Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Berdiskusi dengan Kepala Dingin


__ADS_3

Bian melepaskan pelukan kakeknya perlahan. Pria itu memeluknya cukup lama. Anggota keluarga yang lain sudah menunggu untuk makan malam.


"Bukannya Kakek tidak mempercayai penjelasan Daniel, Nak. Tapi, Kakek hanya ingin mendengarkan suara kamu saat sedang menghadapi masalah. Hah," Pak Akmal menghela nafas berat. "Kakek seperti melihat Ari.." menyeka Ari mata yang keluar.


"Sudah, Kek." Bian mengusap-usap punggung kakeknya. "Sekarang kita makan dulu. Kasihan yang lain sudah pada menunggu kita." Menuntun Pak Akmal agar duduk kembali. "Bian juga ingin menceritakan sesuatu pada Kakek. Tapi nanti setelah kita selesai makan malam."


"Baiklah, Nak." Pak Akmal tersenyum kecil. Kembali menyeka air mata yang keluar tanpa di minta. Semakin senja usianya, ia semakin sulit menyembunyikan perasaannya.


Acara makan malam itu berlangsung hening. Hanya suara dentingan sendok yang mengisi kesunyian itu.


Pak Akmal menyentuh tangan Bian saat pria itu beranjak bangkit setelah acara makan malam selesai. "Kamu bilang mau menceritakan sesuatu pada Kakek. Lalu kenapa kamu bangkit sekarang? Kamu mau kemana?"


"Aku mau mengantar Rara pulang, Kek. Dia tidak kuat dengan angin malam."


Pak Akmal mengernyit. "Ini baru jam delapan tiga puluh. Orang yang tidak kuat angin malam, biasanya tidak kuat dengan angin di atas jam sepuluh malam."


"Iya, aku tau itu, Kek. Tapi..." Bian melirik ke arah istrinya. "Rara sedang tidak fit."


"Oh," Pak Akmal beralih menatap Amara. "Istirahat di sini saja sementara menunggu kamu bicara pada Kakek."


"Aku khawatir kalau dia menunggu terlalu lama, Kek. Kita juga harus segera menyelesaikan masalah tadi siang. Aku tidak mau masalah dengan wanita itu terus berlanjut. Kalau pun dia benar-benar ingin melakukan kerjasama dengan Perusahaan kita, dia pasti bisa menjaga sikap ke depannya."


"Kita bicara di ruang kerja kamu." Pak Akmal beranjak bangkit. Tangannya masih menggenggam erat tangan Bian.


Bian kembali menatap ke arah istrinya dengan tatapan khawatir. "Ra..."


"Mm.." Amara yang sedang bicara dengan mertuanya, beralih menatap suaminya.


"Aku perlu bicara sebentar dengan Kakek. Nggak apa-apa kan, kalau kamu di sini dulu bersama Ibu."


"Nggak apa-apa, Mas. Ya Allah.. gitu aja pakai minta izin segala.." gumam Amara pelan. Sedikit malu pada mertuanya karena sikap Bian yang terlihat berlebihan.


Bu Santi tersenyum kecil mendengar gerutu menantunya. Mengisyaratkan pada putranya agar segera mengikuti kakeknya yang sudah masuk ke ruang kerja.


___________


Pak Akmal langsung menepuk sofa kosong di sebelahnya begitu Bian masuk ke ruang kerja itu.

__ADS_1


"Langsung saja katakan apa yang ingin kamu katakan."


"Hah, belum juga duduk, Kek." Bian berjalan mendekat seraya tersenyum kecil. "Aku sih inginnya kita menyelesaikan masalah tadi siang terlebih dahulu."


"Kakek akan membicarakan hal itu terlebih dahulu dengan rekan-rekan Kakek yang lain. Jika benar Khanza telah membuat fitnah itu, maka gadis itu harus diberhentikan dari jabatannya. Atau mungkin papanya tidak mau lagi bekerjasama dengan rekan-rekan yang lain."


"Aku hanya menginginkan satu hal, Kek." Bian beralih menatap kakeknya. "Apapun dan bagaimana pun hubungannya dengan Rara di masa lalu, aku mau wanita itu tidak perlu menyangkut-pautkan hal itu dengan pekerjaan. Dia bahkan tidak bisa fokus membicarakan pekerjaan karena sibuk mengkritik penampilan Rara. Dia juga keberatan karena Rara ikut serta dalam rapat. Padahal pada pertemuan itu, Rara tidak pernah ikut menimpali masalah pekerjaan. Dia sibuk dengan handphone. Rara juga tidak pernah menyinggungnya sama sekali. Yang ada, Rara hanya tersenyum saat berulang kali Khanza mengatakan hal-hal yang tidak pantas." Bian membuang nafas dengan kasar setelah selesai bicara.


"Lalu siapa yang menghinanya, sehingga dia nangis seperti itu?"


"Tidak ada orang yang melontarkan kalimat penghinaan untuknya. Aku hanya mengatakan tidak mau melanjutkan rencana kerjasama itu, jika Ibu Direktur yang terhormat tidak bisa membedakan urusan pribadinya dengan pekerjaan. Lalu kalimat mana yang mengandung penghinaan, Kek?"


"Mm..." Pak Akmal manggut-manggut. "Apa tidak ada kalimat yang lain lagi?"


"Aku rasa hanya itu yang perlu aku sampaikan pada Kakek." Jawab Bian dengan tenang.


"Apa dia ada dendam pada istrimu?"


Bian mengangkat bahu. "Aku tidak mau berburuk sangka, Kek. "Tapi.. kalau diperhatikan dari gelagatnya, sepertinya itu yang terjadi. Saat pertemuan pertama kali, dia terlihat baik-baik saja. Dia bahkan nampak elegan dengan gaya hijab stylist-nya. Tapi, saat pertemuan dilanjutkan setelah makan siang, gaya elegannya berubah menjadi gaya wanita yang tak tau tata krama dalam berdiskusi."


Pak Akmal kembali manggut-manggut. "Kalau begitu, Kakek benar-benar akan mengadakan pertemuan dengan rekan-rekan Kakek untuk membahas masalah itu."


Pak Akmal menggelang-geleng pelan menatap Bian. "Jika mereka sampai mengumumkan masalah itu pada rekan-rekan yang lain, maka banyak di antara mereka yang akan menghentikan kerjasama dengan Perusahaan Tekstil kita. Kakek memiliki keterikatan yang tidak akan bisa di mengerti kalian yang hanya sebagai penerus. Kami selalu saling mendukung di bidang usaha. Itulah mengapa, Kakek sangat marah saat salah satu rekan Kakek itu melaporkan masalah ini pada Kakek."


Bian terdiam beberapa saat. "Bian minta maaf untuk kejadian itu, Kek. Aku hanya ingin melindungi istriku dari mulut yang tidak bertanggung jawab."


"Tindakan kamu sudah benar, Nak." Menepuk-nepuk pundak Bian dengan penuh bangga. "Kamu tidak perlu lagi memikirkan masalah itu. Biar masalah itu menjadi tanggung jawab Kakek." Beranjak bangkit karena merasa tidak ada lagi yang perlu di bahas. Namun, Pak Akmal tiba-tiba berbalik lagi setelah berjalan beberapa langkah. "Kakek melupakan sesuatu, Bian."


Bian mengangkat wajahnya. Menatap kakeknya dengan heran. "Melupakan apa, Kek?"


Pak Akmal kembali mendekati Bian dan duduk di sampingnya. Menarik nafas panjang sebelum melontarkan pertanyaan pada cucunya itu. "Tadi kamu bilang mau mengatakan sesuatu. Kenapa kamu hanya diam saat Kakek beranjak bangkit?"


"Eh, astagfirullah.." mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku benar-benar tidak ingat, Kek."


"Katakan sekarang sebelum kamu lupa lagi."


Bian tersenyum kecil. "Anu, Kek. Mm.. " melirik kakeknya karena masih ragu.

__ADS_1


"Ayo, katakan sekarang. Kakek ada acara setelah ini."


"Kakek mau kemana, ini sudah malam? Jangan terlalu banyak aktivitas." Bian melayangkan tatapan tidak suka pada kakeknya.


"Jangan berprasangka buruk dulu. Kakek mau bertemu Allah swt. Kakek belum shalat isya, karena kita makan malam dulu kan, tadi?"


Bian melengos. "Kirain apa-apa," membuang pandangannya menahan senyum.


"Makanya kamu mau ngomong apa sama Kakek. Sekarang itu Kakek khawatir telat mendirikan shalat. Kakek sudah tua. Kalau tiba-tiba ajal tiba dan Kakek belum shalat, dosa itu akan terbawa. Haduh.. Kakek agak ngeri membayangkan hal itu." Menepuk paha Bian.


"Mm ... anu, Kek. Rara.. Rara hamil. Aku..." Bian menatap kakeknya yang ternyata sedang melotot ke arahnya.


"Apa kamu bilang, Nak?" Menepuk-nepuk paha Bian. Tapi, kali ini pukulannya terasa lebih keras.


"Rara hamil, Kek. Sebentar lagi Bian akan jadi ayah." Mata Bian berbinar mengatakan itu.


"Alhamdulillah ya Allah... tabarakallah, Nak." Kali ini punggung Bian yang ditepuk-tepuk Pak Akmal. Pria paruh baya itu terlihat terharu mendengar penuturan menantunya. "Berapa usia kandungan istri kamu sekarang?"


Bian menelan ludahnya seraya tersenyum kaku. "Aku.. aku kurang tau, Kek. Aku pernah menemaninya pergi periksa. Tapi itu hanya sekali. Sisanya ... Rara selalu ditemani Ibu. Pas awal kehamilannya pun, kami sempat perang hebat, gara-gara kejadian di malam pesta."


Pak Akmal menautkan alisnya. "Maksud kamu?


"Kami bertengkar hebat di malam pesta itu, Kek. Aku tidak bisa mengontrol emosiku karena Rara banyak ngeluh malam itu. Aku juga belum tau kalau dia hamil. Aku bahkan mengeluarkan kata-kata yang seharusnya tidak aku keluarkan. Kami berpisah satu mingguan waktu itu. Rara tidak mau bertemu denganku."


"Kenapa tidak ada orang yang menceritakan kejadian itu pada Kakek?" Pak Akmal menghela nafas berat. "Kakek terlalu cepat mencabut anak buah Kakek yang mengawasi gerak-gerik kamu. Seharusnya Kakek membiarkan mereka biar Kakek tidak ketinggalan informasi."


"Tidak usah mengkhawatirkan Bian lagi, Kek. Bian sudah dewasa, bisa membedakan yang benar dan yang salah. Masalah malam itu hanya sebuah salah paham. Aku dan Rara sudah saling memaafkan. Intinya, hubungan kami saat ini sangat baik, Kek. Kesalahanku di malam itu menjadi sebuah tamparan keras, kalau aku hanyalah manusia biasa." Bian menunduk dalam. Kesalahan itu akan menjadi penyesalan dalam hidupnya.


"Baguslah, Nak. Setidaknya kamu tidak merasa diri kamu yang paling benar. Introspeksi diri itu penting." Menepuk-nepuk punggung Bian.


Bian mengangkat wajahnya seraya tersenyum kecil menatap kakeknya. "Maafkan Bian, Kek."


"Kalau begitu, kita harus segera mengadakan syukuran atas kehamilan istri kamu. Kalau saja kamu memberi tau Kakek dari awal. Kakek tidak akan mempermasalahkan masalah kerjasama itu. Kakek akan langsung meminta mereka merenungi kesalahan mereka. Wanita hamil itu kan sensitif. Berani-beraninya mereka mengganggu cucuku yang sedang hamil."


"Ah, Rara nggak sensitif kok, Kek. Cuman, dianya agak manja saja." Timpal Bian karena ucapan kakeknya terdengar berlebihan.


Pak Akmal hanya mengangguk-angguk. Pria itu terlihat sangat bahagia mendengar kabar baik itu dari cucu kesayangannya.

__ADS_1


********


__ADS_2