Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Ada Apa dengan Bian


__ADS_3

Amara menarik nafas dalam sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Wanita itu sempat berdecak kagum saat melihat rumah besar itu. Rumah berlantai dua dengan gaya klasik modern itu benar-benar menarik perhatiannya. Walaupun kepalanya pusing karena tidak bisa istirahat dengan baik. Namun, gadis itu memutuskan untuk langsung menemui Pak Akmal begitu sampai.


"Kenapa masih berdiri di sini? Masuklah, Ra. Kakek sudah menunggu kedatangan kita di kamar beliau."


Amara tersenyum kaku menatap Bian. "Aku.. aku hanya masih menyesuaikan diri, Kak."


Bian menautkan alisnya lalu tersenyum kecil. "Menyesuaikan diri untuk apa, Sayang? Sebentar lagi kamu akan tinggal di rumah ini. Kakek mewariskan rumah ini padaku. Dan.. Kakek meminta kita untuk tinggal di rumah ini setelah menikah. Untuk saat ini, kamu boleh memilih salah satu kamar yang akan kamu tempati sementara waktu."


"Tidak, Kak."


Bian menatap Amara dengan heran. Wanita itu menolak untuk tinggal bersamanya saat ini. "Kenapa, Ra? Apa suasana rumah ini tidak nyaman untukmu?"


Amara tersenyum kecil. "B.. bukan seperti itu, Kak. Kita belum menikah. Aku hanya ingin menghindari fitnah yang mungkin saja terjadi. Jika kita tinggal bersama sekarang, cobaan dan godaan akan semakin besar. Lagian... aku juga ingin tinggal bersama Papa untuk beberapa waktu." Amara menjawab dengan kepala tertunduk.


Bian terdiam. Ucapan Amara memang benar. Tapi, bagaimana dia akan menjelaskan pada kakeknya tentang hal ini. Sementara kakeknya meminta hal ini dari jauh-jauh hari. Setelah lama terdiam, ia kembali menatap Amara. "Kalau kamu keberatan karena kita belum halal. Aku akan tinggal di Apartemen sementara waktu."


Amara menghela nafas berat. "Kak Bian akan membiarkan aku tinggal di sini bersama Nenek Kak Bian? Untuk tinggal bersama Kak Bian saja aku perlu mempertimbangkan ulang. Apalagi kalau harus tinggal sendiri dengan induk serigala. Apa Kak Bian lupa dengan apa yang sudah dia lakukan padaku?" Membuang pandangannya karena dadanya terasa sesak mengingat kejahatan Bu Fatimah.


Bian kembali terdiam. Pria itu menunduk sambil menggaruk-garuk kepalanya bingung. "Mm... begini saja. Nanti kita bahas lagi hal ini. Sekarang kita masuk dulu. Kakek sudah menunggu kita." Pilihan terakhir yang ditempuh karena tidak tau harus membujuk Amara dengan kalimat apa.


Jika dilihat ke belakang, perbuatan Bu Fatimah memang sudah kelewatan. Orang lain mungkin akan meninggalkan Bian dan memilih untuk hidup tenang walaupun tanpa cinta dari pria itu. Namun, baik Bian maupun Amara tidak ada yang bisa melakukan itu. Perasaan cinta di hati mereka masing-masing sudah terlalu dalam dan sulit untuk berpaling.


Bian tidak bisa memaksa Amara untuk serumah dengan neneknya saat ini. Dia harus siap menunggu sampai wanita itu mengatakan sanggup untuk tinggal bersama Bu Fatimah.


"Kenapa kita tidak bertemu di ruang tamu saja, Kak?" Amara membuyarkan lamunan Bian. Mendongak menatap Bian yang berjalan di sampingnya.


"Hmm.. Kakek sedang sakit, Ra. Beliau tidak bisa berjalan jauh karena fisiknya benar-benar lemah. Lagian, Kakek tidak akan pernah mau menerima kamu di ruang tamu. Baginya, kamu sudah menjadi cucunya. Ruang tamu hanya di peruntukkan untuk tamu-tamu umum saja."


Amara terdiam sambil terus melanjutkan langkahnya. "Terus, kalau aku termasuk tamu apa?" Mencoba membuka candaan. Sudah cukup ketegangan yang terjadi dari tadi.


"Hmm.." Bian yang paham dengan kondisi langsung menyambut baik ajakan Amara itu. "Kamu itu tamu VIP. Eh, salah. Kamu itu tamu VVIP. Kamu kan calon cucu menantu yang..." Bian mengurungkan niat melanjutkan kata-katanya karena handphonenya bergetar.


"Siapa?" Menatap Bian dengan heran. Takutnya pria itu mendapat telepon dari kantor dan dia ditinggalkan sendiri di rumah itu.


"Kak Ayra.." meletakkan jari telunjuknya di depan bibir agar Amara tidak bicara saat dia menjawab panggilan itu. "Assalamu'alaikum, Kak."


"Wa'alaikum salam.. kamu di mana, Dek? Kata Daniel kamu sudah sampai lima belas menit yang lalu. Kakek menanyakan kamu terus nih."

__ADS_1


"Mm.." melirik Amara sekilas. "Aku masih mengajak Rara jalan-jalan, Kak." Berkata sambil menahan senyum. Amara langsung menepis lengan pria itu sambil melototkan matanya.


"Ya Allah, Dek. Kok kamu tega sih?! Kakek menanyakan kamu terus dari tadi pagi. Eh, kok malah enak-enakan pergi jalan-jalan. Cepat kemari atau..."


"Atau apa..?"


"Kamu menyebalkan sekali sih, Dek."


"Hehehe... pintunya terkunci, coba Kak Ayra keluar untuk membukakan kami pintu."


"Maksud kamu apa sih, Dek? Bilang pintu terkunci segala. Pintu selalu terbuka lebar, mana mungkin terkunci. Kamu ini ngomong ngelantur. Belum makan emangnya? Katanya sedang jalan-jalan, sekarang malah minta dibukakan pintu."


"Iya... bagaimana kami mau masuk kalau Kak Ayra tidak mau membukakan pintu?"


"Baik, Kakak akan keluar sekarang. Kakak akan tunggu kamu di depan pintu utama. Kamu harus sudah di rumah ini dalam waktu sepuluh menit."


"Mmm..."


"Dasar, punya adik menyebalkan minta ampun."


Bian tertawa kecil mendengar omelan kakaknya. Memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku jasnya.


Bian mengangkat bahu. "Aku harus tetap tersenyum agar ketampananku tidak berkurang. Kamu juga harus begitu, Ra. Jangan terlalu fokus dengan keadaan, biar kecantikan kamu semakin bertambah." Meletakkan tangannya di atas kepala Amara, lalu menepuk-nepuknya dengan pelan.


Amara menyebikkan bibirnya. "Kak Bian ngelantur terus dari tadi. Pantas saja Kak Ayra kesal sama Kak Bian."


"Tapi, kamu tidak kesal kan sama aku?"


"Ngapain..? Aku nggak berani banyak tingkah."


Bian tersenyum kecil. "Benar-benar calon istri idaman."


"Apaan sih..?"


Mereka menarik nafas dalam bersamaan. Bian menghentikan langkahnya di depan sebuah kamar yang tertutup pintunya.


"Kenapa Kak Bian berhenti?"

__ADS_1


"Mm.." menatap Amara yang terlihat masih bingung. "Ini kamar Kakek."


Amara tersenyum lebar. Tangannya terangkat untuk mengetuk pintu. Namun, Bian menahan tangan itu. "Jangan diketuk, Sayang."


"Loh, kenapa? Kan Kak Bian bilang ini kamar Kakek."


"Iya, tapi kita tunggu Kak Ayra yang buka pintunya. Apa kamu lupa, dia bilang akan membukakan pintu untuk kita tadi. Ini sudah berlalu tiga menit." Melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Dia itu suka tidak tepat waktu sejak memiliki dua anak."


Amara menghela nafas berat seraya menggeleng-geleng dengan pelan. Entah apa yang diinginkan Bian dengan kelakuannya yang seperti ini. "Terus sampai kapan kita akan menunggu, Kak?"


"Tunggu sampai Kak Ayra keluar."


"Mm.. bagaimana kalau Nyonya Besar tiba-tiba muncul di sini?" Amara menatap sekitar.


"Nenek ada di dalam. Tapi kamu tenang saja. Nenek tidak akan berani macam-macam sama kamu."


"Tapi..." Amara menunduk ragu. Ini akan menjadi pertemuan pertamanya dengan Bu Fatimah setelah wanita itu membuangnya.


"Hei.. jangan takut, Sayang... aku ada di sini." Mengangkat dagu Amara dengan jari telunjuknya. Namun, ia langsung menurunkan kembali tangannya. "Aku tidak akan membiarkan Nenek melakukan apapun untuk menyakiti mu. Jangankan bertindak, bicara pun tidak boleh selama kita ada di dalam."


Amara tersenyum samar. "Terimakasih, Kak." Menatap ke arah pintu yang masih tertutup rapat. "Apa.. apa Ibu juga ada di sini?" melirik Bian lalu kembali menatap ke depan.


"Iya, Ibu ada di dalam. Ibu sudah di sini sebelum aku berangkat menjemputmu. Aku sudah bilang, sakit Kakek yang sakarang agak berat, itulah mengapa semua anggota keluarga diminta untuk tinggal di sini." Jelas Bian. Hal itu membuat Amara mengangguk-angguk mengerti.


Ceklek..!


Pintu terbuka dari dalam, menampakkan wajah kusut Chayra. Wanita itu terkejut saat melihat Bian dan Amara sudah berdiri di depan pintu kamar kakeknya.


"Kak Ayra telat delapan menit. Kami sudah menunggu Kakak cukup lama." Protes Bian.


Namun, Chayra tidak memperdulikan protes adiknya. Ia malah menatap Amara dengan haru. Perlahan, tangannya terangkat dan meraba wajah Amara. Ia merasa sedang bermimpi melihat gadis itu di depannya. "Rara... ini benar kamu kan, Dek? Kakak tidak sedang bermimpi kan?"


"Kak Ayra..." Amara menahan tangan Chayra yang masih meraba pipinya. Lama saling pandang, sebelum akhirnya berpelukan karena tidak kuat menahan rasa rindu yang sudah di tahannya cukup lama.


Bian langsung mendengus. "Sesama wanita enak ya, disaat kalian saling merindukan, kalian bisa melepas rindu seperti ini."


Chayra langsung melepaskan pelukannya, menatap adiknya dengan heran.

__ADS_1


*********


__ADS_2