
Satu minggu berlalu...
Pagi ini, Bian duduk di samping kakeknya dengan pandangan suram. Bu Fatimah terus mengeluarkan berbagai nasehat. Tapi, tak satu pun masuk ke telinga Bian. Pria itu benar-benar sudah mati rasa untuk mendengarkan omongan neneknya itu. Jarang bertemu seharusnya membuat kasih sayang semakin melimpah di antara mereka. Akan tetapi, hal itu tidak berlaku untuk Bian. Rasa kesal karena neneknya terlalu ikut campur malah lebih mendominasi dalam hatinya.
"Bian, apa kamu mendengar semua ucapan Nenek?" Bu Fatimah menatap tajam cucunya. Yang ditatap hanya tersenyum getir seraya mengangguk pelan. Ia malah menatap ke sembarang arah menghindari tatapan tajam neneknya.
"Nenek akan pulang hari ini. Kalau Nenek sudah pulang, siapa lagi yang akan memberimu nasehat agar kamu tidak salah memilih pasangan." Masih menatap Bian dengan tajam.
Bian menarik nafas dalam lalu membuangnya dengan kasar. "Aku tidak memerlukan nasehat yang seperti itu, Nek. Aku bisa mencari pasanganku sendiri. Aku juga tidak butuh wanita yang kriterianya seperti yang selalu dibangga-banggakan Nenek. Aku hanya butuh wanita yang berakhlak, yang taat pada perintah Allah dan suaminya. Untuk apa istri berharta. Harta suaminya juga menjadi milik istri nantinya kalau kami sudah menikah. Aku juga tidak butuh wa..."
"Cukup, cukup, Bian. Nenek tidak butuh pendapat kamu." Bu Fatimah segera memotong. "Nenek menginginkan kamu menikah dengan wanita berkelas, agar suatu saat nanti kamu bisa saling membantu saat perusahaan kamu membutuhkan dana tambahan."
Bukan hanya Bian, Pak Akmal pun tidak menyangka kalau ucapan itu yang akan keluar dari mulut istrinya. Mereka berdua saling tatap lalu tersenyum seraya menggeleng-geleng pelan. "Sudahlah, Nek. Bian lama-lama pusing dengan harta seperti ini." Beralih menatap kakeknya seraya menepuk pelan pahanya. "Kenapa sih Kakek harus kaya? Coba Kakek miskin, Nenek pasti tidak akan bisa sombong seperti sekarang." Bian beranjak bangkit. "Bian mau ke Kampus, Kek. Ada tugas yang harus segera diselesaikan." Meraih tangan kakeknya lalu menciumnya. Hal serupa juga ia lakukan pada neneknya. Walaupun hatinya sedang tidak bersahabat dengan sang nenek, tidak membuatnya harus mengabaikan wanita itu.
Bu Fatimah melongo. Bian berani meninggalkannya disaat dirinya belum selesai ngomong. Pak Akmal ikut bangkit meninggalkan istrinya.
"Kok bisa sih, Santi mendidik anaknya seperti ini?" Berucap setelah kembali sadar. "Abi mau kemana?" Baru menyadari kalau suaminya juga akan meninggalkannya.
"Mau istirahat. Telingaku pegal dari tadi mendengar ocehan kamu yang tidak ada manfaatnya sama sekali." Berlalu tanpa memperdulikan ekspresi kesal istrinya.
Bian langsung meluncur ke Kampusnya setelah keluar dari rumah. Pria itu berulang kali melirik jam tangannya. Ah, melakukan hal itu membuatnya teringat pada Amara. Akhir-akhir ini mereka jarang saling menghubungi karena kesibukan masing-masing. Setelah pertemuan hari itu, Amara diantar pulang ke kostnya oleh Chayra. Bian yang ditunggu-tunggunya tidak kunjung keluar dari dalam rumah. Bagaimana mau keluar, sedangkan pria itu sendiri sedang menangis sesenggukan di dalam kamar ibunya waktu itu.
Pria itu menepikan kendaraannya karena ingin mengirim pesan pada Amara.
Assalamu'alaikum, Rara sayang. Bagaimana kabar kamu? Maaf, akhir-akhir ini aku jarang menghubungimu. Aku sibuk di Kampus.
Senyumnya mengembang saat pesannya langsung terbaca. Tidak berselang lama, pelan balasan datang.
__ADS_1
Ini Ameena, Kak. Amara sedang sakit. Maaf kalau aku lancang membalas pesan Kak Bian. Tapi, Amara baru saja terlelap. Tidak enak rasanya kalau harus membangunkannya. Demamnya tinggi sekali. Kemarin dia sampai tidak bisa masuk kuliah.
Senyum Bian langsung pudar membaca pesan itu. Terlalu sibuk mengurus neneknya membuatnya sampai lupa memantau kondisi wanitanya itu.
Oh, tidak apa-apa, Na. Nanti aku datang ke Kost kalian. Kalau Rara bangun, tanyakan dia mau makan apa, biar aku belikan saat aku ke sana nanti.
Bian mengusap wajahnya dengan kasar. Ia merasa menjadi serba salah pada Amara. Menghidupkan kembali mesin mobilnya untuk melanjutkan perjalanan. Urusan di Kampus harus segera diselesaikan agar beban pikirannya bisa berkurang.
***********
Bian melenggang keluar dari mobilnya begitu sampai depan Kost. Pria itu mendekati post Satpam terlebih dahulu untuk melaporkan kedatangannya. Namun, jawaban yang tak disangka-sangka malah ia dapatkan dari Pak Satpam.
"Amara dan Ameena sudah tiga hari ini tidak di kost, Dek."
Bian tertegun, tidak bisa berkata apa-apa. Setelah pesan terakhirnya terkirim, nomor handphone Amara tidak bisa dihubungi lagi. Entah karena handphone itu mati karena low bat, atau memang sengaja di matikan. Tapi, saat mencoba menghubungi nomor Ameena, handphone gadis itu juga tidak aktif.
Bian mengangkat wajahnya seraya menatap Satpam dengan sendu. "Lalu.. mereka dimana kira-kira sekarang, Pak?" Pertanyaan itu spontan keluar dari mulut Bian. Dia terlihat bodoh. Namun, jika tidak bertanya dia tidak tau akan mencari Amara kemana.
"Mm.. untuk hal itu saya kurang tau, Dek. Kemarin itu Amara muntah terus. Mungkin Ameena membawanya ke Rumah Sakit. Coba dihubungi nomor teleponnya, Dek."
Bian menghela nafas berat. "Sayangnya nomor teleponnya tidak aktif, Pak." Bian terduduk lemah di kursi yang disediakan oleh Satpam untuknya. "Rara.. kamu dimana..." ucapnya pelan mengusap wajahnya dengan kasar. Minggu ini, hari-harinya terasa berat karena ulah neneknya yang selalu membatasi aktivitasnya. Ia menatap sekeliling kost. Kamar Amara memang terlihat sepi.
"Kalau masih khawatir, coba di cari ke rumahnya dulu. Adek kan bisa bertanya pada orang tuanya nanti sekiranya dia tidak ada di rumahnya." Satpam kembali memberi usul. Terlihat kasihan karena Bian seperti orang kebingungan.
Bian melirik seraya tersenyum lemah. Usul Satpam itu memang benar. Tapi, Amara sepertinya tidak akan mungkin mau dibawa ke rumahnya. Mengingat kalau keluarga gadis itu tidak seperti keluarga lain pada umumnya.
"Adek itu pacarnya Amara ya?" Pak Satpam mencondongkan badannya mendekati Bian.
__ADS_1
"Eh," Bian melirik lalu kembali menunduk.
"Pasti pernah bertengkar sebelumnya, makanya sekarang Adek tidak tau kalau Amara tidak ada di Kost."
Bian langsung mengangkat wajahnya. "B.. bukan seperti itu, Pak. Aku cuman sibuk di Kampus dari kemarin. Belum lagi, di rumah ada keluarga yamg menginap sudah satu minggu ini. Jadinya, aku dan Rara jarang saling menghubungi. Rara juga sibuk praktek ke sana kemari."
"Oh, kirain berantem to.." menahan senyum mendengar pengakuan Bian.
Bian kembali tersenyum lemah. Mengambil handphonenya kembali, mencoba menghubungi Amara. Beralih menghubungi nomor Ameena untuk lebih meyakinkan. Tapi, kedua nomor itu tetap tidak bisa dihubungi.
Bian akhirnya menarik nafas panjang. Ia harus bisa berpikir jernih agar bisa tenang menghadapi cobaan hidup selanjutnya."Pak, saya pamit dulu ya, kalau begitu. Mau mencari Rara lagi. Mudah-mudahan dia ada di rumahnya."
"Oh, iya Dek, silahkan. Mudah-mudahan Amaranya cepat ketemu, dan Mudah-mudahan juga dia sehat." Menyeruput kopinya sebelum bangkit untuk membukakan Bian pintu gerbang. "Terimakasih kopinya, Dek. Saya akan mengajak Amara ngopi bersamaku nanti kalau gadis itu sudah kembali ke Kost. Dia akan senang kalau saya cerita pacarnya yang memberikan kopi satu dus."
Bian tersenyum. "Saya duluan, Pak. Assalamu'alaikum..." masuk ke dalam mobilnya.
"Wa'alaikum salam.." Pak Satpam memberikan hormat saat mobil Bian keluar dari gerbang.
Bian keluar dari tempat itu dengan perasaan yang semakin kalut. Kemana dia akan mencari Amara sekarang. Ia memilih untuk mencarinya di rumahnya. Walaupun dia berperang dengan pikirannya. Hatinya benar-benar ragu kalau Amara ada di rumahnya. "Rara.. kamu dimana...?"pertanyaan itu kembali terlontar dari mulutnya. Ia menyandarkan kepalanya saat menyadari kalau rumah Amara terlihat sangat sepi. Rumah itu seperti tak berpenghuni. Ia berdiam di dalam mobilnya sambil memantau keadaan rumah. Perasaannya benar-benar kalut saat ini. Sebenarnya, dia bisa minta bantuan pada kakeknya. Tapi, ada rasa sungkan untuk melakukan itu. Dia harus berhasil menemukan Amara dengan tangannya sendiri.
Ting..!
Lamunan Bian buyar saat bunyi notifikasi pesan masuk di handphonenya membuatnya tersentak kaget.
Maaf, Kak. Handphone aku dan Amara mati. Aku juga lupa memberi tahu Kak Bian, kalau Amara sedang di rawat di Rumah Sakit Xxx. Asam lambungnya naik karena dia tidak memperhatikan jadwal makannya. Kami terlalu sibuk tiga hari belakangan ini. Kami jarang makan tepat waktu juga. Maaf ya.. membuat Kak Bian khawatir.
Bian menarik nafas lega. " Alhamdulillah.. akhirnya.." ia langsung tancap gas menuju Rumah Sakit Xxx usai membaca pesan Ameena. Kini bibirnya bisa menyunggingkan senyuman lagi.
__ADS_1
********