Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Wanita itu Ternyata Dia


__ADS_3

"Silahkan duduk.." Bian mendekati sofa dan memilih duduk di sofa single depan Direktur Konveksi Z."


"Kak Bian apa kabar? Lama sekali ya, kita tidak bertegur sapa. Kemarin aku sempetin diri loh, hadir di pesta keluarga itu." Wanita bergaya elegan yang ternyata adalah Khanza itu melipat kakinya dengan santai.


Daniel mengernyit. Wanita di depannya terdengar sok akrab dengan Bian. Namun, dia heran karena wanita itu memanggil Bian dengan 'Kak'. Padahal dia sendiri yang bilang teman SMA Bian. Belum lagi, gaya hijabnya yang terlihat stylist dan tertata dengan sangat rapi. Sepertinya dia memang sudah mempersiapkan dengan matang pertemuannya dengan Bian saat ini.


"Oh, begitu ya, Za." Bian tersenyum kaku menanggapi. Dia tidak mungkin memperhatikan wanita itu di antara ratusan tamu. Dia bahkan hanya fokus dengan tamu khusus yang langsung bertegur sapa dengan kakeknya.


"Aku berusaha menghampiri Kak Bian setelah Kak Bian turun dari panggung. Tapi, Kak Bian terlalu populer malam itu. Aku hanya bertemu dengan Amara dan iya.. aku ngobrol singkat dengannya. Daripada nggak ada teman ngobrol. Aku kan belum familiar dengan acara keluarga Akmal itu. Soalnya, pesta yang kemarin itu adalah yang pertama untukku. Hah, terasa gimana gitu.."


Bian tersenyum getir. Melirik Khanza yang masih terus ngoceh tanpa memperdulikan suasana. Tidak menyangka kalau Khanza ikut hadir di pesta malam itu. Amara pun tidak pernah menceritakan perihal pertemuannya dengan mantan teman lamanya itu.


"Nona, apa kita sudah bisa mulai membahas rencana kerjasama kita?" Daniel memotong karena melihat ketidak nyamanan tuannya.


"Oh, i... iya.. Pak." Khanza tersenyum dipaksakan. Terlihat jelas kalau dia malu karena ucapan Daniel. Melihat hal itu membuat Bian tersenyum samar. Daniel benar-benar peka dengan tampang wajah yang ditampilkannya.


"Baik kalau begitu, saya akan membacakan persyaratan sebelum melakukan kerjasama dengan perusahaan kami.


Khanza hanya mengangguk. Memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman menyimak apa yang akan di sampaikan Daniel. Beberapa kali melirik ke arah Bian yang diam seribu bahasa. Pria itu benar-benar terlihat tidak perduli dengan siapa dia akan bekerja sama.


Pertemuan itu berlanjut sampai tiba waktu zuhur. Bian yang biasa shalat tepat waktu langsung menghentikan Daniel yang masih menjelaskan dengan panjang lebar pada Khanza jenis-jenis benang sampai kain yang diproduksi oleh pabrik tekstil mereka.


"Sudah azan, sebaiknya kita lanjutkan lain waktu saja." Bian langsung bangkit tanpa meminta persetujuan dari Khanza. Kakinya terasa sedikit kram karena kelamaan duduk mendengar ocehan wanita itu. Sebenarnya Bian tidak terlalu capek bicara karena Daniel yang capek ngoceh menjelaskan ini dan itu pada Khanza. Dia hanya menyahut sesekali kalau ada yang perlu ditambah dari penjelasan Daniel.


"Bagiamana kalau kita lanjutkan sambil makan siang, Kak." Khanza ikut bangkit. Ucapannya membuat Bian terpaksa melirik wanita itu.


"Kalau kamu mau, kita bisa melanjutkannya setelah makan siang. Soalnya, aku sudah berjanji untuk makan siang di rumah bersama istriku."


"Hah..?!" Khanza mengernyitkan bibirnya. "Apa itu tidak membuang-buang waktu, harus pulang makan siang segala? Ah, sepertinya Amara sangat manja pada Kak Bian."


"Iya, dia memang sangat manja. Tapi, hal itu justru membuatku semakin menyayanginya. Lagi pula, aku yang mau melakukan itu. Tidak ada yang bisa melarang ku untuk menemui istriku kapan pun aku mau. Ini Perusahaan milikku." Lebih menekan di akhir kalimatnya. Berlalu keluar dari ruangan itu tanpa ada niat untuk berbalik lagi.


"Apa dia selalu seperti itu jika ada yang membahas tentang istrinya?" Khanza beralih menatap Daniel setelah Bian hilang dari pandangan.

__ADS_1


"Tidak, Nona. Tuan Muda hanya melakukan itu jika dia merasa tidak nyaman. Tuan Muda juga terbiasa shalat awal waktu. Dia akan kesal kalau di ajak ngobrol saat dia akan bersiap mengerjakan shalat." Daniel menjawab sambil membereskan kertas yang berserakan di atas meja.


"Oh," Khanza terdiam karena tidak tau mau mengomentari dengan kalimat apa lagi. Hanya matanya yang sibuk menatap Daniel yang masih sibuk merapikan meja.


Daniel memperbaiki posisi duduknya setelah selesai membereskan meja. Beralih menatap Khanza yang hanya diam melihat aktivitasnya. "Oh iya, Nona. Saya juga mau bilang, kalau Tuan muda itu sangat sensitif jika ada yang membahas istrinya. Jika pertemuan ini masih perlu dilanjutkan, sebaiknya Nona menghindari pembicaraan yang mendekati ranah pribadi. Tuan Muda sangat tidak suka hal itu." Menatap Khanza dengan tajam.


"Jika Nona ingin bekerja sama dengan baik dengan Tuan Muda, sebaiknya Nona lebih mengkondisikan mulut Nona. Jangan sampai Tuan Muda membatalkan rencana kerja sama yang sudah kita bahas dari tadi." Ucap Daniel telak. Membuat Khanza benar-benar tidak bisa menimpali ucapannya.


************


Bian beberapa kali menghela nafas berat sebelum turun dari mobilnya. Dia sudah sampai di rumahnya. Namun, ia masih enggan untuk turun karena sedang menyusun kalimat yang tepat untuk menanyakan tentang pertemuan istrinya dengan Khanza. Dia juga kesal karena beberapa kalimat Khanza yang terdengar sok tahu tentang kehidupannya dan istrinya.


Dug.. dug.. dug..


Lamunannya buyar saat pintu mobilnya di ketuk. Ia tersenyum saat melihat istrinya menempelkan wajahnya di kaca mobil.


"Ada apa, Sayang?" Membuka kaca mobilnya. Menampakkan wajah bahagia untuk istri tercinta.


"Kenapa Kamu masih diam di dalam mobil, Mas? Dari tadi aku menunggu kamu keluar loh.."


"Hmm.. padahal aku juga menunggu kamu di dalam karena menyiapkan sesuatu."


"Masa sih?" Bian yang penasaran langsung membuka pintu mobil. "Ayo kita masuk. Aku juga mau menanyakan sesuatu sama kamu."


Amara langsung mendongak menatap Bian yang berjalan di sampingnya. "Mau menanyakan apa, Mas?"


"Hmm... nanti di dalam. Aku ngak mau bertanya sambil berjalan seperti ini." Merangkul pundak istrinya sampai masuk ke dalam rumah.


Pria itu langsung menuju wastafel di dekat meja makan. Mencuci bersih tangannya sebelum makan siang. "Sayang, tadi kamu bilang sudah menyiapkan sesuatu untukku. What is that?"


"Itu kan, Mas." Amara menunjuk makanan yang sudah terhidang di atas meja. "Itu aku sendiri yang masak untuk kamu. Karena kamu bilang mau pulang pas makan siang, jadinya aku harus buat masakan yang spesial untuk kamu."


Bian akhirnya manggut-manggut. "Iya.. boleh juga." Duduk di depan meja makan. Memperhatikan tiga deretan menu makan siang yang sudah tertata rapi di atas meja makan. "Apa kamu sendiri yang menyiapkan semua ini, Ra?"

__ADS_1


"Iya," mengangguk mantap. "Masa aku bohong sih, Mas? Kayak aku kurang kerjaan aja mau bohong segala."


"Bukan begitu maksud aku, Sayang. Soalnya tadi pagi kan kamu terlihat nggak fit gitu. Terus siangnya kamu bisa masak sebanyak ini. Itu kan sesuatu yang wow banget, Sayang."


Amara melengos seraya membuang pandangannya. "Walaupun kurang fit, aku bisa melayani pompa bensin. Masa masak kayak gini aku nggak bisa."


Bian menahan senyum. "Ayo duduk sini makanya. Kita makan bersama biar berkah berumah tangga itu kita dapatkan."


Walaupun Amara tidak ada selera makan, tetapi ia akhirnya duduk di samping suaminya.


"Tidak usah mengambilkan makanan untukku." Bian mencegah istrinya yang sudah mengambil piringnya untuk mengambilkan nasi.


"Sesekali aku yang akan melayanimu." Mengambil alih sendok dari tangan istrinya. Amara hanya diam melihat apapun yang akan dilakukan suaminya.


Sampai selesai makan siang, Bian tak kunjung bicara pada istrinya. Padahal Amara sudah pasangan telinga baik-baik untuk mendengarkan pertanyaan yang akan dilontarkan suaminya. Namun, melihat Bian malah duduk santai di terasa rumah membuatnya jadi kesal.


"Mas..." menepuk pelan pundak suaminya. Bian sedang memejamkan mata. Menghirup dalam udara sejuk yang terhembus dari taman bunga di depan teras rumah itu.


"Mm..." jawabnya tanpa membuka mata.


"Katanya mau menanyakan sesuatu sama aku. Kok, sekarang kamu malah bersantai di sini."


Bian membuka matanya seraya beralih menatap istrinya. "Hah, aku jadi malas balik ke kantor."


"Maksudnya apa sih, Mas?" Amara ikut duduk di samping suaminya. "Memangnya nggak ada kerjaan di kantor?" Menggenggam tangan suaminya. Menyandarkan kepalanya di pundak Bian.


"Aku ada pertemuan dengan Direktur Konveksi Z. Pertemuannya sejak jam sepuluh pagi tadi, Sayang. Masalahanya orang itu tidak profesional menggunkan waktu. Seharusnya dia tidak membicarakan hal-hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan rencana kerjasama yang sudah diajukannya sejak satu bulan yang lalu. Kak Daniel sampai kesal karena beberapa kali penjelasannya di sela oleh orang itu. Kita juga belum mencapai kesepakatan karena ada beberapa poin yang masih belum di bahas."


Amara masih terus menatap suaminya yang sudah merubah ekspresi wajahnya. Sepertinya orang itu benar-benar membuat suaminya kesal, sehingga rasa kesal itu di bawa sampai ke rumah.


"Ra," Bian mempererat genggaman tangannya. "Kamu ikut aku ke kantor, yuk. Sepertinya, aku akan lebih bersemangat kalau kamu ikut."


Amara mengernyit mendengar permintaan suaminya.

__ADS_1


*********#


"


__ADS_2