
Sudah pukul tiga siang lewat beberapa menit. Tiba-tiba hujan turun, angin kencang menyapu air bertemperasan dibuatnya membasahi kaca jendela toko-toko yang berjejer di tepi jalan. Sementara Abel yang selesai berbelanja terjebak oleh hujan, hingga membuatnya mencari tempat untuk berteduh di salah satu kafe. Ia mengeluh saat mendapati dirinya yang sudah berantakan karena basah oleh hujan.
“Hhh! Semuanya jadi berantakan,” keluhnya saat dilihatnya bajunya yang basah kena air hujan.
Suasana berbeda yang dirasakan Bob dari dalam kafe yang tengah duduk santai menyadari kalau hujan baru saja turun memandang ke arah luar, dan melihat seorang gadis yang memandangi hujan. Abel berbalik arah melihat kedalam kafe, dan kemudian tak sengaja menatap kearah Bob. Untuk sesaat mata mereka saling bertumbukkan hingga mata Bob tertutup oleh tangan Dinda. Dalam sekejap Abel yang dilihatnya diluar telah menghilang saat Bob tersadar dan langsung melepaskan tangan Dinda. Ditatapnya Dinda dengan pandangan dingin.
“Bukankah kita berjanji untuk bertemu pada jam tiga. Dan sekarang belum jam empat” kata Bob kemudian menyalahkan Dinda.
Bob begitu menyalahkan Dinda yang datang terlalu cepat. Dinda menelan ludah karena Bob mempermasalahkan kedatangannya terlalu cepat.
“Memangnya kenapa? tanya Dinda heran. “Aku bahkan ngebut kesini untuk bertemu denganmu.”
Bob membantah.
“Tapi tetap saja kita akan bertemu pada jam tiga!” ketusnya. Bob mulai terlihat bosan. Dan di detik berikutnya ia berhasil membuat Dinda tak berkutik. “Kalau begitu batalkan saja semuanya,” lanjutnya yang mulai jenuh melihat sikap Dinda.
Dinda kaget.
“Apa! dibatalkan!” ia membelalak. “Aku baru saja tiba dengan penampilan terbaikku saat bertemu denganmu, tapi mendadak semuanya jadi kacau. Kenapa bisa begitu? Kau mempermainkanku?” katanya tidak terima dengan perlakuan Bob.
__ADS_1
“Karena aku sama sekali tidak tertarik denganmu,” ungkap Bob terus terang. “Seharusnya aku katakan dari awal, supaya kau tidak kecewa. Lihat saja penampilanmu, sangat berlebihan dan tidak sesuai dengan dirimu,” serunya sambil mengakhiri pembicaraanya. Ia meninggalkan Dinda begitu saja.
Dinda yang hanya melongo dan sakit hati. Masih setengah tidak percaya. Dinda bersorak pada Bob yang tak mempedulikannya.
“Hei kau! Apa yang kau lakukan padaku! Dasar kau pria brengsek! Aku membencimu!” umpatnya sejadi-jadinya tanpa mempedulikan keadaan seputarnya.
Bob yang sama sekali tidak peduli dengan teriakan Dinda tetap meluruskan pandangannya pura-pura tak mendengar meski banyak orang yang melihat dan berbisik-bisik. Dengan gaya gagahnya, ia hanya tersenyum manis mengalihkan perhatian dan bersikap santai.
Ternyata Abel berada di dalam kafe sedang memesan kopi ikut terkejut melihat kejadian itu. Ia hanya menggeleng-geleng kepala melihatnya, dan tak menyadari bahwa ia sedang berpapasan dengan Bob pria yang dilihatnya dari balik dinding kaca kafe.
“Hhh. Ada-ada saja,” keluh Abel.
Bob diam-diam memperhatikan Abel yang sedang menunggu pesananya. Hatinya tergetar begitu saja saat pertama kali melihat gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Kali ini Bob benar-benar tersentuh hatinya pada gadis polos itu, hingga tidak menyadari Abel sedang menatap kearahnya saat keluar dari kafe.
“Bukankah dia pria yang tadi?” gumam Abel kebingungan melihat sikap Bob yang aneh menatap kearahnya sambil tersenyum.
“Apa kau mengenalku?” sapa Bob memberanikan diri menyapa.
Abel pun tersintak saat pria itu berbicara padanya. Jelas itu ditujukan untuknya, karena tak ada orang lain selain dirinya dan dia disana.
__ADS_1
“Apa?” ia linglung dan menggeleng kepala. “Tidak,” jawabnya kemudian. Abel yang hendak menunggu taksi menyeringai menatap heran.
Bob justru memberikan pandangan nakalnya.
“Benarkah? Kalau begitu biar aku memperkenalkan diriku padamu,” katanya menawarkan diri. Ia sama sekali tidak terlihat canggung dalam keadaan seperti ini, malah menunjukkan sikap gentlenya.
Abel melongo tidak percaya dengan apa yang dihadapinya. Pria yang sama sekali tidak dikenalnya telah membuatnya jadi salah tingkah dalam lima detik.
Abel menghempa napas pendek.
“Apa maksudmu? Maaf aku tidak punya waktu untuk berkenalan denganmu. Permisi,” balas Abel dengan sikap cueknya. Lalu mengahadap ke jalan menunggu datangnya taksi.
Hal itu justru membuat Bob semakin menggodanya.
“Bagaimana ini. Sayang sekali kau menolaknya. Mungkin lain kali saja,” balasnya. “Kalau begitu, sampai jumpa nona manis,” Bob meninggalkan kesan yang manis pada Abel. Ia tak lupa melempar senyum terbaiknya hari ini dan berlalu pergi menuju parkir mobilnya.
Abel tidak menjawab malah mengabaikan begitu saja dengan menggeleng-geleng kepala.
Begitulah pertemuan pertama mereka yang amat singkat dan kurang berkesan. Kesan pertemuan yang tak mengasyikkan.
__ADS_1
Abel mendelik kesal.
“Apa-apaan dia itu. Apa dia sudah gila? Ia membuang muka, lantas masuk ke dalam taksi kemudian.