Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Perdebatan


__ADS_3

Masalah dengan Khanza memasuki babak baru. Bian benar-benar tidak menghiraukan peringatan kakeknya untuk tidak mempermasalahkan masalah yang di buat Khanza.


"Nak, apa kamu benar-benar..."


"Kakek jangan terus-terusan menanyakan itu." Potong Bian. Melirik ke arah tangan kakeknya yang masih bertengger di atas pundaknya.


"Tapi, Nak. Bagaimana kalau Nona Khanza melaporkan kamu karena kamu pernah mencekiknya? Mereka punya bukti hasil visum."


"Terserah..." Bian menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Sebenarnya dia juga sudah bosan. Tapi, dia khawatir wanita itu semakin berani bertindak kalau perbuatannya itu tidak di usut tuntas.


Bian mendongak menatap kakeknya. "Aku kan memang mencekik lehernya waktu itu. Iya.. kalau memang dia melaporkan perbuatanku itu, aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku itu. Aku tidak mau lari dari masalah."


"Iya sudah. Terserah kamu saja kalau begitu." Pak Akmal langsung berlalu karena upayanya gagal untuk yang kesekian kalinya. Bian benar-benar teguh pendirian.


Amara yang memperhatikan dari kejauhan apa yang terjadi, berjalan mendekati suaminya. Duduk di samping Bian dengan hati-hati. "Apa yang terjadi, Mas?" Menepuk pelan paha suaminya.


"Mm.. itu, Ra. Kakek memintaku untuk mencabut laporanku pada Nona Khanza."


"Terus..."


"Iya.. aku nggak mau lah, Sayang. Ngapain capek-capek dari kemarin kalau pada ujungnya laporannya di cabut. Kirain aku nggak capek apa, ngurus begituan."


Amara mendengus, "Memangnya kamu lari maraton untuk melakukan itu? Aku lihat, kamu hanya nyantai di rumah. Paling cuman lihat handphone untuk mengetahui perkembangan kasus itu. Kamu tidak capek kok, Mas. Yang capek itu Pak Daniel, karena dia yang mengurus semuanya."


"Eh, ngomongnya enak banget, Sayang.." Bian memperbaiki posisi duduknya. "Aku memang tidak kemana-mana, Ra. Tapi, kepalaku yang kemana-mana. Mikir juga capek, Sayang. Belum lagi nggak ada vitamin yang masuk." Tatapan Bian berubah sendu.


Amara mengambil bantal sofa dan menutup wajah suaminya. "Liburnya masih panjang, Mas. Besok baru cukup satu bulan. Itu berarti liburnya masih dua bulan lagi." Tersenyum jahil menggoda suaminya.


"Udah ah, kamu ini kayak senang banget melihat suami kamu menderita."


"Nggak kayak gitu, Mas. Kamu aja yang sok menderita kayak orang sendirian yang mengalaminya. Semua laki-laki yang berstatus suami juga mengalami hal serupa. Kalau istrinya melahirkan, pasti libur panjang lah." Amara melengos kesal.


"Kalau kayak gini, aku nggak jadi mau punya banyak anak. Semakin sering kamu melahirkan, aku akan semakin sering libur mendapatkan asupan gizi."


Amara menghela nafas berat seraya beranjak bangkit."Kamu wudhu sana, Mas. Setelah itu shalat. Pikiran kamu ngeres terus. Kurang zikir kayaknya." Meninggalkan Bian yang hanya tersenyum meringis mendengar omelannya.


********


Bian menautkan alisnya saat Satpam rumahnya membuka pintu gerbang dengan lebar. Ia baru saja kembali dari Masjid setelah selesai menunaikan shalat subuh. Siapa yang bertamu ke rumahnya sepagi ini. Ia akhirnya menunggu mobil itu masuk ke halaman rumahnya karena tidak mau menyimpan penasaran.


Bian melongos saat melihat mobil Daniel yang masuk. Berselang beberapa detik, Daniel keluar dengan sedikit tergopoh. Pria itu bahkan memakai baju koko sama seperti Bian.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, selamat pagi, Tuan." Menunduk sopan di hadapan Bian.


"Wa'alaikum salam.. kita bicara di dalam." Bian langsung masuk ke dalam rumahnya. Mempersilahkan Daniel untuk duduk di ruang tamu. Sementara dia sendiri pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.


Daniel memperbaiki posisi duduknya saat melihat Bian kembali dan sudah memakai pakaian santai.


"Ada hal mendadak apa sehingga Kak Daniel datang sepagi ini?" Bian duduk di samping Daniel dan menatap asistennya itu dengan serius.


"Ini masalah Nona Khanza, Tuan. Pak Edward berniat datang kemari untuk minta maaf secara pribadi pada Tuan sekeluarga atas kasus yang yang menimpa putrinya. Tapi.. saya tidak berani mengiyakan permintaannya itu, karena belum meminta persetujuan pada Tuan. Pak Edward bahkan ingin datang sekarang. Tapi, saya mencegahnya karena ini masih terlalu pagi. Saya juga khawatir, kalau terjadi hal yang tidak diinginkan dan itu mengganggu istirahat Nyonya dan bayinya."


Bian mengernyit mendengar ucapan Daniel. "Kenapa Kak Daniel tidak memberitahukan lewat telepon saja? Kenapa harus datang ke rumah sepagi ini. Kak Daniel juga butuh istirahat."


Daniel menunduk malu. "Ah, saya hanya merasa tidak sopan kalau memberitahukan hal ini lewat telepon. Pak Edward juga sedikit memaksa. Itulah mengapa saya segera kemari. Saya khawatir mereka langsung datang dan mengganggu istirahat Tuan."


Bian menghela nafas berat. Beberapa kali bertemu dengan Pak Edward, ia sudah bisa membaca sifat orang itu. "Masalah Perusahaan, bagaimana?" Sengaja mengalihkan pembicaraan karena tidak mau membahas Khanza dan papanya terlalu lama. Mengingat mereka hanya menimbulkan rasa sakit hati. Belum lagi, dia baru selesai shalat. Terasa sangat tidak pantas mengingat hal yang dibencinya ketika shalat baru saja selesai didirikan.


"Perusahaan.. alhamdulillah baik-baik saja, Tuan. Tuan Besar juga datang setiap hari untuk memantau keadaan Perusahaan. Beliau juga tidak henti-hentinya memuji hasil kerja Tuan yang minim sekali dengan kecacatan. Menurut beliau, hasil kinerja Tuan hampir mendekati kata sempurna."


Bian tersenyum kecil mendengar pujian Daniel. "Alhamdulillah kalau Kakek suka. Itu berarti tidak banyak yang perlu diperbaiki lagi."


Daniel melirik ke arah handphonenya saat benda gepeng itu bergetar ditangannya. "Tuan, Pak Edward menghubungi saya lagi."


"Apa saya perlu mengaktifkan loudspeakernya, Tuan?"


"Terserah Kak Daniel. Aku percaya pada Kak Daniel."


"Mm.." Daniel akhirnya mengaktifkan loudspeakernya agar Bian lebih yakin


Dengan ragu, Daniel menjawab panggilan itu. Orang yang dihadapinya saat ini sangat keras kepala dan selalu memaksakan kehendaknya sendiri. Ia hampir putus asa saat Pak Edward terus menghubunginya sejak semalam karena memaksakan untuk menemui Bian.


"Halo, Daniel.. apa kamu sudah bicara dengan Bian?" Suara Pak Edward terdengar tidak sabaran.


"Mm.." Daniel melirik Bian. "Saya..."


"Ah, kamu terlalu lambat. Aku akan datang ke rumahnya sekarang."


"Saya sedang di rumah Tuan sekarang. Saya membuang rasa malu saya bertamu terlalu pagi demi memenuhi permintaan Pak Edward."


"Memang itu yang harus kamu lakukan kan. Untuk apa Bian membayar kamu mahal-mahal kalau kamu tidak becus menjadi asistennya. Kamu harus patuh seperti papamu yang mengabdikan seluruh hidupnya pada keluarga Akmal. Kamu juga seharusnya jadi sopir saja seperti papa kamu. Kamu terlihat kurang pantas untuk menjadi asistennya Bian."


Daniel membuang nafas dengan kasar. Edward benar-benar menguras emosinya. Sejak semalam, pria itu berulang kali mengucapkan kata-kata yang kurang enak di dengar padanya. Sepertinya, Edward melampiaskan rasa sakit hatinya pada Daniel karena tidak berani melakukan itu pada keluarga Akmal. "Terserah Pak Edward mau bilang apa. Kalau Pak Edward merasa Pak Edward yang lebih pantas menjadi asistennya Tuan muda, kenapa Bapak tidak melamar menjadi asistennya Tuan Muda?"

__ADS_1


"Jaga omongan kamu, Daniel!" Edward meninggikan suaranya.


Bian menahan senyum. Apa Tuan kamu masih belum turun untuk memberikan jawaban atas permintaanku itu?"


"Tuan Muda sedang bersamaku, Pak."


"Apa...?!" Hening sejenak. "K.. kenapa.. kenapa kamu tidak bilang dari awal?"


"Kenapa menyalahkan saya? Pak Edward sendiri tidak menanyakan itu. Lagian, dari tadi Bapak hanya sibuk mengkritik saya. Kalau Bapak benar-benar berkenan untuk datang minta. Tuan Muda bilang.." Daniel menarik kertas yang baru saja di sodorkan Bian. "Pak Edward harus mengetahui adab bertamu. Ini perintah langsung dari Tuan Muda. Terus.. rumah Tuan Muda hanya menerima tamu di atas jam delapan pagi. Di bawah jam segitu, tamu akan ditolak kedatangannya."


"Lalu kamu..."


"Ada apa dengan saya, Pak?" Daniel menatap Bian sambil menahan senyum. Bian mengacungkan jempolnya pada Daniel. Bian terlihat sangat menikmati perdebatan Daniel dengan Edward.


"Kamu datang bertamu sepagi ini."


"Ah, kalau saya bukan tamu di rumah ini, Pak. Saya kan asistennya Tuan Muda. Saya hanya datang kalau ada hal penting yang perlu di sampaikan. Jadi, Tuan Muda tidak bisa menolak kedatangan saya jam berapapun itu."


"Kamu..."


"Apa ada yang perlu di tanyakan lagi, Pak?"


"Kenapa kamu menyebalkan sekali, Daniel?"


"Saya tidak merasa seperti itu, Pak. Saya hanya menyampaikan apa yang disampaikan Tuan Muda."


"Aku tidak mendengar suara Bian di sana. Apa kamu tidak sedang membohongiku?"


"Saya tidak perlu melakukan itu, karena itu adalah hal yang tidak bermanfaat untuk saya. Berbohong itu hanya akan merusak citra saya sebagai asisten Tuan Muda yang selalu menjunjung tinggi kejujuran. Kalau tidak ada yang mau Bapak tanyakan lagi, saya akan tutup teleponnya, karena saya harus bersiap untuk ke kantor."


"Kamu jangan ngawur, Daniel. Ini baru jam enam pagi."


"Saya selalu berangkat jam tujuh pagi, Pak. Sebelum berangkat, saya harus mempersiapkan banyak hal terlebih dahulu."


"Oh, baiklah kalau begitu. Terimakasih atas bantuannya, selamat pagi."


"Selamat pagi."


Daniel meletakkan handphonenya sambil tersenyum penuh kemenangan pada Bian.


*********

__ADS_1


__ADS_2