlu menunggu kan? Suatu saat nenek akan memberikanua padaku. Aku benar kan, nek?" kata Alex tak mau kalah.


"Kau sangat keras kepala sekali" balas ny. retno sembari meletakkan gelasnya diatas meja. Ia menampakkan wajah kesal.


"Tidak nek, hanya saja aku terlalu antusias dalam hal ini" Alex berkata dengan nada yang amat serius.


Sontak suasana nyaman itu menjadi tegang dan kaju. Ny. retno tampaknya tak ingin berlanjut debat dengan cucunya itu.


"Aku tidak mau berbicara tentang topik ini lagi sekarang. Kau akan segera tau saat mendengar wasiat mendiang kakekmu nanti. Setelah itu aku baru memutuskan. Apa kau mengerti?" jelas ny. retno dengan dingin, menahan suaranya serendah mungkin. Ia menggeser posisi duduknya merasa tidak nyaman lantaran dengan pernyataan Alex barusan.


Alex berhenti, lantas mengalah. "Baiklah nek, aku mengerti" katanya dengan pasrah.


Kini pandangan ny. retno beralih pada pelayan Sadi yang berdiri menunggu dari tadi. "Aku rasa aku harus istirahat sekarang. Mataku sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi"


"Baik ketua" jawab pelayan Sadi mengerti maksud dan tujuan ny. retno.


Kemudian datang dua pelayan wanita dan langsung membawa ny. retno ke ruanganya.


Tak ada yang mempedulikan Alex. Ia masih duduk diam ditempatnya sembari merenung sebentar. Tampaknya ia begitu penasaran dengan wasiat itu. Hari semakin larut malam. Suasana hening menyelimuti bengitu sangat tenang saat ini. Begitu sadar pelayan Sadi memperhatikanya, Alex segera masuk ke kamarnya dengan desahan panjang tanpa sepatah katapun. Pelayan Sadi bisa mengerti arti dari pandangan Alex barusan. Seperti biasa, perdebatan kecil seperti itu memang menjadi hal yang biasa disaksikan olehnya sejak dari dulunya. Dan semua juga tahu, keegoisan Alex tak ada bedanya dengan neneknya sendiri.


Dikamar, Alex masih memikirkan ucapan nenek tadi. Hal itu membuatnya merasa tidak nyaman sekarang. Setelah selesai mandi dan mengganti baju mengenakan piyama, ia kemudian merebahkan tubunya di ranjang empuknya.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan menangani hal ini dengan mudah. Nenek memutuskan semua ini dengan wasiat kakek. Sebenarnya ada apa dengan wasiat itu? Ini benar-benar membuatku kehilangan akal untuk membujuk nenek. Kalau begini caranya, aku akan kehilangan kesempatan lagi" desah Alex pada dirinya sendiri. Ia mengeluh, lantaran tidak bisa menebak apa yang sedang direncanakan neneknya tanpa sepengetahuannya. Hal ini membuatnya untuk berfikir dua kali mengambil alih hotel. Belum lagi dengan wasiat yang akan dikeluarkan dalam waktu dekat ini. Alex semakin dibuat penasaran jadinya. Ia memejamkan matanya perlahan-lahan. Melupakan apa yang terjadi dan beristirahat dari lelah yang berkepanjangan ini.


__ADS_2