Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Trio Mawar


__ADS_3

Setelah beberapa jam bermain di lapangan, akhirnya permainanpun usai mendengar peluit panjang dari seorang wasit yang memimpin jalannya pertandingan seru tadi. Dan pertandingan latihan itu dimenangkan oleh tim Raka dengan skor yang cukup memuaskan. Para penonton bersorak histeris memberikan tepuk tangan yang meriah. Semuanya pun bubar meninggalkan lapangan kembali menjalankan aktivitas masing-masing.


"Menarik sekali. Kau berhasil mengalahkan mereka. Itu awal yang sangat bagus!" seru Antoni yang ditujukan pada Bagas, anggota baru di tim mereka sambil melepaskan bajunya mengganti dengan baju lain. Otot-otot tubuhnya terlihat sangat mengesankan.


"Itu masih pemanasan. Pertandingan sesungguhnya adalah bulan depan. Jadi bersiap-siaplah," tambah Dodi dengan santai. Ia mengelap keringat di wajahnya duduk di kursi panjang.


Raka sependapat dengan teman-temannya. "Lain kali jangan sungkan untuk bergabung dengan tim basket kami. Kau akan jadi tim inti nantinya," ia ikut meramaikan suasana. Ia sudah mengganti bajunya sekarang beralih membereskan dan merapikan isi tasnya.


Bagas mengangguk sambil tersenyum puas memperlihatkan lesung pipinya yang kecil. "Aku tidak sepintar kalian bermain. Aku harus banyak belajar lagi" balasnya merendahkan diri. Satu-satunya yang dapat ia katakan hanya itu.


Raka menghampiri dan menepuk bahu Bagas dengan akrab. "Hei teman, kau itu sangat luar biasa. Kau sangat gesit melebihi Dodi" pujinya memberikan senyuman manisnya.


Yang lainya juga sependapat.


Dodi sependapat. "Kemampuan menghindarmu juga sangat lincah. Kau bisa kita jadikan sebagai pencetak skor selain Raka. Kau sangat diperlukan dalam tim ini" Kata Dodi ikut memuji. Senyum mengembang di bibirnya.


Semua mengangguk membenarkan. Menunjukkan ketertarikan kepada Bagas.


"Kita harus merayakannya. Dan juga pesta untuk penyambutanmu, Bagas. Sekarang kau adalah bagian dari tim Angkasa. Bagaimana?" seru Putra menimpali memberi usul.


"Terima kasih" balas Bagas merasa tersanjung dengan itu.


Yang lainnya sependapat dengan Putra.


"Ide bagus. Sudah lama kita tidak melakukannya" sahut Antoni. "Bagaimana dengan kantin Bi Endang saja. Dua jam lagi kan ada jadwal kuliah juga" usulnya.


"Tidak masalah" sahut Raka setuju.


Mereka memutuskan untuk melakukannya hari ini juga. Ketika Raka hendak menikmati kemenangannya bersama teman-temannya, tapi ia sedikit disintakkan dengan kehadiran pria berbadan kurus baju kotak-kotak datang menghampirinya yang sudah menunggu dari tadi di depan ruang ganti. Semua memandang heran. Memandangnya dengan saksama.


"Raka. Ada tiga orang gadis yang menunggumu ditaman" kata pria kurus itu memberitahu sebelum Antoni membuka suara.


Semuanya kembali pasang wajah heran menatap kearah Raka bersamaan.


"Benarkah? Siapa mereka?" tanya Antoni lebih dulu dengan penasaran.


"Tampaknya mereka penggemar beratmu. Datang dan lihatlah sendiri" jelas pria kurus tadi lalu berlalu pergi begitu saja.


Kelima teman Raka langsung memberi pandangan nakal. Mereka sudah tau dan mengerti sendiri jika hal itu sering terjadi padanya. Jadi mereka memaklumi keadaan ini.


"Lihatlah. Sekarang salah satu dari gadis yang tergila-gila padamu ingin menemuimu. Mereka nekad juga ternyata" seru Dodi antusias.


"Pergilah, temui mereka" seru Putra menambahkan sambil menyenggol bahu Raka.


Raka menggeleng kecil. "Tidak. Aku tidak akan pergi. Biarkan saja mereka" balasnya dengan cuek.


"Ayolah, jangan seperti itu. Mereka mungkin sudah menunggumu dari tadi. Apa kau tidak penasaran?" kata Dodi membujuk.


"Benar. Kau bisa menyusul kami nanti" timpal Putra kemudian sependapat dengan Dodi.


Raka jadi luluh oleh mereka dan menuruti. "Hmm" ia mengangguk. "Baiklah karena kalian memaksa" katanya.


Akhirnya Raka memutuskan pergi menemui gadis itu di taman yang telah dijanjikan setelah bedebat dengan temannya sebentar. Ia datang juga karna sedikit penasaran dengan gadis yang ingin menemuinya bertiga sekaligus. Saat sampai disana, Raka sedikit kaget begitu dilihatnya tiga gadis itu sedang memperebutkan sebuah cermin kecil sambil merias wajah mereka. Mereka kaget dan terperogok saat Raka sedang menertawakannya. Ketiga gadis itu jadi malu-malu dan terlihat gugup.


Sena gadis berambut pirang yang berdiri di tengah menyapa Raka duluan dengan senyuman yang lebar. Bulu matanya yang lentik mengedip manja. Meski sebelumnya ia masih sempat menata rambutnya dibiarkan terjurai panjang mencoba menarik perhatian Raka.


"Kau sudah datang" kata Sena berbasa-basi menutupi gugupnya. Bibirnya yang merah merona memberi senyum manisnya kepada Raka. Penampilannya juga sangat feminim tidak mempengaruhi Raka agar tertarik dengannya.

__ADS_1


Raka tampak segar dan tampan sekali dengan baju lengan pendek biru laut dan celana panjang berwarna krem yang dikenakannya itu. Angin sepoi-sepoi menyapu sehelai rambut ikalnya melintasi keningnya. Tapi kali ini bukan ia sedang menebar pesona, tapi justru tampak terkejut dengan pemandangan yang di dapatkannya saat ini. Ketiga gadis yang tak asing lagi baginya baru saja membuat sebuah lelucon yang lucu.


"Bisa-bisa kaca yang kalian perebutkan jadi pecah. Itu hal yang sangat memalukan" ejek Raka sambil menahan tawanya. Menatap mereka bergantian yang tanpa segan-segannya menebar pesona. Ia juga memperhatikan penampilan ketiga gadis itu yang berlebihan. Tidak menarik sama sekali baginya.


Mereka bertiga jadi salah tingkah dan masih merapikan penampilannya di depan Raka. Ternyata ketiga gadis itu adalah Trio Mawar. Sebuah geng yang cukup terkenal dikampus. Mereka dikenal dengan kebiasaan memamerkan barang-barang mewah dan berpenampilan paling mencolok di kampus. Parasnya juga cantik, tapi terlalu berdandan berlebihan. Sehingga tak heran, banyak juga mahasiswa pria dikampus suka menggoda dengan menjahili mereka ketika berpapasan. Mereka malah senang saat banyak pria yang tertarik padanya.


Sena merupakan leader dari geng mereka berdehem sebentar saat setelah disadarinya ia melakukan sedikit kesalahan tadi. Memutar otak untuk mencairkan suasana yang terlanjur kaku dan awalan yang cukup memalukan ini. Melupakan kejadian tadi dengan kembali melempar senyum manisnya yang menawan.


"Apa nanti malam kau sibuk?" tanya Sena segera memecah keheningan. Ia mengusap rambutnya dijepitnya ke telinga agar terlihat sedikit ada kesan manisnya.


Raka beralih pada Sena sekarang. Ia mendengar jelas ajakan Sena padanya. "Tidak. Memangnya kenapa?" Raka bertanya dengan kening berkerut tipis menatap ke arah Sena. Ia bahkan sama sekali tidak tertarik dengan kelakuan Sena barusan.


Sena senang mendengarnya. Tanggapan Raka jadi menambah semangatnya. Ia sudah satu langkah maju dari teman-temannya. Setelah dirasa ini momen yang tepat, ia pun mengutarakan maksud dan keinginannya.


"Aku ingin mengajakmu kencan malam ini" ajak Sena dengan penuh keberanian. Ia kembali menyisir rambutnya yang pirang dengan cekatan. Matanya berbinar-binar. Ia sangat terlihat percaya diri untuk mengatakannya. Tak ada sedikitpun keraguan di pikirannya.


Raka malah tertawa kecil mendengar kalimat yang diucapkan Sena barusan. Tawa kecil sekilas bergemuruh dalam lubuk dadanya. Raka tidak menyahut. Ia hanya diam begitu saja. Seolah-olah ia seperti diajak bercanda.


Sena menelan ludah dan tertegun. Ia langsung menanyakan artian dari sikap Raka padanya. Sesuatu yang dirasa ada yang salah. "Kenapa? Apa ada yang lucu?" matanya menatap lekat ke arah Raka. Ia ingin jawaban atas pertanyaannya.


"Tidak" Raka menggeleng kecil. "Aku hanya kaget mendengarnya, seorang wanita mengajak ku untuk berkencan, apalagi wanita itu adalah dirimu" lanjutnya dengan berterus terang.


Sena merasa tersinggung dan hanya menahan malu dengan tersenyum semanis mungkin. Sekarang ia menatap Raka dengan sangat serius. Masa bodo jika itu merupakan hal yang memalulan yang pernah dilakukannya meski yang didapat hanya perlakuan dingin saja. Ia pantang menyerah.


"Aku tidak bercanda. Apa kau mau?" kata Sena kemudian kembali menawarkan.


Belum sempat menjawab, tiba-tiba Fira memotong pembicaraan Sena sebelum Raka menjawab ajakan Sena. Entah apa yang sedang dipikirannya. Ia senekat itu mengacau pembicaraan mereka.


"Jangan terima ajakan dia" cegahnya segera mencuri kesempatan sebaik mungkin. Ia maju satu langkah. "Lebih baik denganku saja. Aku ingin mengajakmu nonton berdua malam ini. Aku juga sudah membeli tiketnya. Satu untukmu dan satu lagi untukku" Fira bahkan memperlihatkan tiketnya dengan begitu antusias. Tak kalah hebatnya mencoba merayu Raka untuk berkencan dengannya. Sorot matanya penuh pengharapan.


"Oh ya?" balas Raka terkesima. "Apa filmnya seru?" ia bertanya seakan-akan tertarik dengan ajakan Fira.


Rona wajah di pipi Fira menjadi merah seperti kepiting rebus begitu Raka menanggapi ajakannya. Ia tersenyum malu-malu dan berseri-seri.


Fira mengangguk membenarkan. "Tentu saja. Aku mengajakmu menonton film action dan romantis terbaru. Tayang perdana malam ini. Kau pasti suka" balasnya dengan senang hati.


Tapi Raka tak menjawab kali ini. Hanya saja dia masih berdiri mematung ditempatnya sambil mengeluhkan apa yang terjadi padanya saat ini. Sungguh, ia sangat tidak minat sama sekali.


Sena bersungut-sungut mendengar pembicaraan mereka. Apalagi Fira berani menikungnya dengan sengaja. Sementara Raka tampak berpikir-pikir dengan ajakan Fira tadi. Namun dengan segera Mona bersuara langsung memotong pembicaraan dan mengambil alih. Gilirannya mengacaukan ajakan kedua temannya itu. Ia juga sama halnya dengan kedua temannya itu.


"Bagaimana kalau kau pergi bersamaku melihat pertunjukkan sirkus nanti malam? Aku dengar gajahnya pandai menari" seru Mona pada Raka dengan yakin. "Aku sudah punya tiket VIP-nya. Kita bisa menonton berdua"


Sena dan Fira marah dengan ulah Mona. Kelihatan sekali mereka saling ingin memperebutkan Raka untuk di ajak kencan. Dan terjadilah adu mulut diantara mereka bertiga. Sekarang Raka jadi terabaikan begitu saja. Ia hanya berdiri menyaksikan.


"Hei. Kalian sadar apa yang sedang kalian lakukan sekarang!" seru Sena dengan memekik dengan nada pelan. Ia menampakkan wajah marahnya kepada kedua temannya itu. "Kenapa jadi seperti ini?" tatapannya sangat tajam.


Suasana berubah mendadak tegang dan mencekam. Mona dan Fira jadi kikuk dan terdiam ketakutan begitu melihat raut wajah Sena kelihatan marah. Keduanya tak berani bersuara, menatap satu sama lain. Tapi sesaat kemudian Mona mencoba melawan.


"Aku tidak punya pilihan. Aku juga ingin pergi berkencan dengan Raka. Apa itu tidak boleh?" bantah Mona.


Kali ini Sena terkejut melihat Mona berani melawannya sekarang. Ia melototi Mona. "Apa? Apa yang kau lakukan! Jelas-jelas ini tidak masuk akal, kalian ingin berkencan juga dengan Raka?" ia menghempa udara membuang muka.


"Apa salahnya, aku juga ingin berkencan dengannya? Semua orang juga menginginkannya" Mona bersikeras membela diri. "Aku juga sudah mempersiapkannya selama ini"


Mata Sena bulat membesar. Karna sepertinya kedua temanya tengah bermain-main dengannya. Ia dibuat geram oleh Mona hingga membuatnya semakin mengomel.


"Apa kau tau aturannya? Kau akan dikeluarkan jika melanggarnya. Aku tidak percaya kalian menipuku seperti ini. Ini tidak bisa dibiarkan" ketus Sena dengan nada mengancam. Ia memberikan sikap menantang.

__ADS_1


"Kenapa bisa begitu? Jelas ini tidak adil. Apa kau mengancam kami?" Mona melongo kaget."Kau tidak bisa memutuskan sendiri seperti itu. Kita lihat saja siapa yang akan dililih Raka" timpal Mona tidak percaya.


"Tentu saja aku yang dipilihnya" kata sena dengan percaya diri.


"Jangan terlalu percaya diri. Belum tentu dia akan memilihmu. Mungkin saja dia akan memilihku" bantah Mona segera.


"Apa?" Sena menahan amarahnya.


Sementara Fira tampak kebingungan sendiri karena kedua temannya tiba-tiba adu mulut saling memperebutkan Raka. Fira langsung ambil alih untuk menghentikan pertengkaran ini.


"Hei kalian! Kenapa malah bertengkar seperti ini? Bukan waktunya untuk bertengkar. Kalian sudah melupakan sesuatu, Raka sedang memperhatikan kita" bisiknya mulai kelihatan panik.


Sena dan Mona terdiam dan tersadar. Dilihatnya Raka yang hanya diam menyaksikan kejadian itu.


"Kau juga begitu. Kau juga ikut mengganggu" kata Sena menyalahkan Fira.


"Apa?" Fira tidak terima. "Kenapa kau berbicara seperti itu? Kau menyalahkanku?" ia tidak terima dengan ucapan Sena. Padahal dia sudah berusaha menahan diri dari tadi.


Raka memandang mereka dengan tatapan dingin. Membiarkan beberapa saat ketiga gadis itu beradu mulut satu sama lain, saling menyalahkan dan saling memperebutkan. Setelah ketiganya semakin bersiteru, akhirnya ia angkat bicara dengan kesal disaat orang-orang disekitar mulai memperhatikan mereka dengan tatapan heran.


"Apa-apaan ini! Aku tidak tahan lagi melihat kalian bertiga!" ketus Raka dengan lantang membuat ketiga gadis itu kaget bukan main. Ditatapnya ketiga gadis itu dengan tajam secara bergantian. Tatapan yang penuh kebencian dan rasa muak.


Sontak mereka bertiga terdiam dan menunduk.


"Aku tidak akan pergi bersama kau, kau dan juga kau!" Alex menunjuk mereka bertiga satu per satu. "Jangan coba lakukan hal ini lagi padaku. Hh! Membuang waktuku saja" lanjutnya dengan penuh kekesalan. Ia menolak mentah-mentah ajakan mereka.


Raka yang merasa tidak nyaman langsung pergi begitu saja. Ia mengeluhkan dirinya yang tanpa disengaja dipermalukan oleh mereka. Tak peduli ketiga gadis itu terus memanggilnya dan meminta maaf, ia tetap menatap lurus kedepan dan mempercepat langkahnya meninggalkan tempat itu. Ia bernapas dingin menembus lorong kampus dan menemui teman-temannya yang sudah menunggu.


Belum selesai dengan perdebatan tadi, Sena begitu kesalnya setelah melihat kepergian Raka dan menunjukkan kekecewaannya. Ditatapnya kedua temanya dengan tajam yang tak menyangka hal ini akan terjadi.


"Senang sekarang!" Sena mengangkat alisnya. Ia sedang mengintrogasi kedua temannya itu.


"Ya, dan puas juga" jawab Mona singkat, cepat dan spontan. Ia takut dengan tatapan Sena terhadapnya.


Lihatlah kelakuan ketiga gadis itu. Mereka terlihat masih seperti anak kecil yang bertengkar memperebutkan mainan. Dan akhirnya tidak ada yang menang dalam pertarungan ini. Justru apa yang diinginkan telah gagal.


"Apa yang telah kalian lakukan padaku? Semuanya jadi hancur! Semua yang telah aku rencanakan tidak ada artinya. Aku hampir gila karena kalian mengacaukannya" umpat Sena menyalahkan Fira dan Mona.


"Kenapa kau terus menyalahkan kami?" Mona bertanya tanpa rasa bersalah.


"Jika saja kau tidak ikut campur, mungkin aku sudah membicarakan tempat kencan kami"


"Kita tak ada bedanya. Tak satupun diantara kita yang diterima oleh Raka. Jadi terima saja kenyataannya bahwa kita sudah ditolak" seru Mona.


"Apa katamu?" mata Sena bulat membesar.


"Diam!" Fira jadi penengah. "Lebih baik kita meninggalkan tempat ini, semua orang sedang memperhatikan kita sekarang" Fira mendesah pendek.


"Oh tidak" keluh Mona saat menyadari hal itu.


"Aku tidak tahan lagi. Sebaiknya aku pergi saja dari sini. Kalian teruskan saja pertengkaran ini. Aku pergi" Fira bergegas beranjak dari tempat itu tidak peduli jika kedua temanya mau ikut atau tidak. Langkahnya semakin cepat karena terlanjur malu.


"Hei, tunggu aku!" sorak Mona kemudian menyusul tanpa berpikir panjang. Ia menyamai langkahnya dengan Fira.


Tanpa berfikir panjang, akhirnya Sena menyusul juga. "Kalian, jangan tinggalkan aku" soraknya.


Kejadian memalukan ini sangat diluar pemikiran mereka. Siapa yang menyangka akan terjadi seperti ini. Hingga membuat mereka frustasi dan salah tingkah.

__ADS_1


__ADS_2