
Pria yang satu ini memang tidak menampakkan identitasnya ke semua orang lain. Hanya orang-orang tertentu saja.
Sebut saja namanya Joenathan yang akrab dipanggil Joe ini adalah tipe pria yang sopan dan ramah, tapi selalu menggoda setiap wanita-wanita cantik dan seksi yang datang ke kafe miliknya. Datang dan lihatlah sendiri ke kafe Bar Bar di pusat pertokoan kota Nirwana. Disana bisa dilihat langsung bagaimana sikap Joe terhadap wanita. Meskipun orang berpikiran ia hanya pegawai biasa yang selalu pamer ketampanannya, tapi banyak juga yang kepincut dengan gombalannya.
Tapi disisi lain, Joe orangnya sangat hangat, romantis dan juga mudah akrab dengan siapapun. Ia yang paling tua dari mereka berempat. Ia juga yang paling usil, heboh dan juga tidak bisa diam. Apalagi urusan dengan wanita, dialah ahlinya. Hampir semua teman wanita mereka digoda olehnya.
Tapi, kelihatannya belakangan ini ia sering patah hati dan sedikit sensitif soal wanita. Biasanya ia tak seperti ini. Joe selalu ceria dan paling antusias membahas masalah wanita kepada teman-temannya. Jika di perhatikan lagi, Joe malah bertolak belakang dengan sifatnya yang sebenarnya. Melihat sikapnya yang cemberut begitu, dan terlihat kesal tentu saja membuat Alex jadi bertanya-tanya saat sejak pertama ia datang sudah menampakkan wajah kurang semangatnya. Dan itu sudah lewat dari lima menit yang lalu ketika Alex mulai menyadarinya.
Tak ada angin tak ada hujan, hari sangat cerahnya siang ini, tapi tidak dengan Joe yang terlihat mendung dan bete. Dan inilah hari di saat Joe kehilangan gairahnya membuat Alex berkerut kening sambil bertanya-tanya.
“Kenapa dengan dirimu? Apa ada yang menipumu lagi?” lontar Alex yang sudah bisa menebak sikap Joe sekarang ini.
Tak ada salahnya ia membahas kejadian satu bulan yang lalu, tentang seorang wanita yang dikencani Joe telah berani menipunya. Katakanlah bahwa gadis itu ditemui Joe di sebuah acara pesta pernikahan temannya. Ia dikenalkan dengan gadis itu oleh pengantin wanita karena mereka berteman.Tapi nasib berkata lain, ketika Joe mengetahui berita buruk yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya dan itu benar-benar membuat Joe merasa malu dan terlihat bodoh dari teman-temanya.
Gadis itu pernah mengaku tidak memiliki kekasih sebelumnya dan kelihatan polos.
Awalnya Joe tampak percaya dan tidak curiga, melihat usianya yang juga terbilang masih muda dan memiliki paras yang cantik. Sampai membuat hubungan mereka semakin dalam beberapa hari. Hingga akhirnya Joe memutuskan ingin memiliki hubungan lebih serius dengannya. Namun, pada kenyataanya Joe melihat sendiri gadis yang baru dikencaninya selama satu bulan ini diam-diam sudah memiliki tunangan dan akan menikah dalam waktu dekat ini. Alih demi alih, rupanya gadis itu hanya mengincar uang Joe, karena ia tahu Joe adalah seorang pria tampan dan juga mapan agar bisa di andalkannya.
Kejadian itupun sama sekali belum bisa hilang dari ingatan Alex saat ia juga melihat sendiri kejadian itu sewaktu mereka sedang berada di SH Hotel milik keluarga Alex. Gadis itu ketahuan sedang memesan hotel untuk acara pernikahannya bersama tunangannya. Tentu saja Alex sangat mengingat betul kejadiannya dan belum hilang dari ingatannya.
Alex nyengir menahan tawa. Mengingat kejadian itu, mungkin rasanya Joe sangat kesal mendengarnya. Ia jadi bertambah kesal karena ulah Alex yang selalu mengungkit-ungkit kejadian yang telah dikubur Joe dalam-dalam kepada yang lainnya. Joe benar-benar tidak bisa berkata-kata apalagi saat seharusnya dialah yang biasanya yang melakukan hal itu. Kini apa yang dilakukannya berbalik kepadanya.
“Tidak mungkin! Itu adalah sebuah kesalahan. Aku telah ditipu dan di hipnotis olehnya.” Joe membantah keras. Ia tetap saja pasang wajah cemberut. “Berhentilah membahas itu. Sekarang ini bukan itu yang ku pikirkan” lanjutnya.
Coba lihat pandangannya yang entah kemana. Ia sedang melihat seorang gadis cantik berambut panjang terurai sedang menikmati secangkir kopinya bersama seorang pria tampan yang dari tadi berusaha merayunya dengan lembut. Dan sesekali mereka berpegangan tangan dan terlihat malu-malu. Kemudian disela-selangi dengan sebuah tawa segar dari mulut mereka. Sudah jelas mereka adalah sepasang kekasih yang sedang mengumbar keromantisan mereka di depan umum. Terutama pada Joe yang langsung bersungut-sungut melihatnya.
Jadi, melihat sikap Joe barusan, sudah jelas kali ini ia sedang patah hati lagi. Gadis yang satu minggu ini ia incar diam-diam membuat Joe kecewa. Alex langsung menyadari apa yang membuat temannya kehilangan semangat seperti itu, dan langsung menyemangati.
“Ah, sudahlah. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan,” katanya mencoba membujuk Joe untuk bersemangat. Kemudian menyeduh kopi hangatnya dengan santai.
Joe menatap Alex dengan jengkel. Untuk saat ini Alex masih belum bisa membujuk Joe yang sudah terlanjur patah hati. Dan ini terlihat lebih serius. Joe tidak main-main dengan perasaannya terhadap gadis itu.
“Kesimpulan apanya? Faktanya mereka sudah tiga kali datang ke kafe ku. Coba kau lihat, mereka berpegangan tangan dan terlihat mesra. Sudah tidak diragukan lagi, tentu saja mereka pacaran,” jelas Joe dengan sikap kecewanya.
__ADS_1
Kali ini Joe benar-benar patah hati. Tapi Alex hanya menggelengkan kepala masih tidak percaya. Ia memperhatikan orang itu dengan saksama. Sesuatu langsung membuatnya teringat akan suatu hal. Alex memang mempunyai ingatan yang bagus.
“Setahu ku, aku pernah melihat pria itu bersama orang lain yang terlihat lebih dari seorang teman, dua hari yang lalu. Gadis yang bersamanya waktu itu memanggilnya dengan sebutan baby. Aku melihatnya di restoran,” seru Alex menduga-duga, dan sangat yakin dengan kata-katanya.
Joe yang tidak percaya langsung membantah. Ia tak mudah percaya dengan ucapan Alex begitu saja. Mungkin saja Alex hanya mengada-ngada dengan mengarang cerita seperti itu supaya Joe percaya.
“Yang benar saja. Pria itu bisa berkencan dengan dua orang wanita sekaligus. Benar-benar menakjubkan. Dia laki-laki yang luar biasa,” seru Alex tidak percaya dengan kenyataan itu.
Joe tampak bingung sendiri. “Apa yang kau bicarakan? Dua wanita sekaligus?” setengah tidak percaya, Joe memahami betul apa maksud perkataan Alex barusan.
Alex mengangguk yakin. “Pria playboy selalu bisa mengatur jadwalnya berkencan dua wanita dalam satu hari. Jujur saja, pria seperti itu memang banyak dikagumi wanita. Lihatlah cara penampilannya saja aku suka. Apalagi ia merayu semua wanita dengan menjual tampangnya yang menganggap dirinya pria tampan yang punya hasrat untuk jadi pria playboy,” seru Alex menjelaskan dengan antusias dan detail. Seolah-olah ia sedang menyindir Joe.
Joe terhenyak. Matanya bulat membesar. Apa yang dikatakan Alex ada benarnya. Setengah lagi, ia tidak percaya. “Benarkah? Lalu bagaimana denganku?” Joe bertanya seakan-akan ia juga mempunyai kesempatan itu juga. Ia mulai mempamerkan wajah tampannya di depan Alex.
Alex mendesah dan menatap Joe dengan ogah-ogahan. “Pria sepertimu perlu banyak perubahan. Lihat saja dengan gayamu yang sudah ketinggalan. Meskipun kenyataannya kau adalah bos kaya, tapi bagi seorang wanita kau tetaplah seorang karyawan biasa yang genit dan kebetulan mempunyai tampang yang lumayan. Tunjukkan sisi ketampananmu yang sebenarnya. Dengan begitu wanita akan mendekat padamu,” seru Alex memberikan solusinya dengan sangat lancar.
Joe menelan ludah, ia tertegun dan diam karna malu. Apa yang dikatakan Alex memang adanya. “Begitukah? Apa aku terlihat begitu dimata seorang wanita? Sungguh memalukan sekali nasibku”
Alex mengangguk membenarkan. “Kenyataanya hampir semua gadis mengabaikanmu. Rayuan dan gombalanmu hanya bertahan sebentar saja. Sekarang ini kita harus perlu bukti nyatanya. Tunjukkan dan perlihatkan pada mereka bahwa sebenarnya kau itu juga tampan. Apa selama ini kau tidak sadar, hah?”
“Benar. Mulai sekarang ubahlah kebiasaan burukmu itu. Pria sejati selalu terlihat menarik dalam bersikap. Apa kau mengerti?”
Joe mengangguk membenarkan. “Perubahan. Kau benar. Aku membutuhkan perubahan. Saran yang baik. Kali ini bisa ku terima. Terima kasih atas saran nya temanku. Aku sangat suka itu,” kata Joe dengan antusias.
“Ya. Ketika aku mendengar kau disakiti oleh seorang wanita, aku begitu sangat marah dan ingin mencongkel mata wanita itu dan membuatnya menyesal. Kalau boleh saja, aku sudah melakukannya saat itu.”
Joe mendesis. Ia tahu bagimana Alex saat ini sedang mempermainkannya. Alex membuat lelucon seperti biasanya.
“Hentikan. Itu sudah terlambat. Aku tidak mau mendengarkan leluconmu itu. Aku sama sekali tidak tertarik. Ini bukan pertama kalinya aku mendengarnya. Kau hanya sedang mencoba menghiburku kan?” umpat Joe kemudian.
Alex terkekeh mendengarnya. “Kenapa, kau tidak percaya denganku? Aku serius dengan perkataanku.”
“Karena kau ahlinya dalam berbohong!” tukas Joe segera.
__ADS_1
Alex tergelak. Ia tidak bisa menahannya lagi. “Apa? Bukankah kau yang mengajarkannya padaku? Bagaimana bisa kau sudah melupakanya? Aku banyak belajar darimu” candanya kemudian. Ia mulai lagi menjahili Joe.
Joe kesal memilih untuk mengalah. “Entahlah. Lebih baik aku kembali bekerja sekarang. Nikmati saja minumanmu sendiri,” katanya hendak beranjak dari situ.
“Kenapa? Apa kau kesal padaku?” tanya Alex.
Joe menggeleng. “Tidak. Aku harus bekerja dan mengontrol anak buahku sekarang.”
“Baguslah. Jika sudah selesai, temani aku minum, kita belum selesai bicara. Sebenarnya ada seorang gadis yang ingin ku kenalkan padamu,” seru Alex kemudian.
Joe tampak tidak bersemangat mendengarnya, ia tak boleh terpengaruh oleh Alex dengan mudah. “Tidak perlu. Aku ingin sendiri dulu,” balas Joe tak peduli.
Alex sedikit dikejutkan dengan jawaban Joe barusan.
“Biasanya kau sangat bersemangat dengan hal ini. Apa kau benar-benar menolak tawaranku? Kesempatan hanya datang satu kali seumur hidup,” katanya kembali meyakinkan Joe.
“Ya? Kau mengancamku?” ketus Joe yang sudah tak berselera membicarakan ini.
“Gadis yang kau tanyakan padaku waktu itu, dialah orangnya. Aku sudah mengatakan kepadanya. Ketika aku mengatakan kau ingin kenal dekat dengannya, ia langsung tersenyum malu-malu mendengarnya. Apa kau tahu apa artinya itu?” kata Alex kemudian menjelaskan dengan antusias.
Joe tiba-tiba nyaris tersendak mendengarnya. Ia langsung berubah total. Ekspresinya menunjukkan bahwa kata-kata Alex telah mengubah suasana hatinya kembali jadi bergairah. Joe kembali ke sifat asalnya oleh siasat jitu Alex barusan. Tak ada hal lain yang bisa dilakukan Alex untuk menghibur Joe saat ini, selain menerapkan pepatah gali lubang tutup lubang seperti yang sering di ajarkan Joe padanya. Dan pepatah itu sekarang memang berlaku bagi Alex dalam situasi seperti ini untuk Joe sendiri.
Joe menoleh. “Sungguh?” wajahnya masih me nyisakan kaget mengetahui kabar baik itu.
Alex mengangguk pelan. “Sejak kapan kau memberitahunya?” Joe bertanya, tertarik.
“Sejak tiga hari yang lalu. Tapi aku tidak sempat mengatakannya padamu langsung, karena aku terlalu sibuk.” Jawab Alex.
Joe menepuk pundak Alex untuk kesekian kalinya. “Kenapa tidak memberitahuku lewat telepon saja”
“Tidak akan seru nantinya”
Joe mengangguk. “Baiklah. Aku kembali lima menit lagi. Kita lanjutkan setelah pekerjaanku selesai,” seru Joe yang langsung bersemangat mendengarnya. Ia beranjak dari tempatnya menemui ketiga pelanggan yang baru saja datang untuk menyapa.
__ADS_1
Alex tertawa renyah menatap Joe. Ia berhasil membuat Joe kembali ceria dan itu membuatnya bangga sendiri pada dirinya. Membujuk dan merayu Joe memanglah hal yang tidak mudah. Harus ada rencana dan strategi untuk menjalankannya. Untung saja ia memiliki senjata ampuh untuk Joe. Jadi, ia tidak begitu kesusahan sendiri.