
"Simpan semua bukti itu untukku, Kak." Bian memperbaiki posisi duduknya setelah selesai melihat semua bukti yang ditunjukkan Daniel.
"Masalah dengan Nona Khanza, Kakek sudah menganggapnya tuntas dan tidak ada yang perlu dibahas lagi. Tapi, Daniel akan tetap menyimpan bukti itu sebagai kenang-kenangan." Timpal Pak Akmal. Meraih biskuit di atas meja, mengunyahnya dengan santai.
Bian menautkan alisnya mendengar ucapan sang kakek. "Maksud Kakek apa? Masalah mana yang sudah dianggap selesai? Aku memang tidak berniat menyimpan keburukan seseorang sebagai sebuah kenangan. Keburukan itu harus segera di hapus. Tapi, masalah mana yang sudah di anggap selesai oleh Kakek?"
Pak Akmal menatap Bian dengan serius. Menelan biskuit yang sudah di kunyahnya sebelum menjawab pertanyaan cucunya. "Iya.. masalah kemarin, Kakek sudah memberikan peringatan keras untuk Edward dan putrinya. Mereka tidak akan berani macam-macam dan tidak akan berani membahas masalah itu lagi."
Bian mendengus, kembali memperbaiki posisi duduknya. "Apa ancaman Kakek yang sekarang bisa menjamin kalau mereka tidak akan berani macam-macam lagi ke depannya?"
Pak Akmal terdiam beberapa saat. Menatap Bian dengan ragu. "Kakek tidak berani memastikan hal itu, Nak."
Bian menyandarkan tubuhnya seraya menghela nafas berat. "Oleh karena Kakek tidak berani menjamin itu, aku ingin masalah ini diusut sampai ke akar-akarnya. Aku tidak mau mereka bertindak semaunya lagi di lain waktu."
Pak Akmal kembali terdiam. Tapi, kali ini tatapannya berubah serius karena Bian terdengar cukup serius. "Maksud kamu, kamu ingin memperpanjang masalah ini, Nak? Apa kamu benar-benar mau membawa kasus ini ke ranah hukum?"
"Iya," jawab Bian dengan pasti. "Aku tidak mau dipermainkan lagi oleh orang-orang itu."
"Ah, Kakek tidak tau mau bilang apa." Merubah posisi duduknya karena cukup terkejut mendengar keputusan Bian. "Apa kamu serius, Nak?"
"Apa aku terlihat main-main?" Ucap Bian tanpa ekspresi. Membuang pandangannya karena pertanyaan kakeknya membuatnya tidak senang.
"Hah, sudahlah. Kalau begitu Kakek ikut campur sampai di sini saja. Kalau kamu memperpanjang masalah ini, lakukan dengan caramu sendiri."
"Oke, aku benar-benar akan menuntut wanita itu. Semua bukti sudah ada di tanganku. Aku akan melakukannya dengan caraku sendiri. Kakek melakukan itu menggunakan uang. Tapi, aku akan melakukan itu untuk mengadilinya atas apa yang sudah dia lakukan padaku dan istriku." Bian beranjak bangkit dan mendekati ranjang istrinya. "Aku mau bicara baik-baik dengan istriku. Kalau Kakek masih mau di sini, silahkan. Kalau mau pergi juga silahkan."
Pak Akmal melengos seraya beranjak bangkit. "Huh, kamu kenapa berubah menjadi menyebalkan seperti ini. Daniel, ayo kita pergi. Heh, mimpi apa aku semalam kenapa harus berhadapan dengan cucuku yang seperti ini." Keluar dari ruang perawatan Amara.
*********
Malam itu...
Amara mulai bisa menerima kehadiran suaminya kembali. Tidak ada alasan lagi untuknya menolak kehadiran suaminya. Terlalu banyak penjelasan dan membuktikan suaminya tidak bersalah.
__ADS_1
"Kapan kamu akan mulai bekerja lagi, Mas?" Pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulut Amara. Bian yang sedang memperhatikan putrinya cukup terkejut dengan pertanyaan itu. Untuk pertama kalinya istrinya mengajaknya bicara setelah sekian lama mendiaminya.
"Aku.. aku nggak tau, Sayang. Aku mau fokus pada kesembuhan kamu dulu." Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari sang istri.
"Pekerjaanmu akan terbengkalai kalau kamu terlalu lama cuti, Mas. Aku udah baik-baik saja kok. Kan ada Ibu juga yang selalu menemaniku di sini."
Bian tersenyum kecil. Beranjak bangkit dan mendekati pembaringan Amara. Duduk di sampingnya sambil tersenyum lembut. "Nggak ada yang lebih berarti selain kalian." Meraih tangan Amara dan menggenggamnya erat. "Aku hanya ingin kamu sembuh, Ra. Kalau kamu sudah sembuh, mungkin rasa sakit hati karena wanita itu akan berkurang. Tapi, saat melihat kamu masih terbaring seperti ini, aku benar-benar ingin mencarinya dan melampiaskan semuanya pada wanita itu."
"Tidak usah dipikirkan lagi, Mas. Setidaknya aku masih hidup dan bisa menemanimu lagi."
"Eh, kamu kok ngomong gitu sih? Kamu nggak boleh mati sebelum aku mati." Memeluk tangan istrinya lalu menciumnya. Tangan yang tidak bisa disentuhnya beberapa hari terakhir ini, kini bisa dipeluknya lagi.
"Ih, ngomong apa sih? Kalau Allah sudah menghendaki aku mati duluan, aku akan mati duluan."
"Udah ah, jangan ngomongin masalah begituan. Aku belum membahagiakan kamu. Insya Allah, kita semua akan di berikan umur yang panjang."
Amara menundukkan pandangannya. Perasaan menyesal karena menyalahkan suaminya kini memenuhi pikirannya. "Maafkan aku untuk yang kemarin, Mas. Aku benar-benar tidak bisa membolak-balik perasaanku. Saat melihat kamu, rasa sakit itu tiba-tiba datang. Bayangan kamu yang membopong tubuh wanita itu benar-benar membuat dada ini seperti di tusuk-tusuk." Amara sedikit mendongak untuk menahan air matanya yang terasa mau tumpah.
Bian menarik nafas panjang. "Aku ngerti, Ra. Dari masalah ini aku belajar, kalau tidak semua orang itu tulus kepada kita. Maafkan aku, Sayang."
"Sudah ... nggak usah pikirkan apapun. Kamu itu baru melahirkan, Sayang. Kamu tidak boleh memikirkan hal-hal yang tidak penting. Kamu hanya perlu memberikan ASI untuk putri kita. Jangan pernah memikirkan tentang kebodohan wanita itu lagi. Aku benar-benar tidak ridho sebelum dia merasakan akibat dari perbuatannya."
"Apa ... apa kamu tidak mau memaafkannya, Mas?"
Bian tersenyum getir. "Tidak semudah itu, Ra. Dia sudah kelewatan batas. Kalau seseorang sudah berani bertindak jauh, itu berarti dia sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi setelah dia bertindak. Memaafkannya memang mudah. Sebenarnya, aku bisa saja tidak mengungkit masalah ini lagi. Tapi, aku khawatir dia akan mengulanginya lagi di kemudian hari. Aku ingin dia berubah dan tidak menjadi orang buruk lagi."
Amara tersenyum kecil. Tujuan suaminya melakukan itu tidak sepenuhnya atas dasar sakit hati pada temannya itu. "Hmm... aku ... malah berharap kamu mau melupakan masalah ini." Menatap suaminya dengan ragu.
Bian langsung menggeleng. "Aku akan membuatnya jera, Ra."
"Apa yang akan kamu lakukan padanya, Mas?"
"Tidak banyak kok. Aku hanya ingin dia merasakan akibat dari perbuatannya. Karena dia sudah berani bertindak, dia juga harus berani bertanggung jawab." Menatap istrinya dengan penuh keyakinan. "Aku benar-benar ingin hidup tenang dengan kamu dan putri kita. Nggak ada lagi yang namanya Khanza dalam kamus hidup kita nantinya."
__ADS_1
Amara mengalihkan pandangannya karena tidak kuat bertatapan dengan suaminya. Tatapan Bian terlalu dalam dan membuatnya hampir tidak bisa berkedip. "Apa ... apa kamu tidak takut...?"
"Takut apa?" Potong Bian. Sakit hati karena ulah Khanza membuatnya tidak bisa memikirkan hal lain, selain menghukum wanita itu karena ulahnya. "Jangan memintaku untuk membatalkan rencanaku, Sayang. Rencanaku sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. Aku sudah bilang sama kamu, jangan pikiran masalah itu karena aku yang akan menyelesaikannya." Menggeser tubuhnya sampai duduk di dekat kepala Amara. "Kamu ... cukup menjadi istri yang baik untuk Bian." Menelisik wajah istrinya dengan jari telunjuknya.
"Mas..." Amara menahan tangan suaminya karena gelagat Bian terlihat aneh.
Bian menelan ludahnya seraya mengalihkan pandangannya. "Apa .. apa aku boleh menciummu sekarang?" Bertanya ragu karena tidak yakin istrinya akan mengizinkannya untuk hal itu.
Amara menunduk menahan malu. "Itu ... itu hak kamu, Mas. Aku nggak boleh melarang kamu selama itu tidak melewati batas toleransi."
"Aku sadar diri, Sayang. Aku sedang libur panjang. Tapi, menatapmu seperti ini membuatku lemah. Apalagi sekarang kamu terlihat semakin cantik."
"Ih," Amara mencubit lengan suaminya. "Cantik dari mananya, Mas. Aku belum mandi setelah bersalin. Mandi hanya pakai tisu basah saja."
"It's no problem. Yang namanya cinta nggak memandang kamu sudah mandi atau tidak. Kamu memang sudah cantik dari sononya, Sayang. Bukan hanya cantik luarnya saja. Dalamnya juga bercahaya."
Pintu ruangan terbuka perlahan. Dua orang yang tidak ingin dia lihat saat ini sudah berdiri di jalan masuk.
"Gombalnya udahan dulu. Ada banyak tamu yang berkunjung."
Glek..!
Bian menelan ludahnya dengan susah payah. Ia langsung mengernyit melihat ke arah kakaknya yang berdiri di depan pintu bersama Ardian.
"Jangan main gombal dari sekarang, Bi. Kamu belum tau sakitnya puasa tiga bulan. Gombalan seperti tadi hanya akan menguji imanmu saja." Ardian berjalan mendekat sambil menggandeng tangan Chayra.
"Mm... mana ada seperti itu, Bang. Aku hanya menggoda Rara saja. Lagian aku juga sadar kalau aku nggak boleh mengganggu bainassurrati warrukbati."
Ardian tersenyum kecil. "Berat, Bi. Aku saja nangis alon-alon saat hal itu harus aku lewati." Bisiknya sambil mengerlingkan matanya.
"Ih, Abang ini apaan sih. Kok jadi menyebalkan gini. Jangan nakut-nakutin ah. Ini baru beberapa hari, Bang. Aku yakin pasti bisa dan kuat."
Ardian tertawa kecil melihat ekspresi Bian, karena adik iparnya itu benar-benar terlihat takut dengan puasa panjang yang sedang dijalaninya saat ini.
__ADS_1
**********