Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Kok Nenek yang Sewot


__ADS_3

"Kak, bangun.. Ibu memanggil kita keluar. Kak Bian juga belum shalat ashar. Sudah jam lima loh." Amara menepuk-nepuk pelan pipi suaminya.


"Sebentar saja, Sayang. Aku masih ngantuk. Sebentar... saja.." Bian menarik bantal guling dan memeluknya erat. Tak sedikit pun ia membuka matanya. "Setengah jam lagi aku akan bangun. Kamu keluar saja duluan."


"Astagfirullah, Kak... Kak Bian belum shalat." Amara langsung melotot. Mendengar jawaban enteng Bian membuatnya langsung kesal. "Ok.. kalau tetapi nggak mau bangun, aku lapor ke Ibu sekarang." Amara menarik selimut yang menutupi tubuh suaminya dan merapikannya. Menarik kaki suaminya agar mau bangun. Beranjak pergi dan benar-benar akan melapor ke ibu mertuanya kalau Bian masih tetap pada pendiriannya.


"Ra, jangan lapor ke Ibu. Please... Sayang ... Aku nggak mau kena marah."


Amara menghentikan langkahnya yang sudah sampai di depan pintu. "Nanggung banget, Kak. Aku sudah sampai di depan pintu nih." Jawab Amara, kembali melanjutkan langkahnya tanpa sedikitpun melirik suaminya.


"Ra, ya Allah.. aku bangun nih.." Bian bergegas turun dari ranjang. Hal itu membuat Amara tersenyum puas. Berbalik, berjalan mendekati suaminya. "Nah, gitu dong. Aku jadinya nggak capek-capek keluar untuk lapor pada Ibu. Mm.. kayaknya ancaman itu sangat ampuh untuk mengancam Kak Bian yang suka membantah istri." Kembali tersenyum sambil memainkan tangannya di dada suaminya.


"Ck..! jangan menggodaku, Ra. Aku belum shalat." Menurunkan tangan istrinya. Tingkah Amara yang seperti itu seringkali membangkitkan gairahnya. Ia hanya berdiri mematung. Tidak berani bergerak karena takut terpancing. Hanya matanya yang menatap istrinya tajam.


Amara melengos seraya membuang pandangannya.l "Itu bukan termasuk menggoda, Kak. Cuman meraba dada suami saja, masa iya dikatakan menggoda." Melirik suaminya sambil tersenyum jahil.


Bian menarik tubuh Amara sampai menempel di tubuhnya. Langsung mendaratkan satu ciuman di bibir wanitanya itu. Tersenyum sinis menatap Amara. "Kamu terlalu menarik kalau hanya dijadikan sebagai tontonan." Menatap istrinya dengan intens. Mencubit gemas hidung Amara. "Jangan pernah menunjukkan ekspresi itu pada orang lain. Kamu terlihat semakin menantang kalau seperti itu." Bian tersenyum sinis, meninggalkan Amara yang hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Hah," Amara terduduk lemas di sisi ranjang setelah sadar. Ia tersenyum meraba bibirnya yang di cium Bian tadi. Menatap ke arah pintu kamar mandi di mana suaminya berada.


"Awas air liurmu jatuh, Sayang." Pintu kamar mandi terbuka. Bian menongolkan kepalanya menatap istrinya dengan ekspresi aneh.


"Astagfirullah ..." Amara mengelap mulutnya dengan tangannya.


"Hahaha..." Bian tertawa puas. Menutup kembali pintu kamar mandi yang dibukanya tadi. Ia tersenyum seraya menggeleng-geleng pelan. Sangat menikmati ekspresi Amara yang terlihat bodoh.


"Awas saja nanti. Aku akan menggoda Kak Bian lagi." Amara berteriak kesal.


"Lakukan itu nanti malam." Timpal Bian tanpa rasa bersalah.


"Ish..." Amara memanyunkan bibirnya kesal. Mencari ide untuk melumpuhkan kepercayaan diri suaminya. Tersenyum sumringah setelah mendapatkan ide. Memperbaiki posisi duduknya seraya berdehem kecil, menunggu suaminya keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Aku akan menggoda Kak Bian di depan Ibu saat kita sedang kumpul keluarga." Amara langsung menyambut suaminya dengan kalimat itu begitu melihatnya keluar dari kamar mandi.


Bian melotot, menelan ludahnya yang terasa tercekat di tenggorokan.


"Karena Kak Bian sudah mempermainkan ku tadi, aku akan benar-benar berubah menjadi wanita yang benar-benar menantang."


Bian menghela nafas berat seraya memejamkan matanya. "Aku mau shalat dulu. Nanti kita lanjutkan kekonyolan ini." Ucapnya seraya berlalu. Kalau terus meladeni istrinya, waktu ashar akan habis.


Sementara itu...


Bu Santi terus celingukan menanti putra dan menantunya keluar dari kamar. Hampir setengah enam, tapi tidak ada tanda-tanda dua orang itu menampakkan batang hidungnya. Sedangkan yang lain sudah berkumpul di ruang keluarga.


Padahal, saat Amara keluar menemuinya tadi, wanita itu bilang mau kembali ke kamar untuk membangunkan suaminya. Tapi, dia malah ikut mengurung diri di dalam kamar.


"Ayra, coba kamu ke kamar adik kamu, Nak." Bu Santi menatap putrinya yang duduk berhadapan dengannya.


"Ih, nggak ah, Bu." Chayra langsung menolak. "Aku nggak mau mengganggu mereka. Siapa tau mereka..."


"Jangan berpikir macam-macam, Sayang." Ardian menyentuh lengan Chayra. "Biar aku yang pergi, Bu." Ardian beranjak bangkit.


Bu Santi tersenyum kecil mendengar protes mertuanya, karena sudah tau sifat. "Oh, saya akan menasehatinya nanti, Ummi. Sepertinya, Amara masih merasa asing di rumah ini." Jawabnya dengan tenang.


"Iya, kamu memang seharusnya melakukan itu. Memalukan sekali, punya cucu menantu kerjaannya cuma mengurung diri." Masih menampakkan ekspresi tidak suka.


"Seharusnya kamu juga merubah sikapmu, Fatimah. Cucu menantu tidak nyaman karena kamu yang selalu bersikap arogan saat bicara dengannya." Pak Akmal ikut menimpali. Sejauh ini, dia selalu mendapatkan laporan dari beberapa asisten rumah, tentang kelakuan Bu Fatimah pada Nona Muda mereka.


"Arogan bagaimana maksud Abi?!" Timpal Bu Fatimah sewot. "Bertatap muka dengannya saja sangat jarang terjadi, apalagi sampai bicara empat mata." Membuang pandangannya, seperti enggan menatap suaminya. Pak Akmal hanya tersenyum. "Tidak usah di perpanjang. Mereka sedang menuju kemari." Ucapnya setelah terdiam beberapa saat. Matanya fokus menatap tab di tangannya.


"Semuanya harus bisa berdamai dengan keadaan. Ini juga acara kumpul keluarga. Sangatlah terlihat buruk, kalau salah satu dari kita ada yang menyimpan rasa tidak suka pada yang lain." Pak Ismail yang dari tadi diam akhirnya ikut menimpali. Mertuanya ini tidak pernah mau mengalah sekalipun ia bersalah. Yang menjadi lawannya harus mau mengalah agar masalahnya tidak bertele-tele. "Nah, itu mereka sudah keluar." Sambungnya saat melihat kedatangan Amara dan Bian.


"Ini nih orang yang di tunggu-tunggu. Sudah lama menikah, tapi masih suka seperti pengantin baru. Kerjaannya cuman mengurung diri." Pak Akmal kembali angkat bicara. Pria paruh baya itu menunjukkan ekspresi bahagia saat melihat cucu kesayangannya keluar menggandeng istrinya.

__ADS_1


"Maaf membuat kalian menunggu lama. Tadi aku yang sulit membuka mata. Rara sampai kesal dan mengancam akan melaporkan ke Ibu." Bian menarik istrinya agar ikut duduk bersamanya. "Aku juga mengajaknya diskusi terkait rencana yang sudah aku susun. Maaf, aku kira acara kumpul-kumpulnya nanti malam. Makanya aku santai saja nanti. Aku bahkan mengabaikan permintaan Rara yang mengajakku keluar."


Semua mata langsing fokus menatap Bian. "Dia sedang mengganggu istrinya saat aku mengetuk pintu kamarnya tadi." Timpal Ardian. Dia benar-benar tidak kenal waktu untuk memaksa istrinya."


"Abang berlebihan. Aku cuman menggelitiknya tadi. Dia maksa untuk keluar terus. Padahal aku belum puas menghabiskan waktu berdua dengannya."


"Makanya kamu ajak istri kamu berbulan madu, biar waktumu hanya untuknya saja." Pak Akmal ikut menggoda cucunya.


"Hmm ... sebelum pergi berbulan madu, aku juga ingin mewujudkan mimpinya untuk pergi ke Tanah Suci."


"Eh, Amara langsung tersentak. "Kak Bian tidak mengatakan itu tadi." Ucapnya, menatap istrinya dengan heran.


"Aku hanya berniat memberi kejutan untukmu, Sayang." Bian tersenyum lembut menatap istrinya. "Aku bahkan sudah merencanakan tempat kita berbulan madu setelah selesai umroh nanti." Masih menatap istrinya dengan senyuman manis.


"Terimakasih, Kak." Ucap Amara dengan wajah terharu. Tidak menyangka kalau suaminya mengabulkan keinginannya itu. Ia mempererat genggaman tangannya yang saling tertaut dengan tangan suaminya.


"Ibu jadi ikut, Nak."


Bian beralih menatap ibunya. "Tentu saja, Bu. Aku juga sudah menyiapkan untuk beberapa orang yang lain." Beralih menatap kakeknya yang pastinya bahagia mendengar rencananya. "Apa Kakek juga mau ikut?"


Pak Akmal langsung menggeleng. "Hehehe... sepertinya tidak untuk sekarang, Nak. Kakek masih meragukan kondisi kesehatan Kakek."


"Mm... bagaimana dengan Nenek?" Bian beralih menatap Bu Fatimah.


"Hah, Nenek tau kamu bekerja keras selama ini. Seharusnya kamu simpan saja uang hasil kerja keras kamu itu. Tidak baik menghambur-hamburkannya seperti ini. Kamu juga jangan terlalu memanjakan istri kamu. Dia jadinya banyak maunya karena kamu selalu menuruti keinginannya."


Bian tersenyum kecil. "Memang itu tujuanku mencari uang, Nek. Untuk apa mencarinya banyak-banyak kalau hanya untuk di simpan. Aku mencari uang, agar aku bisa menafkahi istri dan membahagiakan semuanya.


"Huh, terserah kamu." Bu Fatimah terlihat sewot.


"Uang tidak akan dibawa mati. Kalau aku sudah menikmati hasil kerja kerasku untuk membahagiakan istriku. Aku tidak akan menangis di dalam kubur nanti karena menyesal menyimpan uang itu."

__ADS_1


Anggota keluarga yang lain langsung tertawa mendengar ucapan Bian. Berbeda dengan Bu Fatimah. Dia terlihat ngedumel kesal.


*********


__ADS_2