
Dua minggu kemudian...
Besok adalah hari kepulangan Bian kembali ke tanah air. Amara mempersiapkan segala keperluan untuk menyambut kepulangan pria itu. Dia sampai ikut masak-masak di rumah Bu Santi. Bu Santi sampai datang menjemputnya setelah shalat subuh tadi.
"Nak, kenapa kamu tidak nginap saja malam ini?" Bu Santi tiba-tiba menepuk pundak Amara yang sedang sibuk mengisi kukis buatannya ke dalam toples.
"Mm.. aku sibuk di Kampus besok pagi, Bu." Amara tersenyum kecil seraya menatap Bu Santi. "Insya Allah lain kali aku akan usahakan, Bu."
Bu Santi menghela nafas berat. "Hmm.. ternyata Ibu benar-benar gagal membujuk kamu untuk tinggal malam ini saja, Nak.."
"Ibu..." Amara memeluk tubuh Bu Santi. Semakin kesini, dia semakin nyaman bicara dengan wanita itu. "Ibu akan selalu melihatku kalau aku sudah menjadi istrinya Kak Bian nantinya." Amara menarik diri dari pelukan wanita itu. Namun, Bu Santi ternyata memeluk tubuhnya cukup erat. "Jangan dilepas dulu, Nak. Ibu masih ingin memeluk kamu seperti ini." Semakin mempererat pelukannya.
Amara akhirnya melingkarkan tangannya kembali ke tubuh Bu Santi. "Ibu.. aku.. aku.. akan menjadi anak Ibu sebentar lagi."
Bu Santi terkejut mendengar ucapan Amara. "Ah, kamu ngomong apa sih, Nak? Dari dulu juga Ibu selalu menganggap kamu anak Ibu." Ucapnya seraya melepaskan pelukannya. "Kamu itu perempuan baik-baik, Nak. Ibu mohon kamu bisa menjaga hubungan baik ini sampai kelak. Jangan pikirkan dan dengarkan pendapat orang lain." Bu Santi menatap mata Amara. "W.. walaupun itu ucapan dari neneknya Bian sekalipun." Mengalihkan pandangannya karena tidak kuasa menatap Amara.
"Ibu.."
"Ibu tau kamu memikirkan semua ucapannya, Nak. Tapi, dia memang seperti itu orangnya. Sampai kapanpun dia tidak akan pernah berubah. Itu memang sudah sifatnya. Tapi, selama Ibu masih ada, Ibu akan selalu membela kamu, Nak." Bu Santi menangkup pipi Amara.
"T.. terimakasih, Bu." Amara memegang tangan Bu Santi yang menempel di pipinya. Air mata menggenang di pelupuk mata dua wanita itu. Bu Nanti terus tersenyum lembut pada Amara. Dia tidak ingin Amara mendapatkan perlakuan yang sama dari Bu Fatimah. Wanita itu sudah bertekad akan melakukan perlawanan jika Bu Hati mau terus-terusan menentang hubungan Bian dan Amara. Terlalu lama bersabar menghadapi itu. Sudah saatnya dia akan melakukan perlawanan saat ini.
*********
Malam itu..
Hujan rintik-rintik membasahi tanah. Amara baru saja diantar kembali ke kostnya oleh Bu Santi. Sebelum melepas Amara, tidak lupa wanita itu mendaratkan satu ciuman dan satu pelukan hangat untuk Amara. "Istirahat yang baik ya, Nak. Insya Allah, besok kita akan bertemu lagi. Ingat pesan Ibu tadi."
"Iya, Bu.. terimakasih. Mara pamit, Bu. Assalamu'alaikum.." Amara melambai pelan saat mobil Bu Santi perlahan meninggalkan halaman Kostnya.
Amara duduk di depan kostnya sebelum masuk. Ada beberapa pesan dari Bian yang belum sempat dibacanya tadi.
Ra, kalau kamu udah pulang, hubungi aku.
__ADS_1
Ra, kenapa belum dijawab? Apa ada Nenek yang datang yang mengacaukan acara yang dibuat Ibu?
Rara Sayang.. kenapa belum jawab.
Hubungi aku kalau kamu tidak sibuk lagi.
Amara menarik nafas dalam. Ternyata Bian mengkhawatirkannya dari tadi. Ia akhirnya menghubungi pria itu melalui panggilan suara. Namun, saat ini Bian yang tidak bisa dihubungi. Amara akhirnya memilih masih ke dalam kostnya untuk beristirahat.
Saat membuka pintu, ia langsung mendapatkan tatapan tajam dari Ameena. Ameena sudah rebahan di atas tempat tidur dengan memeluk bantal guling. Namun, matanya masih terbuka lebar. Sudah pasti ia kesal karena Amara tidak ada kabar setelah meninggalkannya pagi tadi.
"Gue kira lho udah lupa sama gue, Mara." Ucapan itu langsung menyambut Amara begitu gadis itu meletakkan tasnya di atas meja kamarnya.
"Ck, lho ngomong apa sih, Na?" Amara mendekati Ameena. Namun, belum saja mendaratkan pantatnya, Ameena sudah bicara lagi.
"Tuh, tadi ada seorang Nenek sosialita yang mencari keberadaan lho. Huh, menyebalkan sekali.. sok kaya, sok cantik, sok kenal." Ameena bangkit dengan tampang kusut. Rasa kesalnya benar-benar masih mendidih di ubun-ubunnya.
Amara tertegun, memikirkan orang yang di maksud Ameena. "N.. Nenek sosialita?" Kepala Amara langsung memikirkan tentang Bu Fatimah.
"Kayaknya dia itu neneknya Kak Bian deh, Mara. Gue sih merasa nggak asing dengan mukanya. Gaya bicaranya ew..." Ameena memutar bola matanya kesal. "Gue benar-benar nggak nyangka, wanita setua itu masih tidak bisa menyaring ucapannya. Gue eneg dan keseeeel..." Ameena memukul-mukul pahanya penuh kesal.
Ameena beralih menatap temannya. "Barusan, setelah gue shalat Maghrib. Bikin orang eneg aja." Ameena menyilang tangannya di dada. Tatapan matanya masih menampakkan aura kebencian. "Katanya dia mau balik lagi kesini." Kembali menatap Amara yang masih tertegun mendengar ucapannya. "Kita pulang aja yuk. Gue malas banget kalau harus bertemu lagi dengan Ia ni model begituan."
Amara menarik nafas dalam. Dia harus mempersiapkan diri mulai sekarang. Bu Fatimah pasti datang dengan emosi yang meledak-ledak. "K.. kita istirahat saja sekarang, Na. Nggak usah pikirkan itu. Jika memang dia berniat mencari ku, kenapa dia tidak mencari ku ke rumah Ibu."
Ameena menurunan tangannya seraya menatap sahabatnya dengan prihatin. "Mara, kita pulang aja ya. Gue nggak mau kalau wanita itu datang lagi dan menyakiti lho."
Amara terdiam sesaat lalu menatap Ameena. Walaupun bibirnya tersenyum kecil, tetapi senyuman itu terlihat dipaksakan. "Insya Allah, semuanya akan baik-baik saja. Sekarang kita kunci pintu lalu istirahat. Satpam juga tidak mungkin mengizinkan tamu masuk lewat dari jam sembilan malam."
Ameena terdiam menatap sahabatnya. Hatinya masih ngilu mengingat ucapan kasar Bu Fatimah padanya tadi. "Gue akan ceritakan semuanya sama lho, Mara."
"Terserah lho.. gue akan dengarkan kok." Amara duduk di sisi ranjang menunggu Ameena mulai bercerita.
Flashback on..
__ADS_1
Ameena masuk ke dalam kostnya dengan tampang kusut. Sejak Amara pergi pagi tadi, Ameena jadi kesepian. Awalnya, dia berniat untuk tidur di rumahnya malam nanti. Namun, mengingat Amara akan pulang, dia merasa khawatir pada temannya itu. Jangan sampai Amara tidur sendirian di kost.
Usai mendirikan shalat Maghrib, Ameena mengambil handphone untuk menanyakan kapan Amara pulang. Namun, ia mengurungkan niatnya saat pintu depannya di ketuk. Ia tersenyum sumringah membayangkan kalau itu adalah Amara. Dia sudah siapa akan mengomeli Amara karena meninggalkannya cukup lama. Tapi...
"Heh, cepat buka pintunya!"
Ameena tersentak dan menghentikan langkahnya saat mendengar suara orang asing. Gadis itu segera mendekati pintu dan membukanya ntuk mencegah keributan. Ameena menatap lama wanita yang berdiri di depan pintu. Wanita paruh baya yang bergaya seperti anak muda. Memakai tas branded dan sepatu high heels.
"Mana teman kamu?!" Pertanyaan kasar wanita itu membuyarkan lamunan Ameena.
"Maaf, Ibu cari siapa?" Ameena berusaha bersikap sopan, walaupun wanita yang dia tanya ini terlihat sangat menyebalkan.
"Teman kamu mana, aku mau bicara dengannya."
"Oh, Ibu cari Amara.. orangnya sedang pergi ke rumah calon suaminya. Tadi pagi calon mertuanya datang menjemputnya." Ameena berusaha menjelaskan. Berusaha bersikap sopan walaupun perasaannya mulai kesa
"Cih..! Kamu bilang calon suami. Apa kamu kira cucuku pantas bersanding dengannya?!" Bu Fatimah kembali berdecih. "Katakan padanya kalau aku tidak akan pernah sudi cucuku bersanding dengannya. Benar-benar tidak tau malu. Sudah tau dirinya miskin, masih saja mepet-mepet pada cucuku."
Karena tercengang dan hanya bisa menelan ludahnya. Angin apa yang membawa wanita tua di depannya, sehingga ngomong semaunya tanpa saringan.
"Maaf, saya tidak kenal Ibu. Jika Ibu hanya ingin membuat keributan di tempat saya, silahkan Ibu pergi dari sini."
Bu Fatimah langsung menatap Ameena dengan tajam. "Kamu berani mengusirku?"
Ameena menarik nafas dalam. "Sebenarnya saya tidak berniat seperti itu jika anda bertamu dengan baik-baik. Kami senang menerima tamu, jika tamu itu tau sopan santun."
Bu Fatimah terdiam beberapa saat. "Aku hanya ingin memberikan sedikit pelajaran untuk temanmu itu. Dia sudah mengabaikan ancaman aku waktu itu. Aku benar-benar tidak menyangka kalau cucuku sampai jatuh ke pelukan wanita seperti dia. Apa sih yang menarik darinya. Aku bahkan jijik saat melihat wajahnya."
Ameena mengernyit. Lama-lama wanita di depannya mengajaknya perang. "Jangan pernah anda menghina Amara di depanku, Bu. Aku nggak suka ada orang yang meremehkan temanku. Lagian, kami juga bisa hidup dengan uang yang kami punya. Jangan mentang-mentang kaya, Ibu mau menindas dan mengatur kehidupan kami."
"Hah, kayaknya kamu dan teman kamu itu sederajat. Benar-benar memalukan. Nanti aku akan kembali lagi saat dia sudah kembali. Ngomong dengan kamu hanya membuang-buang waktu ku. Dasar, wanita tidak berguna." Bu Fatimah berlalu begitu saja tanpa pamit pada Ameena.
Ameena mengeratkan giginya sambil mengepalkan tangannya. Dia tidak menyangka kalau Bian memiliki nenek sekasar itu.
__ADS_1
Flashback off...
**********