
Ameena masih tertegun melihat pemandangan di depannya. Amara yang diperlakukan dengan begitu lembut oleh Bu Santi. Bahkan dia juga merasakan kelembutan wanita itu saat dia meraih tangannya untuk bersalaman tadi. Bu Santi mengusap kepalanya seraya tersenyum lembut padanya.
"Mara, apakah Ibu Kak Bian selalu memperlakukan mu seperti tadi. Dia selalu memeluk dan mencium mu setiap kali kamu mendatangi rumah ini?"
"Hmm.." Amara beralih menatap Ameena. Tadinya dia fokus menatap mobil Bu Santi yang meninggalkan rumah. "B.. bukan hanya saat aku datang kemari. Tetapi, Ibu selalu mencium dan memelukku dimana pun kami bertemu. Ini hanya tempat khusus, Na. Ibu juga melakukan itu di tempat umum. Seumur hidupku, baru kali ini aku berjumpa dengan wanita selembut dan sebaik dia." Amara mengakhiri ucapannya sambil menghapus air mata yang tiba-tiba jatuh dari matanya.
"Loh, kok kamu nangis.." Ameena ikut menyapu air mata Amara.
Amara tersenyum kaku. "Ini bukan air mata kesedihan, Na. Ini hanya air mata haru saja. Aku hanya mengingat semua perlakuan baik Ibu selama aku dekat dengan keluarga ini. Semua itu menjadi beban pikiranku sejak kemarin. Kalau Kak Bian menikah, otomatis aku nggak akan bisa dekat lagi dengan Ibu. Sedangkan aku sudah merasa terlanjur nyaman dengannya." Amara melirik Ameena lalu kembali mengalihkan pandangannya.
"Jadi, kesedihanku kemarin, bukan semata-mata karena aku ada rasa sama Kak Bian. Tapi, jika Kak Bian memutuskan untuk bersama dengan wanita lain, otomatis Ibu juga akan menjadi milik wanita itu. Aku tidak akan bisa lagi merasakan kasih sayang seorang Ibu. Itu sebenarnya yang lebih aku takutkan, Na."
Ameena terdiam beberapa saat. Mungkin karena temannya itu tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu sebelumnya, itu yang membuatnya seperti kemarin. Takut kalau kasih sayang itu direbut orang lain. Sedangkan dia baru menemukan kasih sayang itu. "Kamu merasa kalau Ibunya Kak Bian itu adalah ibumu, Mara?"
"B.. bukan seperti itu, Na. Bagaimana mungkin aku akan mengakuinya seperti itu. Siapa aku yang berani berprasangka seperti itu. "Aku.. aku hanya menemukan kelembutan dan kasih sayang seorang ibu padanya. Aku tidak ingat rupa ibuku, Na. Aku masih terlalu kecil saat dia meninggalkan ku dulu. Seandainya aku bertemu dengannya sekarang. Sepertinya aku dan dia hanya seperti dua orang asing yang tidak akan saling mengenal."
"M.. maafkan aku, Mara. Aku tidak berniat mengajakmu bernostalgia ke masa lalu."
"Kita keluar saja yuk! Gue bosan sedih dari kemarin, Na."
Ameena menatap Amara dengan heran. "Kita mau kemana. Kita kan disuruh menjaga rumah sama Ibunya Kak Bian."
"Siapa bilang begitu, Na? Kita cuman diminta untuk diam disini. Maksud Ibu, biar kita tidak membuang-buang uang dan tenaga untuk balik lagi kemari."
"Hmm..." Ameena mendelik melirik Amara. "Kayaknya lho salah ngomong. Yang disuruh diam disini itu lho, Mara, bukan gue. Kayaknya, lho itu sudah seperti anak baginya, makanya disayang sampai dipeluk dan dicium kayak tadi."
"Iri lu emangnya..?" Amara menahan senyum seraya berlalu keluar. "Kita ke belakang sekarang. Lu ini ajak gue ngobrol terus. Hampir aja gue lupa pesan Ibu untuk menengok tanaman di belakang rumah."
"Kamu ini, Mara. Dekat dengan keluarga kaya, kok malah merubah kebiasaan. Seharusnya lho suka jalan-jalan ke Mall atau traveling kek. Ini kok malah jadi hobi berkebun. Nggak seru banget sih hidup lho." Ameena mendengus, tetapi tetap mengikuti langkah Amara menuju belakang rumah.
__ADS_1
*******
Sore itu, Bu Santi menepati ucapannya pada Amara tadi pagi, kalau dirinya akan pulang menjelang shalat Ashar. Wanita itu tersenyum saat melihat Amara yang asyik bermain bersama Adzra. Walaupun anak itu sudah mau enam tahun, tapi dia tetap nemplok pada Amara. Baginya, Amara adalah sosok kakak yang tak tergantikan.
"Loh, Adzra kok sudah ada disini. Siapa yang jemput, Sayang?" Bu Santi mencium pucuk kepala Adzra dengan penuh sayang.
"Di antar Papa, Nek. Uncle bilang kalau Kak Mara ada di sini, makanya aku langsung mau kemari. Kata Uncle, kalau aku nggak datang, Kak Mara akan menjadi milik Uncle. Adzra nggak mau Kak Mara diambil Uncle." Adzra bercerita dengan polosnya. Amara hanya tersenyum mendengar celoteh anak itu.
Bu Santi beralih menatap Amara. "Kamu sudah shalat, Nak?"
Amara tersenyum meringis. "Mm.. lagi kedatangan tamu, Bu. Barusan aja datang, habis shalat zuhur itu."
"Siapa tamunya, Kak?" Adzra mendongak menatap Amara.
"Eh, mm.. tamu itu.. hanya mendatangi wanita. Nanti kalau Adzra sudah besar, Adzra akan mengerti maksud ucapan Kakak ini."
Melihat tatapan cucunya, Bu Santi menyentuh lengan Adzra. "Mm.. Sayang, Nenek pinjam Kak Maranya, boleh kan?"
Adzra langsung beralih menatap neneknya. "Mau dipinjam kemana, Nek? Adzra belum puas main dengan Kak Mara. Kak Mara jarang kemari sekarang, Nek."
"Nanti malam kamu bisa meminta waktu pada Kak Mara. Nenek dan Kak Mara mau masak untuk persiapan makan malam sekarang."
"Terus, Adzra main sama syiapa sekarang, Nek?" Ternyata Adzra masih berat untuk pisah dengan Amara.
"Tunggu Uncle Bian pulang. Sebentar saja ya, Sayang." Bu Santi masih berusaha membujuk cucunya.
"Mm.. iya sudah, Nek. Tapi, kalau Uncle nggak pulang, Adzra akan ambil Kak Mara lagi."
Amara dan Bu Santi saling tatap seraya tersenyum. "Sifatnya yang ini mirip sekali dengan sifat Bian waktu kecil. Sudah bisa melakukan tawar menawar diusianya yang masih sebesar Adzra."
__ADS_1
Amara hanya tersenyum kaku menanggapi. Hanya tangannya yang masih mengusap-usap kepala Adzra.
"Mara mau nggak, bantu Ibu masak? Kata Bian masakan kamu enak. Beberapa kali diajak ke Apartemen, kamu sering membuat nasi goreng yang tak kalah enak dengan yang dibeli."
"Ah, Ibu bisa aja.." Amara tersenyum malu. Ucapan Bu Santi membuat dadanya berdebar tak menentu. Ia mengikuti langkah Bu Santi masuk ke dalam dapur.
"Kamu sempat melihat wanita yang kemarin nggak, Nak?"
Amara menautkan alisnya mendengar pertanyaan Bu Santi. "W.. wanita? Wanita yang mana maksud Ibu?"
"Wanita yang kemarin dibawa Abi dan Ummi untuk berkenalan dengan Bian."
Deg...!
Jantung Amara langsung berdetak kencang. Perasaan tidak enak langsung merayap dihatinya. Kenapa tiba-tiba Bu Santi membahas wanita itu. Padahal, dia sudah mewanti-wanti dari tadi. Sebelumnya, dia berpikir kalau Bu Santi akan membahas masalah pengasuhan dua cucunya yang jarang bisa dia lakukan saat ini.
"Ibu tidak menyangka aja kalau wanita seperti itu yang akan dikenalkan Abi dan Ummi. Umurnya lebih tua dari Bian. Sudah sarjana, tetapi tidak bisa melakukan pekerjaan lain selain menulis atau mengetik." Bu Santi beralih menatap Amara. "Dia juga tidak suka pada anak-anak. Ibu tidak suka itu, Mara."
"Oh," hanya kata itu yang berhasil lolos dari mulut Amara. Dia bingung mau menanggapi dengan kata apa. Ingin ikut berkomentar, tapi dia takut salah ngomong.
"Sebenarnya Ibu tidak suka dengan hal-hal seperti ini. Adanya acara dijodoh-jodohkan seperti ini seperti mempersempit keleluasaan anak untuk mencari pasangannya sendiri. Padahal Ibu selalu bilang pada Bian sejak dia lulus SMA, untuk mencari pasangannya sendiri. Cari wanita yang dia sukai. Ibu malah lebih suka dengan wanita-wanita yang berasal dari kalangan biasa." Bu Santi melirik Amara yang masih fokus mendengar ucapannya.
"Iya.. mungkin karena Ibu memang berasal dari keluarga yang tidak jelas. Itu yang membuat Ibu lebih suka dengan wanita yang sederhana." Bu Santi menghela nafas berat sebelum melanjutkan ucapannya.
"Sebenarnya, kejadian kemarin terjadi karena Ummi. Dia yang terlalu egois menginginkan wanita sempurna untuk cucunya. Padahal, wanita yang dimaksudnya sempurna kemarin sangat jauh dari kata sempurna. Ummi terlalu pemilih. Padahal, Bian sendiri tidak menginginkan hal itu. Tapi, Ibu tidak bisa berbuat banyak, Nak." Bu Santi tiba-tiba menarik tangan Amara lalu menggenggamnya dengan erat. Hal itu membuat Amara tertegun tetapi bingung.
"Nak, Ibu ingin kamu yang menjadi pendamping putra Ibu. Ibu tau, kamu ada rasa pada putra Ibu. Dan Ibu sepenuhnya mendukung itu. Ibu hanya berpesan padamu. Berjuanglah lebih keras lagi. Kamu perlu memantaskan diri, agar kamu terlihat pantas bersanding dengan Bian di mata Kakek dan Neneknya.
*******
__ADS_1