Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Buah dari Sebuah Kesabaran


__ADS_3

Dua bulan kemudian...


Amara memasuki kamar putrinya dengan hati-hati karena takut membangunkan Adreena yang sedang tidur siang. Hari ini, usia Adreena memasuki bulan ke empat. Anak itu sudah aktif membolak-balikkan tubuhnya sendiri.


Amara terkejut saat mendapati suaminya sedang tidur pulas di samping Adreena.


"Mas," menggoyang-goyang tubuh suaminya. Suaranya sangat pelan karena takut putrinya terbangun.


"Mm..." Bian mengangkat sedikit kepalanya. Memicingkan mata menatap ke arah istrinya. "Ada apa, Ra?"


"Kenapa kamu tidur di sini? Kalau Adreena bangun karena suara nafas kamu, bagaimana?"


"Hmmm..." merebahkan kembali kepalanya. "Aku mau nabung tenaga dari sekarang untuk persiapan nanti malam."


"Maksudnya?" Berjalan mendekat pada Bian. Duduk di samping pria itu menunggu jawaban dari pertanyaannya. Namun, jawaban yang ditunggu tak kunjung di dapatkan karena Bian sudah memejamkan kembali matanya. "Ish," menarik pelan pipi Bian karena kesal ditinggal tidur oleh suaminya.


"Sakit, Ra. Kamu ini kenapa sih? Kayak orang yang nggak senang aja lihat suaminya bersantai." Menggosok-gosok pipinya tanpa membuka mata.


"Kamu ditanya malah tidur, Mas."


"Ngantuk, Sayang. Nanti malam kamu kan sudah janji mau mengizinkan aku buka puasa. Makanya aku tidur siang, biar full energi nanti pas buka." Membuka sebelah matanya untuk melihat reaksi istrinya. Menahan senyum saat melihat Amara melototkan matanya sambil menelan ludahnya dengan susah payah.


"K.. kamu masih ingat itu, Mas?"


"Mana mungkin aku lupa, Ra. Sudah berapa bulan aku menahan diri. Dari Adreena lahir sampai dia bisa senyum kayak sekarang. Setiap hari aku selalu menghitung."


Amara beranjak bangkit seraya menghela nafas berat. "Terserah kamu dah, Mas. Minggir dulu sana. Kalau mau tidur, istirahat di kamar saja. Anak kamu bangun tuh, mau mimik."


"Masa sih.." mengangkat kepalanya untuk melihat putrinya. "Dia masih merem, Ra." Sambung Bian seraya merebahkan kepalanya kembali.


"Ini sudah jamnya, Mas. Dia udah tidur lebih dari dua jam."


"Iya.. iya.." Bian menggeser tubuhnya, memberi ruang untuk Amara agar bisa menyusui Adreena.


"Nanti malam kamu harus memberikan bekal yang cukup untuk Adreena sebelum aku buka puasa."


"Ish, apaan sih, Mas. Kamu jangan bahas begituan terus apa. Ini anak kamu masih kecil."


Bian mendengus. "Orang dia nggak paham yang begituan. Memeluk tubuh Amara yang sudah rebahan di sampingnya. "Aku cuman nggak mau buka puasaku terganggu nantinya, Ra." Menenggelamkan wajahnya di leher istrinya.


"Iya, nanti aku atur kondisinya. Kok aku jadi kasihan sama kamu, Mas." Menahan senyum karena baby boy Bian terasa bangun dati tidur panjangnya. "Mundur dikit dulu, Mas. Adik kamu mengusik ketenanganku. Minta dia bangun nanti malam, jangan sekarang."


"Mm.. kalau bisa sekarang, ngapain harus tunggu sampai nanti malam."


Amara tersenyum meringis. Menggaruk-garuk kepalanya karena bingung. Antara kasihan mau memberi suaminya sekarang, tapi anaknya sudah mulai menggeliat karena lapar.


"Boleh kan, Ra?"


"Mm.. tapi Adreena belum mimik, Mas. Kalau aku kasih kamu sekarang. Yang ada Adreena akan mengganggu di tengah acara buka puasa kamu."


"Aku akan tunggu sampai kamu selesai memberinya ASI. Insya Allah, aku mau menunggu asalkan diizinkan berbuka sekarang." Menatap istrinya dengan tatapan memohon.


"K.. kamu serius, Mas?"


"Iya, Ra." Melirik jam tangannya. "Waktu ashar satu jam lagi. Jika kamu pandai membagi waktu. Maka kamu akan membagi adil antara aku dan Adreena. Untuk aku tiga puluh menit dan untuk Adreena tiga puluh menit." Tersenyum penuh arti pada istrinya.


"Wah, ternyata suamiku pandai sekali." Mencubit gemas pipi Bian lalu membalik tubuhnya menghadap putrinya yang ternyata sudah membuka mata. "Hahaha.. Adreena bangun, Mas. Kayaknya kamu nggak bisa berbuka sekarang."


"Nggak! Aku akan benar-benar berbuka sekarang. Biarin aja dia bangun. Suruh dia diam di sini untuk menunggu kita."

__ADS_1


"Huh, dasar.." menepis tangan suaminya yang terdengar sangat jahat.


Bian tersenyum kecil seraya beranjak bangkit. "Bercanda, Ra. Aku nggak akan setega itu pada putri kita. Iya... kalau memang tidak bisa sekarang, masih banyak waktu yang lain. Yang penting Adreena tidak nangis. Anak kita adalah buah cinta kita. Titipan yang dipercayakan Allah untuk kita. Kita harus menjaganya dengan tulus ikhlas, agar hidup kita semakin berkah."


"Terimakasih, Mas. Insya Allah, aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuknya."


Bian tersenyum kecil. Senyuman istrinya begitu berarti untuknya. Mengacak-acak rambut istrinya yang begitu harum saat di ciumnya tadi. "Kamu semakin cantik, Ra." Menatap wajah istrinya dengan intens.


Amara tersenyum salah tingkah seraya mengalihkan pandangannya. "Dimana nggak semakin cantik, Mas. Uang kamu habis banyak untuk merawat tubuhku."


Bian kembali tersenyum. "Uang bisa dicari. Yang penting kamu bahagia. Kamu juga merawat diri, bukan untuk orang lain. Tapi, itu semua untukku. Intinya kamu selalu menjaga aurat, agar kecantikan ini di bawa sampai ke jannah-Nya."


"Aamiin.." timpal Amara sambil mengusap-usap kepala putrinya.


"Aku keluar dulu, Sayang. Pastikan Adreena benar-benar kenyang, biar bisa di titip ke Ibu nanti." Turun dari ranjang seraya menahan senyum.


Amara mengernyit. "Loh, tadi katanya bisa ditunda dulu." Menatap heran ke arah suaminya yang sudah berdiri di depannya.


"Adreena nggak pernah rewel. Dia adalah anak yang paling pengertian." Mendekatkan wajahnya pada Amara. "Jadi, jika bisa dilakukan sekarang," kembali berdiri seperti semula. "Why not?" mengangkat bahu seraya berlalu pergi.


Amara melengos. "Huh, dasar kamu, Mas. Baru aja mau kagum karena pengertian kamu. Sekarang malah bikin kesal lagi."


"Nggak boleh kesal sama suami, Ra. Aku tunggu kamu di kamar kita. Kalau nggak bisa sebelum shalat ashar, nanti kita lakukan setelah shalat. Waktunya akan semakin panjang."


"Tapi, Adreena bangun, Mas."


"Itu urusan kecil. Nanti kamu titip ke Ibu. Kalau kamu malu, biar aku yang pergi."


Amara menghela nafas berat. "Iya udah, terserah kamu aja kalau begitu." Tidak ada alasan lagi yang bisa dilontarkan karena suaminya selalu mempunyai alasan untuk menimpali semua ucapannya.


Bian benar-benar mengantar Adreena ke rumah ibunya setelah selesai shalat ashar. Ia sampai melontarkan berbagai macam alasan karena ibunya menanyakan beberapa pertanyaan.


"Kamu pulang kerja jam berapa tadi? Biasanya jam segini kamu masih di kantor."


"Mm.. aku pulang cepat tadi karena mau istirahat. Tapi, sampai rumah Rara sibuk terus sama Adreena. Nggak ada waktu ngurus aku."


"Hmm.. nggak boleh ngeluh, Nak. Itu memang resiko punya baby." Beralih menatap Adreena yang anteng dalam gendongannya. "Anak kamu nggak pernah rewel kok, Nak. Udah, kamu tinggalkan saja. Dia nggak akan nangis kalau tidak lapar."


"Terimakasih, Bu.. assalamu'alaikum..." Bian bergegas meninggalkan rumah Ibunya. Ia sudah membulatkan tekad untuk berbuka puasa sore ini.


*********


"Tuan, Nyonya.. ada tamu di bawah." Suara Sumi di depan pintu menyentakkan Bian dan Amara. Pasangan suami istri itu langsung saling pandang. Untungnya Bian sudah selesai berbuka sehingga kegiatan itu tidak harus terhenti di tengah jalan.


"Siapa yang bertemu sore-sore begini, Ra?"


"Nggak tau, Mas. Coba kamu tanya Bi Sumi."


Bian membuang nafas dengan kasar seraya beranjak bangun. "Belum aja puas berpelukan dengan istri. Siapa sih yang ganggu."


"Udah, jangan ngeluh. Nggak boleh loh, Mas. Masa Bi Sumi mau menyuruh mereka pulang gara-gara kita sedang di kamar."


"Tamunya siapa, Bi?" Bian sedikit berteriak karena tidak mungkin keluar dengan t******** dada."


"Mm.. itu, Tuan. Teman-temannya Nyonya Amara. Mereka juga datang membawa hadiah untuk Nona Kecil."


Bian langsung menatap istrinya. "Siapa teman-teman kamu, Ra?"


Amara yang sudah duduk langsung mengangkat bahu. "Mana aku tau, Mas. Kamu sendiri kan tau, aku cuman dekat dengan Ameena."

__ADS_1


"Tamunya berapa orang, Bi?" Bian kembali bertanya.


"Dua orang, Tuan. Dua-duanya cewek. Satunya saya kenal karena sering kemari mencari Nyonya. Tapi, yang satunya saya tidak kenal."


"Mm.. suruh mereka tunggu sebentar, Bi. Rara sedang mandi."


"Baik, Tuan."


Bian kembali menatap istrinya. "Kamu mandi duluan, Ra. Nanti aku nyusul belakangan."


"Nggak boleh gitu, Mas. Aku mau kita mandi bersama seperti dulu. Nanti aku pakai Baik mandi kamu pakai shower.


Setelah melewati perdebatan panjang, Bian akhirnya mengalah untuk mandi bersama. Mereka tidak mungkin terus berdebat karena tamu sudah menunggu di bawah.


Pasangan suami istri itu turun dari kamarnya setelah mereka berdua selesai dengan ritual setelah mandi.


Sampai ruang tamu, Amara terkejut bukan main saat melihat Ameena dan Khanza yang menjadi tamunya sore itu.


"Kenapa bengong kayak gitu, Mara? Kaget melihat kami datang bersama kah.."


Amara mengangguk ragu. "Aku kira tamunya siapa?"


"Khanza yang narik-narik gue kemari. Dia bilang mau menjenguk lho melahirkan. Dia baru tobat sekarang, makanya batu teringat sama kita."


"Ish, kamu ngomong apaan sih?!"


Bian tersenyum kecil. Ia bersyukur melihat perubahan Khanza. Ternyata penjara benar-benar menyadarkannya dari sifat sombong yang dipeliharanya selama ini. "Kalian terlihat asyik. Aku pergi aja ya.."


"Eh, mau kemana, Mas?"


"Mau ambil Adreena. Sebentar lagi mau maghrib. Ibu pasti ribet nanti."


"Mm.. ya udah, tapi langsung balik ya.."


"Iya, Sayang. Nanti kita makan malam bersama." Bian beralih menatap Ameena dan Khanza. Kalian berdua nggak boleh pulang sebelum selesai makan malam."


"Iya, Kak." Timpal Ameena dan Khanza serentak. "Dapat traktiran makan malam sekali, itu lumayan untuk berhemat." Sambung Ameena. Kembali fokus menatap Amara setelah Bian hilang dari pandangan.


"Mara, sebenarnya gue dan Khanza datang kemari mau mengantar undangan buat lho."


Amara mengernyit. "Undangan apa, Na?"


"Ini.." melirik Khanza sebelum melanjutkan ucapannya. "Gue dan Khanza mau nikah, Mara."


"Hah?! Alhamdulillah..."


"Udah ketemu dengan yang sreg, Na. Terus lho, Za, calonnya dari mana?"


"Mm... anaknya teman Papa, Mara. Aku tidak mungkin terus-terusan terpuruk."


Mara tersenyum lega. "Alhamdulillah.. semoga Allah melancarkan rencana kalian berdua. Dan.. semoga kalian mendapatkan pasangan yang bisa menuntun kalian menuju jannah-Nya."


"Aamiin..."


Amara mengambil dua undangan yang di sodorkan Ameena. Membuka kedua undangan itu untuk melihat kapan kedua temannya itu akan melangsungkan pesta pernikahan. "Loh, kalian nikah di waktu dan tempat yang sama?"


Ameena dan Khanza mengangguk serentak. "Untuk menghemat waktu dan biaya." Timpal Ameena.


TAMAT

__ADS_1


***********


__ADS_2