
Bian masuk ke rumah kakeknya dengan perasaan campur aduk. Daniel yang tutup mulut dengan semua yang terjadi membuat pria itu sedikit kesal.
"Kakek di mana, Kak?" Berbalik ke belakang menatap Daniel yang berdiri di belakangnya.
"Beliau di dalam kamar, Tuan." Daniel menjawab dengan kaku. Tampang pria itu terlihat tegang.
Bian menatap pria itu dengan curiga. Tidak mengatakan apapun, tetapi ia mengeratkan giginya kesal. Melanjutkan langkahnya dengan gontai menuju kamar kakeknya.
"Assalamu'alaikum..." membuka pintu kamar dengan kedua tangannya.
Mulutnya seperti terkunci melihat pemandangan di depannya. Hanya berdiri kaku di depan pintu, dengan pandangan mata lurus ke depan. Matanya menatap fokus pada pria yang sedang berbaring lemah di atas ranjangnya. Di tangannya tertancap jarum infus dan terpasang selang oksigen di hidungnya.
"Mendekat lah, Nak." Pak Akmal melambaikan tangannya pada Bian.
Sepersekian detik Bian masih berdiri mematung. Kakinya seperti mati rasa karena sangat terkejut.
"Kenapa kalian semua tidak ada yang memberitahuku tentang kondisi Kakek?!" Bian menatap satu persatu orang di kamar itu. Anggota keluarga lengkap sudah berkumpul mengelilingi ranjang yang berukuran tidak biasa itu. "Apa kalian tidak menganggap ku keluarga lagi?"
"Bian..!" Bu Santi dan Chayra langsung berdiri. Bu Santi berjalan mendekati putranya, memeluk tubuh tinggi tegap itu dengan hangat.
"Ibu..." Bian membalas pelukan ibunya setelah cukup lama berdiri kaku. Pria itu pasti luluh jika ibunya sudah turun tangan. "Kenapa Ibu tidak memberitahu Bian tentang hal ini?"
"Maafkan Ibu, Nak. Ibu juga tidak tau apa-apa. Ibu dan kakakmu juga baru sampai dua jam yang lalu. Saat kakekmu menghubungimu, Ibu baru saja masuk ke kamar ini." Bu Santi mengusap-usap pipi putranya dengan lembut.
"Bian, kemari lah, Nak. Kakekmu sudah lelah menunggu kamu." Ucap Pak Ismail. Hal itu membuat Bian mengalihkan pandangannya. Menatap Om yang dipanggilnya Abah selama ini.
"Kakekmu menunggu kedatangan mu dari tadi sore. Sebaiknya dekati beliau terlebih dahulu, Nak." Ucap Pak Ismail lagi.
Bian menarik nafas dalam. Melepas tangan ibunya yang menggenggam tangannya. Perlahan, ia duduk di samping kakeknya. Menarik tangan Pak Akmal yang tidak diinfus. Mencium lama tangan itu. "Maafkan Bian, Kek." Memeluk tangan Pak Akmal setelah puas menciumnya.
"Kamu.. tidak.. salah.. apa-apa, Nak. Kakek sengaja melarang semua orang memberi tahu kamu. Kakek tidak mau pikiranmu kacau, sedangkan kamu sedang memegang tanggung jawab terbesar dari Kakek. Cukup menjadi anak yang patuh pada perintah Kakek, itu sudah lebih dari cukup untuk Kakek."
Bian hanya menatap sendu mata cekung kakeknya. Mungkin ini yang membuatnya tidak tenang dari tadi. Ternyata kakeknya sedang sakit. Sakit yang di alami kakeknya kali ini sepertinya tidak biasa. Pria itu terlihat kurus dan sangat lemah. Belum lagi selang oksigen yang terpasang di hidungnya. "Kakek sakit apa?" Bian kembali menatap mata kakeknya.
"Hah.. cuman sakit biasa, Nak. Kakek hanya ingin melihat anak cucu Kakek berkumpul." Pak Akmal menatap sekeliling. Terakhir pria itu menatap ke arah pintu. "Amara mana, Nak?" Kembali menatap Bian setelah tidak menemukan apa yang dicarinya.
Bian menghela nafas berat. "Rara masih di Singapura, Kek. Dia masih terikat kontrak kerja dengan sebuah Rumah Sakit di sana."
__ADS_1
"Kapan dia bisa datang menemui Kakek? Kakek ingin bertemu dengannya."
Bian terdiam, beralih menatap ibunya. Melihat anggukan kepala ibunya, Bian kembali menatap Pak Akmal. "Sekitar dua minggu lagi, dia bisa kembali, Kek."
Pak Akmal tersenyum lemah. "Apakah dia tidak bisa menemui Kakek barang sehari atau dua hari, Nak?"
"Mm.. nanti Bian usahakan, Kek. Bian akan memintanya untuk pulang menemui Kakek."
Pak Akmal kembali tersenyum. "Terimakasih, Nak. Kakek akan menunggu kedatangannya. Mudah-mudahan, saat Amara tiba nanti Kakek sudah sembuh."
"Aamiin.." Bian kembali mencium tangan Kakeknya.
***********
Sekembalinya dari rumah kakeknya, Bian mencoba menghubungi Amara. Walaupun waktu sudah menunjukkan tengah malam, tapi Bian tidak mau menunda sampai besok pagi. Dua kali mencoba, akhirnya usahanya membuahkan hasil.
"Assalamu'alaikum, Ra.." Bian tersenyum sumringah menunggu salamnya di jawab oleh Amara.
"Maaf, ini saya Myta. Nona Amara sedang tidur. Saya tidak enak membangunkannya karena tidurnya sangat pulas."
"Mm.. kebetulan saya sedang mengecek Nona Amara. Memeriksa apakah dia sudah memakai selimut dengan benar atau tidak."
"Lalu kenapa kamu lancang memegang handphonenya." Bian memperbaiki posisi duduknya. "Handphone adalah barang pribadi orang. Jika keadaannya darurat, baru anda berhak untuk menjawab panggilan yang masuk." Bian mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku mau ngomong sama Amara. Kasih handphonenya ke dia sekarang!" Kalimat perintah yang tidak boleh diganggu gugat.
Tidak ada suara dari sebrang. Bian masih menempelkan handphone di telinganya. Menunggu apakah Myta menuruti perintahnya apa tidak. Namun, sampai lima menit menunggu, tidak ada suara apa-apa dari sebrang. Bian menatap layar handphonenya. Panggilannya masih terhubung, tetapi tidak ada orang yang bicara.
Ia membuang nafas dengan kasar. Mematikan sambungan telepon lalu mencoba menghubunginya lagi.
"Tuan jangan menghubunginya sekarang! Kalau Tuan mau menyampaikan sesuatu, hubungi dia besok pagi. Saya tidak mau kesehatan Nona Amara terganggu karena anda mengganggu istirahatnya."
Tut.. tut.. tut..
Bian mengernyit saat panggilan itu terputus. Perasaannya tiba-tiba tidak enak. Andaikan dia di tempat itu, dia pasti langsung ke Apartemen Amara untuk memastikan apa yang terjadi.
Bian menarik nafas dalam. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa pada Amara. Mungkin Myta hanya mengkhawatirkan Amara karena wanita itu capek bekerja. Ia akhirnya memilih untuk istirahat saja. Waktu menunjukkan pukul dua belas lewat tiga puluh menit. Itu berarti di tempat Amara baru jam sebelas lewat tiga puluh menit.
Berbagai macam pertanyaan menari-nari di kepala Bian. Apakah Myta mengatur jam tidur Amara, sehingga wanita itu terdengar marah saat dia mengganggu istirahat Amara tadi?
__ADS_1
"Ya Allah... kenapa serumit ini hubunganku dengannya." Bian berucap lirih sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Berusaha memejamkan matanya walaupun hal itu terasa benar-benar sulit.
Sementara itu...
Pagi harinya di Singapura..
"Nona Amara, bangun.. sudah masuk waktu shalat. Apa Nona mau melewatkan waktu shalat Nona." Myta menggoyang-goyang pelan tubuh Amara. Gadis itu hanya mengerjap-ngerjap. Matanya seperti sulit terbuka. Sudah satu bulan ini tidurnya sangat pulas sampai tidak pernah bangun untuk tahajud.
"Nona Amara, bangun!" Myta kembali menggoyang-goyang tubuh Amara. Tapi, kali ini wanita itu melakukannya dengan lebih kuat. Bibirnya mengulas senyum tipis saat melihat Amara berusaha membuka matanya.
"Mata aku seperti sulit terbuka, Mbak." Ucap Amara. Mengucek-ngucek matanya yang terasa masih berat.
"Tapi ini sudah pagi, Nona. Sebentar lagi matahari terbit. Apa pekerjaan di Rumah Sakit terlalu berat, sehingga Nona tidurnya sangat pulas?"
Amara bangkit, menyandarkan tubuhnya lalu meraih botol minum di atas meja. "Nggak ada yang berat, Mbak. Pekerjaanku sama seperti dulu. Tapi nggak tau aja, aku nggak pernah terbangun di tengah malam. Huh, kayaknya dosa aku terlalu banyak deh, makanya setan semakin senang menggodaku."
Myta tersenyum kecil. "Bukan masalah Nona banyak dosa. Cuman, Nona baru merasakan capeknya bekerja, makanya tidurnya sampai sangat pulas.
"Nggak tau ah, Mbak. Aku mau shalat dulu nanti keburu terbit." Amara beranjak bangkit, walaupun matanya masih berat. Tidak mungkin sampai melewatkan shalat subuh hanya karena matanya masih ngantuk.
Amara termenung di sisi tempat tidurnya usai mendirikan shalat. Suara getaran handphonenya membuatnya beralih menatap benda gepeng itu. Ia diam beberapa saat sebelum menjawab panggilan itu.
"Assalamu'alaikum, Kak."
"Wa'alaikum salam.. Ra, kamu baru bangun ya..?"
"Mm.. iya, Kak. Baru selesai shalat sih. Tapi aku masih ngantuk rasanya." Amara menguap lebar. "Ada apa, Kak. Tumben menghubungiku sepagi ini." Suara Amara terdengar lemah.
"Aku sudah menghubungimu semalam, Sayang. Tapi, malah teman kamu itu yang jawab. Belum lagi dia membentak ku karena menghubungi mu tengah malam."
"Memangnya jam berapa Kak Bian nelepon?" Amara memperbaiki posisi duduknya. Dia memang selalu tidur awal kalau tidak masuk kerja malam. Semalam, dia bahkan tidur lima menit setelah meminum jus yang selalu di buatkan Myta untuknya sebelum tidur.
"Aku salah memang, aku menghubungimu tengah malam. Soalnya aku nggak tau harus bagaimana, Ra. Kakek sakit dan memintaku untuk membawa kamu ke rumahnya."
Deg...!
*********
__ADS_1