Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Tim Baseball


__ADS_3

Kembalinya di kantor, Alex mempelajari salinan surat wasiat kakeknya. Ternyata dalam surat wasiat itu kakeknya memang tidak mensyaratkan Alex untuk menikah dengan seorang wanita pilihanya. Kakeknya malah membuat syarat yang lebih memprovokasi Alex. Siapapun yang mau menikah dengan wanita pilihan kakeknya, maka orang itulah yang berhak mendapat warisanya, termasuk Aji, sepupu tiri Alex sendiri.


Ia juga melihat-lihat foto dan data diri Kanaya. Dari data itulah Alex mengetahui bahwa Kanaya adalah seorang mahasiswa jurusan ekonomi. Karena stres dan kesal, ia langsung meremas kertas itu dengan penuh emosi. Tapi di detik berikutnya dia membukanya kembali dan memperhatikan foto Kanaya dengan kebenaran dan tidak mengerti.


“Kenapa kakek memilih wanita ini? Dari semua wanita yang ada di dunia ini, kenapa harus dia? Memangnya apa istimewanya wanita ini? Wajahnya kelihatan lugu dan tidak begitu menarik. Bahkan dia terpaut usia lima tahun denganku,” Alex bergumam seraya memperhatikan foto Kanaya yang terlihat begitu formal. Ia mendesah kesal. “Kalau begitu ayo kita lakukan, nek. Aku juga tidak suka kalah dalam permainan ini!” ia mengakhiri kalimatnya dengan lantang.


Mendengar hal itu, sekretaris Adam yang diam berdiri disana tersintak kaget.


“Bagaimana bisa ini terjadi dengan anda bos? Ketua sudah mengeluarkan wasiatnya yang cukup mengejutkan. Aku tidak menyangka dengan wasiatnya di luar dugaan,” katanya yang terlihat khawatir.


Alex sependapat.


“Entahlah. Memang sudah kenyataanya semuanya diatur untukku. Inilah yang aku sesalkan jika nenek selalu membuat keputusannya sendiri,” umpat Alex.


“Anda harus memutuskan bos. Ketua memang selalu membuat keputusannya sendiri tanpa memikirkan orang lain, apalagi ia juga berencana akan memberi alih surat wasiat itu. Bisa-bisa ketua akan menyerahkanya pada tuan Aji. Secara teknis, dia adalah cucu tiri mendiang ketua Herman,” jelas sekretaris Adam.


Alex tampak berpikir-pikir mengenai hal itu. Apa yang dikatakan Adam ada benarnya juga. Dan jika itu sampai terjadi, tentu akan menambah masalah lagi.


“Ikuti saja keinginan nenek. Masalah besar akan terjadi jika aku menolaknya. Apalagi wasiat itu jatuh ditangan orang lain. Dan aku tidak mau itu terjadi” seru Alex dengan bijak.


sekretaris Adam mengangguk mengerti, lalu berkata “Haruskah aku berbicara dengan ketua untuk meminta tidak melakukan perjodohan ini sebagai syarat wasiatnya? Ini kedengarannya seperti sayembara, siapapun boleh mengikutinya,” sekretaris Adam menawarkan diri dengan suka rela.


Alex terkagum mendengarnya.“Aku juga berpikir begitu. Kau memang paling bisa ku andalkan sekretaris Adam. Lakukan saja jika itu adalah tugasmu,”


“Tentu bos. Aku selalu berpihak padamu apapun yang terjadi aku akan berada disampingmu” sekretaris Adam tersenyum puas.


Alex menghempa udara dengan lega. “Bagus. Memang itu yang aku inginkan. Setidaknya ada yang mendukung keputusanku. Cepat cari tahu bagaimana reaksi putra Ali setelah mendengar kabar ini. Mereka pasti tidak akan tinggal diam"


Sekretaris Adam mengangguk mengerti. “Aku tahu bos sangat terluka karena keputusan ini. Aku akan melakukan yang terbaik untukmu,”


“Benar. Itu membuatku kehilangan ide untuk mengembangkan proyekku. Aku kehilangan akal karena semua itu! Apa yang harus aku lakukan?” keluh Alex.


“Aku akan membantu bos. Jangan khawatir bos.”


“Baiklah. Aku ingin kau membatalkan jadwalku hari ini. Aku ingin menenangkan pikiranku dari masalah ini.”


“Ya, aku mengerti. Aku akan mengatur semuanya bos. Atau bos butuh hiburan?”


“Hiburan apa?” tanya Alex. “Itu tidak akan mempan.”


Sekretaris Adam kikuk sendiri.


“Baiklah. Kalau begitu, aku permisi dulu bos.”


“Hmm,”


Sekretaris Adam meninggalkan ruangan Alex.


***


Tiba-tiba Joe datang ke kantor Alex ketika ia mendapat kabar baik entah kabar buruk dari Bob. Ia muncul sambil tersengal-sengal dan menyelono masuk ke ruangan Alex langsung mengacaukan suasana hati Alex. Kedatangan Joe sama sekali tak disambut baik oleh Alex.


Alex segera beralih melanjutkan pekerjaanya saat tahu yang datang adalah si pengacau seperti biasanya.


“Gawat!!” Joe berseru dengan tegang, matanya bulat besar. “Bob baru saja mengirimku pesan dan kelihatannya itu juga ditujukan untukmu,” ia memberitahu sambil terengah-engah. Nafasnya sedikit terasa sesak karna lelah berlari untuk cepat sampai disini. Kemudian menyambat minuman di atas meja lalu meminumnya.


Alex yang tadinya tak menanggapi kedatangan Joe kini langsung memberondong Joe dengan pertanyaan-pertanyaan.


“Apa? Apa yang dia katakan?” tanya Alex mulai kelihatan penasaran.


“Katanya dia akan membentuk tim baseboll.Kalau kau juga masuk kedalam tim itu. Bahkan nama Dave juga masuk kedalam daftar. Dia sudah mengatur jadwalnya dalam waktu dekat ini,” jelas Joe dengan antusias. “Sepertinya Bob kembali serius berolahraga. Aku melihat hubungannya dengan Soraya sedang tidak baik, karena itulah dia beralih ke hobinya.”


Alex naik pitam mendengarnya.


“Kata siapa!” Alex mengumpat kesal. “Bob dan Soraya yang bertengkar apa hubungannya denganku! Kenapa jadi begini! Ini tidak masuk akal. Anak itu selalu saja membuat keputusannya sendiri,” nada bicaranya tinggi dan tegang.


Joe membenarkan. “Aku merasa diriku juga jadi korban,” ia ikut protes menyalahkan Bob.


“Dasar Bob! Aku penasaran sebenarnya yang dilakukan Soraya sampai membuat Bob jadi seperti ini!” umpat Alex menahan geram. “Ah, aku tidak percaya bocah itu jadi depresi!” Amarah mulai mengemuka dari dalam, perlahan tapi pasti. Joe bisa melihat ekpresi marah besar Alex dengan mata besarnya itu.


“Aku tahu, kedengarnya memang tidak masuk akal. Tapi begitulah kenyataanya. Kita juga harus cepat memutuskan. Menurutmu bagaimana?” kata Joe berasumsi.


“Aku tidak tahu apa sebetulnya yang sedang direncanakan bocah itu,” ujar Alex marah-marah. “Tapi aku berani taruhan seluruh uang saku ku untuk untuk bulan ini, urusan ini pasti ada sangkut pautnya dengan Soraya.”


Joe sependapat dengan Alex.


“Tentu saja. Kau tidak perlu bertaruh. Saat ini Bob sedang tidak baik. Aku melihatnya, ia begitu depresi dan egois sekarang. Ia banyak berubah sekarang,” jelas Joe.

__ADS_1


“Kalau tau begini, kenapa si brengsek itu tak memberitahu kepadaku? Dia sepertinya perlu kita beri pelajaran,” ketus Alex. “Ini tidak bisa dibiarkan lagi. Kurasa kita harus menemuinya sekarang!” lanjutnya memutuskan.


“Sekarang?” tanya Joe tampak bingung.


Alex mengangguk. “Tentu saja. Kita tidak bisa menundanya lagi.”


“Bukankah dia bilang bahwa ia sangat sibuk dan ada rapat? Kau kan bosnya” Joe berkata dengan lugunya.


Alex membantah. Ia tahu bahwa Joe sedang ditipu oleh Bob. “Itu tidak mungkin. Jangan percaya dia. Itu hanya alasan untuk menghindari kita,” Alex berkata dengan sangat yakin.


"Benarkah? Keterlaluan sekali Bob!" Joe mulai mengamuk tak jelas.


Karena mereka mulai merasa kesal, akhirnya Alex dan Joe memutuskan untuk menemui Bob diruangan kerjanya yang tak begitu jauh dengan ruangan kerja Alex. Tidak sampai dua menit setelah menaiki lift dari lantai tiga mereka sudah sampai di ruangan Bob di lantai tujuh. Tanpa mengetok pintu, mereka langsung membuka pintu dengan segera menatap kearah Bob dengan tajam dan marah-marah.


“Kenapa aku menjadi bagian dari Peterpan? Kenapa kau tidak memberitahuku dari awal, hah!” seru Alex dengan nada tinggi dan mata terbelalak ke arah Bob yang tak begitu terkejut melihat kedatanganya.


Joe yang berdiri disebelah Alex hanya diam tak berkutik. Sementara Bob merasa tergganggu dengan kehadiran kedua temannya itu yang menyelono masuk dengan tidak sopan. Ia menatap kedua temanya dengan tajam untuk menghadangnya.Bob tak menyahut bahkan tak menoleh kearah mereka. Ia sibuk dengan pekerjaannya.


Alex dan Joe kikuk dibuatnya. Mereka saling tatap penuh kebingungan. Alex memberi isyarat agar Joe yang mengambil alih menangani Bob. Joe awalnya sempat menolak, tapi Alex dari tadi terus menyenggol tangan Joe untuk berkomentar. Akhirnya Joe bersuara seperti robot otomatis.


“Bukankah kau tahu kenapa kami ada disini? Jadwal kami sangat padat, tapi kami masih menyempatkan diri untuk mendatangimu. Ah, aku bahkan meninggalkan wanita cantik di luar tadi” kata Joe tak karuan, lalu kembali menoleh ke arah Alex untuk menambahkan ucapanya.


“Karena aku seorang bos, jadi aku kesini untuk bekerja hari ini,” kata Alex dengan enteng. “Tapi bukan hanya itu.”


Bob tampak tidak ingin mendengar ocehan Alex barusan. Ia menatap ke arah Alex dengan tajam membuat Alex jadi diam dan membungkam.


Alex dan Joe tertegun. Lalu saling beradu pandang. Saat ini Bob sedang tidak berselera, entah dikarenakan pekerjaanya yang menumpuk atau karena seorang gadis yang mengacaukan pikiranya. Tapi kali ini Alex mencoba menetralkan suasana


“Bukankah Dave juga masuk terfdaftar? hHh! Kenapa bocah itu bisa tidak ada sekarang?” Seru Alex mengalihkan suasana canggung ini.


“Urusanya telah selesai denganku. Dia sangat setuju,” balas Bob segera sambil mengutak atik keybordnya dan tetap fokus pada layar komputernya.


Alex mengangguk. Ia memutar otak, meski tampangnya kelihatan malas berfikir. Ia mencairkan suasana kembali. “Aku sudah membaca pesan Joe darimu. Tapi kenapa kau tidak memberitahuku juga? Jawab aku, aku ini bosmu” tanya Alex.


“Aku akan memberitahumu nanti. Tapi aku masih sibuk” balas Bob kecut dan singkat.


“Kau selalu memberitahuku belakangan. Ini tidak adil namanya. Aku sangat tidak terima itu,” sangkal Alex tidak terima.


Akhirnya Bob tidak tahan lagi dengan perdebatanya yang spele itu. Bob langsung berdiri meninggikan suaranya.


Alex dan Joe terperangah mendengarnya. Mereka terhenyak seketika. Air muka mereka langsung berubah, kelihatan suram.


“Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi,” ujar Joe dengan polos dan mengerti bagaimana perasaan Bob sekarang.


“Kenapa? Salah bicarakah aku? Apa kalian berdua ingin berencana mengacaukan tim lagi?” kata Bob.


“Bukan begitu,” bantah Joe, nada suaranya begitu tidak yakin lagi.


“Tentu saja tidak,” Alex berkomentar dengan enteng. Tapi sekejab Bob menatapnya membuat Alex langsung tertunduk memalingkan muka.


Bob merasa puas dengan ekspresi takut kedua temanya itu. Ia langsung mengancam mereka berdua. Mengambil kesempatan dalam kesempitan. Matanya tertuju pada kedua temanya itu. Ada sesuatu yang terbesit di pikiranya. Ia akan mengutarakanya sekarang.


“Semuanya harap tenang!” Bob berseru. “Daripada ribut tidak karuan, lebih baik kalian putar otak untuk menemukan cara bagaimana membentuk tim. Masa orang jenius seperti kalian tidak punya usul sama sekali?” ejeknya. Dan berusaha bersikap tenang sekarang.


Joe dan Alex terdiam sejenak. Begitu Bob mengucapkan kata Jenius, Joe langsung segera menoleh kearah Alex. Seketika suasana ruangan menjadi hening. Alex mengangkat bahu menyatakan ia tidak tahu.


Bob tampak kesal dan tidak berkomentar. Ia bangkit dari tempat duduknya untuk mengambil sesuatu di lemarinya. Alex baru sadar saat melihat tubuh Bob penuh koyo. Sepertinya Bob seperti itu untuk menyelesaikan pekerjaanya yang mendesak. Ia jadi merasa kasihan.


“Apa yang terjadi padamu? Kau kenapa?” tanya Joe penuh perhatian.


“Aku kesini untuk bekerja,” balas Bob dengan singkat dan melirik Alex sebentar. Seakan-akan semua itu adalah kesalahan Alex.


Alex terdiam, kemudian pikiran lain terlintas di kepalanya. Ia kali ini membuat Bob merasa terasanjung dan kembali bersemangat.


“Tapi aku kesini bukan untuk bekerja,” kata Alex tak ingin kalah


“Lalu apa?” tanya Bob, menatap tajam kearah Alex.


“Aku harus mempersiapkan perlengkapan baseballku,” seru Alex mengakui sambil tersenyum. Ia menunggu reaksi bahagia dari Bob


Bob dan Joe terkekeh dan terkejut dan tidak percaya dengan semua itu. Bob yang langsung mengerti setuju dengan pendapat Alex.


“Kalau begitu kau harus mempersiapkanya dari sekarang,” kata Bob setuju dan tampak senang.


Alex mengangguk membenarkan. Lalu menatap ke arah Joe untuk memberi sinyal padanya.


“Baiklah. Sepertinya kami berdua harus mengunjungi sebuah toko perlengkapan baseball,” serunya dengan mantap.

__ADS_1


“Ya benar. Perubahan. Kita membutuhkan perubahan” tambah Bob menanggapi. “Kalau begitu tunggu apalagi. Cepatlah pergi. Ajak Dave juga”


Akhirnya merekapun menuruti apa kemauan Bob. Keduanyapun keluar dari kantor untuk mengunjungi sebuah toko perlengkapan olahraga. Alex dan Joe mengunjungi sebuah toko perlengkapan baseball mereka. Alex membelokkan stir ke kiri sebelum lampu merah benar-benar menghadang mereka.


“Kapan terakhir kau bermain baseball?” tanya Joe memecah keheningan yang duduk disebelah kemudi.


“Mmm, aku kira lebih dari lima bulan,” jawab Alex Seraya tetap fokus dalam mengemudi. “Tapi aku lebih suka bermain golf.”


Alex memasukkan mobilnya kejalan panjang yang mulus dan menambah kecepatan mobilnya.


“Setiap orang mempunyai pandangan dan pilihannya sendiri. Jiwa mudaku masih ada, jadi aku sangat suka bermain bilyar dan menembak.” Ujar Joe dengan mantap


“Ya kau benar. Mari kita bermain bilyar nanti malam. Yang kalah harus membayar makanan.” tantangnya


Joe setuju. “Ok, baiklah. Kita bermain ditempat biasa dan di jam yang sama. Akan ku beritahu yang lainnya. Kita bagi dua tim.”


“Setuju!”


Ketika mereka sampai di tempat pertokoan olahraga. Alex memperlambat mobilnya untuk mencari tempat parkir. Ada puluhan mobil, dia mengehentikan mobilnya ketika masuk secara perlahan salah satu halaman depan toko. Tempat itu sudah dipenuhi oleh banyak orang, yang mayoritas tentu saja para pria yang hobi olahraga. Tempat itu memperlihatkan sebuah pemandangan yang luar biasa. Banyak tersedia berbagai perlengkapan olahraga disana.


Alex dan Joe mulai memilih beberapa model baju. Joe heran begitu melihat Alex sangat bersemangat memilih-milih baju.


Joe menghampiri Alex.


“Bukankah kau mengatakan tidak mau bergabung dengan Peterpan lagi?” Joe bertanya dengan penasaran.


Alex meralatnya segera.


“Aku berubah pikiran dan suasana hati Bob sedang tidak baik kerena Soraya. Jadi, aku harus mematuhi kata-kata Bob,” jawab Alex Seraya tersenyum.


Joe tampak mulai kesal.


“Aku sangat kesal karena aku juga masuk kedalam tim!” omelnya tak karuan.


“Bukankah setelah billyar, kau paling ahli dalam baseball?” Alex terlihat sedang bergurau saja.


Joe terkekeh. Menampakkan ekpresi sombong karena di puji oleh Alex.


“Kau memang pintar kalau bicara omong kosong,” umpatnya sesaat setelah itu.


Alex tertawa lebar melihat raut wajah kesal Joe kepadanya. Kemudian beralih memilih beberapa jaket dan meminta kepada Joe mana yang cocok untuknya.


“Bagaimana menurutmu? Kuning atau biru?” tanya Alex sambil melihatkannya pada Joe.


Joe memperhatikan kedua jaket itu. Ia mulai membandingkan mana yang cocok untuk Alex. Tapi ia sadar akan satu hal.


“Seharusnya kau membeli peralatan baseball dulu. Kenapa malah membeli kostum?” katanya dengan wajah polosnya.


Alex tersenyum.


“Aku tidak mengerti tentang peralatan basebal, tapi kalau masalah kostum aku sangat menguasai. Sampai sekarang ini belum ada orang yang menilai seleraku jelek,” kata Alex dengan mantap.


Joe terkekeh mendengarnya. Seakan-akan tidak percaya dengan candaan temannya itu.


“Selalu kau mulai dengan yang kau sukai terlebih dahulu,” sindir Joe kemudian.


Ia kemudian menurut dan menunjukkan jaket mana yang cocok untuk Alex. Bob mencari-cari beberapa jaket.


“Hijau tua. Kau tidak cocok memakai warna kuning ataupun biru,” kata Joe berpendapat seraya mentodorkan jaket itu pada Alex.


Alex membantah.


“Aku terlihat tampan memakai apa saja,” katanya sambil memilih jaket dan mengambil jaket pilihan Joe. “Untung saja aku membatalkan jadwalku hari ini.”


Joe menggeleng.


“Benar,” kata Joe yang dipenuhi apresiasi. Dan kemudian ia juga mencari-cari jaket untuk dirinya dengan semangat.


“Coba ku lihat, baju mana yang pas untukku. Aku juga harus terihat keren nanti,” katanya dengan ketertarikan yang nyata.


Kini giliran Joe yang tampak semangat mencari baju. Alex terkekeh melihat kelakuan Joe barusan.


“Jangan sampai aku kalah tampan darimu,” kata Alex bergurau.


“Tentu. Aku juga tak ingin kalah darimu,” balas Bob dengan enteng.


Keduanya terkekeh geli. Kemudian kembali mencari-cari kostum.

__ADS_1


__ADS_2