
Bian membawa Amara ke Apartemennya dengan Ameena yang ngomel-ngomel nggak jelas di belakang.
"Loh nggak ikhlas ya, Na? Ya udah, kalau lho memang lagi malas keluar rumah, gue akan minta Kak Bian putar balik." Amara terus menatap ke arah temannya itu.
"Bukannya gue nggak ikhlas, Mara. Tapi, gue belum sarapan dan mandi. Masa iya gue mau diajak jalan-jalan dengan kondisi seperti ini?" Melengos seraya membuang pandangannya.
Amara beralih menatap Bian. Pria itu ternyata sedang tersenyum mendengar ucapan Ameena. Akhirnya Amara kembali berbalik menatap temannya. "Siapa yang mau jalan-jalan, Na? Kita mau ke Apartemen. Kak Bian malas pulang ke rumah katanya. Kita berdua juga belum sarapan kok."
Ameena menatap Amara dengan sedikit melotot. "Kenapa nggak bilang dari tadi, Mara...?! Aduh, malu-maluin aja deh." Menutup wajahnya dengan telapak tangan. Mengintip ke arah Bian dari sela-sela jarinya. "Kak Bian.. jangan senyum-senyum kayak gitu dong. Bikin gue salting, tau nggak?!" Menurunkan kembali tangannya.
"Apa itu salting, Ra?" Bian melirik Amara yang masih tersenyum. Pria itu benar-benar awam dengan istilah-istilah yang sering digunakan anak muda seusianya.
"Ya ampyuuun.. Kak Bian noraknya kebangetan. Untung saja Kak Bian tampan dan mapan. Kalau aja Kak Bian jelek, udah aku ledekin sampai Kak Bian nangis." Ameena cekikikan.
"Salting itu artinya salah tingkah, Kak." Amara memberikan jawaban untuk Bian. Pria itu langsung menatap Amara. "S.. salah tingkah, Ra?!" Menatap Amara dengan heran.
"Mm.." menganggukkan kepala untuk meyakinkan. "Apa Kakak punya arti yang lain?"
Bian manggeleng pelan. "Mana ada, Ra. Artinya yang itu aja, aku tidak tau." Bian melirik Ameena lewat kaca spion. "Tapi, kenapa kamu yang salah tingkah, Na? Aku kan cuma tersenyum aja."
"Hah..?!" Ameena membuang nafas dengan kasar. "Siapa yang nggak salah tingkah disenyumin pria tampan. Kak Bian sadar nggak sih?! Senyuman Kak Bian itu seperti arus listrik bertegangan tinggi. Sekali senyum, cewek-cewek di sekitar Kak Bian langsung seperti di sengat listrik."
"Hah, ada-ada aja kamu ini. Itu semua terdengar berlebihan tau nggak.." Bian tersenyum seraya menggeleng-geleng pelan.
"Nah, tadi Kak Bian bilang semua terdengar berlebihan. Kalau bahasa gaulnya berlebihan, apa coba?"
"I don't know about that.." jawab Bian singkat. Ia pura-pura fokus menyetir untuk menghindari ledekan Ameena berikutnya.
Amara yang melihat hal itu paham dan langsung mengganti topik pembicaraan. "Na, lho mau sarapan apa nanti di sana?"
Ameena langsung melotot senang. "Lho beneran mau buatin kita sarapan di sana?"
"Gue buatin. Yang penting lho mau ikut gue." Amara berbalik ke depan setelah menyelesaikan kalimatnya.
"Jangan terlalu banyak permintaan, Na. Aku nggak mau Rara kacapekan karena kamu terlalu banyak permintaan padanya." Bian tiba-tiba menyahut karena merasa keberatan mendengar ucapan Ameena yang mau enaknya saja.
Ameena kembali melengos. "Ew, yang banyak permintaan dan maunya kan situ sendiri. Aku mah, di kasih makan apapun, yang penting halal dan enak, aku akan makan semuanya." Melipat tangan di dada seraya membuang pandangannya. "Kak Bian sendiri sampai bela-belain menjemput ke Kost. Ini masih termasuk waktu subuh lagi. Untuk apa coba Kak Bian menjemput Amara jam segini?"
__ADS_1
"Aku kesepian, Na. Mau pulang ke rumah, tapi aku malas sekali." Bian memotong ucapan Ameena yang belum selesai.
"Oh, kirain rindu sama Amara." Ameena berkata sambil melirik temannya. "Kalau nggak kuat jauh-jauh, lebih baik segera dihalalin, Kak. Takutnya nanti malah salah pergaulan lagi."
"Astagfirullah, Na.."
Ameena hanya tersenyum sinis menanggapi pelototan Amara. Tidak ada yang membuka percakapan lagi sampai mereka sampai di Apartemen.
*********
Bian terus menatap Amara yang sedang sibuk dengan peralatan dapur. Kemampuan wanita itu dalam memasak tidak perlu ia ragukan lagi. Beberapa kali berdecak kagum dengan kelihaian yang ditampakkan wanita itu.
"Rara.." Bian mencoba menggoda Amara yang sedang fokus. Lama berdiam dan hanya menatap membuat rasa bosan datang menderanya.
"Mm..."
"Rara..."
"Mm..." Amara menjawab tanpa mengalihkan perhatian dari masakannya.
Amara menghentikan aktivitasnya. Menghela nafas berat lalu berbalik menatap Bian. "Ada Apa, Kak? Aku lagi fokus nih. Kalau Kak Bian ganggu terus, jangan salahkan aku kalau masakannya tidak enak nantinya."
Bian langsung tersenyum lebar. "Insya Allah, makanan itu akan sangat enak, Rara. Kamu memasaknya dengan penuh cinta untuk orang tercinta. Kita juga menyatukan kasih sayang di dalamnya. Tadi kan aku ikut membantu mengupas bawang merah. Iya... walaupun akhirnya aku menyerah karena mataku perih." Bian mengangkat bahu, mengakui kelemahannya yang tidak kuat mengiris bawang merah tadi.
Amara tertawa kecil. "Kak Bian salah arah tadi, makanya matanya perih. Coba Kak Bian melakukannya searah dengan hembusan angin, dijamin mata Kak Bian tidak akan perih."
"Kamu luar biasa, Rara.." Bertepuk tangan kagum sebagai penghargaan.
"Heh, itu sebuah ilmu yang harus dikuasai oleh calon Ibu Rumah Tangga." Jawab Amara dengan bangga. Dunia perdapuran sudah ia pelajari sejak duduk di bangku SMP.
"Iya.. aku akui itu. Tapi.. teman kamu yang satu itu kenapa begitu santai. Dia bahkan tidak tertarik sama sekali untuk ikut masak bersama kamu. Padahal dia kan calon IRT juga, sama seperti kamu." Bian mengisyaratkan dengan ekor matanya ke arah kamar.
Amara mematikan kompor lalu duduk di kursi kosong di samping Bian. "Ameena tidak pandai dalam urusan dapur, Kak. Tapi, kalau masalah kesetiaan dan pengorbanan, itu tidak di ragukan lagi. Ameena adalah teman yang paling setia dan banyak berkorban untukku selama kami bersahabat." Berucap sambil menatap ke sembarang arah.
"Jangan bernostalgia, Ra. Aku tidak mau melihat kamu menangis." Bian mengusap kepala Amara dengan lembut. Wanita itu hanya menanggapi dengan senyuman sambil melirik Bian. Menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya. Perlakuan Bian yang seperti itu selalu saja membuat dadanya berdebar-debar.
"Masakannya sudah selesai kan? Kalau sudah, kita sarapan bersama ya.." Bian beranjak bangkit untuk mengecek nasi di rice cooker.
__ADS_1
"Loh, kenapa dibuka?!" Amara beranjak bangkit mendekati Bian yang sedang membuka tutup rice cooker.
"Mau cek aja, Rara. Apa nasinya sudah bisa dimakan atau belum." Tersenyum lembut pada Amara.
"Ngapain pakai dibuka segala, Kak. Itu kan sudah ada petunjuk di depan. Lampu nyala di atas, berarti masih proses dimasak. Kalau lampunya sudah nyala di bawah, itu berarti prosesnya sudah selesai."
"Hah, masa sih?" Bian memperhatikan lampu berwarna merah yang masih menyala di atas. "Aku kok baru tau ya.." menggaruk-garuk kepalanya, terlihat seperti orang bodoh yang kesulitan menjawab soal.
"Padahal perlengkapan dapur ini sudah lengkap, Kak. Sayangnya, pemiliknya tidak tau cara penggunaan masing-masing alat." Amara menggeleng-geleng lemah seraya duduk kembali.
"Ibu yang melengkapi semuanya. Kalau aku sih, nggak tahu-menahu urusan dapur." Ikut duduk di samping Amara.
Amara menarik sudut bibirnya. "Kak Bian tunggu saja di luar, biar aku yang mempersiapkan semuanya."
Bian mengangguk. Tapi, tak sedikitpun dia berpindah dari tempat duduknya. "Ra.. aku mau makan sepiring berdua. Kalau seperti itu, kayaknya masakan kamu akan semakin enak."
"Kak Bian jangan berkata yang aneh-aneh."
"Aku tunggu di sofa ruang tamu." Beranjak keluar tanpa memperhatikan ekspresi Amara.
Pintu Apartemen tiba-tiba di ketuk saat Amara masih mempersiapkan makanan. Bian mencegah Amara untuk membuka pintu. Pria itu tidak mau ada yang mengganggu kehangatan paginya dengan kedatangan tamu. "Duduk saja, Rara. Nggak usah repot dengan tamu yang tidak tau jam berkunjung."
"Tapi.."
"Udah, kita sarapan bersama dulu. Pintu itu akan terbuka setelah kita selesai sarapan."
"Bi.. buka pintunya. Ini gue Niko. Gue buru-buru nih, ada jam kuliah. Kampus gue kan jauh. Laptop gue ada di dalam kamar lho." Suara Niko dari balik pintu memaksa Bian untuk bangkit. Lagian, temannya itu juga sedang buru-buru. Tidak mungkin dia akan mengganggunya dengan Amara.
Ceklek..!
Niko langsung nyelonong masuk begitu pintu terbuka. "Huh, akhirnya.. berhasil gue tipu.." Niko menghentikan langkahnya saat melihat Amara di tempat itu.
"Jangan tatap dia, Nik. Kamu bilang mau ambil laptop. Udah, masuk sana ambil barangnya lalu segera pergi. Kami mau sarapan dengan masakan penuh cinta dan ketulusan."
Niko melengos mendengar ucapan Bian. "Gue datang kemari membawa tamu, Bi.."
******
__ADS_1