Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Pertemuan manis


__ADS_3

Ameena langsung melengos saat melihat Khanza. Apalagi saat melihat wanita itu bersama dengan seorang wanita yang seumuran dengan mereka. Sepertinya wanita itu adalah teman barunya.


"Ngapain berhenti, Mara?" Ameena berdecak kesal saat Amara menghentikan langkahnya saat akan melewati Khanza. Tangannya masih menggenggam tangan Amara dan masih berusaha menarik tangan gitu, agar segera berlalu dari hadapan orang yang malas ia jumpai.


"Hai, Za.." Amara tersenyum ramah pada Khanza. Tapi, jangankan membalas senyuman Amara, menatap temannya itu saja sepertinya malas Khanza lakukan.


"Mara, ngapain sih nyapa orang kayak dia? Cabut aja yuk..! Nanti Kak Bian capek nunggu lho." Entah darimana datangnya, tiba-tiba kata itu yang keluar dari mulut Ameena.


Khanza mendelik kesal mendengar ucapan Ameena. "Jangan sok deh kalian. Baru aja diakuin seperti itu, sombongnya minta ampun."


Ameena membuang pandangannya. Sepertinya perdebatan akan terjadi kali ini. Ingin menghindar, tapi sepertinya hal itu akan membuat Khanza besar kepala karena mengira dirinya tidak berani melawan. Ia menarik nafas dalam sebelum menimpali kembali ucapan wanita itu.


"Siapa sih yang nggak bangga diakuin sebagai wanitanya Kak Bian. Lho aja yang nggak pernah diakui, setiap hari kerjaan lho cuman membuntuti dia. Kak Bian cerita lho, ke kami. Dia bilang muak dengan tingkah lho. Kalau lho yang diakui dia, kayaknya lho akan buat pengumuman di setiap tiang di pinggir jalan. Atau mungkin di pohon-pohon besar yang berjejer di sepanjang jalan."


"Jaga mulut kamu, Ameena." Khanza menatap tajam mantan temannya itu. "Kayaknya kalian deh yang langsung sombong. Heh, baru aja di bilang gitu. Sekarang sudah berani main ke salon. Belagu banget jadi orang. Padahal untuk biaya semester aja masih nyicil perbulan."


Amara hanya diam seraya menggeleng-geleng lemah. Tapi, tidak dengan Ameena. Gadis itu tidak mungkin tinggal diam. "Lah, kami kemari atas permintaan Kak Bian. Nggak mungkin lah, wanitanya Bian hanya berpenampilan natural terus. Wanitanya Bian itu harus berpenampilan lebih menarik daripada wanita semacam lho." Ameena menunjuk mata Khanza. "Ayo, Mara. Buat apa buang-buang waktu untuk meladeni wanita seperti dia."


Khanza tersenyum sinis. "Dasar benalu, bisanya cuma bergantung pada orang lain. Udah tau miskin, masih aja sombong."


Ameena tidak mau menimpali lagi. Takutnya dia tidak bisa mengontrol diri dan mengatakan yang tidak-tidak pada Khanza.


Handphone Amara tiba-tiba berbunyi, membuat mereka langsung fokus pada gadis itu. Amara menatap Ameena, lalu beralih ke Khanza. Kembali menatap handphonenya yang masih berdering.

__ADS_1


"Siapa yang nelpon, Mara. Lho kenapa tidak menjawab?" Ameena mencondongkan kepalanya untuk melihat. "Eh, Mara.. ini kan Kak Bian yang menghubungi lho. Kenapa nggak diangkat sih?" Merampas benda gepeng itu dari tangan Amara. Tapi, panggilan terputus karena tidak ada respon. Selang beberapa menit. Ada sebuah pesan masuk. Ameena tersenyum sumringah. Sengaja membaca pesan dengan suara keras, agar Khanza mendengarnya.


Amara Andini.. kenapa tidak menjawab telponnya..


Apa kalian masih asyik nyalon, sampai nggak ada waktu untuk menjawab telepon???


Aku mau kamu persiapkan pakaian terbaik untuk pertemuan nanti malam. Ajak Ameena ke Mall Xxx.. aku sudah minta seseorang untuk menunggu kalian di sana. Orang itu menunggu di lantai empat Mall itu. Nyalonnya udahan dulu. Lain kali dilanjutkan..


"Hahahaha.. Kak Bian tau aja kalau kita masih disini. Ayo Mara, kita ke Mall Xxx." Ameena menarik tangan Amara yang melongo melihat semua perbuatannya. Bisa-bisanya Ameena melakukan itu pada Khanza. Wajah Khanza sudah berubah merah padam karena pesan yang dibacanya. "Lho diminta untuk mempersiapkan pakaian untuk pertemuan nanti malam dengannya. Itu sangat jelas maksudnya, Mara. Kak Bian ingin kamu dandan secantik mungkin nanti malam." Ameena berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari Khanza. Ia merasa benar-benar di atas angin setelah kedatangan pesan Bian.


"Erin, apa sebutan yang pantas untuk wanita yang suka morotin uang cowok." Khanza menyentuh tangan wanita yang berdiri bisu di sampingnya.


Erin tersenyum kaku menatap Khanza. "Mm.. biasanya sih, wanita yang kayak gitu disebut matre. Tapi, kalau wanita yang diminta untuk menghabiskan uang pria atas permintaan pria itu sendiri sih.. I don't know, Za. Gue juga nggak mau terlibat dalam masalah kalian. Gue kesini mau nyalon, bukan memperdebatkan Kak Bian." Erin mengakhiri kalimatnya sambil melirik ke arah Amara dan Ameena.


"You smart, Honey." Ameena bertepuk tangan gembira mendengar jawaban Erin yang terdengar bijaksana. "Kami diminta Kak Bian untuk memakai uangnya, bukan kami yang minta. Itu berarti kami bukan wanita matre. Apalagi Amara, dia cuman bisa bilang iya.. iya saja. Mau nolak, orangnya akan marah kalau di tolak." Berkata sambil menahan senyum penuh kemenangan. "Hah, gue rasa pertemuan kita kali ini penuh dengan keadilan. Benar-benar pertemuan manis. Semua fakta terbukti tanpa ada dusta. Gue nggak berminat lagi untuk bersikap kalem kayak dulu. Assalamu'alaikum.." Ameena tersenyum manis seraya menarik paksa tangan Amara untuk berlalu.


"Dasar Benalu.. seumur hidup kalian berdua akan jadi benalu yang terus-terusan bergantung pada orang lain..!" Khanza berteriak kesal menatap kepergian Amara dan Ameena.


"Gue nggak perduli, ew.." Ameena menjawab tanpa menoleh. Tertawa puas setelah berhasil membuat Khanza sakit hati.


"Na.. ya Allah.. berhenti. Dari tadi lho nggak berhenti ngomong. Nggak baik, Na.."


"Orang kayak gitu nggak boleh di diemin terus, Mara. Dari dulu gue selalu bersabar menghadapinya. Kalau gue nggak ingat kalau dia adalah teman kita. Dari dulu gue udah maki-maki dia seperti yang dia lakukan ke kita."

__ADS_1


"Sudah... Ameena. Huh," Amara membuang nafas dengan kasar.


Amara POV...


Aku tidak habis pikir, kalau Ameena akan berkata sepedas itu pada Khanza. Temanku ini dulunya sangat kalem. Jarang sekali dia berdebat dengan Khanza. Yang ada malah aku yang selalu membuat masalah dengan Khanza. Tapi, kali ini aku merasa kami seperti bertukar jiwa. Aku yang dulu bar-bar berpindah ke Ameena. Temanku ini mirip sekali dengan Amara yang dulu.


"Mara, kita mau pakai ojol atau apa." Ameena menepis tanganku. Hal itu membuatku tersentak kaget. Oh, ternyata dari tadi aku menghayal dan tidak sadar kalau kami sudah sampai di pinggir jalane raya. Pikiranku terlalu kacau karena masalah barusan. Ya Allah, kenapa juga kami harus bertemu dengan Khanza. Andaikan kami tidak keasyikan ngobrol dengan pemilik salon itu, mungkin kami tidak akan sampai bertemu dengan teman lama kami itu.


Eh, kok aku pede banget bilang teman lama. Yang ada kami tidak pernah diakui sekarang. Kami kan cuman benalu dalam hidupnya. Mungkin benar kata Ameena, aku terlalu lemah sekarang. Sebenarnya aku juga nggak mau di bilang lemah. Tapi.. nggak tau juga, aku malas berdebat kalau sudah berpapasan dengannya. Aku juga nggak suka banyak bicara seperti dulu.


Selama perdebatan mereka tadi, aku hanya menangkap beberapa kata dari ucapan mereka. Diakui dan wanitanya Kak Bian. Maksud mereka apa berkata begitu. Kapan Kak Bian mengatakan kalau aku wanitanya? Sampai saat ini aku tidak pernah mendengarnya mengatakan itu. Iya.. walaupun Ameena selalu mengatakan itu, tapi aku tidak pernah mempercayainya dan hanya menganggapnya bercanda.


Tapi..


Permintaan Kak Bian kali ini membuat perasaanku dag dig dug. Untuk apa dia memintaku untuk melakukan perawatan total. Belum lagi meminta kami untuk ke Mall Xxx untuk mengambil baju yang sudah dipesannya untuk pertemuan nanti malam. Kami memang tidak bertemu selama satu bulan lebih. Tapi, dulunya tidak seperti ini kok. Bertemu ya.. bertemu. Berpisah ya.. berpisah. Tidak pernah ada persiapan khusus. Tapi, aku tidak mau mengatakan apapun pada Ameena. Aku takut dia meledekku nantinya. Jangan sampai dia bilang aku kepedean kalau bertanya padanya.


"Amara.. lho mau diam di sana. Mau nungguin si Khanza keluar dari Salon?!"


Aku kembali tersentak. Ameena sudah berada di dalam mobil. Entah kapan dia memesannya. Intinya dia sudah berada di dalam mobil saat ini. "Iya.. iya.. tunggu sebentar." Aku memasukkan handphone ke dalam tas. Huh, aku harus normal kembali agar Ameena tidak bosan menemaniku.


"Kapan lho pesan mobil, Na? Katanya mau pakai ojol." Aku langsung melontarkan pertanyaan begitu duduk di samping Ameena.


"Gue udah bertanya sepuluh kali sama lho. Tapi jangankan dijawab, di denger aja nggak." Ameena melengos kesal. "Kalau gue pesan ojek, gue takut lho jatuh karena nggak ada yang jagain. Bisa jadi lho juga nggak sadar kalau lho jatuh, tapi lho tetapi asyik menghayal."

__ADS_1


"Heheheh..." Aku hanya bisa tersenyum meringis sambil mengusap-usap tengkukku.


********


__ADS_2