
"Ra,"
"Mm.."
"Aku mencintaimu.."
Amara tersenyum kecil. Menatap Bian yang duduk di depannya. Pria itu juga sedang menatapnya dalam sambil tersenyum. Menghela nafas berat sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya. "Kak Bian jangan duduk di situ. Kenapa tidak duduk di sini saja." Amara menunjuk ayunan di sampingnya.
"Hmm... nggak ah, lebih nyaman juga disini." Bian berkata sambil menahan senyum. Amara terlihat salah tingkah itulah mengapa Bian bertahan duduk di depan gadis itu.
"Ck.. Kak Bian kok ngeyel sih.." Amara memanyunkan bibirnya. "Ayo naik, duduk di ayunan saja. Akunya nggak nyaman kalau Kak Bian tetap di sini."
"Akunya nyaman tapi." Bian masih bertahan di posisinya.
"Huh, kok Kak Bian berubah nyebelin gini sih."
Bian kembali tersenyum. "Aku hanya bisa seperti ini di kamu saja. Mau kasih aku emas satu karung sebagai upah untuk melakukan ini pada wanita lain, aku tidak akan pernah melakukannya."
"Kenapa kayak gitu?"
Bian membuang nafas dengan kasar seraya memutar bola matanya. "Aku bukan buaya, Ra. Aku cuman mencintai Amara Andini saja. Kalau aku bisa seperti itu, itu berarti aku bisa mencintai wanita manapun."
"Hmm..." giliran Amara yang menahan senyum. Mengalihkan pandangannya untuk menyembunyikan ekspresinya dari Bian. Mendengar ucapan Bian seperti itu membuat perasaannya menjadi berbunga-bunga.
"Khmm.. khmm.."
Amara dan Bian langsung menoleh saat mendengar suara deheman dari belakang mereka. Bian beranjak bangkit saat melihat siapa yang datang. "Huh, kenapa kemari sih?! Kak Mayra diam saja di rumah. Aku sedang membicarakan sesuatu pada Rara."
Humaira melengos. "Nggak perduli kamu mau ngomong apapun. Ibu cuman memintaku untuk mengantarkan makanan untuk kalian. Kalian berdua belum makan dari semalam. Tadi pagi juga nggak ikut sarapan." Meletakkan nampang yang dibawanya di atas meja kecil di sebelah ayunan yang diduduki Amara.
"Aku sudah makan roti tadi pagi, Kak. Aku maag, jadinya nggak berani terlalu lalai dalam melayani perut." Timpal Amara.
"Aku ikut makan disini dengan kalian. Di dalam cuman ada Ibu. Kayak nggak seru gitu karena nggak rame." Humaira duduk di ayunan. "Apa kalian merasa terganggu karena kedatanganku?" Bertanya seraya mengambil segelas teh hangat di atas nampan.
"Nggak kok, Kak. Malahan seneng karena ada teman ngobrol."
"Apaan sih, Ra?!" Bian menatap Amara dengan kesal. "Kalau Kak Mayra juga ada disini, kita nggak bisa...."
"Nggak bisa ngapain?" Humaira memotong sambil melotot pada Bian. Tangannya bahkan sampai terangkat dan menunjuk Bian.
__ADS_1
Bian membuang nafas dengan kasar. "Aku nggak bisa ngomong bebas sama Rara." Beranjak bangkit sambil mendengus. Niat hati ingin menghibur Amara untuk mengurangi kesedihan yang diciptakan oleh neneknya harus ditunda dulu. "Makan dulu, Ra. Nanti kita bicara lagi saat aku mengantar kamu pulang."
"Hmm..." Humaira menyebikkan bibirnya. "Mau diantar pulang kemana, Rara?"
Amara beralih menatap Humaira. "Aku pulang ke rumah, Kak. Katanya Papaku besok mau pergi kerja."
Humaira hanya manggut-manggut. Sejak menempuh pendidikan di jakarta, gadis itu jadi lebih tau dengan kehidupan di luar.
Perhatian mereka teralihkan saat handphone Amara berbunyi dengan nyaring. Amara mengambil benda gepeng itu dari dalam tas kecilnya. Bibirnya mengulas senyum saat melihat Ameena yang menghubunginya.
"Siapa..?" Bian bertanya dengan suara pelan. Amara menunjukkan layar handphonenya pada pria itu. "Oh," hanya itu jawaban Bian. Amara bangkit dan berjalan menjauh dari Bian dan Humaira.
"Siapa yang menghubunginya, Bi. Kenapa Amara harus menjauh dari kita?" Humaira bertanya setelah Amara pergi.
Bian tersenyum kecil sebelum menanggapi ucapan kakak sepupunya. "Itu temannya yang paling cerewet, tapi juga paling setia, Kak. Sepertinya Rara khawatir Ameena akan berisik makanya dia menjauh."
Humaira hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Bian.
*********
Amara mempersilahkan Bian dan Humaira untuk masuk ke dalam rumahnya. Bian tidak langsung mengiyakan. Pria itu malah menatap sekitar rumah.
"Kalau aku masuk, tidak ada serigala kan, di dalam?"
Bian tersenyum. "Ok kalau begitu, aku akan masuk ke dalam kalau serigalanya sudah pergi."
Giliran Humaira yang mengernyit karena tidak mengerti. "Kalian ini ngomongin serigala apaan sih?!"
Amara dan Bian saling pandang lalu tersenyum. "Ibu tirinya." Bian menjawab kebingungan Humaira tanpa ekspresi. "Tapi, orangnya sudah tidak di sini sekarang. Orangnya sudah di kirim ke Arab Saudi karena Papa Arif sadar kalau istrinya seorang serigala yang suka menggigit Rara."
"Hus, kamu ini ngomong apa sih, Dek. Nggak baik ngomong gitu."
"Sudahlah, jangan di perpanjang. Masuk dulu yuk..!" Amara mendorong punggung Humaira agar mau masuk ke dalam rumahnya.
"Kalau Kak Mayra capek, istirahat saja dulu di kamarku. Tapi, kamarnya berantakan dan kecil." Amara berkata sambil membuka gorden yang menutupi jendela rumahnya.
"Aku mah yang penting nyaman. Nggak perduli mau kamarnya kecil atau apa." Humaira berkata sambil mengedarkan pandangannya. "Kamar kamu yang mana, Ra?"
Amara menunjuk kamarnya. Humaira langsung masuk ke kamar yang ditunjuk Amara tanpa diminta dua kali. Gadis itu ternyata lelah karena drama yang bertele-tele dari semalam. Menutup pintu kamar agar bisa istirahat dengan tenang.
__ADS_1
"Papa kemana, Ra?" Bian membuka percakapan setelah cukup lama mereka diam. Tidak terlihat bayangan Pak Arif selama dia duduk di ruang tamu itu.
"Papa mengantar Rissa ngaji, Kak." Amara menatap jam dinding.
"Apa dulu kamu juga diantar ngaji?" Pertanyaan itu spontan keluar dari mulut Bian.
Amara menggeleng sambil tersenyum lemah. "Papa ... Papa dulu terlalu sibuk mencari uang. Tapi, Papa sudah mengakui kesalahannya, Kak. Dan.. aku juga sudah memaafkan Papa. Aku masih bisa belajar sekarang kan? Itu yang di bilang Abah kemarin sama aku, Kak. Tidak ada Kata terlambat untuk belajar. Intinya ada kemauan." Amara menarik nafas panjang mengakhiri ucapannya. Melirik Bian lalu menatap ke lain arah.
Bian hanya tersenyum kecil lalu terdiam. Hanya matanya yang memperhatikan setiap sudut rumah wanitanya itu. Sudah lama mengenal Amara, tetapi baru sekarang ia sampai masuk ke rumah gadis itu.
"Ra,"
"Mm..." Amara menatap Bian. Ia merasa pria itu kurang nyaman di tempatnya. "Kak Bian nggak nyaman ya. Mm.. apa Kak Bian mau pulang?"
Bian menarik nafas dalam. "Mm.. bukan, Ra. Aku baru duduk beberapa menit, kamu sudah berani menyimpulkan. Aku cuman mau ngomong sesuatu sama kamu."
"Dari tadi katanya mau ngomong terus. Tapi, yang mau diomongin tidak kunjuang diucapkan."
Bian tersenyum meringis sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Dari tadi kan Kak Mayra yang jadi pengganggu. Sekarang orangnya sudah tidur. Jadinya tidak ada yang menjadi pengganggu lagi."
Hening..
Amara sedang menunggu apa yang akan diucapkan Bian. Sedangkan Bian masih bingung mau memulai darimana. Pria itu menarik nafas panjang beberapa kali.
"Ra.."
"Iya, Kak."
"Bulan depan aku wisuda. Dan sebulan setelah itu, aku akan berangkat ke Singapura. Sepertinya, aku akan jarang pulang setelah itu."
Amara terdiam menyimak apapun yang akan diucapkan pria itu selanjutnya.
"Kata orang, LDR itu berat, Ra. Kita sama-sama tidak ada pengalaman dalam hal ini. Kamu tidak pernah punya pacar sebelumnya, begitu juga denganku. Tapi, aku ingin kita bisa memegang janji kita di awal kita menjalin hubungan ini. Kita akan selalu menjaga hati satu sama lain. Aku tidak mau ada yang mengkhiantai janji itu." Bian menatap Amara.
"Untuk masalah Nenek, aku harap kamu tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Aku akan berusaha membuat Nenek sadar dan mengerti."
Amara tersenyum samar. "Aku tidak bisa berkata apapun untuk masalah itu, Kak. Aku hanya bisa menyerahkan urusan ini pada Allah. Aku mencintai Kak Bian. Semua orang sudah pasti takut jika dipisahkan dengan orang yang dicintainya. Begitu pun aku, Kak. Tapi, aku berjanji pada Kak Bian. Aku akan selalu menjaga hatiku untuk Kak Bian. Walaupun sekiranya Nenek memintaku untuk meninggalkan Kak Bian. Aku tidak akan meninggalkan Kak Bian. Aku mungkin akan pergi, tapi nama Kak Bian akan selalu ada di sini." Amara menepuk-nepuk dadanya.
"Jangan katakan itu, Ra. Nenek tidak akan berani bertindak sampai sejauh itu."
__ADS_1
Amara hanya tersenyum kecil menanggapi.
*********